Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bullying (Perundungan): Pengertian, Kategori, Karakteristik, Faktor Penyebab, Jenis, Teori, dan Peran Orang Tua

Pengertian Bullying atau Perundungan
Bullying (Perundungan)
Pengertian Bullying (Perundungan)
Bullying (Perundungan) adalah perilaku yang menindas, menggunakan kekerasan, ancaman atau paksaan untuk membuat orang lain menuruti kehendak pelakunya. Bullying  dari kata bull dari bahasa Inggris yang artinya banteng. Secara etimologi kata bully berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah.

Perilaku ini merupakan tindakan agresif yang disengaja untuk mendapatkan kekuasaan atas mental korbannya, dilakukan secara berulang kepada orang yang dirasa lebih lemah daripada si pelaku yang bisa berupa satu orang atau sekelompok orang.

Bullying ini dapat terjadi di mana saja, mulai dari lingkungan sosial, rumah, sekolah, atau bahkan di dunia maya. Besar kemungkinan seorang anak korban bullying tidak bicara terus terang jika dia mengalami perundungan.

Oleh sebab itu, sebaiknya Anda mulai lebih peka jika anak-anak menunjukkan perubahan perilaku yang tidak biasa.

Bullying Menurut Para Ahli
1. Caloroso (2007), bullying adalah tindakan intimidasi yang dilakukan secara berulang-ulang oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak lebih lemah, dilakukan dengan sengaja dan bertujuan untuk melukai korbanya secara fisik maupun emosional.
2. American Psychatric Association (APA), bullying adalah perilaku agresif yang dikarakteristikan dengan tiga kondisi yaitu:
a. Perilaku negatif yang bertujuan untuk merusak atau membahayakan
b. Perilaku yang diulang selama jangka waktu tertentu
c. Adanya ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan dari pihak-pihak yang terlibat. Beberapa kondisi tersebut lebih mengacu pada yang dapat menjadikan korban trauma, cemas dan sikap-sikap yang membuat tidak nyaman.

Kategori Bullying (Perundungan)
Tindakan bullying memiliki kesamaan dengan agresif yakni melakukan tindakan penyerangan kepada orang lain. Perbedaan terletak pada jangka waktu yang tindakan tersebut.

Bullying mengarah pada perilaku penyerangan kepada orang lain dengan jangka waktu yang berulang sehingga mengakibatkan korban bullying tertindas. Sedangkan tindakan agresif jangka waktu dilakukan hanya sekali. (Aini, 2018)

Sebuah tindakan dapat dikategorikan sebagai bullying apabila perilaku tersebut sangat agresif dan mencakup di antaranya,
1. Ketidakseimbangan kekuatan antara anak yang melakukan perundungan, baik berupa kekuatan fisik, akses informasi pada hal yang memalukan dari korban, atau memiliki popularitas sehingga mampu mengendalikan dan membahayakan korban
2. Terjadi pengulangan perilaku intimidasi atau berpotensi untuk terjadi lebih dari satu kali.

Karakteristik Perilaku Bullying (Perundungan)
Karakter seseorang melakukan tindakan bullying adalah adanya perasaan yang cenderung dendam dan iri hati akibat pengalaman masa lampaunya. Selain itu, karakteristik pada pelaku bullying seperti:
1. Peduli dengan popularitas, menurut mereka melakukan bullying meningkatkan status popularitas di antara teman-temannya
2. Mudah emosi, emosi tersebut sulit terkontrol menimbulkan kesulitan dalam diterimanya pergaulan
3. Mempunyai kepercayaan diri yang rendah, atau mudah dipengaruhi teman-temanya. Bertindak menjadi pelaku bullying akibat mengikuti perilaku tersebut secara sadar maupun tidak sadar (yuyarti, 2018).

Intensi Bullying (Perundungan)
Intensi Bullying merupakan keinginan untuk melakukan penindasan kepada seseorang yang dianggap lemah dari pada pelaku. Sehingga bullying ditentukan seberapa kuat intensi siswa untuk melakukan tindakan tersebut.

Semakin besar intensi bullying, maka semakin besar pula peluang individu untuk melakukan bullying. Sebelum melakukan suatu tindakan, individu memiliki suatu intensi di dalam dirinya. Hal ini berarti individu memiliki suatu intensi bullying sebelum melakukan tindakan bullying (Ayun & Masykur, 2018).

Faktor Penyebab Perilaku Bullying (Perundungan)
Berdasarkan beberapa temuan, terdapat beberapa faktor yang menjadi alasan mengapa perilaku bullying terjadi di antaranya,
1. Keluarga
Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah. Orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stres, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya.

Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan terhadap perilaku coba-cobanya itu, ia akan belajar bahwa “mereka yang memiliki kekuatan diperbolehkan untuk berperilaku agresif, dan perilaku agresif itu dapat meningkatkan status dan kekuasaan seseorang”. Dari sini anak mengembangkan perilaku bullying.

2. Sekolah
Pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini. Akibatnya, anak-anak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain.

Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah yang sering memberikan masukan negatif pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah.

3. Kelompok Sebaya
Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut.

4. Kondisi Lingkungan Sosial
Kondisi lingkungan sosial dapat pula menjadi penyebab timbulnya perilaku bullying. Salah satu faktor lingkungan sosial yang menyebabkan tindakan bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak heran jika di lingkungan sekolah sering terjadi pemalakan antar siswanya.

5. Tayangan televisi dan media cetak
Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Survey yang dilakukan Kompas memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%).

Jenis Bullying (Perundungan)
Terdapat beberapa bentuk bullying yang dapat terjadi di tengah lingkungan pergaulan anak di antaranya,
1. Perundungan fisik
Bullying fisik adalah tindakan intimidasi yang dilakukan sebagai usaha mengontrol korban dengan kekuatan yang dimiliki pelakunya. Contoh bullying fisik, di antaranya menendang, memukul, meninju, menampar, mendorong, dan serangan fisik lainnya.

Ini merupakan jenis bullying yang paling mudah dikenali, dan biasanya orangtua maupun guru lebih peka terhadapnya.

2. Bullying verbal
Bullying verbal merupakan jenis perundungan dengan menggunakan kata-kata, pernyataan, dan sebutan atau panggilan yang menghina. Pelaku perundungan verbal akan terus melakukan penghinaan untuk meremehkan, merendahkan, dan melukai orang lain.

Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa intimidasi verbal dan pemberian nama panggilan yang buruk memiliki konsekuensi serius pada korban dan dapat meninggalkan bekas luka emosional yang dalam.

3. Agresi relasional
Jenis-jenis bullying selanjutnya adalah agresi relasional. Agresi relasional adalah tipe perundungan yang dilakukan secara emosional dan kerap luput dari perhatian orangtua dan guru. Padahal tipe perundungan ini tidak kalah berbahaya.

Dalam agresi relasional, pelaku biasanya berusaha menyakiti korban dengan menyabotase status sosial mereka. Contoh perilaku bullying jenis agresi relasional meliputi di antaranya,
a. Mengasingkan korban dari kelompok
b. Menyebarkan gosip atau fitnah
c. Pelaku berusaha menaikkan kedudukan sosial sendiri dengan mengendalikan atau mengintimidasi korban.

4. Cyberbullying
Cyberbullying adalah tindakan perundungan yang terjadi secara online di dunia maya. Ini merupakan tindakan perundungan yang paling jarang disadari oleh orangtua dan guru. Pelakunya melakukan perundungan dengan cara melecehkan, mengancam, mempermalukan, dan menargetkan korban melalui media online.

5. Perundungan seksual
Perundungan seksual atau sexual bullying menjadi salah satu jenis-jenis bullying yang perlu diwaspadai.

Perundungan seksual dapat berupa tindakan berulang, berbahaya, dan memalukan yang menargetkan seseorang secara seksual, seperti memanggil seseorang dengan nama yang tak pantas, komentar kasar, gerakan vulgar, sentuhan tanpa persetujuan kedua belah pihak, hingga materi pornografi yang merugikan korban.

Dalam kasus yang lebih parah, perundungan seksual dapat membuka pintu untuk melakukan kekerasan seksual. Anak perempuan sering menjadi sasaran jenis bullying ini, baik oleh anak laki-laki atau anak perempuan lainnya.

6. Perundungan prasangka
Perundungan prasangka atau prejudice bullying adalah macam-macam bullying yang didasari pada prasangka pelakunya terhadap seseorang dari ras, agama, atau orientasi seksual yang berbeda. Pelaku dari prejudice bullying dapat menargetkan korban yang berbeda dengan mereka. Setelah itu, pelaku akan mengucilkan korban hanya karena memiliki perbedaan tertentu.

Teori Bullying (Perundungan)
Berikut beberapa kajian mengenai teori bullying dalam psikologi di antaranya,
1. Ketidakseimbangan Kekuatan (Imbalance Power)
Yaitu teori yang beranggapan bahwa bullying bukanlah persaingan antara saudara kandung, bukan pula perkelahian yang melibatkan dua pihak yang setara. Namun pelaku bullying bisa saja orang yang lebih tua, lebih muda, lebih kuat, lebih besar, lebih mahir secara verbal, lebih tinggi secara status sosial, atau berasal dari ras yang berbeda.

Dengan keadaan seperti inilah kegiatan bullying sering terjadi karena adanya ketidakseimbangan kekuatan dari semua faktor atau aspek kehidupan dari seorang pelaku bullying tersebut. Dengan adanya ketidakseimbangan kekuatan tersebut, maka akan dijadikan senjata yang paling kuat untuk membully calon korbannya.

2. Keinginan Untuk Mencederai (Desire To Hurt)
Yaitu teori yang beranggapan bahwa dalam bullying tidak ada kecelakaan atau kekeliruan dan tidak ada ketidaksengajaan dalam pengucilan korbannya.

Bullying berarti menyebabkan kepedihan emosional atau luka fisik, melibatkan tindakan yang dapat melukai dan tentunya menimbulkan rasa senang di hati sang pelaku saat menyaksikan penderitaan korbannya. Apabila sang pelaku berhasil membuat korbannya menderita, barulah si pelaku tersebut merasa puas dengan apa yang di inginkan.

3. Adanya Ancaman Agresi Lebih Lanjut
Yaitu teori yang beranggapan bahwa bullying tidak dimasukkan sebagai peristiwa yang hanya terjadi sekali saja. Tetapi bullying ini cenderung akan dilakukan atau diulangi kembali sampai si pelaku merasa puas melihat keadaan korbannya.

4. Teror
Unsur yang paling membahayakan dari perbuatan bullying ini adalah teror. Teror ini terjadi atau muncul ketika eskalasi bullying semakin meningkat. Bullying adalah kekerasan sistematik yang digunakan untuk mengintimidasi dan memelihara dominasi.

Teror ini bukan hanya salah satu cara yang digunakan untuk mencapai bullying, tetapi juga sebagai tujuan dari bullying itu sendiri. Meski tidak mewakili kriminalitas, bullying ini dapat menimbulkan efek negatif yang tinggi yang jelas dapat membuatnya menjadi salah satu bentuk perilaku yang bersifat agresif.

Peran Orang Tua dalam Perilaku Bullying Anak
Bullying akan memberi dampak yang cukup besar pada kehidupan anak dan perkembangan karakternya. Anak-anak yang mengalami bullying dapat membawa luka batin atau trauma sehingga menjadi orang yang memiliki kepercayaan diri rendah, juga berbagai masalah lainnya.

Anak tentunya belum dapat menyelesaikan sendiri masalahnya yang berkaitan dengan gangguan dari teman lainnya. Karena itu sangat diperlukan adanya peranan orang tua dalam kasus bullying untuk membantu anak melalui tahapan tersebut dan meminimalkan dampak negatifnya.
1. Orang Tua Sebagai Penengah
Peran orang tua dalam kasus bullying yang paling utama adalah sebagai penengah terhadap perilaku bullying. Orang tua dapat menjadi jembatan untuk menyelesaikan kasus bullying yang dilakukan anak ataupun jika anaknya menjadi korban bullying.

Jembatan yang dimaksudkan di sini tentunya antara anak dan pelaku bullying, atau antara korban bullying dengan anaknya sendiri. Peran orang tua sebagai penengah ini hendaknya disikapi dengan serius, karena ketidakpedulian orang tua dapat mencelakakan anaknya sendiri kelak.

2. Orang Tua Sebagai Pengasuh yang Kompeten
Tentunya tidak ada lagi yang bisa turut mengendalikan dan membentuk perilaku anak selain orang tuanya. Baik itu dalam kaitannya ketika anak menjadi korban ataupun menjadi pelaku. Orang tua dapat menjadi pihak yang meluruskan perilaku bullying atau justru mendukungnya dengan pola asuh yang mereka terapkan kepada anak di rumah.

3. Orang Tua Sebagai Pengamat
Menjadi orang tua berarti Anda harus cukup jeli untuk mengamati perilaku anak. Anak yang mengalami bullying tentunya akan menunjukkan gejala yang jelas antara lain seperti menarik diri dan tampak murung. Anak yang menjadi pelaku adalah anak yang paling sulit dilihat perilakunya, bahkan mungkin saja tidak tampak adanya perbedaan.

Pengabaian orang tua terhadap perilaku anak dapat menghasilkan anak yang senang membully, dan juga membuat orang tua tidak dapat melihat anak yang menjadi korban sampai situasinya memburuk.

4. Orang Tua Sebagai Pemberi Disiplin
Penerapan disiplin  yang tepat di rumah akan mengurangi risiko anak menjadi pelaku bullying atau juga menjadi korbannya. Misalnya, menentukan berapa lama waktu anak bermain di luar rumah, mengetahui siapa saja teman bermainnya dan apa yang mereka kerjakan.

Tentukan waktu-waktu tertentu ketika anak bisa bebas bermain di luar rumah tanpa pengawasan Anda, dan juga terapkan hal yang sama di rumah. Penerapan disiplin ini tentunya tidak bisa dilakukan secara kaku atau ala militer. Cukup memastikan agar anak mematuhi jadwal kegiatannya sendiri sudah cukup untuk mengajari anak tentang makna disiplin tersebut.

5. Orang Tua Sebagai Pengawas
Peran orang tua dalam kasus bullying antara lain juga sebagai pengawas terhadap pergaulan anak. Pada zaman sekarang ini, pergaulan sudah tidak lagi aman seperti dulu. Banyak hal yang dapat merusak mental anak dalam pergaulan, antara lain perilaku bullying tersebut.

Peran orang tua sebagai pengawas dalam pergaulan anak akan dapat membantu meminimalkan risiko – risiko yang mungkin saja terjadi akibat pengaruh buruk lingkungan pergaulan anak. Anda perlu mengetahui siapa saja yang bergaul dengan anak, bagaimana karakter teman-temannya, dan bagaimana sikap anak ketika sedang bermain dengan teman-temannya tersebut.

6. Orang Tua Sebagai Penyemangat
Ketika anak mengalami bullying, ia akan membutuhkan semangat untuk mengatasi masalahnya dari orang dewasa. Peran orang tua dalam kasus bullying tentunya sebagai orang yang dapat memberikan semangat kepada anak ketika ia sedang terpuruk.

Akibat bullying tersebut, kemungkinan anak akan mengalami rasa percaya diri yang rendah, tidak ingin lagi bergaul, bersekolah, atau bahkan keluar rumah dan berbagai macam kemungkinan lain. Di sinilah waktunya orang tua untuk memberikan motivasi yang tepat bagi anak agar dapat mengatasi peristiwa ini dengan baik, misalnya membantu anak dengan cara menghilangkan rasa minder dalam bergaul.

7. Orang Tua Sebagai Pelindung Anak
Dalam keadaan apapun anak haruslah berada di bawah perlindungan orang tuanya. Peran orang tua dalam kasus bullying ini sangat besar sebagai pihak yang melindungi anak sehingga anak tidak terpuruk dengan peristiwa buruk di dalam kehidupannya.

Melindungi anak yang terkena bullying bisa dilakukan dengan menasihati anak yang menjadi pelaku bullying, menemui orang tuanya, membesarkan hati anak, dan lain sebagainya. Pengaruh hedonisme bagi remaja dan pengaruh lingkungan dalam perkembangan remaja turut memperbesar risiko bullying pada anak, karena itulah peran orang tua sebagai pelindung juga harus diterapkan benar-benar.

8. Orang Tua Sebagai Pihak yang Dapat Dipercaya
Ketika anak sedang mengalami bullying, ia akan membutuhkan orang dewasa yang dapat dipercaya untuk mencari bantuan dan mencurahkan kesulitannya. Tentunya anak akan berpaling kepada orang tuanya. Jika orang tua tidak dapat menjadi pihak yang dipercaya anak, besar kemungkinan anak tidak dapat pulih dari kejadian buruk tersebut dan menjadikannya trauma.

9. Orang Tua Sebagai Orang yang Dapat Diandalkan
Sejak bayi seorang anak selalu mengandalkan orang tuanya untuk membimbing, mengasuh dan menjaganya. Ketidakhadiran orang tua ketika anak membutuhkan dapat berpengaruh buruk terhadap mental anak yang mengalami bullying, sebab banyak orang tua yang sibuk sehingga jarang hadir di kehidupan anak baik secara fisik ataupun mental.

Hanya orang tua yang selalu ada untuk anak yang dapat membantu anak korban atau pelaku bullying.

10. Orang Tua Sebagai Pencegah Bullying
Peran orang tua dalam kasus bullying juga sebagai orang yang dapat mencegahnya terjadi. Orang tua yang dapat secara aktif menunjukkan kepada anak untuk dapat mengerti permasalahan dari sudut pandang orang lain, terutama ketika teman sebayanya sedang berperilaku tidak patut atau sedang menyebalkan.

Orang tua dapat menunjukkan hal tersebut dengan bahasa yang baik dan mengajari anak bahwa bersikap kejam kepada orang lain adalah suatu hal yang tidak diperbolehkan atau tidak pantas.

11. Orang Tua Sebagai Pihak yang Bijak
Seiring dengan pertambahan usia, tentu orang tua adalah orang yang jauh lebih berpengalaman dalam kehidupan daripada anak. Karena itulah seharusnya orang tua dapat bersikap lebih bijak dalam menyikapi berbagai peristiwa, termasuk ketika anak sedang melakukan bullying atau menjadi korbannya.

Sikap yang bijak tersebut dapat ditunjukkan ketika membantu anak mengatasi permasalahan mengenai bullying, tentunya dengan kedewasaan yang pantas ditunjukkan oleh orang tua.

12. Orang Tua Sebagai Pihak yang Paling Dekat
Kedekatan anak dengan orang tua juga dapat mempengaruhi bagaimana kasus bullying dapat diselesaikan dengan baik. Anak-anak yang memiliki kedekatan dengan orang tua pada umumnya jauh lebih berkurang risikonya untuk membully anak lain dan juga tidak akan segan untuk mengungkapkan masalahnya kepada orang tua.

Lagi-lagi di sini dituntut agar orang tua dapat melakukan perannya dengan benar dan tidak melakukan pengabaian kepada anak. Bantulah anak untuk melakukan cara mengatasi minder dalam pergaulan, cara mudah bergaul bagi orang pendiam, dan cara menjadi pribadi yang menyenangkan agar anak dapat bergaul dengan lancar.

13. Orang Tua Sebagai Panutan
Orang tua yang secara aktif menunjukkan kepada anak bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan baik adalah orang tua yang dapat menjadi panutan baik bagi anak. Karena anak mempelajari segala sesuatunya dengan meniru dan menyerap semua yang disaksikannya.

Maka sangat penting agar orang tua juga menjaga perilaku baiknya demi memberi contoh kepada anak mengenai bagaimana perilaku yang santun terhadap sesama manusia, macam-macam tata krama, mengajarkan apa saja peran etika dalam pergaulan remaja, dan meminimalkan risiko anak membully anak lain.

14. Orang Tua Sebagai Pengendali
Peran orang tua dalam kasus bullying lainnya yaitu sebagai pengendali tingkah laku anak. Orang tua perlu mengetahui bagaimana sebenarnya sikap anak dalam pergaulan dengan teman-temannya yang lain. Sebab, ada kalanya anak yang tampak baik di rumah ternyata seorang anak yang suka membully di luar rumah, akibat tidak adanya kendali dan pengawasan dari orang tuanya sendiri.

Begitu pula untuk mencegah anak menjadi korban, orang tua perlu dapat mengendalikan bagaimana cara anak menghadapi berbagai macam watak temannya dengan memberi pengajaran kepada anak. Perlunya sedikit mengetahui psikologi remaja penting untuk mengetahui cara mengatasi kenakalan remaja dan anak.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Bullying (Perundungan): Pengertian, Kategori, Karakteristik, Faktor Penyebab, Jenis, Teori, dan Peran Orang Tua"