Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Psikosis: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Penanganannya

Pengertian Psikosis
Psikosis
Pengertian Psikosis
Psikosis adalah gangguan mental yang menyebabkan penderita mengalami gangguan dalam membedakan antara imajinasi dengan realitas. Gangguan psikosis ditandai dengan munculnya gejala halusinasi dan delusi. Hasilnya, terdapat realitas baru versi orang psikosis tersebut.

Psikosis terjadi karena adanya gangguan di otak yang memengaruhi cara kerja otak dalam memproses informasi. Kondisi ini mengubah cara penderitanya dalam berpikir dan berperilaku. Psikosis merupakan suatu kumpulan gejala atau sindrom yang berhubungan gangguan psikiatri lainnya.

Akan tetapi gejala tersebut bukan merupakan gejala spesifik penyakit tersebut, seperti yang tercantum dalam kriteria diagnostik DSM-IV maupun ICD-10, atau menggunakan kriteria diagnostik PPDGJ- III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa).

Gejala Psikosis
Teradap dua gejala utama dari psikosis di antaranya,
1. Halusinasi
Merupakan kondisi ketika seseorang merasa mendengar, melihat, atau pada sebagian kasus, merasakan, menghirup, atau mengecap hal yang tidak nyata. Salah satu jenis halusinasi yang paling sering terjadi adalah mendengar suara-suara yang tidak nyata.

2. Delusi
Merupakan kondisi ketika seseorang memiliki kepercayaan tertentu yang tidak nyata ada pada pandangan orang lain. Salah satu jenis delusi yang sering terjadi adalah seseorang yang meyakini bahwa ada orang-orang di sekitarnya yang berkonspirasi untuk mencelakainya.

Kombinasi halusinasi dan delusi dapat menyebabkan distres yang berat serta perubahan perilaku. Beberapa tanda dan gejala lain yang dapat menyertai kondisi psikosis di antaranya,
1. Kesulitan konsentrasi
2. Suasana hati depresi
3. Tidur yang berlebih atau kurang
4. Ansietas/ rasa cemas yang tinggi
5. Rasa curiga
6. Menarik diri dari keluarga dan teman-teman
7. Bicara yang tidak runut, misalnya mengganti topik secara tiba-tiba
8. Rasa ingin bunuh diri

Penyebab Psikosis
Psikosis merupakan kondisi yang memengaruhi kemampuan otak dalam memproses informasi. Kondisi ini dapat mengubah persepsi sensoris, kemampuan mengelola, serta mengekspresikan informasi yang didapat dan dimiliki.

Meskipun penyebab pasti dari psikosis belum diketahui, terdapat banyak masalah kesehatan dan kebiasaan-kebiasaan yang berkaitan erat dengan munculnya kondisi ini. Beberapa di antaranya merupakan kombinasi dari lingkungan sosial, faktor genetik, psikologis, obat-obatan, dan fisik.
1. Obat-obatan
Obat-obatan, misalnya obat untuk penyakit Parkinson dan kejang-kejang, steroid, dan kemoterapi, serta obat-obatan terlarang (LSD, kokain, alkohol, amfetamin, ganja, PCD) juga bisa menyebabkan gangguan mental, sehingga psikosis dapat muncul.

2. Trauma
Kejadian traumatik seperti kehilangan orang yang dicintai, pelecehan seksual, atau menjadi korban peperangan dapat memicu munculnya psikosis. Jenis trauma dan umur saat sedang mengalami trauma tersebut juga berpengaruh.

3. Cedera dan penyakit tertentu
Psikosis dapat muncul apabila penderitanya pernah mengalami cedera otak, misalnya kecelakaan. Ada pula kemungkinan psikosis adalah salah satu gejala dari penyakit tertentu.

Penyakit tersebut seperti human immunodeficiency virus (HIV), penyakit Parkinson, Alzheimer, penyakit Huntington, malaria, stroke, tumor otak, dan penyakit kejang.

4. Menderita penyakit kejiwaan
Kondisi ini juga dapat muncul sebagai salah satu gejala gangguan kejiwaan pada seseorang yang meliputi di antaranya,
a. Skizofrenia
b. Kelainan skizoafektif
c. Brief psychotic disorder
d. Kelainan delusional
e. Psikosis bipolar
f. Psikosis postpartum (postnatal)

Penyakit mental yang gejala khasnya adalah psikosis disebut gangguan psikotik. Ini termasuk di antaranya,
1. Skizofrenia. Gangguan mental di mana seseorang mengalami kesulitan kognitif. Hal ini sering merupakan kondisi seumur hidup yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
2. Gangguan delusional. Membuat seseorang sangat percaya pada hal-hal yang tidak hadir atau nyata. Namun, kelainan ini bisa sangat ringan. Banyak pasien masih bisa hidup normal. Mereka masih bisa menjalankan tanggung jawab sehari-hari mereka meski ada gangguan.
3. Gangguan bipolar. Seseorang dengan kelainan ini memiliki perubahan suasana hati yang ekstrem dan tak terduga. Mereka bisa sangat bahagia pada satu saat dan tertekan di hari berikutnya.
4. Psikosis akibat obat. Dipicu oleh substansi yang menyebabkan perubahan mood yang tidak normal. Ini termasuk obat yang tergolong downers dan stimulan. Gejala psikosis biasanya hilang begitu efek dari zat yang dikonsumsi hilang.
5. Psikosis organik. Terjadi bila bagian otak yang berfungsi sebagai pengatur pikiran mengalami kerusakan. Kerusakan itu bisa disebabkan oleh luka kepala yang parah atau sakit fisik.
6. Gangguan psikotik singkat. Terjadi bila seseorang mengalami kejadian yang dapat mengubah hidup. Seperti kehilangan pekerjaan atau mengalami perceraian. Gejalanya bersifat sementara. Seringkali, gangguan tersebut hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu.

Penanganan Psikosis
Penanganan bagi penderita psikosis diberikan berdasarkan kebutuhan pasien. Perawatan psikosis dapat bervariasi tergantung penyebab yang mendasarinya. Umumnya, perawatannya berupa pemberian obat-obatan, terapi, serta dukungan dari keluarga dan komunitas.
1. Pemberian obat-obatan antipsikotik
Obat antipsikotik biasanya direkomendasikan sebagai pengobatan lini pertama untuk psikosis. Jenis obat ini bekerja dengan cara memblokir efek dopamin, zat kimia yang mentransmisikan pesan di otak.

Antipsikotik biasanya dapat mengurangi perasaan cemas dalam beberapa jam setelah penggunaan, tetapi perlu waktu beberapa hari atau minggu untuk mengurangi gejala halusinasi atau pikiran delusi pada psikotik.

Antipsikotik dapat diminum (secara oral) atau diberikan melalui suntikan. Contoh obat golongan ini adalah klorpromazin, perisiazin atau trifluoperazin. Penggunaan obat antipsikotik harus dipantau secara ketat oleh dokter.

2. Terapi psikologis berupa terapi perilaku kognitif
Terapi ini dilakukan bersama psikolog, konselor, atau psikiater, untuk mengubah pemikiran dan perilaku penderita psikosis. Terapi ini efektif dalam memberikan perubahan yang permanen dan membantu penderita menghadapi gangguan yang dialami.

Terkadang, perawatan ini efektif untuk penderita psikotik yang tidak dapat ditangani dengan obat-obatan.

3. Dukungan keluarga dan komunitas
Ketika tanda dan gejala psikosis pasien menunjukkan pemicu berupa kondisi medis tertentu, tes laboratorium yang dapat dilakukan di antaranya,
a. Intervensi keluarga
Dukungan dari anggota keluarga diharapkan dapat membantu penderita menangani gangguan yang dialami. Intervensi ini meliputi kegiatan diskusi mengenai kondisi yang dialami dan penanganan yang dapat dilakukan, mencari cara yang dapat digunakan untuk mendukung penderita psikosis, dan menemukan cara menyelesaikan masalah praktis karena gangguan mental tersebut.

Contohnya seperti membuat perencanaan sebagai antisipasi saat psikosis kambuh di kemudian hari.

b. Support group
Penderita dapat berdiskusi dan bercerita di komunitas atau kelompok dengan anggota-anggota yang memiliki kondisi serupa.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Psikosis: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Penanganannya"