Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Pengertian, Sejarah, Prinsip, Aspek, Tujuan, Strategi, dan Manfaatnya

Pengertian Cognitive Behavioral Therapy atau CBT
Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Pengertian Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif adalah bentuk psikoterapi yang mengintegrasikan dua pendekatan yakni terapi kognitif dan terapi perilaku atau behavior. CBT telah terbukti efektif untuk berbagai masalah, termasuk depresi, gangguan kecemasan, masalah penyalahgunaan alkohol dan zat, masalah keluarga, gangguan makan, dan penyakit mental yang parah.

Pengembangan CBT didasarkan pada penelitian dan praktik klinis. Terapi kognitif bertujuan mengubah cara berpikir individu yang keliru dan menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan. Misalnya, pemikiran yang tidak tepat tersebut seperti berpikir bahwa seseorang tidak dihargai oleh kelompok tertentu sehingga membuat individu tersebut menjauhi kelompok yang belum tentu benar-benar tidak menghargainya.

Dengan memberikan terapi kognitif, diharapkan klien mampu merespons pemikiran yang kurang tepat tersebut dengan lebih rasional, sehingga pemikiran dan perilaku mereka lebih efektif. Sementara terapi perilaku (behavioral therapy) memiliki tujuan untuk mengajarkan individu mengubah perilakunya, seperti mengubah cara berperilaku yang dirasa kurang tepat sehingga individu yang bersangkutan dapat lebih nyaman dalam menjalani kesehariannya.

Sejarah Perkembangan Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Cognitive Behavioral Therapy dikembangkan oleh Aaron Beck sekitar tahun 1960 yang bermula dari temuan klinis dan observasi pada kliennya yang menunjukkan bahwa klien yang mengalami depresi memiliki karakteristik distorsi kognitif dalam pemikiran mereka (Chand dkk., 2021). Temuan awal ini juga menunjukkan bahwa depresi tidak hanya gangguan pada suasana hati, akan tetapi juga gangguan pada fungsi kognitif individu.

Kemunculan jenis perawatan ini telah menarik perhatian banyak pihak dan menjadikan terapi perilaku kognitif sebagai salah satu teknik yang paling banyak diterapkan dan juga diteliti. Hal ini membuat perkembangan CBT tidak berhenti begitu saja dan terus berkembang.

Penggunaannya yang semakin tinggi menjadikan semakin banyak pengembangan protokol langkah-langkah terapi CBT untuk memenuhi kebutuhan terapi yang bervariasi. Misalnya penerapan CBT baik sebagai terapi tunggal maupun kombinasi dengan metode lain seperti hipnoterapi untuk menangani gangguan kecemasan, depresi berat, gangguan emosi, gangguan makan, insomnia, permasalahan relasional, dan sebagainya.

Prinsip Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Terapi ini memang lebih menitikberatkan pada sebuah keadaan yang memang dilakukan pasien agar dapat melihat dari dirinya sendiri dan juga  terdapat sudut pandang yang memiliki perbedaan. Karena  dalam hal ini memang jauh lebih diketahui terbukti sangat efektif untuk membuat hidup seseorang jauh lebih baik.

Terapi Perilaku Kognitif didasarkan pada beberapa prinsip inti di antaranya,
1. Masalah psikologis didasarkan, sebagian, pada cara berpikir yang salah atau tidak membantu.
2. Masalah psikologis didasarkan, sebagian, pada pola perilaku tidak membantu yang dipelajari.
3. Orang yang menderita masalah psikologis dapat mempelajari cara yang lebih baik untuk mengatasinya, dengan demikian meredakan gejala dan menjadi lebih efektif dalam hidup mereka.

Aspek Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Sebagai psikoterapi yang berakar dari integrasi terapi kognitif dan keperilakuan, CBT tetap menggunakan dasar-dasar atau model kognitif dalam praktiknya. Seperti yang disebutkan Chand dkk. (2021) bahwa terdapat tiga aspek kognisi yang mendasari cognitive behavioral therapy di antaranya,
1. Pemikiran-pemikiran otomatis
Aspek ini menjelaskan proses berpikir otomatis sebagai bentuk interpretasi kejadian yang muncul secara tiba-tiba dan mampu mempengaruhi emosi serta perilaku individu sebagai bentuk respons terhadap kondisi tersebut.

Misalnya saja saat seorang teman tidak menghadiri undangan kita tanpa alasan, kita mungkin memiliki pemikiran otomatis seperti “ia tidak mau bertemu karena tidak suka dengan aku” yang mana akan mempengaruhi emosi dan perilaku kita saat dikemudian hari berhubungan lagi dengan yang bersangkutan.

Akan tetapi, ada pemikiran lain yang dapat muncul misalnya “mungkin dia lupa atau memiliki hal lain yang lebih penting” yang kecil kemungkinannya untuk menimbulkan dampak negatif di kemudian hari.

2. Distorsi kognitif
Distorsi kognitif merupakan suatu kondisi yang mana individu mengalami eror dalam mengambil kesimpulan. Adanya kekeliruan dalam pengambilan kesimpulan dapat menimbulkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, seseorang yang mengalami distorsi kognitif dalam bentuk minimization atau menganggap pengalaman positif sebagai sesuatu yang nyata tetapi tidak bermakna yang akan mengganggu pemaknaan hidup mereka.

3. Underlying beliefs or schemes
Aspek ini menjelaskan di mana skema atau keyakinan dasar individu mampu mengubah interpretasi dan persepsi mereka terhadap kejadian yang terjadi dalam hidup mereka.

Belief atau keyakinan tersebut terbagi menjadi dua, yakni core belief yang dijabarkan sebagai ide utama tentang diri dan dunia, paling mendasar, kaku dan terlalu general, seperti adanya keyakinan “saya tidak berharga”. Keyakinan yang kedua yakni intermediate beliefs, keyakinan yang berisi asumsi, sikap dan aturan yang dipengaruhi oleh core belief individu, misalnya “agar aku bisa dihargai, aku harus bisa melakukan semua yang diminta”.

Tujuan Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Tujuan dari Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah untuk mengubah pola berpikir atau perilaku yang ada di balik kesulitan orang, dan mengubah perasaan mereka. Ini digunakan untuk membantu menangani berbagai macam masalah dalam kehidupan seseorang, mulai dari kesulitan tidur atau masalah hubungan, hingga penyalahgunaan narkoba dan alkohol atau kecemasan dan depresi.

Terapi Perilaku Kognitif dilakukan dengan mengubah sikap dan perilaku orang dengan berfokus pada pemikiran, gambaran, keyakinan, dan sikap yang dipegang (proses kognitif seseorang) dan bagaimana proses ini berhubungan dengan cara seseorang berperilaku, sebagai cara untuk menangani masalah emosional.

Strategi Cognitive Behavioral Therapy
Dalam praktik di lapangan, terapi perilaku kognitif diberikan oleh konselor, psikolog, maupun terapis melalui beragam bentuk konseling atau terapi secara individu maupun kelompok, baik face-to-face ataupun online.

Meskipun telah banyak penelitian dan studi kasus yang membuktikan keberhasilan penerapan CBT, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengaplikasikannya. Contohnya terapi ini tidak cocok untuk klien dengan riwayat cidera otak yang mengakibatkan gangguan berpikir rasional.

Selain itu, terapi ini memerlukan partisipasi aktif dan kerjasama serta waktu yang tidak sebentar untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
1. Strategi Perubahan Pola Pikir
Perawatan Terapi Perilaku Kognitif biasanya melibatkan upaya untuk mengubah pola berpikir. Strategi ini meliputi di antaranya belajar mengenali distorsi seseorang dalam berpikir yang menciptakan masalah, dan kemudian mengevaluasi kembali dalam terang realitas, mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang perilaku dan motivasi orang lain, menggunakan keterampilan pemecahan masalah untuk mengatasi situasi sulit, belajar mengembangkan rasa percaya diri sebagai kemampuan diri sendiri.

2. Strategi Perubahan Pola Perilaku
Perawatan Terapi Perilaku Kognitif juga biasanya melibatkan upaya untuk mengubah pola perilaku. Strategi ini meliputi di antaranya menghadapi ketakutan daripada menghindarinya, menggunakan permainan peran untuk mempersiapkan interaksi yang berpotensi bermasalah dengan orang lain,  belajar menenangkan pikiran dan merilekskan tubuh.

Tidak semua Terapi Perilaku Kognitif akan menggunakan semua strategi ini. Sebaliknya, psikolog dan pasien / klien bekerja sama, secara kolaboratif, untuk mengembangkan pemahaman masalah dan mengembangkan strategi pengobatan yang paling sesuai.

Terapis pada Terapi Perilaku Kognitif lebih menekankan apa yang terjadi dalam kehidupan orang tersebut saat ini, daripada apa yang menyebabkan kesulitan mereka.

Untuk itu diperlukan sejumlah informasi tentang sejarah seseorang, tetapi fokus utamanya adalah bergerak maju melihat kedepan untuk mengembangkan cara yang lebih efektif dalam menghadapi kehidupan.

Manfaat Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Manfaat CBT dalam proses terapi diharapkan dapat mampu memperbaiki pemikiran yang tidak tepat serta mengubah perilaku yang salah pada individu tersebut (Gazzaniga dkk., 2011). Dalam penerapan terapi perilaku kognitif, pertama-tama diharapkan gejala yang dialami klien dapat membaik dan lebih jauh lagi, diharapkan keberfungsian klien tersebut dapat membaik dari waktu ke waktu (Gaudiano, 2008).

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga 

1. Aaron Beck. Biografi

2. Aaron Beck. Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Pengertian, Sejarah, Prinsip, Aspek, Tujuan, Strategi, dan Manfaatnya"