Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perkembangan Kognitif: Pengertian, Teori, Level, dan Contohnya

Pengertian Perkembangan Kognitif
Perkembangan Kognitif
Pengertian Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif adalah proses perubahan yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia untuk memahami, mengolah informasi, memecahkan masalah dan mengetahui sesuatu. Perkembangan kognitif merupakan tahapan yang terjadi secara internal pada pusat susunan saraf ketika manusia tengah berpikir.

Jean Piaget merupakan salah satu tokoh psikolog yang pertama kali yang meneliti tentang perkembangan kognitif. Dalam teorinya, Piaget menjelaskan mengenai skema-skema atau mengenai bagaimana seseorang memberikan serta menjelaskan persepsi tentang lingkungannya dalam beberapa tahapan perkembangan.

Perkembangan Kognitif Menurut Para Ahli
1. Williams dan Susanto, perkembangan kognitif merupakan cara bagaimana seseorang bisa memecahkan suatu masalah dengan melihat dari cara orang tersebut melakukan sesuatu. Melakukan sesuatu sebagai sikap dalam menghadapi sesuatu, bisa dalam waktu dekat maupun lambat.
2. Meisser, kognitif sebagai hal yang membahas mengenai tiga konsep penting, berupa perolehan, penataan dan proses penggunaan dari pengetahuan serta pengalaman yang didapat. Kognitif sebenarnya memiliki pengertian yang sangat mudah untuk dipahami, yakni terkait tentang bagaimana perolehan, penataan hingga proses penggunaan pengetahuan.
3. Gagne dan Drever, Gagne menilai kognitif sebagai proses di dalam terkait ilmu pengetahuan yang diperoleh, kondisi ini muncul saat orang sedang berpikir. Sementara itu, Drever meyakini bahwa kognitif sebagai istilah umum yang dipakai dalam memahami suatu metode yang diterapkan dalam pembelajaran.

Teori Perkembangan Kognitif
Terdapat dua teori konstruktivis mengenai perkembangan kognitif yaitu teori konstruktivis kognitif dan teori konstruktivis sosial. Teori konstruktivis kognitif dikembangkan Jean Piaget. Sementara itu, teori konstruktivis sosial dikembangkan oleh Lev Vygotsky.
Jean Piaget
Jean Piaget (1896-1980) adalah seorang psikolog asal Prancis. Teori ini menyatakan bahwa anak akan terus berinteraksi dengan lingkungannya. Hasil interaksi tersebut akan menghasilkan sesuatu yang bernama skemata/schema/skema.

Skemata diartikan sebagai jenis pengetahuan yang berfungsi membantu anak melakukan interpretasi dan pemahaman terhadap lingkungan. Sifat utama skemata akan terus bergerak, bermodifikasi, berkelanjutan, dinamis, atau tidak berhenti di satu titik.

Untuk bisa terus bergerak, skemata dibantu dua proses penting bernama asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah aktivitas mendapat informasi baru untuk dimasukkan ke dalam skemata yang ada. Akomodasi merujuk pada proses yang terjadi saat pengetahuan baru masuk ke dalam skemata dan kemudian mengubah skemata ke bentuk baru.

Perkembangan kognitif anak usia dini akan terpengaruh aktivitas berkelanjutan skemata-asimilasi-akomodasi secara terus menerus hingga terbentuk keseimbangan baru (equilibrium) berkali-kali.

Skemata yang dimiliki teori Piaget kemudian diturunkan ke dalam 4 tahapan utama. Keempat tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget terkait dengan usia dan jalan berpikir yang berbeda. Setiap tahapan terbentuk dari hasil pencapaian tahap sebelumnya.
1. Tahap sensorimotor
Tahapan ini terjadi pada usia 0 hingga 2 tahun. Kecerdasan Si Kecil berbentuk aktivitas motorik. Informasi dan pengetahuan didapatkan dari kombinasi pengalaman fisik, aktivitas indra serta gerakan motorik.

Bagian esensial di tahapan ini adalah pencapaian kognitif yang bernama object permanence. Dalam pencapaian ini,  bayi sudah mencapai level pemahaman atas eksistensi sebuah objek walaupun objek itu tidak bisa dicapai oleh indranya.

Contoh aktivitasnya adalah menghisap puting payudara dan berbagai benda di sekitarnya karena tubuh Si Kecil secara refleks ingin menghisap. Contoh lainnya adalah memegang objek dengan pola yang sama berkali-kali selama berhari-hari sebagai bentuk hasil koordinasi antara fungsi mata dan sensor motorik.

2. Tahap pra-operasional
Tahapan ini dimulai sejak usia 2 tahun hingga 7 tahun. Pada tahap ini, anak usia dini memiliki kemampuan berpikir simbolis yang lebih berkembang, sifat intuitif, non-logis, animisme, dan egosentris, kemampuan berbahasa yang matang, kemampuan imajinasi kuat, dan kemampuan memori yang juga kuat.

Dua ciri paling kuat di tahap pra-operasional adalah animisme dan egosentris. Animisme adalah kepercayaan anak bahwa benda tak bernyawa itu hidup dan bisa bergerak. Contohnya, Si Kecil menyatakan bahwa sebuah batu membuatnya terjatuh.

Sedangkan egosentris adalah kondisi anak tidak dapat membedakan perspektif dirinya dengan perspektif orang lain. Contohnya, Si Kecil hanya diam saja saat diminta bersalaman.

3. Tahap operasional konkret
Tahapan ini terjadi sejak usia 6 tahun hingga 12 tahun. Karakteristik utama tahap operasional konkret adalah pemakaian logika dan berpikir sistematis yang baik. Si Kecil juga bisa melakukan manipulasi simbol. Sifat egosentris juga berkurang banyak.

Ada 6 kemampuan khas tahap operasional konkret, yaitu kemampuan mengurutkan objek berdasar kategori tertentu, kemampuan klasifikasi objek, kemampuan decentering (menimbang permasalahan), kemampuan reversibility (perubahan benda ke bentuk/pola awal), kemampuan konservasi (kekekalan), dan kemampuan menghapus egosentris.

Contoh aktivitasnya adalah mengurutkan benda berdasarkan ukuran besar-kecilnya, atau memiliki sejumlah pertimbangan saat membuat suatu keputusan tertentu.

4. Tahap operasional formal
Tahapan ini dimulai sejak usia 11 tahun ke atas hingga dewasa. Karakteristik Si Kecil berupa kemampuan lebih bisa berpikir abstrak dan memakai logika induksi (menarik kesimpulan dari kumpulan informasi). Logika Si Kecil lebih banyak digunakan untuk menghadapi masalah, merencanakan suatu hal, dan memandang dunia secara lebih luas.

Secara fisik, tahapan operasional formal ditandai mulai terjadinya pubertas pada tubuh. Contoh aktivitasnya adalah memahami berbagai hal terkait cinta, nilai empiris suatu fenomena, atau memaknai kehidupan tidak sekedar hitam-putih.

Lev Vygotsky
Lev Semionovich Vygotsky (1896-1934) merupakan seorang ahli psikologi perkembangan kognitif anak dari Rusia. Teorinya tentang perkembangan kognitif anak usia dini jadi pegangan dunia hingga sekarang.

Lev Vygotsky menekankan pentingnya peranan interaksi sosial dalam berbagai fase perkembangan kognitif anak. Walaupun begitu, anak juga memiliki kemampuan untuk menyusun pengetahuan mereka secara aktif dan mandiri.

Saat ingin memahami jalan pikiran anak usia dini, Vygotsky lebih memilih menelusuri bagaimana interaksi sosial yang dialami Si Kecil selama hidupnya daripada menelusuri apa yang ada di balik otak dan kejiwaannya.

Tindakan itu didasarkan keyakinan Vygotsky bahwa perkembangan fungsi mental anak didapatkan dari interaksi sosial, dan bukan berasal dari individu sendiri. Vygotsky memiliki 3 konsep dasar untuk memahami psikologi perkembangan kognitif anak di antaranya,
1. Konsep zona perkembangan proksimal (ZPD)
Konsep zona perkembangan proksimal (ZPD) merupakan serangkaian tugas yang sulit dikerjakan sendiri oleh Si Kecil. Akan tetapi rangkaian tugas itu bisa dikerjakan dengan bantuan orang dewasa atau anak yang mampu. Umumnya, ZPD berbentuk aktivitas mengajar di mana ada pengajar (orang dewasa atau anak yang mampu) dan peserta didik (Si Kecil).

Dengan konsep ini, Vygotsky ingin menunjukkan pentingnya interaksi sosial, terutama korelasi antara instruksi/pengajaran terhadap psikologi perkembangan kognitif. ZPD juga menampilkan sejauh mana kemampuan Si Kecil untuk belajar mandiri dan peningkatan keilmuan dengan belajar bersama orang lain.

2. Konsep scafollding
Konsep ini membicarakan tentang perubahan level dukungan selama anak berada dalam proses belajar ZPD. Selama proses belajar, pengajar akan menyesuaikan sejumlah hal yang terkait bimbingan dengan performa si peserta didik dalam belajar.

Untuk bisa mengetahui sejauh mana tahap perkembangan kognitif peserta didik, maka  pengajar melakukan dialog. Hasil dialog jadi alat pertimbangan pengajar melakukan penyesuaian bimbingan yang diberikan.

Konsep ini berangkat dari kondisi anak yang sebenarnya memiliki berbagai jenis pemikiran tapi tidak teratur dan bersifat spontan. Dari hasil dialog, pengajar akan memberikan penyesuaian dukungan dengan lebih sistematis dan rasional. Sehingga peserta didik lebih memahami pola sistematis, rasional, dan logis.

3. Bahasa dan pemikiran
Bagi Vygotsky, dalam fase perkembangan kognitif anak usia dini, fungsi bahasa bukan cuma sebagai alat komunikasi sosial. Bahasa juga berfungsi sebagai alat untuk merencanakan, memantau, serta mengontrol semua aktivitas anak itu sendiri.

Peran bahasa bagi psikologi perkembangan kognitif anak terbagi dua, yaitu private speech dan inner speech. Private speech adalah tindakan Si Kecil berbicara keras dengan dirinya sendiri. Private speech umumnya terjadi saat Si Kecil berusia 3 hingga 5 tahun.

Fase private speech akan meningkat menjelang usia 5 tahun dan kemudian menghilang. Kemudian akan timbul fase inner speech. Pada fase inner speech, anak memakai kemampuan berbicara pada dirinya sendiri sebagai alat kontrol perilakunya. Nantinya, fase inner speech ini akan terbawa sampai dewasa.

Level Perkembangan Kognitif
Terdapat beberapa level kognitif yang dilalui oleh seseorang. Dari mulai bayi, anak-anak, remaja hingga dewasa. Mengetahui level Kecerdasan Kognitif sangat penting untuk menyesuaikan ilmu dan pengetahuan sesuai dengan kemampuan kognitif seseorang.

Kegiatan pembelajaran di sekolah dasar juga harus mempertimbangkan lagi level kognitif anak didiknya. Guru di sekolah ketika membuat soal pun harus sesuai dengan level perkembangan kognitif. Secara garis besar perkembangan kecerdasan kognitif dibagi menjadi tiga level di antaranya,
1. Level Mengingat dan Memahami
Level ini menunjukkan tingkat kemampuan yang paling rendah karena hanya menuntut pengetahuan dan pemahaman peserta didik. Jika mengacu pada taksonomi Bloom, soal level 1 ini mencakup soal C1 (mengingat) dan C2 (memahami).

2. Level Mengaplikasikan
Pada level ini, tingkat kemampuannya tentu lebih tinggi daripada level 1 karena menuntut peserta didik untuk mampu menerapkan. Jika mengacu pada taksonomi Bloom, soal level 2 mencakup soal C3 (mengaplikasikan).

3. Level Menganalisis, Mengevaluasi dan Mencipta
Tingkat kemampuan soal pada level 3 ini paling tinggi di antara dua level sebelumnya karena menuntut peserta didik untuk bisa menganalisis, menyintesis, dan mengevaluasi. Jika mengacu pada taksonomi Bloom, soal level 3 ini mencakup soal C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (mencipta).

Contoh Perkembangan Kognitif
Berikut beberapa contoh perkembangan kognitif di antaranya,
1. Aspek Auditory, aspek auditory dalam perkembangan kognitif berkaitan dengan bunyi atau suara. Contohnya adalah mendengar nyanyi, bunyi, alat musik.
2. Aspek Visual, aspek ini terkait visual, contohnya perhatian, penglihatan dan pengamatan seperti menyusun puzzle.
3. Aspek Taktil, berkaitan dengan indra peraba untuk mengenali tekstur. Contohnya aktivitas untuk membedakan tekstur tebal tipis, panas dingin.
4. Aspek Kinestetik, berkaitan dengan kemampuan anak dalam kelancaran gerak motorik halus. Contohnya melukis, berjalan, melompat, menggunting.
5. Aspek Artimatika, berkaitan dengan kemampuan berhitung serta kemampuan dasar matematika anak. Contohnya adalah aktivitas menghitung benda, mengumpulkan benda sesuai jumlah dari angka, menjalakan prosedur-prosedur dasar seperti tambah, kurang, bagi, kali.
6. Aspek Geometri, berkaitan dengan konsep bentuk objek maupun ukuran. Contohnya seperti aktivitas untuk mengukur benda atau aktivitas memilih-milih benda sesuai dengan warna, ukuran maupun bentuk seperti membandingkan dua benda berdasarkan ukuran dan bentuk.
7. Aspek Sains Permulaan, berkaitan dengan eksplorasi, demonstrasi, percobaan maupun pendekatan sains maupun logika. Contohnya seperti aktivitas ketika menjalankan percobaan fisika yang sederhana, eksplorasi dari berbagai benda yang ada di lingkungan serta diskusi mengenai objek maupun fenomena tertentu.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Perkembangan Kognitif: Pengertian, Teori, Level, dan Contohnya"