Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Psikologi Evolusioner: Pengertian, Prinsip Utama, dan Pendekatannya

Pengertian Psikologi Evolusioner
Psikologi Evolusioner
Pengertian Psikologi Evolusioner
Psikologi evolusioner adalah cabang dalam psikologi yang mempelajari potensi peran dari faktor genetis dalam beragam aspek dari perilaku manusia. Akar sejarah dari psikologi evolusioner adalah teori seleksi alam Charles Darwin.

Psikologi evolusioner menyatakan bahwa manusia, halnya makhluk hidup lain, telah mengalami proses evolusi biologis selama sejarah keberadaannya, dan dari hasil proses ini manusia sekarang memiliki sejumlah besar mekanisme psikologis yang merupakan hasil evolusi yang membantu manusia untuk tetap hidup atau mempertahankan keberadaannya.

Prinsip Utama Psikologi Evolusioner
Psikologi evolusioner memiliki sejumlah prinsip utama di antaranya,
1. Seleksi alamiah (natural selection)
Proses evolusi adalah perubahan-perubahan struktur organisme sepanjang waktu. Perubahan-perubahan tersebut dilandasi oleh sebuah mekanisme yang bersifat kausal, yakni seleksi alamiah. Seleksi alamiah mempunyai tiga unsur di antaranya,
a. Variasi ( variation ). Hewan dalam satu spesies yang sama dapat bervariasi dalam berbagai cara, misalnya dalam hal panjang sayap, struktur sel, kemampuan berkelahi dan sebagainya,
b. Warisan ( inheritance ). Hanya sejumlah variasi yang akan diwariskan secara ajeg dari orangtua kepada keturunannya. Variasi-variasi lain tidak akan diwariskan kepada keturunan. Hanya variasi yang diwariskan saja yang akan berperan dalam proses evolusi.
c. Seleksi ( selection ). Organisme yang mempunyai sifat-sifat tertentu yang dapat diwariskan akan memproduksi lebih banyak keturunan dibandingkan dengan organisme yang kurang memiliki sifat-sifat yang dapat diwariskan oleh karena sifat-sifat tersebut membantu memecahkan problem khusus dan dengan demikian memberi sumbangan kepada reproduksi dalam satu lingkungan tertentu (Buss et al ., 1998).

Sirkuit syaraf didesain oleh seleksi alamiah untuk memecahkan problem yang dihadapi nenek moyang selama sejarah evolusioner spesies (Cosmides & Tooby, 1997). Satu problem yang harus dipecahkan berkaitan dengan kelangsungan hidup ( survival), misalnya problem “Makanan apa yang harus dimakan?”. Orang memiliki banyak pilihan makanan: ada padi, buah-buahan, kacang, dan daging tetapi ada juga daun-daunan, batu, tanaman beracun, bangkai busuk, dan kotoran.

Cosmides & Tooby (1997) memberikan ilustrasi mengenai perilaku lalat dan manusia terhadap kotoran. Perilaku lalat dan manusia akan berbeda saat menghadapi seonggok kotoran bau. Seonggok kotoran akan menjadi tempat bagi lalat betina untuk menempatkan telur.

Lalat jantan akan suka terbang mengitari onggokan kotoran oleh karena mereka dapat memperoleh pasangan di tempat itu. Sebaliknya, seonggok kotoran bau akan menimbulkan rasa jijik serta dihindari oleh manusia karena kotoran itu dapat merupakan sumber penyakit. Seleksi alamiah dalam kasus ini dapat digambarkan sebagai prinsip “jika makan kotoran, maka akan mati”.

Sejumlah orang yang memiliki sirkuit syaraf yang membuat kotoran terasa manis akan suka memakan kotoran. Akibatnya, mereka akan terkena penyakit dan kemudian meninggal. Orang-orang yang memiliki sirkuit syaraf yang menyebabkan mereka menghindari makan kotoran, akan lebih sedikit peluangnya untuk sakit dan akan hidup lebih panjang.

Jumlah pemakan kotoran akan tinggal sedikit pada generasi selanjutnya dan lama kelamaan akan hilang dari populasi. Tidak ada lagi orang-orang yang memiliki sirkuit syaraf yang membuat kotoran terasa lezat. Populasi akan diisi oleh orang yang menghindari kotoran dan menyukai makanan yang kaya gula dan lemak.

Preferensi orang terhadap makanan yang mengandung banyak gula dan lemak itulah disebut sebagai mekanisme psikologis. Dengan kata lain, mengapa manusia memiliki sekumpulan sirkuit syaraf tertentu adalah karena sirkit yang dimiliki lebih baik dalam memecahkan problem adaptif yang dihadapi nenek-moyang kita dulu selama sejarah evolusioner spesies dibandingkan dengan sirkuit syaraf lain.

Manusia juga menghadapi problem adaptif yang berkaitan dengan reproduksi. Salah satu problem adaptif itu menyangkut memilih seorang wanita yang subur. Orang-orang zaman dulu yang menikahi wanita tidak subur akan gagal bereproduksi.

Sebaliknya, orang-orang yang menikahi wanita subur akan berhasil dalam bereproduksi. Selama beribu-ribu generasi kemudian akan muncullah secara evolusioner preferensi pria terhadap wanita yang subur. Lebih tepatnya, preferensi dan ketertarikan pria terhadap tanda-tanda pada diri wanita yang berkorelasi secara reliabel dengan fertilitas (Buss & Schmitt, 1993).

Proses seleksi alamiah diibaratkan bekerja seperti sebuah penyaring (Buss et al. , 1998). Variasi-variasi yang menghambat solusi yang sukses terhadap problem adaptif akan dibuang; sementara itu variasi-variasi yang memberi sumbangan pada solusi sukses terhadap problem adaptif akan berhasil masuk lewat saringan selektif.

Selama beberapa generasi, proses penyaringan akan cenderung memproduksi dan mempertahankan karakteristik-karakteristik yang berinteraksi dengan lingkungan fisik, sosial dan internal yang mempromosikan reproduksi individu yang memiliki karakteristik-karakteristik tersebut. Karakteristik-karakteristik inilah yang dinamakan adaptasi.

2. Adaptasi (adaptation)
Adaptasi adalah produk proses evolusioner. Adaptasi adalah satu karakteristik yang berkembang secara reliabel dan dapat diwariskan yang muncul menjadi satu ciri satu spesies melalui seleksi alamiah oleh karena karakteristik tersebut membantu secara langsung atau tidak langsung untuk memfasilitasi reproduksi selama periode evolusinya (Buss et al., 1998).

Fungsi adaptasi adalah untuk memecahkan satu problem adaptif. Pengertian adaptasi dalam psikologi evolusioner ini berbeda dengan pengertian adaptasi yang umum dipakai oleh psikologi. Pengertian umum adaptasi biasanya menunjuk pada pengertian yang menyangkut kebahagiaan pribadi, kesesuaian sosial, kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi yang berubah atau kesejahteraan hidup.

Adaptasi merupakan karakteristik yang bersifat dapat diwariskan. Adaptasi diturunkan oleh orang tua kepada anak keturunan. Agar supaya adaptasi dapat diwariskan kepada keturunan maka perlu ada gen adaptasi. Meskipun adaptasi merupakan karakteristik yang diwariskan, faktor lingkungan mungkin memainkan peranan penting dalam perkembangan ontogenetiknya (Buss et al, 1998).

Satu karakteristik dinilai sebagai adaptasi jika memenuhi dua kriteria (Buss et al ., 1998), yakni (a) karakteristik tersebut harus secara ajeg muncul dalam bentuk yang lengkap pada saat yang tepat dalam kehidupan organisme, (b) karakteristik itu merupakan karakteristik yang tipikal dari semua atau kebanyakan anggota spesies.

Adaptasi tidak selalu harus ada pada saat kelahiran. Misalnya, gerakan dengan dua kaki merupakan satu karakteristik yang berkembang secara ajeg dari manusia, namun kebanyakan manusia baru mampu berjalan dengan dua kaki pada usia setahun.

Mekanisme psikologis hasil evolusi (evolved psychological mechanism)
Semua perilaku yang kasat-mata akan dilandasi oleh mekanisme psikologis selain oleh input (Buss, 1995). Misalnya, jika seorang anak dan seorang dewasa merespons secara berbeda stimulus yang sama, maka hal ini disebabkan karena mereka memiliki mekanisme psikologis yang berbeda.

Contoh lain, jika seorang pria dan wanita mempunyai respons yang berbeda terhadap stimulus yang sama, hal itu disebabkan karena pria dan wanita memiliki mekanisme psikologis yang berbeda. Mekanisme fisiologis dan juga psikologis merupakan hasil proses evolusi dengan cara seleksi alami.

Buss (1995) merumuskan mekanisme psikologis sebagai sekumpulan proses di dalam diri organisme yang:
a. Ada dalam bentuk yang sekarang ini oleh karena mekanisme ini memecahkan satu problem khusus dari keberlangsungan hidup atau reproduksi individu secara berulang kali sepanjang sejarah evolusioner manusia,
b. Hanya mengambil informasi atau input tertentu yang dapat bersifat internal atau eksternal, dapat disarikan secara aktif atau diterima secara pasif dari lingkungan, dan menetapkan bagi individu problem adaptif tertentu yang dihadapinya, dan mengubah informasi menjadi output melalui satu prosedur di mana output nya akan mengatur aktivitas fisiologis, memberikan informasi pada mekanisme psikologis lain atau menghasilkan tindakan, dan memecahkan satu problem adaptif tertentu.

Salah satu tugas utama psikologi evolusioner adalah mengidentifikasikan, menggambarkan dan memahami mekanisme psikologis. Fungsi mekanisme psikologis adalah memecahkan problem adaptif khusus yang telah didesain oleh proses seleksi alami (Buss, 1995).

Misalnya, terdapat kecenderungan manusia untuk merasa takut terhadap ular. Kecenderungan rasa takut terhadap ular ada dalam bentuk seperti yang sekarang ini oleh karena kecenderungan itu memecahkan problem khusus bagi kelangsungan hidup dalam lingkungan manusia zaman dahulu.

Rasa takut itu akan dipicu hanya oleh input-input yang cakupannya sempit, seperti sesuatu yang panjang, melata, dan oleh individu dipersepsikan dalam jarak menyerang. Jika seekor ular dipersepsikan berbahaya dan berada dalam jarak serangan, maka informasi ini akan ditransformasi melalui aturan-aturan keputusan yang mengaktifkan aktivitas-aktivitas fisiologis seperti misalnya gerakan syaraf otonom.

Output terakhir adalah perilaku yang muncul seperti melarikan diri atau diam tak berdaya. Perilaku tersebut dalam lingkungan masa lalu telah memecahkan problem kelangsungan hidup adaptif dengan mengurangi risiko gigitan ular yang bisa mematikan.

Mekanisme psikologis berjumlah banyak, bersifat kompleks, serta domain- spesific (Buss, 1995a, h. 7; Cosmides & Tooby, 1997). Problem adaptif yang dihadapi manusia di masa lalu akan bersifat kompleks, berjumlah banyak dan akan berbeda satu sama lain.

Misalnya, rasa takut terhadap ular akan memecahkan problem adaptif dalam menghindari risiko lingkungan yang berbahaya dan bukan untuk memecahkan problem adaptif dalam memilih makanan yang harus dikonsumsi. Problem adaptif yang berbeda akan memiliki solusi adapatif yang berbeda pula.

Secara prinsip, tidak ada mekanisme psikologis yang bersifat domain-general , yaitu satu mekanisme yang dapat digunakan dalam semua domain adaptif (bisa digunakan untuk menghindari ular vs mencari pasangan hidup), oleh semua umur (pada masa anak vs remaja), oleh semua jenis kelamin (pria vs wanita) dan di bawah semua kondisi individual (dalam kondisi tekanan sosial vs tidak ada tekanan sosial).

Buss (1995) memberi ilustrasi bahwa keahlian seorang tukang kayu tidak terbentuk karena ia memiliki satu kemampuan yang bersifat domain-general atau kemampuan serba-guna untuk memotong, menggergaji, memasang sekrup, memukul dengan palu, namun karena ia mempunyai banyak ketrampilan khusus. Cosmides dan Tobby (1997) memberikan analogi tentang jantung dan hati. Memompa darah dan mendetoksifikasi racun dalam tubuh adalah dua problem yang berbeda.

Desain jantung mempunyai tugas khusus untuk memompa darah, sedangkan desain hati dikhususkan untuk mendetoksifikasi racun. Jantung tidak bisa dipakai untuk mendetoksifikasi racun, dan sebaliknya hati tidak bisa digunakan sebagai pemompa darah. Dengan alasan yang sama, pikiran manusia terdiri dari sejumlah besar sirkuit syaraf yang fungsinya terspesialisasi. Pikiran manusia terdiri dari modul-modul khusus. Secara empiris mekanisme yang bersifat domain-general telah sering dilanggar.

Misalnya dalam bidang psikologi belajar, Breland dan Breland (1968) menemukan bahwa beberapa binatang sulit dilatih untuk melakukan kondisioning operan. Misalnya, seekor raccoon sulit dilatih untuk memasukkan uang koin kedalam celengan (tempat menabung) meskipun setiap kali dia memasukkan koin itu dia mendapat makanan sebagai hadiah. Biasanya, raccoon akan menggosok-gosok koin itu dan tidak akan memasukkannya ke dalam celengan (1968).

Sebagai kesimpulan, psikologi evolusioner berasumsi bahwa karena (a) problem adaptif itu banyak dan berbeda, (b) solusi yang sukses untuk satu problem adaptif berbeda dari solusi yang sukses untuk problem adaptif lainnya, dan (c) kesuksesan akan tergantung pada spesies, usia, jenis kelamin, konteks, dan kondisi individual, maka mekanisme psikologis untuk memecahkan problem akan sangat bervariasi dan kompleks (Buss, 1995).

Banyak problem adaptif yang penting pada manusia bersifat sosial. Problem untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dan bereproduksi yang dihadapi manusia banyak yang secara inheren bersifat sosial (Buss, 1998, h. 9). Misalnya, kompetisi intraseksual yang sukses, pemilihan pasangan, cara menarik pasangan, hubungan seksual, membentuk persahabatan antara dua orang yang bersifat timbal- balik, membentuk dan mempertahankan koalisi, mempertahankan reputasi dan prestise, pengasuhan anak dan sosialisasi.

Masing-masing problem adaptasi sosial tersebut akan mengandung sejumlah subproblem. Misalnya, untuk membentuk persahabatan antara dua orang yang bersifat timbal balik, maka seseorang harus mengidentifikasi sumberdaya penting yang dimiliki calon-calon sahabat itu, mengukur pribadi mana yang memiliki sumber daya penting tersebut, menjadikan nilai-nilai sahabat itu sebagai model bagi diri kita, memprakarsai rangkaian hubungan timbal- balik, mendeteksi tanda-tanda hubungan yang tak timbal-balik.

Oleh karena problem adaptif yang bersifat sosial berperan penting bagi kelangsungan hidup dan reproduksi manusia, maka banyak pula mekanisme psikologis yang bersifat sosial yang dihasilkan oleh proses evolusi.

Pendekatan Psikologi Evolusioner
Evoluntiary approach merupakan pendekatan yang menekankan pentingnya adaptasi, reproduksi dan yang mampu bertahan hidup adalah mereka yang mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan hidupnya (survival of the fittest ). Berikut beberapa contoh pendekatan psikologi evolusioner di antaranya,
1. Pendekatan Altruisme
Dalam pendekatan ini dikatakan bahwa di dalam perilaku yang tampaknya altruisme, sesungguhnya adalah egoisme atau kepentingan diri sendiri, yang mana kepentingan tersebut untuk mendapatkan imbalan dari orang yang telah kita tolong.

2. Pendekatan Modeling
Dalam pendekatan modeling ini, merupakan suatu proses mempelajari tingkah laku melalui melihat dan mengimitasi atau meniru orang lain.

3. Pendekatan Defence
Yaitu pendekatan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tujuannya menolong kemudian mengelabui yang mana adanya dorongan agresif untuk mengelabui dalam dirinya untuk menutupi agar tidak terlihat oleh orang lain.

4. Pendekatan self – serving
Yaitu suatu bentuk pendekatan untuk melayani diri sendiri, dan bukan dimotivasi oleh kepedulian yang murni untuk menolong orang lain.

5. Pendekatan Compassion
Yaitu suatu bentuk pendekatan yang didasarkan karena adanya perasaan iba atau belas kasihan kepada orang lain, sehingga muncullah pendekatan ini dengan harapan orang yang dituju bisa nyaman dengan keberadaan kita.

6. Pendekatan Reciprocal Alturime
Dalam pendekatan yang satu ini, mengatakan bahwa perilaku menolong untuk mengharapkan balas budi dari orang yang ditolong, dengan asumsi orang yang kita tolong hari ini akan menolong kita dikemudian hari.

7. Pendekatan Seleksi Meme
Pendekatan seleksi ini maksudnya adalah penyebaran beberapa meme yang disebarkan, namun hanya beberapa meme lah yang mampu bertahan. Meme merupakan pengembang dari sebuah kecerdasan dan fungis meme ini adalah sebagai alat pikiran.

8. Pendekatan Seleksi Gen
Yatu sebuah pendekatan yang dilakukan untuk mempengaruhi atau mengimitasi sejumlah kelompok masyarakat. Kelompok masyarakat yang mengimitasi meme dengan baik.

9. Pendekatan Seleksi Gen yang Baik
Yaitu pendekatan yang dilakukan setelah melakukan seleksi gen. Setelah gen diseleksi maka didapatkanlah gen yang terbaik yang digunakan untuk bekerja sama dengan imitator terbaik.

10. Pendekatan Pertahanan Meme
Setelah meme yang terbaik sudah didapatkan maka sekarang giliran untuk mendapatkan meme yang terbaik yang mampu bertahan yang sudah mendominasi masyarakat yang telah mengimitasinya.

11. Pendekatan Pengambilan Keputusan
Setelah meme yang terbaik yang mampu bertahan dan mampu mengimitasi sudah ditemukan, maka kini saatnya meme tersebut akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan yang diambil oleh gen.

12. Pendekatan Pengendalian
Setelah meme tersebut berhasil dalam pengambilan keputusan maka pendekatan selanjutnya adalah pendekatan yang ditekankan pada pengendalian dari keputusan yang telah diambil, agar apa yang telah diputuskan dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

13. Pendekatan Perubahan Perilaku
Adapun pendekatan perubahan perilaku yang dimaksud dalam artikel ini adalah setiap individu harus mampu melewati setiap perubahan yang ada, karena sesuai dengan prinsip pendekatan evolusioner ini siapa yang bertahan, siapa yang bisa mengikuti perubahan yang terjadi, dialah yang mampu untuk bertahan hidup.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Psikologi Evolusioner: Pengertian, Prinsip Utama, dan Pendekatannya"