Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nihilisme: Pengertian, Perkembangan Konsep, Ciri, Jenis, dan Dampak Positifnya

Pengertian Nihilisme
Nihilisme
Pengertian Nihilisme
Nihilisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah paham aliran filsafat sosial yang tidak mengakui nilai-nilai kesusilaan, kemanusiaan, keindahan, dan sebagainya, juga segala bentuk kekuasaan pemerintahan, semua orang berhak mengikuti kemauannya sendiri. Kata nihilisme berasal dari bahasa Latin nihil, yang artinya "tidak ada"

Nihilisme menolak aspek umum dan fundamental dari eksistensi manusia, seperti kebenaran objektif, pengetahuan, moralitas, nilai, atau makna kehidupan. Para nihilis beranggapan bahwa nilai-nilai manusia tidak berdasar, bahwa hidup tidak bermakna, bahwa pengetahuan adalah kemustahilan. Mereka juga percaya bahwa beberapa entitas tidak ada, tidak berarti, atau tidak ada gunanya.

Nihilism sering dikaitkan dengan skeptis radikal atau pesimisme ekstrem. Tokoh yang terkenal membawa nihilisme ini adalah Friedrich Nietzsche. Selain Nietzsche, ada seorang filsuf abad ke-20 bernama Hannah Arendt mengatakan bahwa kita sebaiknya tidak menganggap nihilisme sebagai pikiran yang berbahaya, tetapi sebagai risiko yang selalu ada dalam tindakan berpikir.

Maksudnya, ketika kita berpikir akan selalu ada risiko yang menantang pikiran tersebut. Dalam hal ini, pikiran itu adalah nilai-nilai yang kita percayai dalam hidup.

Perkembangan Konsep Nihilisme
Nihilisme menegaskan bahwa tidak ada bukti yang masuk akal tentang keberadaan penguasa atau pencipta yang lebih tinggi , bahwa “moralitas sejati” tidak ada, dan etika sekuler yang obyektif tidak mungkin.

Oleh karena itu, dalam arti tertentu, hidup tidak memiliki kebenaran dan tidak ada tindakan yang secara obyektif lebih disukai daripada yang lain.

Istilah nihilisme tampaknya telah diciptakan di Rusia sekitar kuartal kedua abad kesembilan belas. Namun, itu tidak banyak digunakan sampai setelah kemunculan novel Ivan Turgenev yang sangat sukses, Fathers and Sons di awal tahun 1860-an.

Penggunaan istilah ini kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh Eropa dan Amerika, dan istilah tersebut kehilangan sebagian besar rasa anarkistik dan revolusionernya, berhenti membangkitkan citra program politik atau bahkan gerakan intelektual. Namun, itu tidak mendapatkan ketepatan atau kejelasan.

Di satu sisi, istilah ini digunakan secara luas untuk menunjukkan doktrin bahwa norma atau standar moral tidak dapat dibenarkan oleh argumen rasional. Di sisi lain, ini banyak digunakan untuk menunjukkan suasana putus asa atas kehampaan atau kesederhanaan keberadaan manusia.

Makna ganda ini tampaknya berasal dari fakta bahwa istilah tersebut sering digunakan pada abad kesembilan belas oleh orang-orang yang berorientasi religius sebagai klub melawan ateis, ateis dianggap sebagai ipso facto nihilis dalam kedua pengertian tersebut.

Menurut pendapatnya, ateis tidak akan merasa terikat oleh norma-norma moral; akibatnya, ia cenderung tidak berperasaan atau egois, bahkan kriminal. Pada saat yang sama dia akan kehilangan pengertian bahwa hidup memiliki arti dan karena itu cenderung ke arah putus asa dan bunuh diri.

Ateisme dan Nihilisme
Ada banyak prototipe sastra ateis-nihilis. Yang paling terkenal adalah Ivan dalam Fëdor Dostoevsky’s Brothers Karamazov dan Kirilov dalam The Possessed Dostoevsky. Friedrich Nietzsche adalah filsuf besar pertama — dan masih satu-satunya — yang menggunakan istilah nihilisme secara ekstensif.

Dia juga salah satu ateis pertama yang membantah keberadaan hubungan yang diperlukan antara ateisme dan nihilisme. Dia mengakui, bagaimanapun, bahwa sebagai fakta sejarah, ateisme sedang mengantar ke zaman nihilisme.

Albert Camus kemudian membahas fakta sejarah ini secara panjang lebar dalam The Rebel (1951). Kecenderungan untuk mengasosiasikan nihilisme dengan ateisme berlanjut hingga saat ini. Hal ini dapat ditemukan, misalnya, dalam sebuah karya Helmut Thielicke berjudul Nihilism, yang pertama kali muncul pada tahun 1950.

Namun, selama abad ke-20, citra nihilis berubah, dengan perubahan yang sesuai dalam analisis nihilisme sebab dan akibat. Profesor Hermann Wein dari Universitas Göttingen menulis, misalnya, bahwa generasi yang lebih muda pada masanya cenderung menganggap nihilis bukan sebagai ateis sinis atau putus asa tetapi sebagai konformis robot.

Bagi mereka nihilisme bukan disebabkan oleh ateisme melainkan oleh industrialisasi dan tekanan sosial, dan konsekuensi tipikal yang ditimbulkannya bukanlah keegoisan atau bunuh diri, melainkan ketidakpedulian, pelepasan yang ironis, atau kebingungan belaka.

Skeptisisme Moral
Jika menurut nihilisme seseorang berarti tidak percaya pada kemungkinan membenarkan penilaian moral dalam beberapa cara yang rasional dan jika filsuf mencerminkan iklim intelektual zaman di mana mereka hidup, maka zaman kita benar-benar nihilistik.

Tidak ada periode dalam sejarah Barat, dengan kemungkinan pengecualian dari zaman Helenistik, begitu banyak filsuf menganggap pernyataan moral entah bagaimana sewenang-wenang.

Bagi banyak filsuf Kontinental, terutama para eksistensialis ateis, nilai-nilai moral adalah produk dari pilihan bebas — yaitu, keputusan yang tidak beralasan, tidak termotivasi, dan tidak rasional. Pernyataan paling menonjol dari pandangan ini adalah dalam Being and Nothingness (1943) oleh Jean-Paul Sartre.

Di Inggris dan Amerika, sebagian besar filsuf cenderung pada pandangan yang dikenal sebagai emotivisme, yang menurutnya pernyataan moral pada akhirnya dan pada dasarnya adalah produk dari kondisi sosial murni atau perasaan kasar. Yang paling terkenal, meskipun bukan yang paling ekstrim, perwakilan dari posisi ini adalah A. J. Ayer dan Charles Stevenson.

Nihilisme di era modern
NIhilisme muncul kembali sebagai trend di era modern. Walau tidak sedramatis gerakan nihilis politik Rusia, ada bentuk nihilisme modern yang muncul dari ketidakpastian di tengah masyarakat. Hal ini diduga merupakan efek dari era teknologi, hidup yang tenggelam dalam ketakutan, anxiety, ketidakamanan ekonomi, dan rasa putus asa.

Konsep nihilisme bahkan telah menjangkau anak-anak muda remaja. Mengutip The Guardian, pada tahun 2018, dua orang murid sekolah menengah atas, menjadi pembicara dalam Tedx talks Hardwood Union High School untuk topik nihilisme. Mereka mempresentasikan kasus yang mereka alami, dan mengaku sebagai seorang nihilis.

Jurnal pada International Journal of Liberal Arts and Social Science, melansir bahwa menurut Jahangir Jahangiri, Ph.D., beberapa ciri nihilisme modern adalah atomisasi individu, hubungan antar manusia yang semakin dingin, maraknya sistem abstrak dalam kehidupan, kesenjangan generasi, dan hilangnya nilai-nilai tradisional.

Ada kekhawatiran bahwa nihilisme akan menimbulkan egoisme yang tak terkendali. Akan tetapi nihilisme pada era modern tampaknya menganggap ketiadaan arti hidup sebagai alasan untuk menjalani hidup tanpa rasa khawatir berlebihan. Mencari kebahagiaan dan arti dari setiap hal yang dilakukan, dan memberi sebisanya untuk membentuk arti dari diri sendiri adalah hal yang dilakukan nihilis modern.

Memiliki prinsip dan pegangan dalam menjalani kehidupan sangatlah penting. Saling menghormati, menghargai dan toleransi terhadap perbedaan nilai personal yang diyakini dalam masyarakat harus tetap ada, untuk menjaga keharmonisan hidup.

Ciri Nihilisme
Pasti Anda berpikir, jika menjadi seorang nihilist, kita dituntut untuk tidak peduli dengan apapun dan siapapun. Mungkin saja akan terlihat seperti itu, tetapi sejatinya bukan seperti itu. Saat Anda meyakini paham nihilism sebagai sebuah pandangan hidup.

Maka akan ada dua jenis nihilist yang perlu Anda ketahui. Jika mengacu pada Nietzsche, ada dua jenis nihilist, yaitu aktif dan pasif. Sedangkan yang disarankan untuk orang-orang yang meyakini paham ini adalah nihilist aktif.

Tapi perlu kalian ketahui bahwa nihilist aktif sebenarnya hampir sama dengan yang pasif. Mereka sama-sama menolak nilai-nilai yang ada di dunia ini. Namun nihilist aktif sesudah menolak nilai-nilai tersebut, misalnya keadilan itu sebenarnya tidak ada, sebab hal itu bersifat subjektif. Kemudian mereka berpikir, “jika di dunia ini tidak ada yang penting, maka aku akan menjalani hidup semauku sendiri”.

Di sini, nihilist aktif memiliki kebebasan dan kedamaian terhadap ketidakadaan. Mereka menolak nilai-nilai tersebut untuk menciptakan tujuan hidup yang baru. Nihilist aktif juga tidak takut terhadap kenyataan karena mereka tidak percaya dengan apapun. Dengan begitu, mereka bisa bebas menentukan hal-hal yang akan dilakukan di dalam hidupnya.

Sedangkan nihilist pasif, mereka akan termakan dengan kenyataan bahwa hidup ini memang tidak berarti. Di mana hal tersebut justru membuat mereka menjadi down dan kondisi mental mereka menurun. Sebab, mereka selalu bertanya-tanya tentang apa yang seharusnya mereka lakukan. Ini adalah tipe nihilist yang perlu dihindari.

Nihilisme memang merupakan sebuah filosofi yang baru, sedikit berbeda dengan ide filosofis yang lain. Nihilisme diciptakan dari literasi, bahkan sebelum menjadi ide filosofis itu sendiri. Nihilisme juga seringkali salah dimengerti, dikira sebagai sebuah senjata politik yang bisa menjatuhkan negara dan budaya yang sudah lama berjalan.

Jenis Nihilisme
Nihilisme merupakan paham yang cukup rumit dan kompleks. Paham tersebut secara umum dibagi dalam lima jenis utama, yang seluruhnya memiliki karakteristik penolakan terhadap makna dari sesuatu. Diringkas oleh Donald Allen Crosby, kelima jenis tersebut di antaranya,
1. Moral Nihilism. Percaya bahwa tidak ada moral objektif atau proposisi yang benar. Tidak ada yang secara moral baik, buruk, salah, benar, dan sebagainya, karena tidak ada kebenaran dan tidak ada dasar yang kuat untuk moralitas atau etos apa pun. Oleh karena itu, segala sesuatu diizinkan. Nihilis moral dapat mengatakan bahwa pembunuhan tidak salah, tetapi juga bukan tindakan yang baik.
2. Political Nihilism. Adalah paham yang menentang segala jenis pendirian politik dan undang-undang pemerintah. Menolak otoritas tradisional termasuk gereja, gerakan semacam ini muncul di Rusia pada akhir abad ke-19.
3. Existential Nihilism. Merupakan pengertian nihilisme yang paling banyak dianut, yang menganggap semua tujuan, aspirasi, pengaruh dan tindakan tidak berarti. Jenis ini menganggap tidak ada Tuhan, tidak ada kehidupan setelah kematian, dan tidak ada domain transendental apapun.
4. Epistemological Nihilism. Menganggap bahwa kita tidak bisa mengetahui apa-apa dengan pasti dan menolak segala bentuk pengetahuan. Istilah ini juga dikenal sebagai skeptisisme radikal.
5. Cosmic Nihilism. Menyatakan bahwa tidak ada kebenaran atau makna tunggal di alam semesta. Kebebasan, cinta, harapan, dan kepuasan hanyalah fantasi yang kita masukkan untuk beradaptasi dari kekosongan dalam dunia kita, sebagai cara mengatasi stres.

Dampak Positif dari Filosofi Nihilism
Terlepas dari banyaknya masyarakat yang kontra dengan aliran ini. Kita perlu adil dalam menilai suatu aliran atau pemahaman. Cobalah untuk melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang. Dari banyaknya pro dan kontra yang muncul dari masyarakat, berikut beberapa dampak positif dari aliran nihilisme di antaranya,
1. Bisa Melakukan Apapun
Sekarang ini mungkin kita masih merasa terkekang dan sulit untuk berekspresi dan berkreasi. Sebab ada beberapa hal yang memang kita pegang norma dan aturannya. Sehingga, dalam melakukan sesuatu perlu kita lihat dahulu, apakah pantas untuk dilakukan atau justru menentang norma yang ada.

Dengan adanya paham ini, kita diminta untuk percaya terhadap semua yang ada hingga saat ini. Di mana kita semua berada di dalam ketidakadaan atau nihil. Sehingga semua masalah yang kita alami saat ini menjadi tidak penting lagi. Semua hal yang kita rasakan seperti sedih, bahagia, marah, dan lainnya menjadi tidak penting lagi.

Dengan begitu, kita dapat melakukan apa pun yang kita inginkan. Tidak perlu lagi menunggu rasa sedih ataupun bahagia untuk memulai hal-hal baik. Kita tidak perlu lagi menunggu suasana hati menjadi tenang untuk mengerjakan pekerjaan. Bahkan kita tidak perlu takut untuk dikecewakan oleh kehidupan. Itu artinya, kita bisa melakukan semua hal asalkan itu tidak merugikan siapa pun.

2. Bisa Menentukan Pilihan Hidup
Di dalam aliran ini mereka percaya, bahwa manusia yang hidup di Bumi perlu memiliki tujuan hidup masing-masing. Tujuan hidup ini tidak dilakukan karena prinsip keluarga, agama, atau budaya yang kita anut. Mungkin untuk beberapa orang, hal tersebut tidak menjadi masalah. Namun, nihilism meminta kita untuk mempunyai tujuan hidup yang kita tentukan sendiri. Tanpa adanya faktor eksternal yang masuk ke dalamnya.

Hal tersebut tentu akan memberikan dampak positif di kehidupan kita. Di mana kita bisa mempunyai tujuan hidup sendiri dan memahami segala sesuatu yang kita lakukan. Sehingga hal tersebut akan terakumulasi menjadi sebuah kesuksesan yang nantikan akan membuat kita bahagia.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Nihilisme: Pengertian, Perkembangan Konsep, Ciri, Jenis, dan Dampak Positifnya"