Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cloud Kitchen: Pengertian, Model, Cara Kerja, Jenis, Strategi, Contoh, Kelebihan, dan Kekurangannya

Pengertian Cloud Kitchen
Cloud Kitchen
Pengertian Cloud Kitchen
Cloud kitchen adalah ruang yang digunakan untuk menyiapkan makanan khusus untuk delivery order saja. Cloud kitchen bertindak sebagai restoran virtual tanpa ruang makan fisik. Sederhananya, cloud kitchen diartikan sebagai dapur bersama yang hanya digunakan untuk menyiapkan makanan pesan-antar. Artinya, Anda tidak bisa memilih dine in atau makan di tempat.

Cloud kitchen menyediakan dapur operasional untuk penyiapan makanan yang berfungsi sebagai unit produksi. Biasanya, cloud kitchen berafiliasi dengan layanan pesan-antar makanan seperti Grabfood, GoFood, atau dengan layanan pengiriman lokal lainnya. Proses pemesanan dapat dilakukan konsumen dengan aplikasi restoran atau aplikasi pihak ketiga tersebut.

Sedangkan pembayaran bisa dilakukan melalui dompet digital atau pembayaran tunai ketika kurir datang (cash on delivery). Ada berbagai nama lain yang diberikan untuk konsep cloud kitchen, seperti virtual kitchen, virtual restaurant, shared kitchens, commissary kitchens, ghost kitchen, shadow kitchen, dark kitchen, dll.

Model Bisnis Cloud Kitchen
Cloud kitchen sendiri memiliki beberapa jenis model bisnis. Dilansir dari Limetray, beberapa contoh jenis model bisnis cloud kitchen di antaranya,
1. Single brand, single kitchen, no storefront
Merupakan model asli dari cloud kitchen, terdiri dari satu brand dan satu dapur.

2. Multi-brand (cuisine), single kitchen, multiple outlets, no storefront
Model cloud kitchen yang terdiri dari beberapa outlet dan masing-masing outlet terdiri dari beberapa pilihan brand makanan yang memiliki demand tinggi di wilayahnya. Cloud kitchen model ini berbagi dapur bersama.

3. Single brand, single kitchen, multiple outlets, with a storefront
Model cloud kitchen ini adalah semacam perpaduan antara restoran takeaway dan cloud kitchen. Intinya, model ini memanfaatkan semua efisiensi operasional model bisnis cloud kitchen tetapi juga memiliki jendela “nyata” dengan pelanggan yaitu storefront yang memungkinkan pelanggan melihat bagaimana makanan mereka dibuat.

4. Aggregator owned, multi (restaurant) brand, rented co-working kitchens, no storefront
Model cloud kitchen ini dimiliki dan disewakan oleh aggregator. Bisnis restoran yang sudah mapan (atau baru) menyewa ruang dapur yang dimiliki oleh aggregator, memanfaatkan pemesanan online, dan pengiriman dari aggregator. Restoran cukup membawa peralatan, staf, bahan baku dan resep. Sederhananya, restoran yang memasak dan aggregator yang melakukan sisanya.

5. Aggregator owned, multi-restaurant brand, rented kitchens, with a storefront
Model bisnis ini bisa dilihat dari model bisnis Zomato. Model bisnis cloud kitchen ini didasarkan pada gagasan dapur sewaan tetapi lengkap dengan peralatan dapur dan proses komprehensif di dalamnya. Misalnya, dalam cloud kitchen model ini, Zomato juga membagikan pengetahuannya tentang manajemen permintaan pesanan.

6. Cooking and delivery fully outsourced
Ini adalah konsep yang relatif baru dalam campuran model bisnis cloud kitchen. Dalam model ini, kamu dapat mengalihdayakan semuanya mulai dari call centre operation, dapur, dan delivery. Sebagian besar persiapan dapur di-outsource, kemudian baru dikirim ke dapur kamu untuk diberikan sentuhan akhir oleh koki pemilik restoran, setelah itu akan diambil lagi untuk dikirim kepada pelanggan.

Cara Kerja Cloud Kitchen
Berdasarkan model bisnis cloud kitchen di atas, cara kerja cloud kitchen pada umumnya sama, yaitu pelanggan memesan makanan secara online melalui aplikasi layanan pesan-antar makanan, kemudian operator dari cloud kitchen akan melakukan konfirmasi pesanan dan mulai membuat dan menyiapkan pesanan dari cloud kitchen.

Jika pesanan sudah selesai dibuat, maka operator dari cloud kitchen akan menyerahkan pesanan kepada driver untuk langsung dikirimkan ke pelanggan. Cara kerja cloud kitchen ini tentu akan menguntungkan bagi pelanggan karena sistem cloud kitchen memiliki pengantaran produk yang lebih cepat dan memungkinkan untuk memilih menu dari berbagai restoran yang lebih beragam.

Lebih jelasnya berikut langkah kerjanya:
1. Penyedia atau pengelola cloud kitchen membangun sebuah dapur pusat berukuran besar, yang akan digunakan oleh para pelaku bisnis kuliner sebagai penyewa.
2. Dapur tersebut dibagi atas beberapa bilik yang akan ditempati oleh masing-masing penyewa, dari sejumlah brand dan berbagai macam jenis kuliner yang diproduksinya.
3. Ketika pemilik bisnis kuliner menyewa bilik di sebuah cloud kitchen, setiap pesanan makanan yang masuk secara online akan langsung diteruskan ke pihak dapur.
4. Setelah pesanan selesai dibuat dan dikemas, pesanan langsung diantarkan dengan jasa kurir pengantaran makanan.
5. Terakhir, pesanan diterima oleh konsumen.

Jenis Cloud Kitchen
Dirangkum dari jurnal karya Nindya Anggita Machdar dan Fergy Fharadiva Andreas serta laman speedkitchen.in, macam atau jenis dari cloud kitchen di antaranya,
1. Inkubator (Pop-up Kitchen)
Pop-up ghost kitchen yaitu jenis cloud kitchen berupa ruang yang menempel pada bangunan restoran. Namun, dapur ini hanya digunakan untuk memenuhi pesanan dan pengiriman online saja.

2. Dapur Bersama (Commissary)
Dapur bersama atau commissary adalah jenis cloud kitchen berupa ruang komersial yang digunakan bersama oleh beberapa restoran. Dapurnya akan dilengkapi dengan semua perlengkapan dan peralatan masak yang dibutuhkan.

Pada dasarnya, dapur commissary merupakan dapur yang juga bisa untuk disewakan ke restoran atau pengusaha makanan mana pun. Sehingga, penggunaan dapur jenis ini tidak memerlukan uang muka yang besar dan bisa menjadi model strategis, serta efisien untuk menghasilkan keuntungan.

Dalam konsep dapur bersama multi-brand, model bisnisnya akan didasarkan pada masakan paling populer atau paling banyak dipesan di area tertentu (area yang bisa diidentifikasi dan dilayani). Pelayanan dan persiapan makanan akan dilakukan di dapur komersial bersama. Akan ada berbagai merek yang menyiapkan dan mengemas makanan yang telah dipesan.

3. Kitchen Pods
Kitchen pods adalah jenis cloud kitchen yang bentuknya paling sederhana, karena hanya menggunakan kontainer pengiriman. Jenis dapur ini, bisanya sering ada di tempat parkir di belakang restoran. Tujuannya, agar kitchen pods akan mudah diangkut. Namun, tak jarang bentuk dapur ini yang kecil mungkin akan membuat orang yang bekerja di dalamnya kurang nyaman.

4. Independent Cloud Kitchen
Sesuai dengan namanya, independent cloud kitchen merupakan sebutan model bisnis yang tidak ada bentuk restoran fisiknya. Biasanya, model bisnis ini terdiri dari satu merek yang secara mandiri menyiapkan makanan sesuai dengan pesanan yang diterimanya secara online.

6. Hybrid Cloud Kitchen
Hybrid cloud kitchen merupakan jenis dapur dari perpaduan antara takeout restoran dan cloud kitchen. Proses pengiriman makanan bisa dilakukan secara independen atau melalui aplikasi pihak pengiriman makanan (aggregator). Model bisnisnya memiliki satu merek yang bekerja di satu dapur. Namun, merek itu juga memiliki beberapa gerai walk-in yang menawarkan layanan take away dan delivery.

7. Cloud Kitchen Owned By Delivery Apps
Cloud kitchen yang dimiliki oleh aplikasi pengiriman yaitu model di mana perusahaan aplikasi pengiriman, akan menyewa atau membeli ruang dapur yang lokasinya strategis.

Mereka akan menawarkan dapur itu ke berbagai merek makanan. Dalam hal ini, pesanan dilakukan melalui aplikasi dan armada pengiriman juga menjadi milik aplikasi tersebut. Sehingga, jenis cloud kitchen ini akan melibatkan hubungan simbiosis antara perusahaan aplikasi dan merek makanan.

Merek makanan akan memanfaatkan jangkauan aplikasi, untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan. Sedangkan, aplikasi memanfaatkan merek makanan untuk memberikan lebih banyak pilihan kepada penggunanya.

Strategi Bisnis Cloud Kitchen
Untuk membangun suatu bisnis dengan konsep cloud kitchen ini, maka diperlukan strategi khusus agar bisnis tetap bisa berkembang dan bersaing. Berikut strategi bisnis cloud kitchen yang bisa diterapkan.
1. Memaksimalkan media sosial dan website
Media sosial harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai upaya promosi bisnis karena menjadi salah satu ujung tombak untuk mengenalkan brand kepada konsumen. Caranya bisa dengan lebih sering berinteraksi dengan followers dan memberikan giveaway untuk mereka yang aktif membagikan postingan dari akun sosmed bisnis Anda.

Selain media sosial, Anda juga bisa memaksimalkan informasi produk melalui website. Buatlah website yang menarik dan informatif sehingga pelanggan yakin untuk memesan makanan dari restoran Anda. Sosial media dan website menjadi medium yang bisa diakses pelanggan karena mereka tidak bisa langsung mengunjungi restoran Anda.

2. Merekrut staf dan koki yang berpengalaman
Beberapa biaya yang telah ditekan bisa dialokasikan untuk memaksimalkan sumber daya manusia yang dipekerjakan. Karena tidak ada tempat untuk makan di tempat, maka Anda harus bisa membuat cita rasa yang bisa memberikan kepuasan terhadap pelanggan. Penyajian dan pengemasannya pun harus diperhatikan agar menarik.

3. Meminta pelanggan untuk memberikan ulasan
Ulasan pelanggan adalah salah satu aspek penting yang bisa mempengaruhi seseorang untuk memutuskan memesan dari restoran Anda atau tidak. Ulasan pelanggan sifatnya adalah organik sehingga untuk mendapatkan ulasan yang positif, maka Anda juga harus memberikan kualitas dan pelayanan yang terbaik.

Contoh Cloud Kitchen di Indonesia
1. Yummykitchen
Yummykitchen merupakan salah satu cloud kitchen paling besar di Indonesia. Cabangnya sudah ada di Jabodetabek. Untuk saat ini, Yummykitchen sedang berusaha mengepakkan sayapnya ke berbagai wilayah lain seperti Surabaya dan Medan.

Fasilitas yang diberikan oleh Yummykitchen sendiri cukup lengkap, meliputi operasional, property, peralatan dapur, karyawan, dan listing management.

2. GrabKitchen
GrabKitchen merupakan layanan dapur bersama yang disediakan oleh Grab, salah satu penyedia ojek online yang besar di Indonesia. Umumnya, para business owner di GrabKitchen merupakan mitra GrabFood.

3. Dapur Bersama Gofood
Tak mau kalah dengan kompetitor, Gojek juga meluncurkan Dapur Bersama Gofood. Kamu tentu sudah bisa menebak kalau sebagian besar penyewa di DBG ini merupakan mitra Gofood berintegritas tinggi.

Kelebihan dan Kekurangan Cloud Kitchen
Cloud kitchen adalah sebuah alternatif yang bagus untuk restoran tradisional. Cloud kitchen menawarkan kebebasan kepada pengguna untuk fokus pada persiapan makanan dan pemasaran produk serta meminimalkan kerumitan administrasi dan logistik yang sering membebani bisnis makanan.

Kelebihan dari Cloud Kitchen
1. Biaya awal cloud kitchen yang terjangkau
Menggunakan cloud kitchen dapat mengurangi biaya awal karena bisnis makanan tidak memerlukan modal untuk sewa dan renovasi bangunan. Selain itu, dengan cloud kitchen, bisnis makanan bisa dimulai secepatnya tanpa harus menunggu proses renovasi selesai.

2. Biaya operasional cloud kitchen lebih rendah
Biaya operasional yang dikeluarkan pada cloud kitchen lebih rendah jika dibandingkan restoran tradisional. Biaya yang dapat ditekan misalnya biaya infrastruktur, biaya logistik, biaya overhead, dll.

3. Cloud kitchen membutuhkan lebih sedikit sumber daya manusia
Dalam cloud kitchen, kamu tidak perlu mempekerjakan staf untuk melayani pelanggan sehingga jika dibandingkan dengan restoran tradisional, hanya sepertiga sumber daya manusia yang dibutuhkan.

4. Ekspansi bisnis lebih mudah dengan cloud kitchen
Karena operasinya hanya terbatas pada dapur, total biaya capex (capital expenditure) jauh lebih rendah daripada restoran tradisional. Bisnis makanan dapat memanfaatkan skala cloud kitchen untuk menguji geografi baru dan konsumen tanpa berinvestasi dalam infrastruktur sehingga ekspansi bisnis lebih mudah dilakukan.

5. Laba tinggi
Karena banyak biaya yang dapat ditekan dalam cloud kitchen, maka membuat bisnis lebih cepat mencapai Break Even Point (BEP) sehingga menjadikannya usaha yang menguntungkan.

Kekurangan dari Cloud Kitchen
Meskipun begitu, cloud kitchen juga datang dengan beberapa kelemahan. Beberapa kelemahan cloud kitchen di antaranya,
1. Kesulitan membangun brand
Untuk bisnis yang baru berdiri mungkin akan kesulitan membangun brand karena cloud kitchen berjalan secara online saja, maka interaksi dengan pelanggan menjadi terbatas. Konsumen cenderung tidak menjadi pelanggan tetap dan tidak akan dapat terhubung dengan brand restoran tertentu karena mereka memesan dari aplikasi pihak ketiga dengan berbagai restoran yang terdaftar.

2. Cloud kitchen membuat ketergantungan pada aggregator makanan
Kecuali restoran memiliki aplikasi pengiriman sendiri, akses ke pelanggan adalah melalui aggregator makanan pihak ketiga. Aggregator ini mengenakan biaya antara 15% dan 35% ke restoran sebagai komisi. Idealnya, restoran tidak mempermasalahkan ini, tetapi khawatir tentang dampak komisi tinggi terhadap bisnis mereka dalam jangka panjang.

3. Keterbatasan mengakses data pelanggan
Karena bekerjasama dengan aggregator makanan pihak ketiga, maka restoran tidak bisa mendapatkan detail jelas data pelanggan mereka. Hal ini bisa berdampak buruk pada tingkat retensi pelanggan dalam jangka panjang.

Dari berbagai sumber

Download

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani من لم يذق مر التعلم ساعة, تجرع ذل الجهل طول حياته | “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment for "Cloud Kitchen: Pengertian, Model, Cara Kerja, Jenis, Strategi, Contoh, Kelebihan, dan Kekurangannya"