Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Psikologi Lintas Budaya: Pengertian, Konsep, Tujuan, dan Hubungan dengan Keilmuan Lainnya

Pengertian Psikologi Lintas Budaya
Psikologi Lintas Budaya
Pengertian Psikologi Lintas Budaya
Psikologi lintas budaya adalah cabang ilmu psikologi yang membahas mengenai perilaku dan proses mental yang terjadi pada manusia termasuk keberagaman dan kesamaannya dalam konteks kondisi kebudayaan yang berbeda. Psikologi lintas budaya melibatkan perbandingan tertentu yang terjadi pada suatu kebudayaan tertentu terhadap kebudayaan lain.

Psikologi lintas budaya memiliki tujuan untuk mengungkap tentang cara-cara tradisi budaya mengatur, mempengaruhi, dan mentransformasikan fenomena kejiwaan dan perilaku manusia. Fenomena kejiwaan dan perilaku manusia meliputi tiga ranah penting dalam kajian-kajian psikologi, yaitu dalam cara berpikir, berperasaan, dan cara berperilaku manusia.

Psikologi Lintas Budaya Menurut Para Ahli
1. Segall dkk. (1990), psikologi lintas budaya adalah cabang psikologi yang melakukan kajian-kajian terhadap fenomena kejiwaan dan perilaku manusia dalam konteks lintas budaya.
2. Brislin, Lonner, dan Thorndike, (dalam Berry dkk., 1997: 2), psikologi lintas budaya adalah kajian empiris mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan.
3. Triandis (dalam Berry dkk., 1997: 2), psikologi lintas budaya berkutat dengan kajian sistematis mengenai perilaku dan pengalaman, sebagaimana pengalaman itu terjadi dalam budaya berbeda yang dipengaruhi budaya yang bersangkutan.

Konsep Psikologi Lintas Budaya
Psikologi lintas budaya memiliki konsep atau arahan khusus mengenai perilaku manusia yang berhubungan dengan budaya dan pengaruh sosial budaya bagi masyarakat sekitarnya
1. Perilaku mengenai budaya manusia
Konsep psikologi lintas budaya utamanya ialah mempelajari mengenai perilaku manusia sekaligus penyebarannya dan memperhitungkan bagaimana cara perilaku tersebut dibentuk serta bagaimana mendapat kekuatan dari sosial budaya di lingkungannya. Hal tersebut mengarah ada dua hal pokok, yaitu keragaman perilaku manusia di berbagai daerah di dunia dan kaitan antara perilaku-perilaku yang muncul tersebut.

Misalnya budaya Jawa yang mengajarkan sopan santun baik dari tutur kata maupun perilaku kepada setiap individu yang dimulai sejak mereka masih kecil. Budaya tersebut diajarkan dan dibiasakan dengan tujuan untuk menanamkan secara mendalam sehingga akan terus dilaksanakan hingga dewasa bahkan ketika individu tersebut sudah tinggal lagi di daerah tersebut.

2. Pengalaman Budaya
Psikologi lintas budaya berkutat khusus pada kajian yang dilakukan secara sistematik mengenai perilaku budaya dan pengalaman budaya sebagaimana pengalaman budaya tersebut terjadi dalam budaya yang berbeda, yang dipengaruhi oleh budaya atau sesuatu yang mengakibatkan perubahan-perubahan dalam budaya yang bersangkutan.

Setiap orang yang melakukan budaya dari daerahnya sendiri yang dimulai dan dibiasakan pada dirinya sejak kecil mungkin akan terbiasa dan tidak merasa keberatan untuk melakukannya, namun dengan banyaknya media saat ini seperti media sosial dan media yang luas seperti internet dan televisi, dari situ masyarakat bisa melihat budaya lain baik yang pribumi hingga modern.

Hal tersebut terkadang menimbulkan perlawanan ketika ada persepsi yang berbeda seperti persepsi ketika menerima ajaran budaya, ada individu yang merasa berat akan budaya yang dilakukan karena memiliki pengalaman budaya yang menurutnya sulit untuk dilakukan sehingga hal tersebut membuat kekentalan budaya menjadi berkurang karena banyaknya campuran informasi modern.

3. Perilaku dapat Diramalkan Secara Psikologis
Kajian empirik mengenai anggota berbagai kelompok budaya di berbagai daerah yang memiliki berbagai perbedaan dalam pengalaman budaya yang dialami dapat membawa individu tersebut ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan secara signifikan dari segi psikologis, karena perilaku dapat diamati dalam keseharian serta dapat diketahui sebab akibatnya.

Semuanya mencakup persoalan pokok yang bersumber dari dua budaya atau lebih dari daerah dan masyarakat yang berbeda di belahan dunia ini dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen untuk menentukan berbagai batasan yang dapat menjadi pilihan dan dapat menjadi pijakan teori psikologi umum serta jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal sehingga mudah dipahami dan dimengerti oleh semua orang dari budaya dan daerah yang berbeda.

4. Mencari Persamaan dan Perbedaan
Psikologi lintas budaya memiliki konsep untuk mencari persamaan dan perbedaan dalam fungsi-fungsi individu yang memiliki budaya berbeda secara psikologis, yakni respons dan pandangannya mengenai budaya yang diikutinya dan bagaimana perasaannya secara psikis ketika budaya tersebut telah mempengaruhi keseharian dan menentukan perilakunya.

Dalam keseharian, tentu kita sering membandingkan antar budaya yang satu dengan lainnya, misalnya ialah budaya di daerah Jawa dan Sunda, tentunya akan memiliki berbagai persamaan dan perbedaan yang hanya dapat diketahui dengan mengamatinya secara langsung serta bertanya mengenai pengalaman dan persepsi yang dirasakan oleh warga aslinya.

Dalam kajian tersebut akan ditemukan sebab-sebab dilakukannya budaya tersebut dari riwayat-riwayat atau dari kebiasaan-kebiasaan yang mungkin telah ada sejak zaman dahulu yang masih diterapkan baik sebagian atau keseluruhan di kehidupan modern. Dari hal tersebut akan dapat diambil kesimpulan secara psikologi mengenai persamaan dan perbedaannya antara budaya satu dengan budaya yang lain.

5. Berkaitan dengan Ilmu Lain
Psikologi lintas budaya dalam mempelajari dan membentuk konsepnya tidak berdiri sendiri, dibutuhkan ilmu lain untuk mengkajinya yakni ilmu sosiologi yang mempelajari mengenai masyarakat sebab budaya berhubungan erat dengan kemasyarakatan dan apa pun yang ada di dalamnya, ilmu agama di mana budaya tetap akan terbentuk karena agama yang dianut oleh para pendahulu yang akan menimbulkan corak khas pada hasil budaya yang diciptakan.

Tujuan Psikologi Lintas Budaya
1. Pengujian kerampatan (generality) pengetahuan dan teori psikologis yang ada
Dalam tujuan ini berusaha membawa hipotesis dan temuan para psikolog ke lingkungan budaya lain untuk menguji daya terapnya dalam kelompok manusia lain atau semua manusia. Segall (1990) mengatakan bahwa mengingat pentingnya budaya sebagai suatu penentu perilaku, para psikolog wajib menguji kerampatan lintas budaya dari asas-asas mereka sebelum menetapkan asas-asas itu.

2. Menjelajah budaya lain untuk menemukan variasi psikologis yang tidak dijumpai dalam pengalaman budaya seseorang yang tidak dijumpai dalam pengalaman budaya seseorang yang memang terbatas.

Tujuan kedua ini memperjelas tujuan pertama, sehingga kita dapat merampatkan dan mencari tahu sebab-sebabnya atau menemukan cara-cara alternatif (yang mungkin khas budaya setempat). Tujuan kedua ini juga membuka mata terhadap aspek-aspek perilaku yang baru walau kita telah mendapat dukungan menarik dari penempatan fenomena yang kita pelajari.

3. Berusaha menjalin dan mengintegrasikan hasil-hasil yang diakui ke dalam sebuah psikologi berwawasan luas ketika tujuan pertama dan kedua tercapai. Dalam tujuan ini menetaskan sebuah konstruksi psikologi yang mendekati universal dan sahih bagi tebar budaya yang lebih luas (broader range of cultures).

Selain 3 tujuan utama tersebut psikologi lintas budaya juga memiliki tujuan lain di antaranya,
1. Menyusun bangunan pengetahuan (body of knowledge) tentang manusia yang berbudaya dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh bagi kepentingan kehidupan manusia,
2. Memanfaatkan pengetahuan psikologi lintas budaya bagi kehidupan manusia yang lebih baik di dunia praksis, melihat kedua perilaku universal dan perilaku yang unik untuk mengidentifikasi bagaimana dampak perilaku kita, kehidupan keluarga, pendidikan, pengalaman sosial dan daerah lainnya, mengetahui persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis dalam berbagai budaya dan kelompok etnik.

Hubungan Antara Psikologi Lintas Budaya Dengan Ilmu Lainnya
Psikologi lintas budaya jelas memiliki hubungan dengan disiplin ilmu lainnya, walaupun psikologi lintas budaya merupakan salah satu cabang dari psikologi yang berarti terdiri dari gabungan beberapa ilmu.

Hubungan antara psikologi lintas budaya dan ilmu lainnya dapat tercipta karena pada dasarnya psikologi lintas budaya merupakan ilmu penengah antara ilmu-ilmu yang dilihat subjek kelompok seperti sosiologi, antropologi, ekonomi, dan lain-lain dengan ilmu yang dilihat subjek individu seperti psikologi umum, psikologi kepribadian, dan lain-lain.

Berikut ini pemaparan dari beberapa ilmu yang berhubungan dengan psikologi lintas budaya di antaranya,
1. Hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu antropologi
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia yang difokuskan hanya pada kebudayaannya, antropologi melihat atau memahami manusia sebagai makhluk berbudaya. Sedangkan psikologi lintas budaya melihat manusia secara psikologis namun dengan pertimbangan latar belakang kebudayaan.

Sebenarnya psikologi lintas budaya merupakan irisan antara ilmu psikologi juga antropologi, hanya saja dilihat lebih jauh dan luas dengan membandingkan budaya yang satu dengan budaya lainnya. Misalnya masyarakat dunia barat tidak banyak mempunyai upacara adat layaknya seperti masyarakat dunia timur, hal ini menimbulkan perbedaan secara psikologis antara masyarakat dunia barat dengan dunia timur.

2. Hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu sosiologi
Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kemasyarakatan menyangkut struktur sosial, gejala sosial, proses-proses sosial, dan interaksi sosial. Sosiologi memandang manusia sebagai makhluk sosial, atau makhluk berkelompok. Dalam psikologi lintas budaya juga mempelajari psikologis kelompok dalam perbedaan atau keragaman budaya.

Karena kalau berbicara budaya tidak hanya dipunyai oleh satu individu namun banyak individu-individu yang mempunyai budaya yang sama dan saling berinteraksi yang bergabung dalam kelompok. Jadi, hubungan Psikologi lintas budaya dengan ilmu sosiologi adalah melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik yang berada dalam suatu kehidupan masyarakat.

3. Hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu klinis/medis atau kedokteran
Dalam memberikan jasa atau pelayanan seringkali profesi-profesi yang berhubungan dengan dunia medis juga menggunakan prinsip-prinsip ilmu psikologi lintas budaya dalam melakukan pendekatan terhadap klien.

Misalnya di kota-kota besar melahirkan dengan dokter atau bidan merupakan hal yang wajar, namun di desa-desa atau wilayah pedalaman terbiasa melahirkan dibantu dengan dukun anak yang tidak mempunyai pengetahuan memadai tentang hal kesehatan. Psikologi lintas budaya diperlukan untuk melakukan pendekatan ke para masyarakat desa agar mau melahirkan di bidan.

4. Hubungan psikologi lintas budaya dan ilmu ekonomi
Ilmu ekonomi banyak dikaitkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan, upaya bertahan hidup, transaksi, serta hal-hal yang mengarah pada keuntungan secara materil. Psikologi lintas budaya melihat pola pikir, tingkah laku masyarakat dunia dengan keragaman budayanya dalam melakukan aktivitas ekonomi.

Misalnya perilaku konsumtif masyarakat negara berkembang lebih tinggi dibanding masyarakat negara maju. Dalam hal ini ada faktor-faktor psikologis yang terkait seperti persepsi, motivasi, kognisi, dan lain-lain.

5. Hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu politik
Dalam teori politik, sistem politik itu terbangun dari berbagai sub sistem politik yang ada serta dipengaruhi oleh sistem-sistem yang lain termasuk sistem budaya. Sementara itu, budaya politik sering dimaknai sebagai segala pemahaman dan perilaku individu maupun masyarakat tentang kehidupan politik yang terjadi di suatu negara atau di suatu tatanan sistem politik.

Dengan demikian budaya politik itu secara garis besar berhubungan dengan sikap dan perilaku politik seseorang atau masyarakat dalam sebuah sistem politik yang tidak terlepas dari faktor psikologis. Pada umumnya para ilmuwan politik membagi budaya politik menjadi 3 bagian atau 3 tahapan yaitu budaya politik kognitif, afektif dan evaluatif.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Psikologi Lintas Budaya: Pengertian, Konsep, Tujuan, dan Hubungan dengan Keilmuan Lainnya"