Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Product Life Cycle, Faktor, Tahapan, Strategi, dan Contohnya

Pengertian Product Life Cycle, Faktor, Tahapan, Strategi, dan Contohnya


A. Pengertian Product Life Cycle (Daur Hidup Produk)

Product Life Cycle (daur hidup produk) adalah proses perjalanan dari penjualan dan keuntungan produk selama masa hidupnya, mulai produsen mengenalkan dan memasarkan produknya hingga produk tersebut tergantikan oleh produk sejenis yang lebih user-friendly, canggih dan terbaru. Keberlangsungan suatu produk biasanya diukur dari tingkat penjualan dan laba yang diraih oleh produk tersebut.

Konsep product life cycle pertama kali dikenalkan oleh Levitt pada tahun 1965 dalam artikelnya yang berjudul Exploit The Product Life Cycle. Siklus hidup produk yang dikelola dengan baik akan membantu pemasar lebih mampu mempertahankan produk yang menguntungkan dan menghentikan produk-produk yang tidak menguntungkan.

Product Life Cycle (Daur Hidup Produk) Menurut Para Ahli
1. Tjiptono (1998), product life cycle adalah suatu grafik yang menggambarkan riwayat suatu produk, sejak diperkenalkan ke pasar sampai dengan ditarik dari pasar.
2. Kotler (1988), product life cycle adalah suatu usaha untuk mengenali tahapan yang berbeda dalam sejarah penjualan produk.
3. Canon, Pereault dan McCarthy (2008), product life cycle adalah menggambarkan tahap-tahap yang dilalui suatu ide produk yang benar-benar baru dari awal hingga akhir.
4. Kotler dan Armstrong (2001), product life cycle adalah perjalanan penjualan dan laba suatu produk selama masa hidupnya. Hal tersebut meliputi lima tahap yang berbeda: pengembangan produk, pengenalan, pertumbuhan, kedewasaan, dan penurunan.
5. Anderson dan Zeithaml (1984), product life cycle adalah suatu konsep penting yang digunakan untuk menggambarkan serangkaian tahap dari suatu produk mulai dari tahap perkenalan (introduction) sampai produk tersebut mulai mengalami penurunan penjualan hingga akhirnya keluar dari pasar (decline).

B. Faktor Product Life Cycle (Daur Hidup Produk)
Faktor yang mempengaruhi product life cycle tidak terbatas beberapa di antaranya,
1. Penemuan ilmiah dan kemajuan teknologi. Ilmuwan dapat membuat penemuan mendadak dengan mempertimbangkan, misalnya, bahan yang Anda gunakan dalam produksi. Mirip dengan kasus Teflon, temuan ini mungkin menunjukkan efek berbahaya dari bahan tersebut, yang menggarisbawahi toksisitas produk Anda.
2. Nilai yang bergeser. Gerakan dan pandangan sosial memengaruhi pasar secara massal dan memaksakan persyaratan pada barang-barang konsumen. Misalnya tren produk ramah lingkungan muncul dari postulat para aktivis sosial. Pandangan yang diproklamasikan dan digabungkan oleh konsumen rata-rata mengharuskan produk Anda menyesuaikan dengan keadaan.
3. Pergeseran mode. Apa yang modis dan menjadi tren hari ini mungkin terlupakan atau menjadi tema ejekan besok. Jika Anda bukan seorang inovator, risiko produk Anda akan dianggap ketinggalan zaman akan tumbuh.
4. Munculnya pengganti kompetitif. Alternatif yang lebih murah, dirancang lebih baik, lebih nyaman, dan umumnya lebih menarik untuk produk Anda mungkin muncul begitu saja dan menarik perhatian pelanggan Anda, mencuri pangsa pasar Anda.
5. Alasan politik. Memburuknya hubungan antar negara dapat menyebabkan penurunan perdagangan atau bahkan penghentiannya. Jika produk Anda ditargetkan ke pasar luar negeri, Anda mungkin kehilangan sebagian besar pelanggan Anda.
6. Stabilitas ekonomi. Krisis ekonomi dapat menyebabkan pemiskinan dan mempengaruhi daya beli pelanggan. Jika hanya sebagian kecil dari basis pelanggan awal Anda yang mampu membeli produk Anda, Anda perlu memikirkan niche alternatif, metode produksi yang lebih murah, dan cara lain untuk menjaga agar produk Anda tetap terjangkau dan diminta.

C. Tahapan Product Life Cycle (Daur Hidup Produk)
Pada setiap tahap dalam daur hidup produk memiliki karakteristik tersendiri menurut Kotler (2007) di antaranya,
1. Pada tahap perkenalan penjualan rendah, biaya per pelanggan yang tinggi, laba negatif, pelanggan inovator, dan pesaing sedikit.
2. Pada tahap pertumbuhan penjualan meningkat dengan cepat, biaya rata-rata per pelanggan, laba meningkat, pelanggan pemakai awal, dan pesaing jumlahnya bertambah.
3. Pada tahap kedewasaan berada di puncak penjualan, biaya per pelanggan yang rendah, laba tinggi, pelanggan mayoritas tengah, dan jumlah pesaing stabil mulai menurun.
4. Pada tahap penurunan terjadi penurunan penjualan, biaya per pelanggan rendah, laba menurun, pelanggan pemakai terlambat, dan pesaing jumlahnya menurun.

Pada setiap tahap tersebut terdapat peluang dan masalah yang berbeda-beda dalam kaitannya dengan strategi pemasaran dan potensi laba. Dengan mengenali tahap di mana suatu produk sedang berada, atau akan dituju, pihak manajemen dapat merumuskan rencana dan strategi pemasaran yang tepat. Adapun tabel di bawah ini menggambarkan karakteristik pada masing-masing tahapan daur hidup produk.

D. Strategi Product Life Cycle (Daur Hidup Produk)
Konsep siklus daur hidup produk dapat digunakan dalam mengembangkan strategi pemasaran. Adapun strategi pemasaran yang dapat digunakan dalam setiap tahapan siklus daur hidup produk di antaranya,
1. Tahap Perkenalan (Introduction)
Terdapat empat strategi pemasaran yang dapat digunakan dalam tahap perkenalan di antaranya,
a. Strategi peluncuran cepat (rapid-skimming strategy). Merupakan peluncuran produk baru pada harga tinggi dengan tingkat promosi tinggi. Perusahaan mengenakan harga tinggi untuk memperoleh laba per unit yang setinggi mungkin. Biaya promosi yang tinggi untuk meyakinkan pasar tentang manfaat produk walaupun harganya mahal. Promosi yang tinggi ini juga dapat mempercepat penetrasi pasar. Strategi ini dapat diterima dengan asumsi sebagian pasar potensial tidak menyadari produk itu; konsumen telah sadar akan produk dan dapat membayar harga yang diminta; dan perusahaan menghadapi persaingan potensial dan bermaksud membangun preferensi merek.
b. Strategi peluncuran lambat (low-skimming strategy). Strategi ini bisa diterima dengan asumsi: ukuran pasar terbatas; sebagian besar pasar sadar akan produk itu; pembeli bersedia membayar dengan harga tinggi; dan persaingan potensial belum mengancam.
c. Strategi penetrasi cepat (rapid-penetration strategy). Strategi ini bisa diterima bila pasar besar, pasar tidak menyadari kehadiran produk; sebagian besar pembeli peka terhadap harga; terdapat persaingan potensial yang kuat; dan biaya produksi per unit turun sejalan dengan skala produksi dan bertambahnya pengalaman manufaktur.
d. Strategi penetrasi lambat (slow-penetration strategy). perusahaan percaya permintaan pasar sangat peka terhadap harga tetapi kurang peka terhadap promosi, strategi ini masuk akal bila pasar besar; pasar sangat sadar akan produk; pasar peka terhadap harga; dan ada persaingan potensial.

2. Tahap pertumbuhan (Growth)
Strategi pemasaran yang dapat digunakan pada tahap pertumbuhan di antaranya,
a. Perusahaan meningkatkan kualitas produk serta menambahkan keistimewaan produk baru dan gaya yang lebih baik.
b. Perusahaan menambahkan model-model baru dan produk-produk penyerta (yaitu, produk-produk dengan berbagai ukuran, rasa dan sebagainya yang melindungi produk utama).
c. Perusahaan memasuki segmen pasar baru.
d. Perusahaan meningkatkan cakupan distribusinya dan memasuki saluran distribusi baru.
e. Perusahaan beralih dari iklan yang membuat orang menyadari produk (product-awareness advertising) ke iklan yang membuat orang memilih produk (product-preference advertising).
f. Perusahaan menurunkan harga untuk menarik pembeli yang sensitif terhadap harga di lapisan berikutnya.

3. Tahap kedewasaan (Maturity)
Pada tahap kedewasaan, terdapat beberapa perusahaan yang meninggalkan produk mereka yang kurang kuat. Mereka memilih untuk mengonsentrasikan sumber daya mereka pada produk yang lebih menguntungkan dan pada produk baru. Strategi pemasaran pada tahap ini di antaranya,
a. Modifikasi pasar. Perusahaan dapat mencoba memperluas pasar untuk mereknya yang mapan dengan mengatur dua faktor yang membentuk volume penjualan, yaitu jumlah pemakai merek dan tingkat pemakaian per pemakai. Perusahaan dapat mencoba memperluas jumlah pemakai merek dengan tiga cara, yaitu: mengubah orang yang bukan pemakai, memasuki segmen pasar baru dan memenangkan pelanggan pesaing. Volume pemakaian dapat juga ditingkatkan dengan meyakinkan pemakai merek sekarang untuk meningkatkan pemakaian tahunan merek tersebut, dengan strategi penggunaan lebih sering, lebih banyak pemakaian pada saat penggunaan dan penggunaan baru dan lebih bervariasi.
b. Modifikasi produk. Perusahaan dapat mendorong penjualan dengan memodifikasi karakteristik produk melalui: 1) Peningkatan kualitas, Hal ini bertujuan meningkatkan kinerja fungsional produk seperti, daya tahan, keandalan, kecepatan, rasa, dsb. 2) Peningkatan keistimewaan, hal ini bertujuan menambah keistimewaan baru seperti, ukuran, berat, bahan, bahan tambahan, aksesoris. Keanekagunaan, keamanan, atau kenyamanan produk akan semakin meluas. 3) Peningkatan gaya, hal ini bertujuan meningkatkan daya tarik estetis suatu produk agar lebih menarik perhatian konsumen.
c. Modifikasi bauran pemasaran. Perusahaan juga dapat mencoba mendorong penjualan dengan memodifikasi berbagai elemen bauran pemasaran, seperti: 1) Memberikan potongan harga, 2) Membuka saluran distribusi yang lebih luas, 3) Menambah pengeluaran untuk iklan, 4) Meningkatkan promosi penjualan, dan 5) Meningkatkan pelayanan.

4. Tahap penurunan (Decline)
Strategi pemasaran yang dapat dilakukan selama masa penurunan di antaranya,
a. Mengidentifikasi produk lemah.
b. Menentukan strategi pemasaran yang harus segera dilakukan.
c. Keputusan penghentian.

E. Contoh Product Life Cycle (Daur Hidup Produk)
Terdapat beberapa contoh product yang mengalami product life cycle atau PLC di antaranya,
1. Teh Botol Sosro
Produk teh botol sosro pada masanya sangat dikenal oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan promosi dengan tagline “apapun makananannya, minumnya tetap teh botol sosro”. Sehingga banyak menarik minat masyarakat. Sering dipakai untuk acara hajatan, rapat, seminar, konser atau lainnya dalam jumlah besar. Oleh karena itu, permintaan semakin meningkat. Produsen memperoleh banyak keuntungan di sini. Tapi walaupun begitu, tidak serta merta meninggalkan promosi.

Seiring berjalannya waktu ia mulai tergeser dengan adanya teh kotak. Jenis yang dijual sama tetapi dengan bentuk yang berbeda. Konsumen mulai tertarik, dan terjadi penurunan penjualan teh botol sosro. Untuk mengatasi hal ini mereka menciptakan model dan rasa baru. Semata-mata untuk menarik minat masyarakat kembali.

2. Frisian Flag
Cikal bakal Frisian Flag, pertama kali ada di Belanda pada tahun 1913. Saat itu beberapa persatuan peternak sapi perah mulai bergabung dan mendirikan perusahaan. Hingga pada akhirnya sampai ke Indonesia dan dikenal dengan susu bendera, yang memimpin industri susu selama 91 tahun. Pada tahun 1991 pabrik yang ada di Pasar Rebo mulai didirikan. Mereka berbenah dengan kemasan sachet dan logo yang lebih cerah.

Walaupun banyak produk susu lain yang beredar di pasaran. Saat ini, belum ada yang menggeser Frisian Flag. Karena mereka menerapkan strategi seperti bekerjasama dengan sekolah di Indonesia untuk mensosialisasikan pentingnya menjaga nutrisi. Memberikan beasiswa kepada anak yang kurang mampu, dan mendirikan posyandu. Sehingga tak heran, masih eksis hingga saat ini.

3. Pepsodent
Setelah pepsodent diciptakan mereka gencar mengadakan promosi baik di majalah, koran atau televisi. Alhasil banyak masyarakat yang tertarik untuk mengonsumsinya. Puluhan tahun penjualannya stabil karena jangkauan distribusi yang luas. Saingan pepsodent mulai bermunculan seperti Ciptadent, Sensodent dan lain sebagainya. Sehingga penjualan produk mulai menurun. Walaupun begitu tidak serta merta membuatnya bangkrut.

Produsen memutar otak bagaimana caranya agar kembali stabil seperti semula. Diciptakanlah beberapa variasi seperti herbal, white now, sensitive dan masih banyak lagi yang lainnya. Inovasi inilah yang menyebabkan pabrik pepsodent masih berjalan hingga sekarang, nah kira-kira seperti itu siklus hidup produk pepsodent di tengah gempuran para kompetitor.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.1 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
2. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.2 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
3. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.3 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
4. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 1. Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
5. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 1. Perubahan Sosial (KTSP)
6. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.1 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
7. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.2 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
8. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.3 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
9. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.4 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
10. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.5 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
11. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.6 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
12. Materi Ujian Nasional Kompetensi Perubahan Sosial             
13. Materi Ringkas Perubahan Sosial

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Untuk ilalang yang senang merentang garis-garis fantastik di langit

Post a Comment for "Pengertian Product Life Cycle, Faktor, Tahapan, Strategi, dan Contohnya"