Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Generasi Y dan Karakteristiknya

Pengertian Generasi Y dan Karakteristiknya


A. Pengertian Generasi Y (Millenial)

Generasi Y (Millenial) adalah istilah yang umumnya dikaitkan dengan mereka yang dilahirkan antara tahun 1980 atau bulan sebelum pertengahan tahun 1990-an atau awal tahun 2000-an, atau frasa yang digunakan untuk menggambarkan secara umum seseorang yang mencapai usia dewasa di awal abad ke-21 dan mencakup generasi orang yang lahir antara tahun 1980 dan 2000.

Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Istilah ini berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Generasi ini sangat dipengaruhi oleh resesi, karena menyebabkan rekor pengangguran, mempengaruhi orang-orang muda yang bergabung dengan tempat kerja, serta periode ketidakstabilan ekonomi.

Generasi Y adalah generasi yang mengalami perubahan kondisi ekonomi dan teknologi. Jika membicarakan millenial, hal yang sangat umum ditemui pada generasi ini yaitu kenyamanan menggunakan digital teknologi dan media sosial dalam melakukan interaksi sosialnya sehari-hari.

B. Karakteristik Generasi Y (Millenial) /sumber: https://www.talenta.co
Menurut Psikolog Jean Twenge, generasi millenial ini memiliki sifat percaya diri dan toleran dibanding generasi sebelumnya. Namun, Jean Twenge juga mengungkapkan bahwa generasi millenial memiliki sifat narsisme dan entitlement dibanding generasi pendahulunya.

Entitlement adalah di mana kita menganggap diri kita pribadi yang lebih baik dari orang lain, sehingga seharusnya kita dapat menerima lebih daripada yang orang lain dapatkan. Generasi Y percaya bahwa jika mereka memiliki hak istimewa, yang mana hak yang diinginkan cenderung memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi, seperti; mendapatkan jabatan tertentu tanpa melalui proses panjang, juga sukses secara instan.

Dalam buku karangan David Burstein yang berjudul Fast Future, menyebutkan bahwa millenial sebagai generasi yang memiliki pandangan sosial atau disebut “Pragmatic Idealism”. Di mana para millenial ini memberikan kontribusi dan perubahan positif kepada dunia dan menyadari untuk mencapai tugasnya atau suatu keberhasilan maka diperlukan usaha dan kerja keras, baik dengan cara baru ataupun memanfaatkan sistem yang ada.

1. Digital Native
Digital native adalah sebutan yang sering digunakan untuk mendeskripsikan generasi Y dan teknologi. Sedangkan digital immigrant adalah sebutan untuk mendeskripsikan generasi X. Penggunaan istilah digital immigrant pada generasi X disebabkan penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari bukanlah hal umum dan belum memberi dampak yang signifikan. Beda halnya dengan digital native, yang mana penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari sudah sangat umum dan dampaknya sangat besar.

Generasi Y tidak bisa terlepas dari teknologi dalam melakukan aktivitasnya. Mulai dari transportasi, pekerjaan, dan pembayaran transaksi. Selain itu, teknologi juga berperan dalam interaksi sosial generasi millenial yang cenderung menggunakan media sosial dalam melakukan interaksinya. Generasi ini mudah beradaptasi dengan teknologi baru, dan selalu menerapkan teknologi baru dalam kehidupannya.

Banyak generasi X yang beranggapan bahwa generasi Y memiliki solusi atas setiap permasalahan yang ada dengan memanfaatkan kemudahan akses informasi. Namun, dari banyak millenial yang memiliki solusi, hanya beberapa saja yang melakukan eksekusi dari ide dan solusinya untuk memecahkan masalah.

2. Pandangan Politik
Umumnya generasi Y memiliki pandangan politik cenderung ke arah sosial liberal. Generasi millenial di Indonesia lebih fokus terhadap substansi masalah dibanding retorika para pemimpin politik. Mereka yang tertarik pada politik umumnya teguh pada pendiriannya masing-masing dan sesuai dengan informasi, rasa politik, dan nilai yang mereka yakini.

Namun, bagi millenial yang tidak tertarik pada politik mereka beranggapan bahwa tidak penting membahas politik dan hanya membuang waktu, namun tidak jarang meski tidak tertarik pada politik, mereka memiliki prinsip dan nilai politiknya sendiri.

3. Kepercayaan Keagamaan
Millenial secara global memiliki kecenderungan tidak memiliki agama, karena di negara sekuler generasi millenial umumnya tidak mempercayai agama, yang mana ateisme dan agnostisisme adalah pandangan yang dianut oleh kebanyakan millenial di negara sekuler. Beda halnya di Indonesia, di mana generasi millenial masih percaya terhadap adanya Tuhan yang Esa. Meskipun pada kenyataannya millenial justru mengedepankan toleransi dalam kehidupan sosial agamanya dibanding generasi pendahulunya.

4. Budaya Kerja
Generasi Y dan generasi pendahulunya memiliki budaya kerja yang berbeda. Selain karena faktor teknologi, budaya kerja millenial juga dipengaruhi oleh sifat yang dimiliki dan nilai sosial yang dianutnya. Dalam dunia kerja, generasi millenial dianggap sebagai generasi yang tidak memiliki loyalitas pada perusahaan. Hal ini tidak sepenuhnya salah, karena mengingat generasi ini cenderung idealis dan memiliki sifat entitlement. Generasi millenial sudah menetapkan budaya kerja yang menurut mereka adalah ideal, seperti:
a. Lingkungan Kerja yang Fleksibel. Remote working atau bekerja di luar kantor saat ini menjadi tren di kalangan millenial. Hal ini dikarenakan maraknya menyelesaikan pekerjaan menggunakan teknologi dan internet, yang mana memungkinkan untuk diselesaikan di luar lingkungan kantor. Perusahaan yang memiliki kebijakan remote working merupakan perusahaan ideal bagi millenial. Adanya lingkungan kerja yang fleksibel tentu akan menurunkan tingkat stress karyawan dan kesehatan karyawan secara keseluruhan.
b. Rasa Kebersamaan. Rasa kebersamaan dapat meningkatkan keikutsertaan dan rasa memiliki terhadap perusahaan, hal ini akan memberi dampak positif terhadap perusahaan. Apalagi, saat ini seorang millenial sangat ingin dianggap memberikan kontribusi positif pada perusahaan.
c. Pengembangan Diri. Pengembangan diri adalah hal penting bagi pertumbuhan generasi millenial, dan justru mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri membuat seorang millenial bahagia karena dapat belajar hal-hal baru. Namun, perlu diingat bahwa millenial yang cenderung idealis, entitle, dan memiliki percaya diri tinggi.

Oleh karena itu, jika seorang millenial merasa bekerja di perusahaan yang tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan kariernya, kemungkinan besar mereka akan meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja. Mereka akan mencari yang lebih dapat memberikan kesempatan untuk pengembangan dirinya.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.1 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
2. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.2 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
3. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.3 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
4. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 1. Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
5. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 1. Perubahan Sosial (KTSP)
6. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.1 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
7. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.2 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
8. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.3 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
9. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.4 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
10. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.5 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
11. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.6 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
12. Materi Ujian Nasional Kompetensi Perubahan Sosial             
13. Materi Ringkas Perubahan Sosial

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Untuk ilalang yang senang merentang garis-garis fantastik di langit

Post a Comment for "Pengertian Generasi Y dan Karakteristiknya"