Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Delusional: Pengertian, Penyebab, Diagnosis, Jenis, dan Pengobatan

Pengertian Delusional atau Waham
Delusional (Waham)
Pengertian Delusional
Delusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pikiran atau pandangan yang tidak berdasar (tidak rasional), biasanya berwujud sifat kemegahan diri atau perasaan dikejar-kejar; pendapat yang tidak berdasarkan kenyataan; khayal.

Delusional (waham) menurut Cleveland Clinic, adalah jenis penyakit mental yang serius di mana seseorang tidak dapat membedakan hal-hal nyata dari bayangan atau khayalannya. Ciri utama dari delusional, yaitu adanya delusi atau keyakinan tak tergoyahkan pada sesuatu hal yang tidak benar.

Delusional biasanya melibatkan salah tafsir atas persepsi atau pengalaman. Penderita delusional tidak menyadari bahwa apa yang dibayangkannya salah sehingga cenderung membesar-besarkannya dalam kehidupan nyata.

Meski demikian, orang dengan gangguan delusional dapat terus bersosialisasi dan berperilaku dengan normal. Namun dalam beberapa kasus yang parah, orang dengan gangguan delusional mungkin menjadi begitu asyik dengan delusi mereka. Jadi, kehidupan nyata mereka menjadi terganggu.

Penyebab Delusional
Penyebab sebenarnya dari gangguan delusi ini belum diketahui secara pasti. Namun, para peneliti sedang melihat peran berbagai faktor di antaranya,
1. Genetik
Faktanya, gangguan delusional ini lebih sering terjadi pada orang yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan delusi atau skizofrenia. Hal ini menunjukkan bahwa adanya faktor genetik yang terlibat mungkin menjadi penyebab seseorang menderita delusional.

Sama halnya dengan gangguan mental lain, kecenderungan untuk mengembangkan gangguan delusional ini dapat diturunkan dari orang tua kepada anak-anak mereka.

2. Biologis
Para peneliti sedang mempelajari bagaimana kelainan pada area tertentu di otak mungkin terlibat dalam perkembangan gangguan delusional. Ketidakseimbangan bahan kimia tertentu di otak, yang disebut neurotransmitter, juga dikaitkan dengan pembentukan gejala delusi.

Neurotransmitter adalah zat yang membantu sel saraf di otak untuk saling mengirim pesan. Ketidakseimbangan bahan kimia ini dapat mengganggu transmisi pesan, yang menyebabkan gejala delusional.

3. Lingkungan atau Kondisi Psikologis
Beberapa bukti menunjukkan bahwa gangguan delusional dapat dipicu oleh stres. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan juga dapat menyebabkan kondisi tersebut.

Selain itu, orang yang cenderung terisolasi, seperti imigran atau orang dengan penglihatan dan pendengaran yang buruk, tampaknya lebih rentan mengalami gangguan delusi.

Diagnosis Gangguan Delusi
Meskipun tidak ada tes laboratorium untuk mendiagnosis gangguan delusi secara khusus, dokter mungkin akan menggunakan tes diagnostik, seperti studi pencitraan atau tes darah, untuk menyingkirkan penyakit fisik sebagai penyebab gejala.

Dalam hal ini, penyakit yang dimaksud, meliputi di antaranya,
1. Penyakit Alzheimer
2. Epilepsi
3. Gangguan obsesif kompulsif (OCD)
4. Igauan
5. Gangguan spektrum skizofrenia lainnya

Namun, jika dokter tidak menemukan alasan penyakit fisik yang menyebabkan delusi, mereka mungkin akan merujuk ke psikiater atau psikolog, profesional perawatan kesehatan yang terlatih untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit mental.

Nantinya, psikiater atau psikolog akan menggunakan alat wawancara dan penilaian untuk mengevaluasi jenis gangguan psikotik apakah yang dialami. Diagnosis gangguan delusi dibuat jika:
1. Pasien memiliki satu atau lebih jenis delusi yang berlangsung selama sebulan atau lebih
2. Pasien tidak pernah didiagnosis menderita skizofrenia atau halusinasi
3. Terlepas dari delusi dan efeknya, kehidupan atau perilaku pasien tidak terlalu terpengaruh
4. Berlangsungnya episode manik atau depresi berat, dan jika terjadi, hal ini berlangsung singkat
5. Tidak ada gangguan mental, pengobatan, atau kondisi medis lain yang mendasari

Jenis Delusional
1. Grandiose
Penderita delusional jenis ini cenderung merasa bahwa dia lebih berkuasa, hebat, cerdas, dan memiliki status sosial yang lebih tinggi, serta meyakini bahwa dirinya telah melakukan suatu penemuan penting atau memiliki talenta yang hebat. Penderita gangguan delusional ini juga memiliki tendensi untuk bersifat narsisme.

Selain itu, dia juga yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan spesial atau memiliki relasi khusus dengan figur besar, padahal kenyataannya tidak demikian.

2. Erotomania
Jenis delusi berikutnya adalah erotomania. Penderita erotomania meyakini bahwa dirinya sangat dicintai atau dikagumi oleh orang lain, umumnya, tokoh terkemuka atau terkenal.

Penderita gangguan delusional ini bahkan bisa mengintai dan berusaha melakukan kontak dengan orang yang menjadi sasaran delusinya, sehingga dapat mengganggu privasi orang tersebut.

3. Persecutory
Penderita delusional ini selalu merasa terancam, karena dia yakin bahwa ada orang lain yang hendak menganiaya dirinya, memata-matai, atau berencana mencelakainya. Orang yang memiliki delusional jenis ini juga cenderung sulit mempercayai orang lain.

Sebagai contoh, ketika tetangga melewati rumahnya, dia bisa saja menganggap bahwa tetangga tersebut ingin membunuhnya, padahal tidak.

4. Jealousy
Pada jenis delusional ini, penderitanya percaya bahwa pasangannya tidak setia kepada dirinya. Namun, hal ini tidak didukung dengan fakta apa pun. Terkadang, orang yang memiliki gangguan delusional ini bisa menjadi sangat mudah cemburu dan obsesif dengan pasangannya.

5. Somatic
Mereka yang mengalami jenis delusi ini meyakini adanya masalah kesehatan tertentu pada diri sendiri. Namun, biasanya, pemeriksaan kesehatan tidak menemukan apa pun dan sebenarnya mereka dalam keadaan sehat.

6. Mixed
Pada beberapa kasus, seseorang dapat mengalami berbagai tipe delusi sekaligus. Pikiran delusional biasanya dapat terbentuk karena penderitanya salah mengartikan suatu peristiwa atau niat seseorang yang berinteraksi dengan mereka.

Delusi sering kali menjadi bagian dari gangguan psikotik. Hal ini juga kerap terjadi bersamaan dengan halusinasi, seperti mendengar suara atau merasakan benda maupun sentuhan yang tidak nyata. Orang yang mengalami delusi pada akhirnya akan sering merasa takut atau tertekan.

Kondisi ini pun akhirnya memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. Memahami penyebabnya adalah langkah utama untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Pengobatan Delusional
Gangguan delusi sulit untuk diobati karena biasanya, sang penderita kurang memahami penyakitnya. Artinya, mereka tidak mengira bahwa mereka sakit sehingga mereka jarang mencari bantuan atau menginginkan pengobatan.

Namun, ada cara efektif untuk mengatasi gangguan mental ini, berikut yang dikutip dari PsychCentral di antaranya,
1. Psikoterapi
Ada penelitian terbatas tentang psikoterapi untuk gangguan delusi. Selain itu, karena individu benar-benar memercayai delusi mereka, sulit untuk melibatkan mereka dalam psikoterapi. Berbagai sumber telah menyoroti tantangan dalam membangun aliansi terapeutik antara klien dan dokter.

Dengan kata lain, pasien dengan gangguan delusi sering kali tidak mempercayai terapis, jadi sulit untuk membangun hubungan yang positif dan aman dengan mereka. Namun, psikoterapi bermanfaat untuk mengobati gangguan delusi.

Dalam hal ini, terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) tampaknya merupakan intervensi yang paling banyak dipelajari dan dilakukan. CBT untuk psikosis (CBTp) adalah terapi kolaboratif berbasis bukti untuk skizofrenia, yang mengobati delusi.

Terapi ini juga dapat berfokus pada gejala dan masalah lain yang mengganggu kehidupan penderita delusional. Misalnya, tingkat insomnia yang tinggi ditemukan pada individu dengan delusi penganiayaan, dan penelitian telah menemukan bahwa CBT cukup efektif untuk mengatasi insomnia.

2. Pengobatan
Bukti tentang pengobatan yang efektif untuk gangguan delusi masih langka. Namun, pengobatan farmakologis lini pertama, seperti pengobatan antipsikotik dipercaya dapat digunakan untuk mengatasi pasien delusional.

Misalnya, penderita jenis delusi somatik tampaknya berpotensi lebih responsif terhadap terapi antipsikotik daripada jenis delusi lainnya. Antidepresan, seperti SSRI dan clomipramine, juga telah berhasil digunakan untuk pengobatan gangguan delusi tipe somatik.

Sangat umum bagi pasien dengan gangguan delusi untuk minum lebih dari satu obat. Biasanya, mereka akan menggunakan obat antipsikotik bersama dengan antidepresan. Dalam hal ini, antidepresan diresepkan untuk mengobati depresi atau kecemasan yang bisa saja menyebabkan delusi semakin parah.

Selain mendorong pasien dengan gangguan delusi untuk mencari bantuan, orang-orang terdekat pasien, seperti keluarga, saudara, atau teman diharapkan dapat memberikan dukungan agar tujuan pengobatan tercapai. Hal ini karena pasien yang merasa tertekan atau berulang kali dikritik oleh orang lain kemungkinan besar akan mengalami stres, yang dapat memperburuk gejala delusional.

Cara tersebut juga berlaku bila Anda sendiri yang mengalaminya, cobalah untuk mencari dukungan dengan bergabung dalam komunitas atau kelompok serupa sehingga motivasi pengobatan akan tetap ada.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Delusional: Pengertian, Penyebab, Diagnosis, Jenis, dan Pengobatan"