Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teori Belajar Behavioristik: Pengertian, Tokoh, Prinsip, Hukum, Ciri, Contoh Penerapan, Kelebihan, dan Kekurangannya

Pengertian Teori Belajar Behavioristik
Teori Belajar Behavioristik
Pengertian Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik adalah teori belajar yang mengedepankan perubahan perilaku peserta didik sebagai perolehan dari pengalaman yang diakibatkan adanya stimulus dan respons. Penguatan menjadi faktor terpenting teori ini, yakni pemberian stimulus positif yang dapat memancing respons yang lebih kuat.

Teori belajar behavioristik dianut oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Beberapa ilmuwan yang termasuk pendiri dan penganut teori ini di antaranya Thorndike, Watson, Hull, Guthrie, dan Skinner.

Teori Belajar Behavioristik Menurut Para Ahli
1. Thobroni (2015, hlm. 55), teori belajar behavioristik merupakan suatu teori perihal perubahan perilaku sebagai perolehan dari pengalaman.
2. Mursyidi (2019), teori belajar behavioristik adalah teori belajar yang menekankan pada tingkah laku manusia sebagai akibat dari interaksi stimulus dan respons. Behavioristik menekankan pemahaman bahwa perilaku manusia pada dasarnya memiliki keterkaitan antara stimulus dan respons.

Tokoh Teori Belajar Behavioristik
1. Albert Bandura
Teori belajar yang dikemukakan oleh Albert Bandura dikenal dengan teori belajar sosial (social learning) atau disebut juga observational learning. Bandura memandang tingkah laku tidak semata-mata refleks otomatis dari stimulus.

Tingkah laku juga terbentuk akibat hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut Bandura adalah bahwa yang dipelajari individu, terutama mengenal belajar sosial dan moral, terjadi melalui peniruan (imitation) dan contoh perilaku (modelling).

Bandura mengemukakan bahwa melalui pemberian reward dan punishment, maka seorang individu akan berpikir dan memutuskan memiliki perilaku sosialnya.

2. Edward L. Thorndike
Edward L. Thorndike berpendapat bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons. Stimulus merupakan segala sesuatu yang merangsang terjadinya pembelajaran, seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap oleh alat indra.

Sedangkan respons merupakan reaksi yang dimunculkan ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau tindakan. Teori Thorndike dikenal juga dengan teori koneksionisme.

Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike, yaitu (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan. Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat suatu respons.

3. Clark Hull
Clark Hull menggunakan variabel hubungan antara stimulus dengan respons untuk menjelaskan pengertian belajar, tetapi dikaitkan dengan teori evolusi. Hull berpendapat bahwa semua fungsi tingkah laku bermanfaat untuk menjaga agar organisme tetap dapat bertahan hidup.

Hull mengemukakan bahwa kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive redukction) merupakan hal penting dalam kegiatan manusia. Dengan demikian, stimulus (dorongan) dalam belajar juga selalu dihubungkan dengan kebutuhan biologis, meskipun respons yang muncul bermacam-macam.

4. John B. Watson
Watson mengemukakan bahwa belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respons, akan tetapi stimulus dan respons tersebut harus dapat diamati dan diukur. Watson mengakui adanya perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, tetapi tidak dianggap sebagai faktor yang perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati.

Watson adalah seorang penganut aliran behavioris murni. Kajiannya mengenai belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lainnya yang berorientasi pada pengalaman empirik, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.

5. Skinner
Skinner mengemukakan konsep belajar lebih lengkap dari tokoh-tokoh sebelumnya. Skinner mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana dan komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respons dapat terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku.

Skinner berpendapat bahwa respons yang diterima tidak sesederhana seperti yang dikemukkan tokoh-tokoh sebelumnya. Menurutnya, stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan memengaruhi respons yang dihasilkan. Respons ini memiliki konsekuensi yang nantinya berpengaruh pada munculnya tingkah laku.

Dengan demikian di dalam memahami tingkah laku secara benar, harus memahami hubungan antara stimulus satu dengan lainnya.

Skinner juga menjelaskan bahwa menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumit masalah. Setiap alat yang digunakan harus memerlukan penjelasan lagi.

6. Edwin Guthrie
Teori belajar yang dikemukakan Edwin Guthrie dikenal dengan hukum Kontiguiti, yaitu gabungan stimulus yang disertai tindakan, ketika muncul kembali akan diikuti oleh tindakan yang sama.

Guthrie menggunakan variabel hubungan stimulus dan respons untuk menjelaskan proses belajar. Menurut Guthrie, hubungan antara stimulus dan respons bersifat sementara, sehingga perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar respons bersifat kuat dan menetap.

Guthrie percaya bahwa pemberian hukuman (punishment) pada saat yang tepat berperan penting untuk proses belajar.

Prinsip Belajar Behavioristik
Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik di antaranya,
1. Reinforcement and Punishment
2. Primary and Secondary Reinforcement
3. Schedules of Reinforcement
4. Contingency Management
5. Stimulus Control in Operant Learning
6. The Elimination of Responses

Hukum Teori Belajar Behavioristik
Hergenhahn dan Matthew menyatakan bahwa teori belajar ini mencakup empat hukum di antaranya,
1. Hukum kesiapan
Hukum kesiapan berarti bahwa kegiatan pembelajaran akan memberikan hasil yang diinginkan jika ada kesiapan, baik kesiapan oleh pendidik maupun peserta didik.

2. Hukum latihan
Hukum latihan memiliki arti bahwa semakin banyak latihan, semakin besar peluang untuk berhasil. Artinya, kegiatan pembelajaran akan berhasil jika peserta didik dibiasakan untuk latihan secara kontinu dan terukur.

3. Hukum efek
Hukum efek berarti bahwa efek yang dirasakan oleh peserta didik setelah belajar akan memotivasi dirinya untuk terus belajar. Contohnya, seorang peserta didik mendapatkan hadiah berupa buku paket Matematika karena berhasil mendapatkan nilai sempurna di ujian tulis Matematika.

Efek yang dirasakan adalah bangga dan bahagia. Efek itu diharapkan bisa memotivasi peserta didik tersebut untuk terus belajar.

4. Hukum sikap
Hukum sikap berarti sikap yang terbentuk setelah melakukan pembelajaran. Perubahan sikap dipengaruhi oleh hal-hal yang ia dapatkan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Ciri Teori Belajar Behavioristik
Untuk menyelami teori belajar behavioristik lebih dalam, kita dapat mengenali berbagai ciri yang menyelubungi pembelajaran behavioristik. Menurut Rusli (dalam Sumarsono dkk, 2020, hlm. 12) Teori behavioristik memiliki ciri-ciri tersendiri yang khusus dalam pembelajaran di antaranya,
1. Mengutamakan faktor lingkungan
2. Memfokuskan tingkah laku yang terlihat melalui pemakaian metode obyektif
3. Perkembangan tingkah laku seseorang itu bergantung kepada bagaimana cara belajar
4. Penekanan pada faktor bagian (beberapa elemen dan tidak seluruhnya)
5. Bersifat mekanis atau mengutamakan reaksi dan mekanisme “Bond”, refleks dan kebiasaan-kebiasaan
6. Lebih mengutamakan masa lalu atau berpikiran historis, artinya seluruh perilakunya dapat dibentuk oleh pengalaman-pengalaman dan latihan-latihan.

Contoh Penerapan Teori Belajar Behavioristik
1. Guru menyusun materi atau bahan ajar secara lengkap, mulai materi sederhana sampai kompleks.
2. Selama mengajar, guru lebih banyak memberikan contoh berupa instruksi.
3. Jika guru menjumpai adanya kesalahan, baik pada materi maupun pada peserta didik maka akan segera diperbaiki.
4. Guru lebih aktif memberikan latihan agar terbentuk kebiasaan yang diinginkan.
5. Guru memberikan evaluasi berdasarkan perilaku yang terlihat.
6. Guru harus mampu memberikan penguatan (reinforcement), baik dari sisi positif dan negatif.

Kelebihan Teori Belajar Behavioristik
1. Peserta didik dibiasakan untuk latihan dan praktik yang di dalamnya memuat unsur kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleks, dan daya tahan.
2. Mampu mendorong peserta didik untuk berpikir linier dan konvergen.
3. Memudahkan peserta didik untuk mencapai suatu target tertentu dalam pembelajaran.

Kekurangan Teori Belajar Behavioristik
1. Membatasi kreativitas, produktivitas, dan imajinasi peserta didik.
2. Pembelajaran hanya berpusat pada guru, sehingga peserta didik terkesan pasif.
3. Berpotensi menimbulkan hukuman verbal dan fisik, seperti memberi hukuman peserta didik yang melanggar aturan atau bahkan menjewer. Hukuman semacam itu justru bisa berakibat buruk pada perubahan perilaku peserta didik.
4. Timbul kesulitan untuk menjelaskan kondisi belajar yang kompleks karena hanya beracuan pada stimulus dan respons.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Teori Belajar Behavioristik: Pengertian, Tokoh, Prinsip, Hukum, Ciri, Contoh Penerapan, Kelebihan, dan Kekurangannya"