Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Deepfake: Pengertian, Cara Kerja, Jenis, Bahaya, Cara Mendeteksi, dan Mencegahnya

Pengertian Deepfake
Pengertian Deepfake

Deepfake adalah teknik untuk sintesis citra manusia menggunakan kecerdasan buatan. Kata deepfake memuat dua istilah "kajian mendalam (deep learning)" dan "fake (palsu)" dan sebentuk kecerdasan buatan (AI). Teknologi deepfake menggabungkan AI dengan konsep deep learning.

Istilah gampangnya, deepfake adalah video palsu yang dibuat dengan kajian mendalam. Deepfake merupakan video rekayasa atau materi digital yang dibuat oleh kecerdasan buatan yang canggih hingga menghasilkan gambar dan suara yang terlihat dan terdengar asli.

Teknologi ini mengompilasi gambar dan suara palsu yang kemudian digabungkan dengan algoritma pembelajaran mesin. Deepfake mampu menciptakan orang dan peristiwa atau kejadian yang sebenarnya tidak pernah benar-benar terjadi.

Karena kemampuan ini, deepfake telah digunakan untuk membuat video porno selebriti, pornografi balas dendam, berita palsu, hoax, perundungan, dan penipuan finansial. Dengannya, meskipun terlihat sangat canggih, teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab atau pelaku cyber crime untuk melakukan berbagai kejahatan.

Cara Kerja Deepfake
Deepfake dapat bekerja dengan memanfaatkan GAN (Generative Adversarial Network). GAN memungkinkan machine learning untuk mengenali suatu pola algoritma sehingga dapat membuat suatu gambaran palsu.

Selain menggunakan GAN, teknologi yang satu ini juga dapat memanfaatkan algoritma AI atau encoder untuk face replacement atau face swapping. Artinya, teknologi ini dapat mengambil dan menukar wajah bahkan tubuh seseorang sehingga menciptakan peristiwa yang sebenarnya tidak terjadi atau bahkan tidak dilakukan oleh orang tersebut.

Jenis Deepfake
Berikut beberapa jenis deepfake yang dibedakan berdasarkan bentuk konten yang dihasilkan di antaranya,
1. Deepfake teks
Teknologi deepfake yang memanfaatkan kecerdasan buatan saat ini sudah mampu meniru banyak aktivitas manusia, termasuk dalam hal menulis. Anda dapat menemukan tulisan di sebuah blog maupun sosial media yang sebenarnya tidak ditulis oleh manusia, melainkan oleh komputer yang meniru tulisan manusia.

Deepfake teks banyak digunakan untuk menciptakan narasi palsu di internet melalui tulisan di blog hingga sosial media. Bahkan, deepfake juga dapat membuat akun sosial media palsu hingga membuat postingan palsu.

2. Deepfake video
Kejahatan siber dalam bentuk deepfake video adalah yang paling sering ditemui. Umumnya, serangan deepfake video diluncurkan untuk memanipulasi atau menipu orang lain melalui video palsu dari orang-orang yang berpengaruh seperti tokoh bersejarah, selebriti, hingga politisi. Deepfake jenis ini lebih ampuh untuk melakukan penipuan dan sangat berbahaya.

3. Deepfake audio
Penipuan melalui deepfake tidak hanya terbatas pada teks, gambar, dan video. Kecanggihan deepfake saat ini bahkan dapat mengkloning suara seseorang dengan mudah.

Hal yang diperlukan untuk melakukannya hanyalah kumpulan data rekaman audio seseorang. Kemudian, algoritma deepfake akan mempelajari kumpulan data tersebut hingga dapat diciptakan kembali menjadi suara yang dapat mengucapkan apa saja.

Bahaya Deepfake
Kecanggihan teknologi deepfake dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yang bermanfaat atau merugikan. Salah satu contoh manfaat positif yang dapat dilakukan adalah memanfaatkannya untuk industri film. Teknologi ini dapat digunakan untuk menciptakan berbagai adegan film yang menakjubkan.

Meskipun memiliki sisi atau manfaat positif, teknologi ini juga dikenal sebagai suatu ancaman. Hal tersebut karena, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan berbagai tindakan kejahatan cyber. Misalnya, penipuan, pemalsuan, scamming, identity theft, social engineering, financial fraud, dan berbagai kejahatan siber lainnya.

Jika seseorang mengalami kejahatan siber, maka Ia akan mengalami banyak kerugian. Misalnya, tersebarnya informasi pribadi yang bisa disalahgunakan, kerugian finansial, dan berbagai jenis kerugian lainnya.

Cara Mendeteksi Video Deepfake
Video deepfake saat ini sudah menjadi semakin umum, maka kita harus lebih berhati-hati dan lebih cerdas dalam mendeteksi info palsu. Berikut beberapa indikator video deepfake di antaranya,
1.Cek kembali warna kulit, rambut, atau wajah seseorang dalam video tersebut. Biasanya video palsu akan menampilkan seseorang dengan wajah yang tampak lebih buram daripada gambar lingkungan di sekitarnya. Selain itu, fokus video juga terkadang terlihat tidak natural.
2. Cek pencahayaan video tersebut, apakah terlihat tidak natural? Perlu Anda ketahui bahwa seringkali algoritme deepfake akan tetap menggunakan pencahayaan dari video klip seseorang yang ingin ditambahkan. Jadi, pencahayaan akan terlihat tidak sesuai pencahayaan di video target.
3. Anda dapat mencermati kembali audio pada video tersebut karena deepfake seringkali menampilkan gerak mulut yang terlihat tidak natural. Hal ini banyak ditemukan terutama ketika video yang dimanipulasi menggunakan audio tidak diedit dengan baik.

Selain indikator di atas, saat ini juga sudah ada beberapa aplikasi yang bisa digunakan untuk mendeteksi video deepfake. Beberapa di antaranya,
1. Sensity
Sensity bekerja seperti antivirus yang dapat mendeteksi deepfake. Software ini dapat melindungi Anda dari ancaman kejahatan visual.

Sensity dikembangkan oleh para peneliti Machine Learning dan threat intelligence specialists dengan tujuan untuk melindungi individu ataupun perusahaan dari ancaman yang ditimbulkan deefake dan bentuk media visual berbahaya lainnya. Ketika digunakan, Sensity akan mengirimkan pemberitahuan melalui email saat users melihat sesuatu yang menunjukkan media sintetis buatan teknologi AI.

2. Operation Minerva
Software pendeteksi deefake yang selanjutnya bernama Operation Minerva. Software ini menggunakan digital fingerprinting untuk mengidentifikasi dan menemukan video palsu yang dibuat tanpa persetujuan Anda. Di halaman webnya, Operation Minerva menyebutkan bahwa mereka juga memberikan layanan untuk menghapus video palsu tersebut.

Cara Mencegah Kejahatan Deepfake
Deepfake memang terkesan cukup berbahaya dan sulit untuk dikenali. Namun demikian, berikut beberapa cara mencegah kejahatan deepfake yang bisa Anda lakukan di antaranya,
1. Kurangi postingan di sosial media
Setiap postingan yang Anda bagikan di internet akan meninggalkan jejak digital. Baik dalam bentuk tulisan, gambar, video, bahkan audio. Para pelaku kejahatan siber akan memanfaatkan data tersebut untuk melakukan deepfake. Untuk itu, ada baiknya untuk tidak terlalu banyak mengunggah hal tersebut ke sosial media.

2. Gunakan fitur privasi akun
Jika Anda ingin tetap aktif di media sosial, cara lain untuk mencegah kejahatan deepfake adalah dengan mengaktifkan fitur privasi. Selain itu, Anda juga dapat membatasi siapa saja orang-orang yang berteman denganmu di media sosial.

Pastikan Anda hanya menjalin interaksi dengan orang yang dikenal dan dapat dipercaya. Jangan berinteraksi dengan orang asing yang tidak dikenal, jika tidak ingin menjadi rentan terhadap penipuan.

3. Bijak dalam berinternet
Perlu diingat jika deepfake tidak hanya dapat mencuri foto dan membuat profil palsu secara online. Deepfake adalah kejahatan siber yang lebih serius hingga dapat memberikan dampak kerugian yang sangat besar pada korbannya. Untuk itu, selalu berhati-hati dan bijaklah dalam berinternet. Serta tidak mempercayai apa pun dengan mudah di internet.

4. Hindari Bahaya Deepfake
Deepfake adalah salah satu contoh penerapan Artificial Intelligence (AI) yang dapat menipu banyak orang dengan teknologi canggih yang dimilikinya. Kunci utama agar terhindar dari bahaya deepfake yaitu dengan selalu bersikap hati-hati dan tidak mudah percaya pada apa yang ditemukan dan lihat secara online.

Dari berbagai sumber

Download

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani من لم يذق مر التعلم ساعة, تجرع ذل الجهل طول حياته | “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment for "Deepfake: Pengertian, Cara Kerja, Jenis, Bahaya, Cara Mendeteksi, dan Mencegahnya"