Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rate Card: Pengertian, Fungsi, Cara Menentukan, dan Cara Membuatnya

Pengertian Rate Card
Rate Card
Pengertian Rate Card
Rate card adalah dokumen berisikan rincian harga untuk penempatan iklan di sebuah perusahaan, di mana di dalamnya juga terdapat detail mengenai demografi, biaya tambahan, dan lainnya. Perusahaan yang menyediakan rate card biasanya bergerak di bidang media dan publikasi.

Rate card merupakan bagian Public Relations untuk memosisikan tarif awal sesuai dengan value yang dimiliki di pasaran. Meskipun rate card mencantumkan tarif iklan, namun tarif yang tertera pada rate card adalah tarif yang mungkin bisa berubah tergantung hasil negosiasi.

Saat ini, bukan hanya perusahaan saja yang membutuhkannya. Para influencer, key opinion leader (KOL), content creator, dan masih banyak lagi juga menggunakannya untuk mengkomunikasikan tarif awal kepada calon pengguna untuk setiap jasa penempatan iklan yang memanfaatkan platform yang mereka miliki.

Fungsi Rate Card
Dunia bisnis belakangan ini mempunyai media lain untuk mengiklankan produk mereka, yakni melalui influencer atau content creator. Influencer adalah orang-orang yang punya pengaruh di media sosial seperti Facebook, Instagram, ataupun Twitter.

Content creator adalah orang-orang yang berkecimpung menciptakan konten digital baik di platform media sosial ataupun youtube. Para influencer ataupun content creator ini umumnya memiliki pengikut/followers yang sangat banyak.

Para pengikut mereka di media sosial dan juga youtube bisa mencapai ribuan hingga jutaan orang. Dari sinilah celah kesempatan berbisnis dimulai. Influencer bisa memanfaatkan para pengikut mereka sebagai “pasar potensial” untuk memasarkan produk. Mayoritas yang dipromosikan bukanlah produk mereka sendiri, tapi milik orang lain.

Jika pihak lain tertarik untuk bekerjasama memasarkan iklan atau bahasa kekiniannya “endorse”, maka ada tarif tertentu yang harus disepakati kedua belah pihak.

Rate card penting karena sebagai seorang influencer profesional, tentunya Anda harus mematok tarif yang profesional juga. Itulah kenapa Anda harus membuat rate card yang sesuai dengan kemampuan pemasaran Anda.

Tarif yang Anda patok juga bisa menjadi pertimbangan bagi calon mitra yang ingin mengendorse Anda. Daftar tarif juga memudahkan kedua belah pihak. Dari segi influencer bisa menyeleksi perusahaan yang benar-benar serius ingin bekerja sama dan setuju dengan tarif Anda.

Sementara dari sisi perusahaan juga bisa meninjau lebih dulu trafik dan prestasi endorsemen Anda sebelum mereka memutuskan akan menggunakan jasa Anda.

Cara Menentukan Rate Card
Tarif yang ada pada rate card tidak bisa sembarangan dibuat melainkan harus sesuai dengan data yang ada. Bahkan, dalam rate card juga dicantumkan data yang memuat berapa rata-rata banyaknya orang yang melihat, menyukai, memberikan komen, dan membagikan kontennya.

Rate card juga dibuat untuk menjelaskan kepada calon klien siapa pengikut mereka dan seberapa besar pengikut mereka engage dengan konten-konten yang mereka buat. Hal ini tentu sangat berpengaruh untuk meyakinkan calon klien untuk menggunakan jasa dari influencer tersebut atau tidak.

Beberapa cara untuk menentukan rate card di antaranya,
1. Cost per action (CPA)
Cost per Action atau CPA Marketing adalah strategi pemasaran online yang memungkinkan influencer untuk mendapatkan komisi dari action yang dilakukan oleh pengikutnya (user/leads). Action bisa berupa download, mengisi form, melakukan pembelian, dll.

Meskipun begitu, tidak semua bisa dihitung secara tepat dengan Cost per Action (CPA) ini, misalnya target market tertarik dengan suatu produk yang diiklankan oleh influencer namun memilih langsung melakukan action dengan membeli di toko offline.

Beberapa influencer menilai penawaran campaign dengan konsep Cost per Action ini kurang menarik karena ketidakpastian terhadap jumlah fee yang akan mereka dapatkan. Dengan effort yang sama, bisa saja jumlah action yang didapatkan berbeda karena masih ada faktor kualitas produk yang menentukan minat dan ketertarikan dari target market atau calon konsumen.

2. Cost per view (CPV)
Cara menentukan rate card yang kedua adalah dengan Cost per View (CPV). Cost per View bisa dijadikan sebagai acuan untuk menentukan rate card dengan cara melihat rata-rata views yang didapatkan oleh influencer untuk setiap konten yang diunggah melalui platform miliknya (Instagram, TikTok, YouTube, Twitter, Blog, dll).

Cost per View sekarang ini rata-rata adalah Rp100,00 sampai dengan Rp1.000,00. Tentunya rentang nilai ini juga masih berhubungan dengan aspek-aspek lain untuk diperhitungkan yang akan dibahas pada poin selanjutnya.

Misalnya rata-rata views yang didapatkan oleh influencer A untuk setiap postingan di Instagram Story-nya adalah 32.000 views, maka kisaran rate card influencer tersebut berada di rentang harga Rp3.200.000,00 hingga Rp32.000.000,00.  Cost per View (CPV) ini dipengaruhi oleh beberapa aspek di antaranya,
a. Uniqueness
Salah satu aspek yang menentukan CPV dalam rate card adalah uniqueness atau tingkat keunikan influencer di antara influencer lainnya. Tingkat keunikan ini bisa ditentukan dari konten yang dibuat dan personality dari influencer. Semakin terbatas jumlah influencer yang membahas atau mengangkat tema tertentu, maka CPV-nya bisa semakin naik.

b. Niche
Niche atau ceruk difokuskan pada sekelompok kecil pelanggan. Niche market adalah bagian pasar yang terfokus dan dapat ditargetkan. Jika influencer memiliki niche atau target konsumen tertentu yang spesifik dan jarang dimiliki oleh influencer lainnya, maka hal tersebut bisa menjadikan CPV lebih tinggi dibanding yang lain.

Sebagian besar pihak pengiklan sangat mempertimbangkan niche yang dimiliki oleh influencer karena market yang dinilai lebih tertarget sehingga lebih mudah untuk menarik calon konsumen.

c. Personal brand value
Influencer yang memiliki personal brand value yang kuat memiliki penilaian yang lebih tinggi di mata calon klien karena diharapkan bisa memperkuat brand value dari produk atau jasa yang dimilikinya. Itulah mengapa influencer dengan personal brand value yang kuat cenderung memiliki CPV yang lebih tinggi dibanding yang lainnya.

Cara Membuat Rate Card
1. Cari tahu audiens Anda
Langkah pertama yang harus diikuti ketika membuat rate card adalah mencari tahu siapa saja audiens Anda terlebih dahulu. Misalkan content creator yang berfokus di konten seputar kehidupan menjadi seorang ibu. Ia memiliki followers sebanyak 50 ribu, dengan engagement yang cukup tinggi baik itu di post maupun untuk Story. Audiens yang dimiliki pun cukup tersegmentasi.

Hal ini bisa jadi nilai lebih bagi perusahaan yang produknya juga tersegmentasi, seperti alat kebersihan bayi, suplemen untuk ibu, dan lainnya.

2. Tentukan harga berdasarkan berbagai macam metrik
Terdapat beberapa metrik yang bisa dipertimbangkan saat menentukan harga dalam rate card, dua di antaranya adalah cost per view (CPV) dan cost per action (CPA). Saat menentukan harga, jangan lupa juga untuk mencantumkan persentase engagement. Dengan begitu, perusahaan jadi bisa memilih jasa mana yang terbaik untuk mereka.

3. Buat desain yang menarik
Terakhir, cobalah buat rate card dengan desain yang menarik dan mudah untuk dibaca. Pastikan semua tarif tertera dengan jelas dan didesain sesuai dengan brand image Anda.

Dari berbagai sumber

Download

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Rate Card: Pengertian, Fungsi, Cara Menentukan, dan Cara Membuatnya"