Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kleptomania: Pengertian, Ciri, Sifat, Penyebab, Pengobatan, dan Gangguan Lain yang Menyertainya

Pengertian Kleptomania
Kleptomania
Pengertian Kleptomania
Kleptomania adalah gangguan mental yang membuat penderitanya tidak bisa menahan diri untuk mencuri. Kleptomania dari bahasa Yunani kleptein (mencuri), dan mania. Istilah ini dikenalkan oleh psikiatri dari Prancis yang bernama Esquirol dan Mark pada tahun 1838 (Goldman, 1991).

Penderita kleptomania kerap mencuri di tempat-tempat umum, tetapi ada juga yang mengutil dari rumah teman-temannya. Orang yang memiliki gangguan psikologis ini akan mencuri barang yang tidak mereka butuhkan, yang mampu mereka beli, atau yang nilainya sedikit atau tidak ada sama sekali.

Sang penderita biasanya merasakan rasa tegang subjektif sebelum mencuri dan merasakan kelegaan atau kenikmatan setelah mereka melakukan tindakan mencuri tersebut. Tindakan ini tentunya harus dibedakan dari tindakan mencuri biasa yang biasanya didorong oleh motivasi keuntungan dan telah direncanakan sebelumnya.

Penyakit ini umum muncul pada masa puber dan ada sampai dewasa. Pada beberapa kasus, kleptomania diderita seumur hidup. Penderita juga mungkin memiliki kelainan jiwa lainnya, seperti kelainan emosi, Bulimia Nervosa, paranoid, schizoid atau borderline personality disorder.

Kleptomania dapat muncul setelah terjadi cedera otak traumatik dan keracunan karbon monoksida.

Kleptomania Menurut Para Ahli
1. Supratikna (1995), kleptomania adalah penyakit jiwa yang membuat penderitanya tidak bisa menahan diri untuk mencuri. Benda-benda yang dicuri oleh penderita kleptomania umumnya adalah barang-barang yang tidak berharga, seperti mencuri gula, permen, sisir, atau barang-barang lainnya.
2. Nassa (2010), kleptomania adalah sebuah gangguan kejiwaan di mana seorang penderita mengalami dorongan dan ketegangan yang sangat kuat untuk melakukan tindakan mengambil barang milik orang lain dan mencapai kepuasannya apabila tindakan mengambil tersebut telah berhasil.
3. Sudarsono (1996), kleptomania adalah dorongan hati untuk mencuri milik atau harta benda orang lain demi kepuasan hatinya, keinginan kuat untuk mencuri, bukan hasil dari yang dicuri.
4. Durand dan Barlow (2006), kleptomania adalah ketidakmampuan menolak dorongan yang terjadi berulang kali untuk mencuri barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan untuk kegunaan pribadi atau yang dicuri bukan karena nilai moneternya.

Ciri Kleptomania
Adapun ciri-ciri kleptomania menurut Rasdian (2002) di antaranya,
1. Pencurian dilakukan sendirian (solitary act) tidak ada orang lain atau kelompok yang membantunya.
2. Adanya suatu peningkatan rasa tegang sebelum melakukan pencurian.
3. Rasa puas setelah melakukan tindakan pencurian.
4. Penderita kleptomania tampak cemas, murung dan merasa bersalah pada saat melakukan pencurian, namun hal tersebut tidak mencegah pengidap kleptomania untuk mengulangi perbuatannya. Dan tidak semua kesempatan yang ada digunakan oleh pengidap kleptomania untuk mencuri.

Menurut Kartono (2009), seorang penderita yang terkena penyakit kleptomania akan mempunyai sifat yang karakteristik, yaitu jika si penderita melakukan perbuatan tersebut, si penderita merasakan suatu kesenangan dan kepuasan yang dirasakannya setelah ia berhasil melakukan tindakannya tersebut.

Akan tetapi apabila si penderita tidak melakukan atau menekan dari keinginannya yang begitu besar, maka si penderita kleptomania akan merasa tidak senang, merasa berdosa, timbulnya rasa bersalah dan rasa tidak puas, si penderita bahkan akan merasakan kebingungan dan bahkan panik.

Sifat Kleptomania
Beberapa sifat dari penderita atau pengidap kleptomania di antaranya,
1. Mereka mempunyai perasaan yang sangat ingin memiliki barang tanpa diketahui harga barang itu, karena tidak peduli dengan harga maka kadang mereka melakukannya bukan karena tidak bisa membeli tetapi karena tertarik saja.
2. Bila melihat sesuatu barang yang ingin dimilikinya atau sedang diincarnya kelihatan akan berkeringat dan tidak bias konsentrasi bila diajak bicara, matanya jelalatan mengawasi barang yang diincarnya.
3. Mereka akan merasa lega dan bahagia bila keinginannya berhasil, dan timbul perasaan untuk mengulanginya kembali (ketagihan).
4. Bagi mereka mencuri adalah bukan karena dendam atau cemburu atau marah terhadap yang punya barang dan juga bukan khayalan atau halusinasi tetapi karena refleksi otak yang tidak terkendali.
5. Mencuri untuk pengidap kleptomania adalah tidak lain karena gangguan perilaku atau gangguan kejiwaan anti sosial.
6. Mencuri bagi mereka adalah seperti halnya mereka sedang jatuh cinta, keinginan untuk memiliki dan mendekatinya semakin menggebu bila melihatnya sehingga segala cara terus dipikirkan.

Penyebab Kleptomania
Penyebab pasti dari kleptomania masih dalam penyelidikan, meskipun diduga pengaruh genetik dan lingkungan mungkin berperan. Perspektif yang berbeda dalam psikologi telah menyarankan beberapa kemungkinan penjelasan di antaranya,
1. Pendekatan Psikoanalitik
Penjelasan psikoanalitik untuk kleptomania telah menjelaskan dalam berbagai cara. Beberapa menyarankan bahwa orang didorong untuk mendapatkan objek yang secara simbolis sebagai kompensasi beberapa jenis kehilangan atau pengabaian awal. Menurut pendekatan ini, pengobatan untuk gangguan terletak pada menemukan motivasi yang mendasari perilaku tersebut.

2. Pendekatan Cognitive-Behavioral
Penjelasan perilaku-kognitif menunjukkan bahwa gangguan dapat dimulai ketika seseorang diperkuat secara positif karena mencuri sesuatu. Setelah pencurian pertama terjadi tanpa konsekuensi negatif, kemungkinan besar perilaku tersebut akan terjadi lagi di masa mendatang.

Akhirnya, penyebab yang terkait dengan tindakan mencuri menjadi sangat kuat, sehingga kemungkinan besar akan terus berlanjut. Ketika seseorang menemukan dirinya dalam situasi di mana penyebab lingkungan yang serupa hadir, mereka mungkin menemukan dorongan yang luar biasa benar-benar tak tertahankan untuk mencuri.

Karena tindakan mencuri meredakan stres dan ketegangan yang dialami individu, perilaku tersebut juga dikaitkan dengan pelepasan stres. Seiring waktu, individu tersebut mungkin mulai mencuri sebagai cara untuk mengatasi dan menghilangkan stres.

3. Pendekatan Biologis
Penjelasan biologis menunjukkan bahwa perilaku mungkin terkait dengan daerah tertentu di otak dan kemungkinan disregulasi neurotransmiter tertentu. Beberapa penelitian telah mengaitkan munculnya kleptomania dengan disfungsi di lobus frontal otak.

Dalam dua kasus yang dilaporkan, trauma pada lobus frontal mengakibatkan gejala fisik seperti pusing, gejala perilaku seperti agresi, dan gejala kognitif seperti sebagai kehilangan memori diikuti dengan munculnya perilaku terkait kleptomania secara tiba-tiba.

Studi juga menunjukkan bahwa SSRI telah digunakan untuk mengobati kleptomania secara efektif, menunjukkan bahwa regulasi serotonin mungkin terlibat. Neurotransmitter lain seperti dopamin dan opiod endogen juga dapat berperan dalam perkembangan gangguan ini.

Pengobatan Kleptomania
Dua dari perawatan yang paling umum meliputi di antaranya,
1. Pengobatan
Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), serta antidepresan lainnya, telah menunjukkan efektivitas dalam mengobati gejala kleptomania dan dapat digunakan bersama dengan terapi perilaku kognitif.

2. Psikoterapi
Terapi perilaku kognitif menargetkan pikiran dan perilaku yang berkontribusi pada pencurian dan telah terbukti memiliki efektivitas dalam mengelola gejala kleptomania.

Psikoterapi sering kali merupakan pengobatan lini pertama untuk gangguan kontrol impuls, dengan tujuan membantu pasien belajar mengenali dorongan mereka, menemukan mengapa mereka bertindak berdasarkan impuls ini, dan menemukan cara yang lebih tepat untuk meredakan dorongan dan ketegangan.

Baru-baru ini telah terjadi pergeseran ke arah penggunaan intervensi psikofarmakologis bersamaan dengan pendekatan psikoterapi.

Gangguan yang Berkaitan Kleptomania
Kleptomania dibedakan dari mengutil/mencuri biasa karena pengutil/pencuri biasanya merencanakan pencurian mereka dan melakukan perilaku ini untuk memperoleh barang yang mereka inginkan tetapi tidak mampu membelinya. Sebaliknya, penderita kleptomania mencuri secara spontan untuk meredakan ketegangan yang terus menumpuk jika mereka tidak bertindak.

Kleptomania dapat terjadi sendiri, tetapi sering muncul bersamaan dengan kondisi lain juga. Orang dengan kondisi ini mungkin rentan terhadap penggunaan zat dan kecemasan, serta gangguan lain yang terkait dengan kontrol impuls. Beberapa gangguan lain yang dapat terjadi bersamaan dengan kleptomania meliputi di antaranya,
1. Gangguan mood
2. Gangguan panik
3. Gangguan kecemasan perpisahan
4. Gangguan tubuh dysmorphic
5. Gangguan obsesif kompulsif
6. Gangguan kontrol impuls lainnya

Gangguan ini juga telah terbukti terkait dengan penggunaan zat dan alkohol. Beberapa ahli menyarankan mungkin ada beberapa jenis hubungan genetik bersamaan antara gangguan penggunaan zat dan kleptomania.

Penelitian juga menemukan bahwa 73 % individu dengan kleptomania juga didiagnosis dengan gangguan afektif di beberapa titik dalam hidup mereka. Studi juga menunjukkan tingkat komorbiditas yang sama tinggi dengan kondisi kejiwaan lainnya termasuk gangguan kecemasan, gangguan bipolar, dan makan gangguan.

Untuk mendiagnosis kleptomania, pertama-tama harus dipastikan bahwa gejalanya tidak dapat dijelaskan dengan lebih baik oleh kondisi kejiwaan lain seperti gangguan perilaku atau gangguan kepribadian antisosial.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Kleptomania: Pengertian, Ciri, Sifat, Penyebab, Pengobatan, dan Gangguan Lain yang Menyertainya"