Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Microservices: Pengertian, Karakteristik, Kelebihan, Kekurangan, dan Perbedaannya dengan Monolitik

Pengertian Microservices atau arsitektur layanan mikro
Microservices (arsitektur layanan mikro)
Pengertian Microservices
Microservices (arsitektur layanan mikro) adalah metode khusus untuk mengembangkan sistem perangkat lunak yang berfokus pada pembuatan modul fungsi tunggal. Microservices membagi aplikasi menjadi layanan yang lebih kecil dan saling terhubung. Hal ini memungkinkan tiap fitur pada aplikasi mengalami pengembangan tersendiri.

Pola ini secara signifikan memengaruhi hubungan antara aplikasi dan database. Dalam microservices, masing-masing services atau layanan memiliki skema database tersendiri. Selain itu, services dapat menggunakan jenis database dan bahasa pemrograman yang paling sesuai dengan keperluan.

Dengan begitu, tiap-tiap layanan akan lebih optimal. Microservices memungkinkan aplikasi menjadi lebih padat dan kompleks namun tetap ringan. Selain itu, dalam setiap services yang dibuat bisa menggunakan teknologi yang berbeda pula.

Karakteristik Microservices
Microservices memiliki beberapa karakteristik utama di antaranya,
1. Proses Routing Sederhana
Tujuan utama dari microservices adalah untuk menyederhanakan proses routing yang ada pada sebuah aplikasi atau sistem. Di dalam microservices ada beberapa fitur kecil yang tidak perlu melakukan proses tambahan untuk menyinkronkan dengan fitur-fitur lainnya.

Microservices pun bekerja seperti sistem UNIX klasik: mereka menerima semua permintaan, memproses, dan menghasilkan respons yang sesuai.

2. Mengurangi Risiko Kegagalan
Microservices juga mempunyai desain yang terbukti dan dirancang untuk mampu mengatasi semua kegagalan pada sistem dan jaringan. Meskipun layanan ini umumnya berjalan sendiri, beragam fitur dan fungsi yang ada di dalam aplikasi ini memang akan saling membackup.

Keberadaan sistem backup ke database inilah yang tentunya akan mengurangi segala risiko kegagalan dalam layanan arsitektur mikro ini.

3. Dapat Berjalan Sendiri
Melalui microservices, semua fitur yang tersedia di dalamnya bisa berjalan sendiri tanpa adanya sinkronisasi dengan berbagai fitur-fitur lainnya. Dengannya, semua fitur yang ada pada layanan microservices umumnya mempunyai tim developer yang berbeda dari pengembang aplikasi utama.

4. Ditujukan untuk Kebutuhan Bisnis
Layanan microservices umumnya diatur berdasarkan kemampuan dan prioritas bisnis — tidak seperti pendekatan pengembangan monolitik tradisional. Pada pendekatan monolitik, setiap tim berbeda masing-masing memiliki fokus khusus seperti UI, database, lapisan teknologi, atau logika sisi server.

Sedangkan, arsitektur layanan mikro menggunakan tim yang mempunyai banyak fungsi dan tanggung jawab yang berbeda-beda.

5. Mudah Adaptasi
Layanan microservices juga sangat mudah beradaptasi dengan segala keadaan yang ada. Tentunya ini akan mempermudah akses aplikasi dan membantunya untuk berjalan maksimal meski ada banyak perubahan keadaan.

Kelebihan Microservices
1. Scalable. Aplikasi arsitektur layanan mikro umumnya mudah untuk di upgrade dan diatur sesuai dengan kebutuhan pengguna.
2. Aman. Microservices juga umumnya sangat aman dan secure karena telah dirancang untuk mampu mengatasi semua kegagalan yang mungkin terjadi.
3. Lebih bebas. Arsitektur layanan mikro memberi developer kebebasan untuk mengembangkan dan menyebarkan layanan secara mandiri.
4. Mudah dimengerti. Microservices mudah dipahami dan dimodifikasi sehingga membantu anggota tim baru menjadi produktif dengan cepat.
5. Sederhana. Ketika perubahan diperlukan di pada bagian tertentu, hanya layanan terkait yang perlu dimodifikasi. tidak perlu menerapkannya ke seluruh aplikasi.
6. Error terisolasi. Jika satu layanan mikro gagal, yang lain akan terus bekerja (walaupun satu area bermasalah dari aplikasi monolit dapat membahayakan seluruh sistem)

Kekurangan Microservices
1. Jika terdapat perubahan entity pada database, entity pada service lainnya juga harus diubah.
2. Sering ditemukan kesulitan untuk menerapkan perubahan services, sehingga diperlukan perancangan yang matang.
3. Perlu automation yang tinggi dalam melakukan deployment.

Perbedaan Microservices dengan Monolitik
Monolitik dibuat dengan suatu sistem besar dan umumnya berdasarkan satu basis kode tertentu. Sedangkan microservices adalah aplikasi yang dibuat dengan rangkaian layanan yang lebih kecil.
1. Kemudahan dalam Penerapan. Sistem monolitik bisa dibilang adalah sistem yang sederhana sehingga dalam proses penerapannya tidak perlu banyak menangani file atau direktori.
2. Sederhana untuk Dikembangkan. Monolitik adalah suatu pendekatan standar dalam membuat suatu aplikasi, sehingga akan ada banyak orang yang mampu melakukan pengembangan.
3. Debugging dan Testing yang Lebih Mudah. Sistem monolitik terbagi menjadi beberapa bagian yang lebih kecil, sehingga akan lebih cepat dalam melakukan proses debugging dan testing.

Dari berbagai sumber

Download

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Microservices: Pengertian, Karakteristik, Kelebihan, Kekurangan, dan Perbedaannya dengan Monolitik"