Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Histrionic Personality Disorder (HPD): Pengertian, Ciri, Penyebab, Pengobatan, dan Perbedaannya dengan Narcissistic

Pengertian Histrionic Personality Disorder atau HPD
Histrionic Personality Disorder (HPD)
Pengertian Histrionic Personality Disorder (HPD)
Histrionic Personality Disorder (HPD) atau Gangguan Kepribadian Histrionik adalah gangguan yang ditandai dengan kebutuhan untuk selalu menjadi pusat perhatian. Penderita histrionic personality disorder akan senang bersikap dramatis dan menjadi pusat perhatian.

Istilah histrionik berasal dari bahasa latin yaitu histrio yang berarti “aktor”. Istilah “histrionik” sendiri memang memiliki arti dramatis atau teatrikal. Orang dengan gangguan kepribadian histrionik ini cenderung lebih bersikap seperti aktor, dramatis dan emosional. Namun, emosi mereka sangatlah dangkal, dibesar-besarkan dan mudah berubah.

Histrionic personality disorder masuk ke dalam gangguan kepribadian klaster B atau gangguan dramatik. Individu yang menderita gangguan kepribadian klaster B akan cenderung memiliki emosi yang tak stabil, disertai dengan citra diri yang terdistorsi—termasuk penderita gangguan histrionik.

Histrionic personality disorder lebih sering dialami oleh perempuan, walau laki-laki juga bisa mengidap gangguan ini. Kondisi ini dapat terjadi di masa-masa remaja atau fase dewasa muda. Belum jelas penyebab dari histrionic personality disorder. Namun, faktor keturunan dan lingkungan boleh jadi berkontribusi terhadap gangguan psikologis ini, misalnya kurangnya pemberian kritik saat anak-anak.

Ciri Histrionic Personality Disorder (HPD)
Terdapat beberapa ciri untuk mengenali seseorang mengalami gangguan kepribadian histrionik di antaranya,
1. Melihat diri mereka sebagai sosok yang optimis
Individu yang mengalami gejala ini melihat diri mereka sendiri sebagai individu yang ceria dan optimis. Kegembiraan mereka dalam hidup akan ditularkan atau menggugah orang lain untuk sama gembiranya. Banyak yang bertindak dan berpikir seperti remaja, bahkan pada usia yang lebih tua.

Sebagian besar terbuka pada pengalaman atau hal yang baru dan akan menemukan kesenangan yang luar biasa ketika menemui pengalaman baru.

2. Mudah merasa tertekan juga mudah marah
Sperry (1995) mengemukakan bahwa Individu yang mengalami gangguan kepribadian ini biasanya menjadi marah, tertekan, dan merasa iri ketika tidak menjadi pusat perhatian, sementara individu normal akan menikmati pujian dan sanjungan tanpa bergantung pada tersebut.

la juga menikmati menghibur orang lain, tapi bisa menyerahkan panggung menjadi bagian dari penonton. Secara interpersonal, individu histrionik bergantung pada selimut pesona seksual.

3. Hidup sesuai perubahan tren
Pada sebagian kasus, individu yang mengalami gangguan ini pada dasarnya hidup sebagai komoditi, menunjukkan dirinya layaknya seekor bunglon pada tuntutan sosial, dan mengubah karakteristik yang ditampilkannya agar sesuai dengan penonton dan keadaan. Bagi mereka, tidak ada yang intrinsik.

Sebaliknya, diri berada di bawah persyaratan ekonomi sosial diubah, disintesis, dibuat, dan dikemas untuk mengoptimalkan daya tarik mereka dalam segmen pasar yang diberikan.

Sebagai akibatnya, mereka menampilkan gambaran akan niat baik yang absolut, seseorang yang menganggap penghargaan adalah kepentingan moral. Ketika ketidakcocokan terjadi, mereka dengan cepat mulai melancarkan masalah kembali, bahkan ketika mereka harus berkorban, mengompromikan keinginan mereka sendiri, atau menyetujui poin yang penting.

Daripada menyerang mereka yang tidak bisa didamaikan, mereka memilih untuk merasakan luka, menggambarkan diri mereka sebagai korban yang tidak bersalah.

4. Senang menuntut dan berperilaku ganda
Ciri lain yang ditampilkan oleh penderita ini adalah mereka biasanya bersifat menuntut agar orang lain memenuhi kebutuhan mereka akan perhatian dan berperan sebagai korban saat orang lain mengecewakan mereka.

Contoh kasus, ketika mereka sakit atau katakanlah sedang demam, mereka akan mendesak orang lain agar meninggalkan seluruh aktivitas dan segera merawatnya atau mengantarkannya ke dokter.

5. Cenderung memaksakan kebahagiaan
Individu ini kebanyakan bersifat self-centered dan tidak toleran terhadap penundaan kesenangan, dengan kata lain mereka ingin apa yang mereka inginkan saat itu juga. Penderita gangguan ini cenderung bersifat cepat bosan dengan rutinitas dan haus akan hal atau pengalaman yang baru.

Mereka sangat memiliki ketertarikan yang lebih terhadap dunia mode dan ingin orang lain memandang mereka sebagai menyombongkan diri atau sedang berakting.

Pada umumnya penderita gangguan ini akan gagal jika diminta untuk menceritakan tentang dirinya atau kisah hidupnya secara spesifik. Mereka cenderung menggunakan penampilan fisik sebagai cara untuk menunjukkan dirinya dan menarik perhatian orang lain.

Jika penderita adalah seorang pria maka mereka akan menunjukkannya dengan penampilan yang terlihat macho dan maskulin dan untuk penderita wanita mereka akan menunjukkannya dengan cara yang se feminim mungkin dan berbusana yang banyak perhiasannya agar terkesan berkilau di mata orang lain.

Orang dengan kepribadian ini biasanya tertarik dengan profesi modeling atau akting, di mana mereka dapat mendominasi lampu sorot. Meski tampak sukses di luar, sebenarnya mereka memiliki self-esteem yang kurang dan berjuang untuk memberi kesan pada orang lain dengan tujuan untuk meningkatkan self-worth mereka.

Bila mereka mengalami kemunduran atau kehilangan perhatian publik, keraguan yang menyedihkan akan muncul dalam diri mereka.

Gejala Histrionic Personality Disorder (HPD)
Para ahli mengatakan ada beberapa gejala-gejala klinis gangguan kepribadian histrionik di antaranya,
1. Perilaku mencari perhatian yang tinggi.
2. Memiliki disfungsi psikoseksual: wanita mungkin anorgasmik dan laki-laki mungkin impoten.
3. Dengan gangguan kepribadian histrionik adalah represi dan disosiasi.

Kriteria Diagnostik
Pola pervasif emosionalitas dan mencari perhatian yang berlebihan, dimulai pada masa dewasa muda dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan beberapa hal sebagai berikut di antaranya,
1. Merasa tidak nyaman jika tidak menjadi pusat perhatian.
2. Berpakaian berlebihan bertujuan untuk menggoda lawan jenis dan menjadi pusat perhatian.
3. Perubahan emosi secara cepat.
4. Bertingkah laku dramatis atau mendramatisir sesuatu agar menarik perhatian orang lain.
5. Menunjukkan penampilan fisiknya dengan cara yang berlebihan.
6. Sangat mudah tertipu atau terpengaruhi orang.
7. Sangat sensitif terhadap suatu penolakan atau ketika menerima kritik.
8. Bertindak secara spontan tanpa dipikir terlebih dahulu.
9. Selalu gegabah dalam mengambil keputusan.
10. Selalu terlihat palsu atau terlihat sedang berpura-pura.
11. Mengancam atau mencoba bunuh diri jika tidak mendapatkan perhatian.

Penyebab Histrionic Personality Disorder (HPD)
Berikut beberapa penyebab seseorang bisa mengalami gangguan jiwa jenis histrionik di antaranya,
1. Pengalaman masa anak-anak
Pengalaman masa lalu si penderita, termasuk pengalaman masa anak-anak yang pada masa itu kurang mendapat perhatian dari orang tua ataupun teman-teman akan menjadi pemicu terjadinya gangguan ini. Munculnya gangguan ini bisa jadi akibat peran orang tua yang terlalu bersifat memanjakan anak dan akhirnya menjadi kebiasaan si anak hingga dewasa.

2. Faktor genetik
Faktor genetik juga mempengaruhi terjadinya gangguan histrionik ini. Di mana, para ahli psikodinamika mengungkapkan gangguan ini merupakan hasil dari kebutuhan-kebutuhan akan ketergantungan yang sangat kuat dan merupakan penggambaran dari emosi, hambatan dari resolusi setiap tahapan oral atau oedipal. Keterlibatan emosi saat berpikir akan mengakibatkan orang histrionik ini merepresentasikan perasaannya sendiri.

Berdasarkan Behavioral, orang dengan gangguan ini biasanya berasal dari keluarga yang terlalu memanjakan dan membiarkan sifat manjanya berakar hingga dewasa.

3. Lingkungan adaptasi
Faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi timbulnya gangguan ini. Lingkungan dan pengaruh teman-teman sekitar memicu timbulnya gangguan ini. Terutama pada individu yang lingkungan hidupnya berada di kalangan menengah ke atas mau tidak mau akan beradaptasi secara negatif dan mengikuti arus pergaulan pada level menengah ke atas.

Pengobatan Histrionic Personality Disorder
Setelah mengetahui gejala dan pergi ke tenaga ahli, dokter akan memulai evaluasi dengan melakukan riwayat medis dan psikiatris lengkap. Secara umum, orang dengan gangguan kepribadian histrionik tidak percaya bahwa mereka membutuhkan terapi.

Mereka juga cenderung melebih-lebihkan perasaan mereka dan tidak menyukai rutinitas, yang membuat rencana perawatan akan menjadi sulit. Psikoterapi (sejenis konseling) biasanya merupakan pengobatan pilihan untuk gangguan ini. Obat pun kadang-kadang dapat digunakan juga untuk penyembuhan.

Dari Stat Pearls Journal, berikut terapi yang bisa diberikan kepada orang dengan Histrionic Personality Disorder di antaranya,
1. Terapi Kognitif
Terapi kognitif akan dijalani penderita Gangguan Kepribadian Histrionik bertujuan untuk menerima keadaan jika pasien tak mendapat perhatian dari orang lain, menunjukkan empati, dan belajar mengendalikan emosi.

Pasien akan dibantu untuk mengatasi rasa takut jika mendapat penolakan melalui eksperimen perilaku atau menghadapi kritikan yang dilontarkan orang lain.

2. Terapi Analitik Kognitif
Terapi analitik kognitif (CAT) adalah terapi berbatas waktu dan kolaboratif untuk membantu pasien mengidentifikasi pola pikiran, emosi, dan perilakunya yang negatif.

Terapi ini dapat membantu pasien mengidentifikasi bagaimana pola perilakunya muncul, mengamati efeknya pada diri sendiri dan orang lain, dan membantu mengembangkan perilaku yang lebih adaptif.

3. Psikoterapi Analitik Fungsional
Terapi ini dijalankan apabila psikiater melihat adanya campuran  perilaku dari pasien sejak penanganan mulai dijalankan. Pasien mungkin akan menunjukkan perilaku yang bermasalah, di samping juga menunjukkan perilaku yang positif pada psikiater.

Apabila pasien menunjukkan perilaku yang positif, psikiater akan memberikan penguatan atau dukungannya.

4. Terapi Interpersonal
Terapi ini didasarkan kepada teori bahwa kesehatan mental seseorang sangat dipengaruhi oleh interaksi mereka dengan orang lain. Artinya, jika interaksi tersebut bermasalah, gangguan kepribadian pun bisa terbentuk.

Selain terapi psikologis, beberapa metode pengobatan berikut ini juga bisa digunakan untuk menangani gangguan kepribadian:
1. Penggunaan Obat-obatan
Beberapa jenis obat-obatan psikiatrik, seperti antidepresan, mood stabilizer, antipsikotik, dan pereda cemas dapat membantu meredakan gejala-gejala yang dialami. Khususnya jika gejala sudah memasuki tingkat menengah atau parah.

2. Perubahan Gaya Hidup
Menerapkan gaya hidup sehat, seperti rajin berolahraga dan selalu aktif dalam berbagai kegiatan dapat membantu mengelola emosi dan menjauhkan diri dari depresi, stres, serta kecemasan.

Perbedaan Histrionic Personality Disorder (HPD) dan Narcissistic
Gangguan kepribadian Histrionik dan Narcissistic Personality Disorder (NPD) ini keduanya merupakan gangguan kepribadian Cluster B atau dramatis. Kedua kondisi ini hampir serupa, namun dua gangguan ini terlihat berbeda dalam beberapa hal.

Orang dengan NPD tidak hanya membutuhkan perhatian saja, tetapi juga membutuhkan kekaguman, pujian, dan pengakuan. Ia akan tampil dengan keunggulan-keunggulan yang mereka punya, kurang memperhatikan perasaan orang lain, dan untuk menimbulkan kesan bagi orang lain sehingga dirinya mendapat pujian.

Berbeda dengan orang HPD, mereka tidak terlalu peduli dengan jenis perhatian yang akan mereka terima dan membiarkan diri mereka dilihat dengan cara yang positif atau cara yang negatif. Selama orang dengan HPD menjadi pusat perhatian, ia akan merasa senang dan puas.

Karena orang yang hidup dengan HPD mudah bosan, mereka juga kesulitan mempertahankan hubungan, baik dengan seseorang atau hubungan pekerjaan.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Histrionic Personality Disorder (HPD): Pengertian, Ciri, Penyebab, Pengobatan, dan Perbedaannya dengan Narcissistic"