Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Fantasi dalam Psikologi: Pengertian, Fungsi, Faktor, Jenis, dan Manfaatnya

Pengertian Fantasi dalam Psikologi
Fantasi dalam Psikologi
Pengertian Fantasi dalam Psikologi
Fantasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah gambar (bayangan) dalam angan-angan; khayalan; daya untuk menciptakan sesuatu dalam angan-angan. Secara umum, fantasi adalah hal yang berhubungan dengan khayalan atau dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau pikiran saja. Kata lain untuk fantasi adalah imajinasi.

Dalam psikologi, fantasi merupakan gejala jiwa yang mampu menangguhkan ketidakpercayaan kita terhadap suatu hal yang mustahil. Dengannya, fantasi melibatkan keterampilan proses mental untuk membentuk dan menciptakan tanggapan-tanggapan baru masih dengan bantuan tanggapan dari alam atau realitas yang ada namun disertai penangguhan ketidakpercayaan terhadap persyaratan-persyaratan realitas yang ada.

Dalam keadaan normal, manusia dapat membedakan mana yang realitas dan mana yang fantasi, sehingga tetap nyaman dalam melakukan proses mental ini. Manusia memiliki daya yang dapat digunakan untuk menilai mana yang dipercaya dan mana yang fantasi. Bahkan hal ini juga yang mungkin membuat fantasi begitu mengasyikan, karena kita tahu hal tersebut tidak mungkin tetapi digambarkan seakan benar-benar nyata.

Fantasi Menurut Para Ahli
1. Yanto Subiyanto (1980), fantasi merupakan sebuah kemampuan dalam membentuk tanggapan-tanggapan atau pun sebuah bayangan yang baru.  
2. Julianto Simanjutnak (2007), fantasi merupakan sebuah kemampuan dari fungsi jiwa dalam psikologi yang dapat membentuk suatu tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang lama.
3. Warsah & Daheri (2021, hlm. 88), fantasi adalah daya jiwa untuk membentuk atau mencipta tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang sudah ada.
4. Coloridge, seorang penyair Inggris abad ke-18 , fantasi adalah “the willing suspension of disbelief” yang berarti penangguhan ketidakpercayaan secara sukarela.
5. Abu Ahmadi, fantasi adalah sebuah angan-angan, imagination yang merupakan sebuah kekuatan jiwa dalam menciptakan sebuah tanggapan baru dengan tanggapan-tanggapan yang dimilikinya sehingga kekuatan dari sebuah fantasi tersebut dapat melepaskan dari diri keadaan yang dihadapi dalam melakukan penjangkauan ke depan dalam keadaan yang akan datang.

Fungsi Pokok Fantasi
Sebagai proses mental atau gejala jiwa manusia, fantasi memiliki beberapa fungsi pokok di antaranya,
1. Fungsi mengabstraksir (mengabstraksi)
Fantasi dengan menyaring atau memisahkan sifat-sifat tertentu dari tanggapan yang sudah ada. Misalnya anak yang belum pernah melihat gurun pasir, maka dalam berfantasi, dibayangkan dengan seperti lapangan tanpa pohon-pohon di sekitarnya dan tanahnya pasir semua bukan rumput.

Hal ini tentunya penting bagi kita untuk bisa menggambarkan suatu konsep abstrak yang tak pernah teralami. Malah, berpikir abstrak merupakan salah satu ciri terbesar manusia dari organisme lain, sehingga manusia dapat memiliki keunggulan tinggi untuk mampu berpikir abstrak (teori, konsep, hukum, dsb).

2. Fungsi Mengkombinir
Fantasi dengan menggabungkan dua atau lebih tanggapan-tanggapan yang sudah ada, disusun menjadi satu tanggapan baru. Misalnya: Tanggapan badan singa + kepala manusia = Spinx di kota Mesir. Mengkombinir merupakan salah satu daya kreatif manusia untuk menciptakan inovasi. Tanpa hal ini, kita tidak akan mampu melakukan sintesis sehingga dapat terus mengembangkan kesejahteraannya pula.

3. Fantasi Mendeterninir
Mendeterninir artinya fantasi mampu melengkapi suatu tanggapan sehingga dapat disempurnakan dan mendapatkan ketentuan yang lebih jelas dan terbatas sehingga tercipta tanggapan baru (Ngalim dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 89). Hal ini masih berhubungan dengan daya berpikir abstrak manusia yang membuatnya jauh lebih unggul dari organisme lain.

Misalnya, fisika kuantum sejatinya masih belum dapat memberikan bukti yang kasat mata mengenai keberadaan atom dan molekul. Belum ada kaca pembesar yang mampu membuat perbesaran untuk melihat citra asli dari keberadaan partikel-partikel tersebut.

Akan tetapi, melalui bantuan mikroskop elektron yang mampu membuat visualisasi atom, kita dapat mempercayainya dengan cara melengkapinya dengan fantasi atau menangguhkan ketidakpercayaan secara suka rela terhadap kenyataan bahwa atom belum dapat diamati secara langsung

Faktor Fantasi
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fantasi seseorang di antaranya,
1. Terdapat suatu perasaan atau keinginan tentang masa depan
2. Terdapat waktu yang lebih sehingga digunakan untuk berkhayal
3. Terdapat rasa tidak percaya diri terhadap sesuatu yang diinginkannya
4. Kelemahan yang terdapat seorang individu

Jenis Fantasi
Kreativitas seseorang mungkin juga akan dipengaruhi oleh fantasi. Oleh karenanya, beberapa pakar membedakan jenis fantasi di antaranya,
1. Fantasi Tuntunan
Fantasi tuntunan juga dikenal sebagai fantasi terpimpin (guided fantasy). Fungsi fantasi ini timbul karena ada faktor yang mempengaruhi timbulnya fantasi dan terjadi karena dipandu oleh faktor tersebut. Seperti misalnya saat membaca novel, menonton film dan lain sebagainya.

2. Fantasi Mencipta
Fantasi mencipta merupakan bentuk fantasi yang positif karena memungkinkan seseorang untuk membuat suatu karya. Contohnya yaitu pada saat seseorang sedang melukis, membuat cerpen atau cerita. Di sini dibutuhkan fantasi untuk membuat karya-karya yang baik tersebut.

3. Fantasi Pasif
Fantasi pasif merupakan fantasi di mana tidak melibatkan gejala-gejala jiwa lainnya secara pasif. Di sini kesadaran menjadi wadah sebagai tempat untuk terjadinya daya fantasi sehingga seseorang tersebut mungkin secara tidak sadar sudah hanyut ke dalam fantasinya sendiri.

Contohnya pada saat seseorang membayangkan sesuatu dan tidak melakukan apa-apa. Ia seperti sedang asyik dengan dunianya sendiri.

4. Fantasi Aktif
Berbeda dengan fantasi pasif, fantasi aktif membuat seseorang bergerak melakukan sesuatu secara aktif. Ia melibatkan gejala-gejala jiwa lainnya sehingga selain hanyut dalam kesadaran, ia juga melakukan seakan-akan apa yang terjadi benar-benar ia rasakan.

Contohnya adalah ketika anak kecil bermain peran. Kita bisa melihat juga bagaimana contoh asosiasi dalam psikologi komunikasi yang bisa menggambarkan hal ini.

5. Fantasi yang Tidak Disadari
Fantasi yang tidak disadari merupakan bentuk fantasi yang memang muncul tanpa disadari oleh individu. Bentuk fantasi ini bisa saja terjadi karena daya imajinasi yang sedang berkembang. Contoh yang paling mudah bisa ditemui pada anak-anak. Mereka bisa saja mengatakan memiliki teman bayangan (imaginary friend) dan seakan-akan itu menjadi benar.

6. Fantasi yang Disadari
Fantasi yang disadari adalah kebalikan dari fantasi yang tidak disadari. Fantasi ini timbul memang karena disengaja oleh seorang individu. Biasanya ini ada kaitannya juga dengan fantasi yang menciptakan sesuatu.

Contoh fantasi dalam psikologi bisa dilihat pada poin sebelumnya seperti misalnya saat seseorang melukis, membuat naskah, membuat patung dan lain sebagainya.

7. Fantasi yang Mendeterminasi
Fantasi yang mendeterminasi merupakan jenis fantasi di mana seseorang akan melakukan identifikasi terhadap apa yang pernah ia ketahui sebelumnya, kemudian ia bayangkan sebagai sesuatu yang lain.

Sebagai contoh bila seorang anak belum pernah melihat harimau, kemudian ia diberitahu bahwa harimau adalah kucing besar. Dalam fantasinya, ia akan membayangkan bahwa harimau adalah hewan kucing dengan bentuk yang lebih besar.

8. Fantasi yang Mengabstraksi
Fantasi yang mengabstraksi merupakan cara berfantasi dengan menghilangkan beberapa macam objek yang sebenarnya untuk kemudian dibayangkan seolah-olah gambarannya tidak jauh berbeda dengan hal tersebut.

Contoh fantasi yang mengabstraksi ini misalnya ketika seseorang belum pernah melihat gurun pasir, maka ia akan membayangkan seolah-olah lapangan sebagai gurun pasir.

9. Fantasi yang Mengkombinasi
Kebalikan dengan fantasi yang mengabstraksi, fantasi yang mengkombinasi akan menambahkan beberapa bagian pada objek yang sebenarnya untuk mendapatkan bayangan utuh akan imajinasinya. Contohnya yaitu saat seseorang belum pernah melihat rumah joglo. Ia akan membayangkan bagian-bagian dari rumah joglo ke rumah biasa.

10. Fantasi Berlebihan
Fantasi berlebihan adalah bentuk fantasi yang sudah lepas dari kontrol. Seseorang akan terlalu hanyut dalam fantasinya sehingga ia terjebak dalam lamunan panjang. Jika dibiarkan saja, ini mungkin akan menghambat aktivitasnya.

11. Fantasi Dusta
Fantasi dusta terjadi ketika seseorang menganggap bahwa kejadian yang tidak ada, benar-benar ada dan terjadi. Sebagai contoh ketika seseorang mengatakan sudah pernah mendatangi suatu tempat, padahal itu hanya imajinasinya saja.

12. Fantasi Liar
Fantasi liar merupakan bentuk fantasi berlebihan yang kemudian ditunjukkan dalam bentuk nyata, tetapi menyalahi norma atau aturan tertentu. Ini tentu saja bisa menjadi perilaku yang kurang baik untuk individu.

13. Fantasi Tanpa Makna
Fantasi ini akan menyebabkan seseorang tidak mampu menguasai dirinya dan menjadikan ia seakan benar-benar tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam realitas yang dihadapi.

Manfaat Fantasi
Dalam kenyataannya fantasi juga memiliki manfaat serta fungsi pada sebagian orang  di antaranya,
1. Dari fantasi tersebut dapat mengambil manfaat atau inti sejarah meski sudah cukup lampau
2. Dengan menggunakan daya fantasi di mana seorang individu dapat melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat
3. Fantasi juga dapat merencanakan hidup di masa depan
4. Fantasi pasif biasanya dapat menjadi penghibur di sela-sela waktu tertentu
5. Apabila melakukan sebuah fantasi manusia juga masuk ke dalam sebuah dunia imajiner misalnya saja saat membaca sebuah cerita
6. Melalui fantasi dapat menimbulkan simpati pada sesama individu

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Fantasi dalam Psikologi: Pengertian, Fungsi, Faktor, Jenis, dan Manfaatnya"