Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teori Segitiga Cinta Sternberg: Pengertian, Biografi, Teori, dan Jenisnya

Pengertian Teori Segitiga Cinta Sternberg
Teori Segitiga Cinta Sternberg
Pengertian Teori Segitiga Cinta Sternberg
Teori segitiga cinta sternberg adalah teori cinta yang dikemukakan oleh Robert Jeffry Sternberg, seorang psikolog keturunan Amerika. Sternberg mengklasifikasikan teori cinta dengan membaginya menjadi tiga komponen yakni, kedekatan, hasrat dan komitmen. Ia merangkum dalam sebuah gambar berbentuk segitiga yang kemudian dikenal dengan Segitiga cinta Sternberg.

Teori ini banyak digunakan untuk meneliti  korelasi antara cinta dengan pernikahan, orientasi hubungan romantis, kecenderungan seseorang dalam berkomitmen dan lain sebagainya. Terlebih, teori ini juga menjadi dasar dari psikologi cinta.

Sternberg sendiri mendefinisikan cinta sebagai sebuah cerita kehidupan yang ditulis seseorang. Peristiwa terkait karakter pribadi, minat, dan koneksi dengan orang lain adalah bagian dari rentetan cerita tersebut. Cerita-cerita tersebut, menurut Sternberg, menjadi dasar seseorang dalam membuat keputusan dan menjalin hubungan.

Sekilas Biografi Sternberg
Sternberg adalah seorang ahli ilmu psikologi keturunan Amerika yang memiliki nama lengkap Robert Jeffrey Sternberg. Beliau dilahirkan setelah perang dunia kedua di sebuah kota kecil Newark, New Jersey – Amerika Serikat, pada 8 Desember 1949.

Prestasi yang diraihnya selama menjadi orang nomor satu di Asosiasi Psikologi Amerika, yaitu EL Thorndike, untuk bidang psikologi pendidikan. Sternberg dikenal karena penelitiannya tentang teori kecerdasan dan mencapai kepopulerannya dengan teori cinta Sternberg yang mulai ia kembangkan sejak tahun 1986.

Berikut beberapa topik yang menjadi bahan penelitian Sternberg di antaranya,
1. Mekanisme mental, kecerdasan dan kreativitas.
2. Gaya berpikir.
3. Modifikasi Kecerdasan Kognitif.
4. Kepemimpinan.
5. Teori Cinta dan Benci.

Teori Segitiga Cinta Sternberg
Sternberg mengklasifikasikan cinta dengan membaginya menjadi tiga komponen. Di mana masing-masing komponen mendefinisikan makna cinta yang dialami oleh seseorang. Dan masing-masing pasangan akan memiliki bentuk segitiga yang berbeda-beda berkaitan dengan intensitas masing-masing unsur tersebut. Ketiga komponen ini haruslah seimbang untuk dapat menghasilkan hubungan cinta yang memuaskan dan bertahan lama.
Teori Segitiga Cinta Sternberg
Komponen Teori Segitiga Cinta Sternberg
1. Keakraban atau keintiman (intimacy)
Keakraban atau keintiman (intimacy) adalah perasaan dalam suatu hubungan yang meningkatkan kedekatan, keterikatan, dan keterkaitan. Dengan kata lain bahwa intimacy mengandung pengertian sebagai elemen afeksi yang mendorong individu untuk selalu melakukan kedekatan emosional dengan orang yang dicintainya.

Hasil penelitian Sternberg dan Grajeg (dalam Sternberg dan Barnes, 1988) menunjukkan keakraban mencakup sekurang-kurangnya sepuluh elemen di antaranya,
a. Keinginan meningkatkan kesejahteraan dari yang dicintai
b. Mengalami kebahagiaan bersama yang dicintai   
c. Menghargai orang yang dicintainya setinggi-tingginya
d. Dapat mengandalkan orang yang dicintai dalam waktu yang dibutuhkan
e. Memiliki saling pengertian dengan orang yang dicintai
f. Membagi dirinya dan miliknya dengan orang yang dicintai
g. Menerima dukungan emosional dari orang yang dicintai
h. Memberi dukungan emosional kepada orang yang dicintai
i. Berkomunikasi secara akrab dengan orang yang dicintai
j. Menganggap penting orang yang dicintai dalam hidupnya

2. Gairah (Passion)
Gairah (passion) meliputi rasa kerinduan yang dalam untuk bersatu dengan orang yang dicintai yang merupakan ekspresi hasrat dan kebutuhan seksual. Atau dengan kata lain bahwa passion merupakan elemen fisiologis yang menyebabkan seseorang merasa ingin dekat secara fisik, menikmati atau merasakan sentuhan fisik, ataupun melakukan hubungan seksual dengan pasangan hidupnya.

Komponen passion juga mengacu pada dorongan yang mengarah pada romance, ketertarikan fisik, konsumsi seksual dan perasaan suka dalam suatu hubungan percintaan.

Dalam suatu hubungan (relationship), intimacy bisa jadi merupakan suatu fungsi dari seberapa besarnya hubungan itu memenuhi kebutuhan seseorang terhadap passion. Sebaliknya, passion juga dapat ditimbulkan karena intimacy. Dalam beberapa hubungan dekat antara orang-orang yang berlainan jenis, passion berkembang cepat sedangkan intimacy lambat.

Passion bisa mendorong seseorang membina hubungan dengan orang lain, sedangkan intimacylah yang mempertahankan kedekatan dengan orang tersebut. Dalam jenis hubungan akrab yang lain, passion yang bersifat ketertarikan fisik (physical attraction) berkembang setelah ada intimacy. Dua orang sahabat karib lain jenis bisa tertarik satu sama lain secara fisik kalau sudah sampai tingkat keintiman tertentu.

Terkadang intimacy dan passion berkembang berlawanan, misalnya dalam hubungan dengan wanita tuna susila, passion meningkat dan intimacy rendah. Namun bisa juga sejalan, misalnya kalau untuk mencapai kedekatan emosional, intimacy dan passion bercampur dan passion menjadi keintiman secara emosional.

Pada intinya, walaupun interaksi intimacy dan passion berbeda, namun kedua komponen ini selalu berinteraksi satu dengan yang lainnya di dalam suatu hubungan yang akrab. Indikasi dalam unsur passion di antaranya,
a. Kebutuhan seksual
b. Keinginan dan kebutuhan untuk bertemu dengan pasangan.
c. Saling ingin diasuh dan mendominasi satu sama lain.
d. Memikirkan orang yang dicintai.
e. Ingin berkorban untuk yang dicintai.

3. Keputusan atau Komitmen (decision/commitment)
Komponen ini juga dikenal dengan decision karena merujuk pada keputusan untuk mencintai dan menetapkan ingin selamanya bersama pasangan hidupnya. Sama seperti intimacy, perasaan ini tidak muncul pada pasangan romantis, melainkan juga keluarga dan hubungan kerabat. Unsur ini merupakan puncak dari komponen cinta.

Indikasi dalam unsur commitment adalah rasa ingin saling mempertahankan walau terjadi pasang-surut dalam perjalanan hubungan keduanya.

Komponen keputusan atau komitmen dari cinta mengandung dua aspek, yang pertama adalah aspek jangka pendek dan yang kedua adalah aspek jangka panjang. Aspek jangka pendek adalah keputusan untuk mencintai seseorang.

Sedangkan aspek jangka panjang adalah komitmen untuk menjaga cinta itu. Atau dengan kata lain bahwa komitmen adalah suatu ketetapan seseorang untuk bertahan bersama sesuatu atau seseorang sampai akhir.

Kedua aspek tersebut tidak harus terjadi secara bersamaan, dan bukan berarti bila kita memutuskan untuk mencintai seseorang juga berarti kita bersedia untuk memelihara hubungan tersebut, misalnya pada pasangan yang hidup bersama. Atau sebaliknya, bisa saja kita bersedia untuk terikat (komit) namun tidak mencintai seseorang. Komponen ini sangat diperlukan untuk melewati masa-masa sulit.

Commitment berinteraksi dengan intimacy dan passion. Untuk sebagian orang, commitment ini adalah merupakan kombinasi dari intimacy dan timbulnya passion. Bisa saja intimacy dan passion timbul setelah adanya komitmen, misalnya perkawinan yang diatur (perjodohan).  

Keintiman dan komitmen tampak relatif stabil dalam hubungan dekat, sementara gairah atau nafsu cenderung relatif tidak stabil dan dapat berfluktuasi tanpa dapat diterka. Dalam hubungan romantis jangka pendek, nafsu cenderung lebih berperan. Sebaliknya, dalam hubungan romantis jangka panjang, keintiman dan komitmen harus memainkan peranan yang lebih besar (Sternberg, dalam Strernberg & Barnes, 1988).

Jenis Cinta Menurut Sternberg
Ketiga komponen di atas akan saling berinteraksi dan menciptakan 7 jenis cinta yang dapat berubah seiring waktu. Perlu diingat bahwa setiap jenis cinta ini mampu menjadi permulaan suatu hubungan, maupun menjadi hasil perubahan karena peristiwa maupun pengaruh keterlibatan pasangan tersebut.

Mari kita mulai dengan jenis cinta yang kerap menjadi awal mula hubungan romantis.
1. Friendship (I)
Awalnya berteman dan akhirnya berujung pacaran. Pertemanan adalah jenis cinta yang hanya memiliki komponen intimacy, sehingga kekurangan komitmen (dalam konteks romantis) maupun passion. Pertemanan sering kali menjadi akar atau permulaan jenis-jenis cinta yang lain (Sternberg, 1987).

2. Infatuation (P)
Nafsu, nafsu, dan nafsu. Ya, jenis cinta yang hanya memiliki komponen passion tanpa komitmen beserta intimacy (hubungan yang mendalam). Namun, tidak terbatas pada hawa nafsu ya teman-teman. Terkadang jenis cinta ini muncul karena belum ada waktu untuk mengembangkan komponen lainnya. Mungkin karena bertemu online atau memang belum saling mengenal (Sternberg, 1986).

3. Empty Love (C)
Karena hanya memiliki komponen komitmen dan tidak ada passion maupun intimacy, cinta ini disebut kosong. Cinta ini bisa terjadi saat percintaan yang kuat sudah terkikis oleh waktu dan menghilangkan komponen passion dan intimacy.

Namun, hal kebalikannya juga berlaku, seperti saat pernikahan antara pasangan yang dijodohkan mungkin awalnya kosong tetapi seiring waktu berubah menjadi jenis cinta yang lain (Sternberg, 1987).

4. Romantic Love (I & P)
Sering kali disebut Cinta bodoh atau Cinta di masa SMP/SMA, hubungan saling suka tetapi tidak memiliki masa depan yang jelas. Cinta jenis ini memiliki komponen intimacy dan passion yang mendalam. Pasangan dengan cinta ini menikmati pembicaraan yang mendalam dan intim diantara mereka (Sternberg, 1999)

5. Companionate Love (I & C)
Hubungan tanpa status, Teman Tapi Mesra, dan istilah yang serupa. Cinta ini bersifat intim, tetapi tidak terdapat sisi passionate yang berapi-api. Cinta ini melibatkan rasa suka dan ingin bersama sampai tua, tetapi terdapat hawa nafsu yang minim atau bahkan tidak ada.

Cinta ini muncul pada pernikahan yang sudah kehilangan komponen passionate tetapi pasangan tersebut memiliki hubungan yang sangat erat. Cinta ini juga bisa dilihat sebagai cinta antara teman maupun anggota keluarga yang sangat dekat (Sternberg, 1986).

6. Fatuous Love (C & P)
Dalam jenis ini, terdapat commitment dan passion saja. Jenis cinta ini kerap diibaratkan dengan cinta yang impulsif, karena ketiadaannya intimacy. Sayangnya, hubungan ini kerap kali berakhir dengan cepat. Hubungan dalam jenis cinta ini yang berhasil kerap kali dinilai “beruntung” (Sternberg, 1986).

7. Consummate Love (I-P-C)
Jenis cinta inilah yang paling komplit dan dianggap paling ideal oleh Sternberg. Cinta ini melibatkan Intimacy, Passion, dan Commitment. Pasangan yang mengalami cinta ini akan mengalami romansa dan pengalaman bercinta yang hebat meskipun sudah bertahun-tahun bersama.

Mereka terhubung sangat dalam, sampai tidak bisa membayangkan hidup tanpa pasangannya dan tidak bisa membayangkan kebahagiaan tanpa pasangan mereka. Pasangan ini menerima perbedaan dan menghadapi tantangan bersama (Sternberg, 1999).

Siapapun yang pernah memiliki hubungan (khususnya percintaan) pasti akan menegaskan pentingnya mencari keseimbangan antara kebutuhan untuk bercinta, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, dan komitmen kedua belah pihak.

Cinta perlu dedikasi, komunikasi yang baik, dan keterlibatan dari kedua belah pihak agar dapat bersemi dengan indah dan tahan lama.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Teori Segitiga Cinta Sternberg: Pengertian, Biografi, Teori, dan Jenisnya"