Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengukuran Psikologi: Pengertian, Sejarah, dan Karakteristiknya

Pengertian Pengukuran Psikologi
Pengukuran Psikologi
Pengertian Pengukuran Psikologi
Pengukuran psikologi adalah pengukuran dengan obyek psikologis tertentu yang disebut sebagai psychological attributes atau psychological traits, yaitu ciri yang mewarnai atau melandasi perilaku. Perilaku dalam hal ini merupakan ungkapan atau ekspresi dari ciri tersebut, yang dapat diobservasi.

Proses pengukuran berkenaan dengan mengonstruksi, mengadministrasi dan penskoran test. Tes psikologis adalah bidang yang ditandai dengan penggunaan contoh perilaku dalam rangka untuk menilai psikologis membangun, seperti fungsi kognitif dan emosional, tentang individu tertentu.

Sejarah Pengukuran Psikologi
Pengukuran psikologi pada awalnya di pengaruhi oleh ilmu fisiologi dan fisika. Oleh karena itu pengukuran dalam ilmu ini mempengaruhi juga pengukuran dalam psikologi. Karya-karya tokoh dalam bidang psikofisika umumnya mencari hukum-hukum umum (generalisasi).

Baru kemudian, terutama karena pengaruh Galton, gerakan “testing” yang mengutamakan ciri-ciri individual menjadi berkembang.
1. Kontribusi Psikofisika
Psikofisika dianggap suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan kuantitatif antara kejadian-kejadian fisik dan kejadian-kejadian psikologis. Dalam arti luas yang dipelajari adalah hubungan antara stimulus dan respons.

Dalam psikofisika modern, kontribusi Thurstone mengenai “low of comparative judgment” merupakan model yang sangat berharga bagi pengembangan skala-skala psikologi yang lebih kemudian. Aplikasinya langsung adalah penerapan metode perbandingan-pasangan (paired-comparison)

2. Kontribusi Francis Galton
Sir Francis Galton adalah seorang ahli biologi yang berminat pada faktor hereditas manusia. Dia meneliti dan ingin mengetahui secara luas kesamaan orang-orang dalam satu keluarga, dan perbedaan orang-orang yang tidak satu keluarga.

Dia mendirikan laboratorium antropometri guna melakukan pengukuran ciri-ciri fisiologis, misalnya ketajaman pendengaran, ketajaman penglihatan, kekuatan otot, waktu reaksi dan lain-lain fungsi sensorimotor yang sederhana, serta fungsi kinestetik. Galton yakin bahwa ketajaman sensoris bersangkutan dengan kemampuan intelektual orang.

Galton juga merintis penerapan metode “rating” dan kuesioner. Kontribusi Galton yang lain adalah upayanya mengembangkan metode-metode statistik guna menganalisis data mengenai perbedaan-perbedaan individual. Upaya ini dilanjutkan oleh murid-muridnya di antara mereka itu kemudian menjadi sangat terkenal adalah Karl Pearson.

3. Awal Gerakan Testing Psikologi
James McKeen Cattell seorang ahli psikologi Amerika dianggap mempunyai kontribusi penting dalam gerakan testing psikologi. Disertasinya du Universitas Leipzig mengenai perbedaan individual dalam waktu reaksi.

Dia sempat kontak dengan Galton sehingga minatnya terhadap perbedaan individual semakin kuat. Dia sependapat dengan Galton bahwa ukuran fungsi intelektual dapat dicapai melalui tes diskriminasi sensoris dan waktu reaksi.

Tes yang dikembangkan di Eropa pada akhir abad XIX cenderung meliputi fungsi yang lebih kompleks. Salah satu contohnya adalah tes Kraepelin. Tes Kraepelin berupa penggunaan operasi-operasi aritmatik yang sederhana dirancang untuk mengukur pengaruh latihan, ingatan dan kerentanan terhadap kelelahan dan distraksi.

Awalnya tes ini dirancang untuk mengukur karakteristik pasien-pasien psikiatris. Oehr, mahasiswa kraepelin, menyusun tes persepsi, ingatan, asosiasi dan fungsi motorik guna meneliti interrelasi fungsi-fungsi psikologis. Ebbinghaus mengembangkan tes komputasi aritmatik, luas ingatan, dan pelengkapan kalimat.

Di Prancis, Binet dan Henri mengajukan kritik terhadap tes yang ada dewasa itu terlalu sensoris, berkonsentrasi pada kemampuan khusus. Mereka menyatakan bahwa dalam pengukuran fungsi-fungsi yang lebih kompleks, presisi kurang perlu karena perbedaan individual dalam fungsi yang lebih besar.

Yang perlukan adalah tes yang mengukur fungsi yang lebih luas, seperti ingatan, imajinasi, perhatian, pemahaman, kerentanan terhadap sugesti, apresiasi estetik, dan lain-lain. Gagasan inilah yang akhirnya menuntun dikembangkannya tes Binet, yang kemudian menjadi sangat terkenal.

4. Binet dan tes intelegensi
Binet menyusun alat tes. Tes yang disusun oleh Binet dan Simon tahun 1905 disebut menghasilkan skala Binet-Simon. Skala ini terkenal dengan nama skala 1905. Skala ini pada awalnya untuk mengukur dan mengidentifikasi anak-anak yang terbelakang agar mereka mendapatkan pendidikan yang memadai. Skala ini terdiri dari 30 soal disusun dari yang paling mudah ke yang paling sukar.

Pada skala versi kedua tahun 1908, jumlah soal ditambah. Soal-soal itu dikelompokkan menurut jenjang umur berdasar atas kinerja 300 orang anak normal berumur 3 sampai 13 tahun. Skor seorang anak pada seluruh perangkat tes dapat dinyatakan sebagai jenjang mental (mental level) sesuai dengan umur normal yang setara dengan kinerja anak yang bersangkutan.

Dalam berbagai adaptasi dan terjemahan istilah jenjang mental diganti dengan umur mental (mental age), dan istilah inilah yang kemudian menjadi popular.

Revisi skala ketiga skala Binet-Simon diterbitkan tahun 1911, beberapa bulan setelah Binet meninggal mendadak. Pada tahun 1912, dalam Kongres Psikologi Internasional di Genewa, William Stern, seorang ahli psikologi Jerman, mengusulkan konsep koefisien Intelegensi yaitu IQ = MA/CA.

Konsep ini yang dipakai dalam skala Binet yang direvisi di Universitas Stanford, yang terkenal dengan nama Skala Stanford-Binet yang diterbitkan tahun 1916, kemudian revisinya tahun 1937 dan revisi selanjutnya tahun 1960.

Skala Stanford-Binet inilah yang selanjutnya diadaptasikan kedalam berbagai bahasa dan digunakan secara luas dimana-mana. Kecuali itu skalaStanford-Binet juga menjadi model Pengembangan berbagai tes inteligensi lain.

5. Testing Kelompok
Tes Binet adalah merupakan tes individual, artinya tes yang harus diberikan per orang. Karena kebutuhan yang makin mendesak, maka dikembangkanlah tes kelompok. Hal ini dilatarbelakangi pada saat perang dunia I, kebutuhan akan tes kelompok ini sangat dibutuhkan untuk tes calon tentara.

Maka, komite psikologi yang diketuai Robert M. Yankes, menyusun instrument yang dapat mengklasifikasi individu tetapi diberikan secara kelompok. Dalam konteks semacam ini, tes inteligensi kelompok yang pertama dikembangkan.

Di dalam tugas ini para ahli psikologi militer menghimpun semua tes yang ada, terutama tes intelegensi kelompok kaya Otis yang belum dipublikasikan. Tes itu di susun Otis waktu dia menjadi mahasiswa di Stanford. Dalam karya Otis itulah format pilihan ganda dan lain-lain format tes objektif mulai digunakan.

Tes yang dikembangkan oleh ahli psikologi dalam militer itu kemudian terkenal dengan nama Army Alpha dan Army Beta. Setelah perang berakhir maka tes-tes tersebut dilepaskan untuk umum. Dan ini lalu mendorong pengembangan dan penggunaan tes kelompok secara luas

6. Pengukuran Potensial Intelektual
Walaupun tes intelegensi dirancang untuk fungsi-fungsi intelektual yang luas ragamnya guna mengestimasikan taraf intelektual umum individu, namun segera nyata bahwa liputan tes intelegensi itu sangat terbatas. Tidak semua fungsi penting tercakup.

Dalam kenyataannya kebanyakan tes intelegensi terutama mengukur kemampuan verbal, dan dalam kadar lebih sedikit kemampuan menangani relasi-relasi numerik, simbolik dan abstrak. Di dalam praktek diperlukan instrument yang dapat mengukur kemampuan-kemampuan khusus, misalnya kemampuan mekanik, kemampuan klrikal, bahkan bakat musik.

Karena desakan kebutuhan praktis dalam berbagai bidang misalnya dalam bidang bimbingan dan konseling, dalam pemilihan program studi, dalam penempatan karyawan, dalam analisis klinis, dan sebagainya, maka upaya pengembangan tes potensial individu khusus itu dilakukan. Dalam pada itu dapat dimanfaatkannya metode analisis faktor mempercepat laju upaya ini.

Hal lain yang perlu dicatat adalah kontribusi pada psikolog militer Amerika selama Perang Dunia II. Kebanyakan penelitian di kalangan militer didasarkan pada analisis faktor dan diarahkan kepada pengembangan multiple aptitude test batteries.

7. Tes Hasil Belajar
Pada waktu para ahli psikolog sibuk mengembangkan tes intelegensi dan tes potensial khusus, ujian-ujian tradisional di sekolah-sekolah mengalami perbaikan teknis. Terjadi pergeseran dari bentuk esai ke ujian tes objektif. Pelopor perubahan ini adalah penerbitan The Achievement Test pada tahun 1923.

Dengan tes ini dapat dibuat perbandingan beberapa sekolah pada sejumlah mata pelajaran dengan menggunakan satu norma. Karakteristik yang demikian itu merupakan penerapan tes hasil belajar baku yang berlaku sampai sekarang.

8. Tes Proyektif
Pada awal abad XX kelompok psikiater dan psikolog yang berlatar belakang Psikologi Dalam di Eropa berupaya mengembangkan instrument yang dapat digunakan untuk mengungkapkan isi batin yang tidak disadari. Seperti telah diketahui, bahwa dalam Psikologi Dalam (terutama aliran Freudian dan Jungian) ada kelompok proyeksi sebagai salah satu bentuk mekanisme pertahanan.

Dalam mekanisme pertahanan individu secara tidak sengaja menempatkan isi batin sendiri pada objek di luar dirinya dan menghayatinya sebagai karakteristik objek yang diluar dirinya itu. Berdasar atas konsep inilah tes proyeksi itu disusun.

Pelopor upaya ini adalah Herman Rorschach, seorang psikiater dari Swiss. Selama 10 tahun (1912 – 1922) Herman Rorschach mencobakan sejumlah besar gambar-gambar tak berstruktur untuk mengungkapkan isi batin tertekan pada pasiens-pasiennya.

Dari sejumlah besar gambar-gambar tersebut akhirnya dipilih 10 gambar yang dibakukan, dan perangkat inilah yang kemudian terkenal dengan nama Tes Rorschach. Setelah itu sejumlah upaya dilakukan untuk mengembangkan tes proyektif yang lain, dan hasilnya antara lain Holtzman Inkbold Technique, Themaatic Apperception Test, Tes Rumah Pohon dan Orang, Tes Szondi, dan yang sejenisnya.

Karakteristik Pengukuran Psikologi
Terdapat tiga karakteristik pengukuran secara operasional di antaranya,
1.    Pembandingan antara atribut yang diukur dengan alat ukurnya
Perlu diperhatikan bahwa kita tidak bisa mengukur suatu atribut dengan atributnya itu sendiri tapi harus dengan alat ukurnya. Misalnya, kalau kita ingin mengukur berat badan tentu saja kita harus menggunakan timbangan berat badan sebagai alat ukurnya.

Tapi kita tidak bisa mengukur berat badan dengan berat badan itu sendiri. Lagi, kalau kita ingin mengukur luas meja kita tidak bisa mengukurnya dengan meja itu sendiri tapi harus dengan dimensi meja seperti panjang dan lebarnya.

Pengertian tersebut berarti tiga hal di antaranya,
a. Benda atau manusia yang dimensinya diukur merupakan subjek pengukuran, bukan objek pengukuran
b. Objek pengukuran adalah dimensi yang diukur
c. Alat ukur hanya dapat diketahui apabila atribut yang hendak diukur telah diketahui lebih dahulu.

2. Hasilnya bersifat kuantitatif
Hasil pengukuran pasti berbentuk angka (kuantitatif) sehingga tidak mungkin hasil pengukuran berupa kalimat. Pengukuran akan dinyatakan selesai apabila hasilnya telah diwujudkan dalam bentuk angka beserta satuannya (pengukuran fisik). Misalnya, kalau panjang berarti hasilnya adalah 30 cm atau 5 m.

Hasil pengukuran psikologispun sama yaitu berbentuk angka. Misalnya, angka pengukuran kecerdasan adalah 120.

3. Kesimpulannya dinyatakan secara deskriptif
Maksudnya adalah kesimpulan hanya sebatas memberikan angka atau bilangan yang tidak disertai intepretasi. Kalau kita mengukur kecepatan kendaraan bermotor, kita hanya bisa menuliskan “kendaraan berkecepatan 70 km / jam” tanpa diberi intepretasi apakah kendaraan itu melaju dengan cepat, sedang atau lambat.

Adapun beberapa karakteristik skala sebagai alat ukur psikologi di antaranya,
1. Penggunaan stimulus ataupun item di dalam skala psikologi umumnya bisa berupa sebuah pernyataan yang memang sebenarnya secara langsung tidak bisa kita ungkapkan dalam atribut yang bisa diukur selain dalam sebuah pengukuran indikator perilaku dan juga atribut seseorang yang bersangkutan.

Sebenarnya subjek di dalamnya juga akan jauh lebih paham mengenai hal- hal yang berkaitan dengan isi yang telah digunakan dan juga diberikan. Sehingga dengan kata lain jawaban atas hal- hal yang bersifat objektif ini lebih pada proyeksi diri dan juga gambaran tipikal sebuah reaksi.

2. Dalam atribut psikologi kita akan mengenal secara langsung sebuah pernyataan melalui sebuah indikator. Dari adanya indikator – indikator tersebut juga akan berkaitan dengan sebuah perilaku dan juga banyaknya item- item, sehingga secara psikologi juga akan ada banyak indikasi mengenai hal- hal yang berkaitan dengan pengukuran atribut dan juga sebuah kesimpulan yang berkaitan dengan diagnosis respons.
3. Adanya sebuah respons subjek yang diberikan dan biasanya tidak dilakukan klarifikasi mengenai jawaban benar atau salah. Sehingga jawaban yang ada sebenarnya bisa diterima dengan baik, meskipun secara jujur dan dilakukan juga secara sungguh- sungguh.

Adanya skor yang digunakan juga sebenarnya hanyalah sebuah kuantitas yang bisa mewakili sebuah indikasi atribut yang tengah diukur. Ketahui pula langkah-langkah dalam pengembangan alat ukur psikologi secara seksama.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Pengukuran Psikologi: Pengertian, Sejarah, dan Karakteristiknya"