Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning): Pengertian, Unsur, Tujuan, Ciri, Teknik, Kelebihan, dan Kekurangannya

Pengertian Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning
Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah istilah untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antarsiswa. Strategi ini berlandaskan pada teori belajar Vygotsky (1978, 1986) yang menekankan pada interaksi sosial sebagai sebuah mekanisme untuk mendukung perkembangan kognitif.

Pembelajaran kooperatif dikenal sebagai pembelajaran secara berkelompok. Akan tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdependensi efektif di antara anggota kelompok.

Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Menurut Para Ahli
1. Bern dan Erickson (2001:5) Cooperative learning (pembelajaran kooperatif) merupakan strategi pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar kecil di mana siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar.
2. Eggen and Kauchak (1996:279). Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.
3. Stahl (1999). Dalam pembelajaran kooperatif terjadi suatu aktivitas kelompok, semua anggota kelompok dapat bekerjasama untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka.
4. Tukiran Taniredja, dkk (2011:55). Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur.
5. Trianto (2007:41). Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu.

Unsur Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Menurut Roger dan david, pembelajaran kooperatif dibagi menjadi lima unsur di antaranya,
1. Positive interdependence. Tanggungjawab dalam pembelajaran ini yaitu bahan dipelajari oleh kelompok dan masing masing anggota kelompok harus dapat memahami bahan materi yang diberikan.
2. Personal responsibility. Tanggungjawab perorangan merupakan poin penting untuk menjamin semua anggota kelompok. Caranya yaitu dengan membentuk kelompok belajar bersama
3. Face to face promotive interavtion. Unsur ini memiliki ciri yaitu saling membantu, saling mengingatkan, saling percaya, saling memberikan informasi, saling memberikan semangat
4. Interpersonal skill. Unsur ini memberikan manfaat pada anggota kelompok untuk saling mengenal, saling menerima, saling mendukung, dan bisa bekerjasama dalam menyelesaikan tugas atau konflik
5. Group processing. Processing berarti menilai dari kegiatan atau hasil kerja anggota kelompok. Hal ini dilakukan untuk memantau dan meningkatkan efektivitas kerja anggota kelompok dalam kontribusinya pada tugas kelompok.

Tujuan Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000) di antaranya,
1. Hasil belajar akademik
Selain mencakup berbagai tujuan sosial, cooperative learning juga bertujuan memperbaiki prestasi siswa dan tugas-tugas akademik lainnya. Model pembelajaran ini unggul dalam memahami konsep-konsep sulit. Model pembelajaran cooperative dapat meningkatkan nilai siswa pada pelajaran akademik dan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.

Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan norma hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

2. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

3. Pengembangan ketrampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

Ciri Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Stahl, dikutip oleh Tukiran Taniredja, dkk, menyebutkan model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa ciri khas atau karakteristik di antaranya,
1. Kegiatan belajar dilakukan bersama dengan teman.
2. Selama proses belajar, terjadi face to face interaction atau tatap muka dengan teman.
3. Siswa saling mendengarkan pendapat di antara anggota kelompok.
4. Siswa dapat belajar dari teman dalam kelompoknya.
5. Siswa dimasukkan dalam kelompok kecil untuk belajar bersama.
6. Siswa berkesempatan untuk aktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat.
7. Pengambilan keputusan tergantung pada siswa sendiri.
8. Siswa dituntut untuk aktif dalam setiap kegiatan belajar pada kelompoknya.

Teknik Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Terdapat beberapa teknik metode pembelajaran kooperatif di antaranya,
1. Metode STAD (student Achievement Divisions)
Robert Slavin dkk telah mengembangkan metode ini. Metode ini digunakan oleh guru dalam memberikan informasi setiap minggunya kepada siswa. Penilaian yang diberikan bisa verbal ataupun secara tertulis. Langkah langkahnya sebagai berikut di antaranya,
a. Siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri 4- 5 orang. Anggota kelompok terdiri dari bermacam – macam anggota.
b. Setiap anggota mempelajari materi dan saling membantu menguasai bahan ajar.
c. Secara individual masing-masing anggota kelompok saling mengevaluasi satu sama lain untuk mengetahui penguasaan materi akademik yang telah dipelajari.
d. Siswa diberikan penilaian berdasarkan tingkat penguasaan materi dan juga skor yang tertinggi. Terkadang penilaian didasarkan pada kriteria tertentu.

2. Metode Jigsaw
Berikut langkah langkahnya:
a. Siswa di dalam kelas dibagi dalam kelompok yang berisikan 4- 5 anggota dan heterogen atau campuran.
b. Bahan materi diberikan pada masing-masing kelompok secara teks, dan mereka diminta untuk mempelajari materi tersebut.
c. Setiap kelompok mempelajari bahan yang sama dan kemudian dibahas dalam kelompok besar. Setiap kelompok kecil membahas tentang materi yang dipelajarinya.
d. Kemudian di akhir, dilakukan evaluasi setiap individu mengenai bahan yang dipelajari.

3. Metode G (Group Investigation)
Metode ini, guru melibatkan siswa dalam membuat perencanaan dan topik yang akan dipelajari. Kemudian materi digunakan untuk mencoba menginvestigasi. Dalam metode ini, siswa dilatih dalam berkomunikasi dan berpikir kritis dalam proses diskusi.

Langkah- langkahnya, yaitu:
a. Seleksi topik
b. Membuat perencanaan
c. Implementasi
d. Analisis dan sintesis
e. Pelaporan hasil diskusi
f. Evaluasi

4. Metode struktural
Metode ini dibentuk oleh Spencer Kagan, dengan tujuan mempengaruhi pola- pola interaksid alam pembelajaran kelompok. Metode struktural memiliki beberapa teknik pembelajaran, yaitu:
a. Make a Match
Larana Curran mengembangkan teknik ini, yaitu siswa mencari pasangan untuk belajar bersama tentang suatu topik. Langkah- langkahnya:
a) Guru menyiapkan kartu yang berisi topik dan akan dikocok nantinya.
b) Setiap siswa akan mengambil satu kartu
c) Kemudian siswa mencari kartu yang cocok dengan kartunya
d) Siswa dengan kartu yang sama akan mempelajari topik yang sama
e) Setelah belajar topik yang sama dan berdiskusi tentang tugas, kemudian di presentasikan hasilnya

b. Bertukar pasangan
Langkah- langkahnya sebagai berikut:
a) Siswa pada awalnya dibagi berpasangan
b) Kemudian mempelajari materi yang sama, namun pasangan lain mempelajari topik yang berbeda
c) Kemudian siswa bertukar pasangan, dan saling mempelajari topik pasangan lain.
d) Setelah itu bertukar kembali ke pasangan semula dan memberikan informasi topik bahasan dari pasangan lain dan mendiskusikannya

c. Berkirim salam dan soal
Langkah langkahnya sebagai berikut:
a) Guru membagi kelompok siswa dalam kelompok kecil, kemudian kelompok ditugaskan untuk membuat pertanyaan yang nantinya diajukan pada kelompok lain
b) Kemudian masing-masing kelompok mengirim perwakilan untuk mengucapkan salam dan menyampaikan pertanyaannya
c) Setiap kelompok mengerjakan soal atau pertanyaan dari kelompok lain
d) Setelah jawaban selesai, dicocokkan dengan jawaban kelompok pemberi soal

d. Bercerita berpasangan
a) Siswa dipasangkan.
b) Guru membagi topik menjadi dua dan masing masing bagian diberikan pada masing masing siswa yang berpasangan.
c) Siswa disuruh membacakan topik yang dipegang masing masing.
d) Kemudian setelah mencatat topik yang diberikan, siswa mengarang bagian lain yang belum terbaca.
e) Saat siswa membaca, maka yang lain mendengarkan dan sebaliknya.
f) Setelah tulisan lanjutan selesai, siswa disuruh untuk membacakannya lagi.
g) Di akhir, evaluasi topik diskusi.

e. Think- Pair- Share
Langkah langkahnya yaitu:
a) Guru mengajukan pertanyaan pada siswa tentang materi pembelajaran.
b) Kemudian siswa berpasangan, dan berdiskusi.
c) Hasil diskusi dari tiap pasangan disampaikan ke seluruh kelas dan memicu tanya jawab dari kelompok lainnya.

f. Numbered heads Together
Langkah langkahnya yaitu:
a) Guru membagi siswa menjadi kelompok kelompok kecil.
b) Guru mengajukan pertanyaan pertanyaan yang harus dijawab kelompok. Kelompok sebelum menjawab akan berdiskusi terlebih dahulu.
c) Kemudian guru memberikan kesempatan pada tiap tiap kelompok untuk menyampaikan jawaban.
d) Kemudian guru dapat membawa topik bahasan yang lebih mendalam.

g. Bamboo Dancing
Langkah langkahnya yaitu:
a) Guru memberikan sedikit penjelasan mengenai topik sebagai awal pengenalan
b) Kemudian guru membagi kelas menjadi dua kelompok dan pasangan
c) Tugas diberikan pada masing masing pasangan untuk berdiskusi
d) Hasil diskusi pasangan disampaikan dengan teman dalam satu kelompok dengan sistem ganti pasangan sehingga semuanya mendapat tambahan hasil diskusi yang baru dari pasangan lainnya.
e) Hasil diskusi kelompok besar kemudian disampaikan di depan kelas

h. Point- Counter- Point
Langkah langkahnya yaitu:
a) Guru memberikan kasus pemicu yang memiliki kontroversi.
b) Kemudian kelas dibagi dua kubu atau dua kelompok yang saling berhadapan.
c) Tiap kelompok diberikan kesempatan untuk berargumentasi atau menyampaikan pendapat.
d) Kelompok dapat memberikan bantahan, koreksi, ataupun pernyataan pada kelompok lainnya.
e) Evaluasi akhir dibantu oleh guru di mana siswa mencari jawaban yang mungkin sesuai dari argumen- argumen yang dipaparkan saat diskusi tadi.

i. The Power of Two
Langkah langkahnya yaitu:
a) Guru mengajukan pertanyaan kritis sebagai pemicu.
b) Siswa mencoba menjawab pertanyaan secara individu.
c) Kemudian siswa diminta mencari pasangan dan berdiskusi ulang, kemudian menyampaikan jawaban hasil diskusi.
d) Selanjutnya membandingkan jawaban itu dengan pasangan lainnya agar pandangan lebih luas.
e) Buatlah ringkasan dari jawaban jawaban yang diberikan dan sebagai hasil dari perluasan pengetahuan yang dikembangkan selama diskusi.

j. Listening team
Langkah langkahnya yaitu:
a) Guru memberikan materi seperti biasa.
b) Kemudian siswa dibagi menjadi kelompok yang memiliki peran masing masing, kelompok penanya, kelompok penjawab 1, penjawab 2, dan kelompok review.
c) Diskusi dilakukan dengan aktif sesuai peran peran tersebut, sehingga perbedaan pemikiran akan muncul.

Berikut beberapa metode pendukung dari pembelajaran kooperatif di antaranya,
1. Preview- Question- Read- Reflect- Recite- Review
a. Preview: siswa menemukan ide dari bacaan.
b. Question: siswa membuat pertanyaan pertanyaan untuk diri sendiri setelah membaca bahan untuk mengasah kemampuannya sendiri.
c. Read: setelah itu mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri dengan membaca pada lebih banyak bahan dan sumber lainnya.
d. Reflect: memahami apa yang dicari dan dibaca.
e. Recite: merenungkan informasi atau pengetahuan yang didapatkan dan mampu merumuskan konsep teori atau topik yang sedang dipelajari.
f. Review: membuat rangkuman atas apa yang dipelajari dengan menuliskan pokok pokok bahasannya yang penting penting, dan mengambil kesimpulan sebagai jawaban dari pertanyaan.

2. Guided Note Taking
Bertujuan sebagai pengarah bagi guru agar pemberian materi lebih menarik dan diperhatikan oleh siswa:
a. Bahan ajar dibagikan pada siswa
b. Beberapa poin penting dikosongkan
c. Bagian yang kosong bisa dibuat diskusi dengan siswa sebagai pancingan untuk slide selanjutnya, dan dengan memberikan pertanyaan pemicu pada siswa
d. Siswa akan mengisi bagian yang kosong dengan jawaban yang dijelaskan oleh guru
e. Setelah selesai, siswa bisa membuat review hasil pengajaran

3. Snowball drilling
Metode pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk memperkuat pengetahuan yang sudah di dapat dari bahan bacaan yang dipelajari. Guru menyiapkan soal soal yang dalam kertas yang bisa diundi. Langkah langkahnya, yaitu:
a. Peserta didik mengambil undian soal dan menjawab pertanyaan yang diberikan
b. Jika siswa sudah menjawab, kemudian siswa menunjuk teman yang lainnya untuk menjawab soal berikutnya. Apabila jawabannya salah, maka akan diberikan soal lainnya sampai jawabannya benar.
c. Di akhir pelajaran, guru menyampaikan kesimpulan yang sudah dipelajari bersama

4. Consept mapping
Langkah langkahnya:
a. Guru menggunakan kartu yang bertuliskan topik utama
b. Kemudian kartu bertuliskan topik utama tersebut dibagikan pada siswa
c. Siswa diminta untuk menghubungkan tiap topik utama tersebut dengan membuat kalimat yang menjelaskan hubungan antar topik/ konsep.
d. Kemudian guru membandingkan hasil pengerjaan siswa dengan yang sebenarnya dan dibahas satu persatu
e. Evaluasi dilakukan bersama- sama untuk mengoreksi hasil pengerjaan apakah terdapat kekeliruan dan kemudian diambil kesimpulan.

5. Giving quetion and getting answer
Metode ini digunakan untuk melatih siswa dalam memberikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan.
Langkah langkahnya:
a. Menggunakan dua kartu yaitu kartu bertanya dan kartu menjawab
b. Guru mengajukan pertanyaan yang ditulis pada kartu bertanya kemudian siswa diminta menuliskan jawaban pada kartu menjawab
c. Jika sudah, kartu diberikan pada guru
d. Jika sampai akhir siswa masih memegang dua kartu, minta siswa untuk membuat resume dari proses pembelajaran tersebut.

6. Question student have
Metode ini untuk melatih siswa dalam bertanya. Langkah langkahnya yaitu:
a. Kelas dibagi menjadi empat kelompok
b. Bagikan kartu pada setiap siswa dan minta untuk menuliskan pertanyaan tentang materi terkait.
c. Kartu berisi pertanyaan diputar dan berikan tanda cek untuk pertanyaan yang dianggap bagus dan penting sampai kartu tersebut kembali pada pemiliknya.
d. Pertanyaan yang mendapat cek paling banyak akan mewakili kelompok
e. Kemudian pertanyaan diberikan pada guru, dan siswa menjawab secara mandiri ataupun kelompok

7. Talking stick
Metode ini bertujuan untuk mendorong siswa lebih berani mengungkapkan pendapatnya. Langkah langkahnya:
a. Terlebih dahulu, guru menjelaskan materi yang akan dipelajari
b. Siswa diminta membaca tentang materi tersebut
c. Kemudian siswa diminta menutup bukunya dan guru menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaan terkait hal yang baru saja dipelajari.
d. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk mengulas materi yang sudah dipelajari dan kemudian dirumuskan bersama- sama.

8. Everyone is teacher here
Metode ini bertujuan agar siswa mampu berpartisipasi terhadap proses pembelajaran secara individual dan mampu berperan menjadi guru untuk teman- temannya. Langkah langkahnya yaitu:
a. Guru membagikan kertas pada semua siswa.
b. Siswa diminta menuliskan pertanyaan terkait materi pada kertas tersebut.
c. Kumpulkan kertas pertanyaan dan bagikan kembali, pastikan tidak ada yang mendapatkan kertasnya sendiri.
d. Siswa diminta untuk membaca pertanyaan dalam hati dan memikirkan jawabannya.
e. Kemudian siswa diminta membaca jawabannya, dan siswa lainnya bisa merevisi atau menambahkan jawaban.

Kelebihan Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan keterampilan kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. Selain itu, Sadker (dam Huda, 2015, hlm. 66) menjabarkan bahwa beberapa manfaat dan kelebihan dari pembelajaran kooperatif di antaranya,
1. Siswa yang diajari dengan dan dalam struktur-struktur kooperatif akan memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi.
2. Peserta didik yang berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki sikap harga-diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar.
3. Melalui pembelajaran kooperatif, siswa menjadi lebih peduli pada teman-temannya, dan di antara mereka akan terbangun rasa ketergantungan yang positif (interdependensi positif) untuk proses belajar mereka nanti.
4. Pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan siswa terhadap teman-temannya yang berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda-beda.

Kekurangan Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Slavin (Huda, 2015, hlm. 68) mengidentifikasi tiga kendala utama atau apa yang disebutnya common pitfalls (lubang-lubang perangkap) terkait dalam kekurangan atau kelemahan pembelajaran kooperatif yang di antaranya,
1. Free Rider
Free rider yang dimaksud adalah beberapa siswa yang tidak bertanggung jawab secara personal pada tugas kelompoknya hanya akan mengekor pada apa saja yang telah dilakukan oleh teman-teman satu kelompoknya. Fenomena ini sering kali muncul ketika kelompok-kelompok kooperatif ditugaskan untuk mengerjakan lembar tugas, proyek, atau makalah tertentu.

2. Diffusion of Responsibility (pembauran tanggung jawab)
ini merupakan kondisi di mana beberapa anggota yang dianggap “kurang mampu” cenderung diabaikan oleh rekan lainnya yang “lebih mampu”. Misalnya, jika siswa ditugaskan untuk mengerjakan tugas IPA, beberapa anggota yang dipersepsikan tidak mampu menghafal atau memahami materi tersebut dengan baik sering kali tidak dihiraukan oleh teman-temannya yang lain.

Siswa yang memiliki skill IPA yang baik pun terkadang malas mengajarkan keterampilannya pada teman-temannya yang kurang mahir di bidang IPA. Hal ini berpotensi membuang waktu dan energi tanpa mendapatkan esensi dari pembelajaran kooperatif.

3. Learning a Part of Task Specialization
Dalam beberapa model pembelajaran kooperatif tertentu, seperti Jigsaw, Group Investigation, dan metode-metode lain yang terkait, setiap kelompok ditugaskan untuk mempelajari atau mengerjakan bagian materi yang berbeda antarsatu sama lain.

Pembagian semacam ini sering kali membuat siswa hanya fokus pada salah satu bagian materi saja. Sementara bagian yang dikerjakan oleh kelompok lain hampir tidak dihiraukan sama sekali, padahal semua materi tersebut saling berkaitan satu sama lain.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning): Pengertian, Unsur, Tujuan, Ciri, Teknik, Kelebihan, dan Kekurangannya"