Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Konseling: Pengertian, Tujuan, Proses, dan Perbedaannya dengan Coaching, dan Mentoring

Pengertian Konseling
Konseling
Pengertian Konseling
Konseling dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pemberian bimbingan oleh yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis dan sebagainya; pengarahan; pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dalam memecahkan berbagai masalah; penyuluhan.

Demikian, konseling (penyuluhan) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor/pembimbing) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons tahun 1908. Kemudian diadopsi oleh Carl Rogers yang mengembangkan pendekatan terapi yang berpusat pada klien (client centered).

Konseling Menurut Para Ahli
1. Tolbert dalam Prayitno (2004), konseling adalah proses belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.
2. Jones dalam (Insano: 2004), konseling adalah suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan kliennya.
3. Schertzer dan Stone (1980), konseling adalah upaya seseorang untuk membantu individu lain melalui interaksi yang bersifat pribadi sehingga akan mampu membuat suatu keputusan yang menjadi dianggap sebagai keputusan terbaik.
4. Jones (1951), konseling adalah serangkaian bentuk kegiatan yang dikumpulkan berdasarkan pada permasalahan tertentu untuk kemudian diberikan cara penyelesaiannya oleh yang bersangkutan dengan proses perjalanan intents.
5. Winkell (2005), konseling adalah serangkaian kegiatan pokok dalam bentuk bimbingan tujuan agar konseli dapat mengambil keputusan sendiri atas dasar tanggung jawab terhadap berbagai persoalan yang dihadapinya.
6. Berdnard & Fullmer (1969), konseling adalah upaya pemahaman antara hubungan individu untuk berusaha mengungkapkan kebutuhan, potensi, dan motivasi yang unik dari individu yang sedang mengalami suatu permasalahan tertentu dan pertemukan oleh konselor.
7. Tohari Musnawar (1992), konseling adalah suatu proses pemberian bantuan terhadap individu yang mengalami permasalahan agar menemukan solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahannya tersebut sehingga individu yang bersangkutan dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Tujuan Konseling
Konseling bisa dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti di masyarakat, di dunia industri, membantu korban bencana alam, maupun di lingkungan pendidikan. Khusus pada dunia pendidikan tingkat dasar dan lanjutan di Indonesia.

Adapun tujuan konseling ini dibagi 2 di antaranya,
1. Tujuan Konseling Secara Umum
Tujuan konseling adalah memecahkan masalah yang dialami klien. Upaya ini dapat dilakukan dengan mengurangi intensitas hambatan dan atau kerugian yang disebabkan masalah tersebut dan menghilangkan masalah yang dimaksud. Dengan layanan konseling ini maka harapannya adalah meringankan beban klien dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh klien.

2. Tujuan Konseling Secara Khusus
Tujuan konseling secara khusus adalah klien menjadi memahami seluk-beluk masalah yang dialami secara mendalam dan menyeluruh dengan cara yang positif dan dinamis. Pemahaman yang dimaksud adalah mengarah kepada dikembangkannya persepsi dan sikap serta kegiatan demi terselesaikannya masalah yang dialami klien secara spesifik.  

Jadi, tujuan konseling jangka panjang adalah klien menemukan jalannya sendiri sehingga lebih dapat mengandalkan diri sendiri dalam menghadapi situasi-situasi hidup yang berkelanjutan di masa mendatang dengan cara yang membangun tanpa terus-menerus memerlukan bantuan dari luar.

Proses Konseling
Konseling merupakan suatu proses dan sangat tergantung dari hubungan yang dibangun antara konselor dan kliennya.
1. Konselor
Konselor merupakan seorang ahli dalam bidang konseling yang memiliki kewenangan secara profesional untuk melaksanakan pemberian layanan konseling. Dalam proses konseling , konselor yang aktif mengembangkan proses konseling melalui pendekatan, teknik dan asas-asas konseling terhadap klien.

Selain secara verbal, konselor juga dapat menggunakan media tulisan, gambar, media elektronik, dan media pembelajaran lainnya.

2. Klien
Klien adalah seorang individu yang sedang mengalami masalah atau setidak-tidaknya sedang mengalami sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada orang lain. Klien menanggung semacam beban atau mengalami suatu kekurangan yang ingin diisi atau ada sesuatu yang ingin atau perlu dikembangkan pada dirinya.

Perbedaan Konseling, Coaching, dan Mentoring
Coaching, mentoring dan counseling memiliki tiga persamaan yaitu komunikasi, relasi interpersonal dan pembelajaran (Malone, 2018). Artinya, kegiatan tersebut dilakukan dengan komunikasi dua arah dan one on one yang bertujuan memperoleh pembelajaran baru. Perbedaan ketiga hal tersebut dapat dilihat dari tiga perspektif berikut di antaranya,
1. Objek Pembahasan
Coaching menekankan pada sebuah masalah spesifik seperti skill dan kinerja yang berkaitan secara langsung pada pekerjaan. Topik pembahasan berfokus untuk kepentingan masa depan dan kinerja.

Mentoring dilakukan untuk memberdayakan atau menyemangati seseorang dengan topik yang luas seperti membahas tentang pengetahuan, keahlian dalam satu bidang, personal dan hal-hal motivasi. Proses mentoring dilakukan dalam jangka waktu lama dan bermanfaat untuk kesuksesan seseorang di masa depan. Seorang mentee akan diajak untuk berdiskusi dan bercerita tentang kegelisahan dan rencana-rencana masa depan.

Kegiatan konseling pada umumnya membahas tentang permasalahan psikologis. Tujuan konseling yaitu memahami diri sendiri dan penerimaan diri. Konselor akan menanyakan pengalaman di masa lalu agar mengetahui akar permasalahan. Kemudian mengarahkan klien untuk menemukan cara menyelesaikan masalah.

2. Siapa yang berhak memberikan ilmu?
Coaching bisa dilakukan oleh atasan atau pihak eksternal. Terkadang, perusahaan menggunakan jasa konsultasi organisasi karena pihak eksternal memiliki pengalaman yang lebih banyak dan bisa melihat permasalahan secara objektif. Perusahaan akan menunjuk konsultan yang berpengalaman dalam suatu industri.

Mentor adalah seseorang yang lebih berpengalaman dan memiliki ilmu yang lebih mendalam. Atasan langsung, pimpinan atau pihak eksternal dapat dipilih sebagai mentor. Mentor akan menjadi semacam role model.

Konseling berfokus pada persoalan psikologis jadi harus dilakukan oleh seseorang dengan latar belakang Psikologi atau psikolog. Menjadi konselor harus melewati pendidikan formal, sehingga tidak bisa sembarang orang memberikan layanan konseling.

3. Hasil
Evaluasi hasil dari kegiatan coaching relatif mudah dan dapat dilihat. Perubahan dilihat dari perilaku saat implementasi dalam pekerjaan. Pembahasan pada saat coaching pun menjurus pada satu hal, sehingga hasil yang diperoleh akan lebih jelas dan langsung terasa.

Hasil dari kegiatan mentoring sangat sulit dilihat. Aspek pembicaraan dalam mentoring sangat luas, baik menyangkut pekerjaan atau personal yang dapat diaplikasikan dimasa depan. Jadi, evaluasi pembelajaran tidak bisa dilihat dalam waktu singkat.

Harapan dari konseling yaitu individu dapat mengambil keputusan atau menyelesaikan masalahnya setelah mendapat arahan. Individu akan merasakan pemahaman diri, kesejahteraan mental atau kebermaknaan hidup. Namun perubahan dalam diri pun tidak bisa langsung terlihat karena bergantung pada proses penerimaan diri.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Konseling: Pengertian, Tujuan, Proses, dan Perbedaannya dengan Coaching, dan Mentoring"