Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Daddy Issues: Pengertian, Penyebab, Ciri, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Pengertian Daddy Issues
Daddy Issues
Pengertian Daddy Issues
Daddy issues adalah dampak psikologis yang dialami seseorang karena memiliki hubungan yang tidak sehat dan kurang harmonis dengan ayahnya, atau bahkan tidak merasakan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya. Seorang anak membutuhkan orang dewasa yang bisa diandalkan dalam hidupnya untuk membentuk ikatan yang aman.

Jika hal tersebut tidak bisa didapatkan, kebanyakan orang akan membentuk gaya hubungan menghindar atau cemas dengan sebuah ikatan. Jika seorang anak tidak punya figure ayah dalam hidupnya, ini akan menyebabkan ia merasa tidak aman dengan hubungannya saat dewasa (Rollo).

Kehadiran sosok ayah memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan psikologis dan sosial seorang anak. Ini karena pola ikatan antara ayah dan anak yang terbentuk sejak kecil akan memengaruhi cara anak membangun hubungan dengan orang lain di masa depan.

Sebaliknya, ikatan ayah dan anak yang kurang baik berisiko membuat anak sulit mempercayai orang lain, ingin selalu mencari perhatian, dan haus kasih sayang. Anak yang kurang mendapatkan kasih sayang dari ayahnya juga lebih berisiko terjebak dalam toxic relationship. Kondisi inilah yang disebut daddy issues. Meski dapat dialami oleh siapa saja, daddy issues lebih sering terjadi pada wanita.

Penyebab Daddy Issues
Banyak argumen mengatakan bahwa seseorang dengan daddy issues memiliki apa yang Freud sebut father complex. Father complex merupakan istilah untuk menggambarkan seseorang yang memiliki unconscious impulse kepada pasangannya sebagai dampak dari hubungan yang tidak sehat dengan ayahnya.

Unconscious impulse ini merupakan dorongan positif atau negatif yang secara tidak sadar kita proyeksikan kepada pasangan kita. Dorongan positif ini dapat merupakan kekaguman yang berlebihan, sedangkan dorongan negatif bisa merupakan ketakutan atau ketidakpercayaan berlebihan pada pasangan kita. Dorongan yang dimiliki ini cenderung berdampak negatif pada dinamika hubungan romantis seseorang.

Teori attachment styles yang terhitung baru berpendapat bahwa daddy issues adalah istilah populer yang menggambarkan seseorang dengan insecure attachment style. Insecure attachment style ini terbentuk dari pengasuhan orang tua yang kurang responsif terhadap anaknya, atau dampak dari tidak adanya figur ayah yang ideal sejak kecil.

Berikut beberapa jenis Insecure attachment style akan berdampak pada cara anak menavigasi hubungan percintaan saat dewasa di antaranya,
1. Anxious-preoccupied. Mereka ingin dekat dengan orang lain tapi khawatir pasangan mereka tidak ada saat mereka butuh. Hal ini bisa membuat mereka terlalu bergantung (clingy) dan menuntut.
2. Fearful-avoidant. Mereka kerap kali menjalin hubungan romantis tapi kesulitan mempercayai pasangan mereka karena khawatir akan disakiti lagi. Hal ini membuat mereka menjaga jarak dengan pasangannya.
3. Dismissive-avoidant. Mereka memilih untuk menjauhi hubungan romantis karena merasa tidak nyaman dengan komitmen dan perasaan sulit yang akan dialami dalam hubungan romantis. Mereka cenderung kesulitan memproses perasaan-perasaan sulit tersebut.

Sementara dikutip dari Very Well Mind, seseorang bisa memiliki daddy issue karena banyak hal. Biasanya dipengaruhi dengan masa kecilnya atau hubungan keluarga yang dialaminya ketika beranjak dewasa. Kedekatan antara anak perempuan dan ayahnya bisa saja tidak sehat sehingga memicu tumbuhnya daddy issue.

Misalnya ketika seseorang mengklaim dirinya sebagai kebanggaan ayahnya, karena prestasi, penampilan fisik atau amat dimanjakan. Perlakuan istimewa itu secara tidak langsung dapat mempengaruhi kondisi mental, emosional dan seksualnya hingga dewasa.
1. Pelecehan seksual
Pelecehan seksual yang dilakukan sosok pria dalam kehidupan ketika kanak-kanak bisa menjadi faktor pemicu daddy issue. Selain ayah, juga termasuk paman, kakek atau figur otoritas lingkungan yang berjenis kelamin laki-laki. Pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur menciptakan perasaan rumit pada anak-anak.

Mereka ingin mencintai ayah atau pamannya karena mengajaknya bermain, memberi uang dan perlakuan lainnya tetapi menderita karena pelecehan itu. Anak-anak yang dilecehkan sering menyalahkan diri mereka sendiri atas apa yang terjadi. Trauma masa kecil, penelantaran, dan pelecehan seksual dapat menyebabkan rasa malu.

2. Ketiadaan sosok ayah
Ada orang yang tidak memiliki sosok ayah dalam hidupnya meskipun orangtuanya masih hidup. Misalnya ayah yang sibuk bekerja, tidak hadir dalam kehidupan anaknya, meninggalkan keluarga atau terjerat banyak masalah lainnya.

Ayah yang jauh secara fisik tentunya juga jauh secara emosional serta meninggalkan luka besar di perasaan anak. Untuk mengisi kekosongan itu, anak berusaha mencari perhatian dan validasi dari sosok pria lebih tua lainnya, yang merupakan bentuk dari daddy issue.

Ciri Seseorang Mengalami Daddy Issue
Daddy issue dapat memengaruhi pola pikir, sikap, perilaku dan karakter seseorang. Selain itu, kondisi ini dapat memengaruhi hubungan romantis seseorang dengan pasangannya. Berikut beberapa ciri-ciri seseorang mengalami daddy issue yang dikutip dari beragam sumber di antaranya,
1. Memiliki ketertarikan terhadap orang yang lebih tua
Karena menginginkan kehadiran sosok seorang ayah atau father figure yang dapat memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman dan nyaman yang tidak mereka dapatkan di masa kecil, seseorang dengan daddy issue cenderung memiliki ketertarikan dengan orang yang usianya jauh lebih tua untuk menjalin hubungan romantis, baik itu pacaran atau menikah.

2. Selalu merasa butuh diperhatikan dan kepastian
Seseorang dengan daddy issue memiliki kesulitan untuk mempercayai orang lain sehingga mereka selalu menuntut orang lain atau mungkin pasangannya akan kepastian, perhatian dan kasih sayang. Selain itu, mereka juga memiliki rasa ketergantungan yang tinggi terhadap pasangan sehingga seringkali mereka merasa insecure dan sangat takut jika pasangan mereka pergi meninggalkan mereka.

Sehingga seringkali mereka merasa kecemasan yang sangat tinggi jika tidak bersama pasangan mereka.

3. Kecenderungan untuk bersikap posesif
Dikarenakan memiliki latar belakang keluarga yang tidak sempurna ataupun tidak utuh, mereka yang memiliki daddy issue cenderung berusaha dengan sangat baik agar hubungannya dapat bertahan. Tak jarang mereka berusaha menjadi sosok yang sempurna agar pasangan mereka tidak meninggalkannya.

Akan tetapi, usaha keras ini terkadang terkesan berlebihan seperti terlalu mudah cemburu, curiga yang berlebihan dan posesif. Contohnya sering melarang pasangan untuk berteman dengan lawan jenis atau bahkan sampai mengecek ponsel pasangan.

4. Tidak suka menyendiri dan sangat mudah merasa kesepian
Mereka yang memiliki daddy issue cenderung merasa tidak nyaman dan tidak menyukai kesendirian dan menghabiskan waktunya sendiri. Mereka akan dengan mudah merasa kesepian jika tidak memiliki pasangan yang dapat memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka.

Itulah mengapa, seseorang dengan daddy issue akan selalu berusaha untuk tetap berada dalam suatu hubungan, baik itu mempertahankan hubungan yang sudah terjalin ataupun memulai hubungan baru kembali dengan orang lain.

5. Rendahnya rasa percaya diri
Seseorang dengan daddy issue juga memiliki rasa percaya diri yang rendah dan tidak mampu untuk mencintai dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan mereka sangat bergantung dengan pasangan mereka dan tidak nyaman jika mereka sendirian.

Dampak Daddy Issues
Anda memilih pasangan yang cenderung mirip dengan bagaimana ayah memperlakukan Anda saat kecil. Bayangkan ayah tidak hadir untuk Anda sedari Anda kecil, baik secara fisik maupun emosional. Walaupun ia hadir dalam kehidupan Anda, kehadirannya hanya sebentar dan tidak konsisten. Alhasil, Anda tidak mendapatkan kasih sayang yang konsisten dan semestinya dari sosok ayah.

Lambat laun, Anda menjadi terbiasa dengan versi kasih sayang yang diberikan ayahanda tersebut. Saat beranjak dewasa, Anda tumbuh dengan kepercayaan bahwa begitulah cara seorang lelaki mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya. Inilah versi cinta yang Anda ketahui dan pelajari sejak kecil. Akibatnya, Anda terus berakhir pada hubungan yang hampir sama dengan dinamika hubungan Anda dan ayah Anda.

Bagi orang lain, memilih pasangan yang memperlakukannya sama dengan perlakuan sang ayah kepadanya merupakan harapan yang tidak sadar dimiliki untuk mendapatkan kasih sayang ayah yang dahulu tidak didapatkan saat kecil.

Masalah terkait seksualitas
Walaupun temuan tentang hal ini masih beragam, ada tidaknya sosok ayah yang ideal bisa mempengaruhi seksualitas seseorang saat dewasa. Laki-laki tanpa sosok ayah dalam masa pertumbuhannya bisa merasa tidak nyaman terhadap maskulinitasnya.

Ketidaknyamanan ini dapat membuat mereka menghindari pacaran atau berhubungan seks saat dewasa. Ada di antara mereka yang menunjukkan perilaku agresif atau menjadi predator seksual.

Anak dengan ayah yang tidak responsif terhadap kebutuhan emosional anaknya cenderung memiliki perkembangan yang tidak stabil, yang mengarah pada meningkatnya aktivitas seksual atau perilaku seksual yang tidak sehat.

Mengatasi Daddy Issue
Meski terlihat sulit karena daddy issue berhadapan dengan memori masa lalu, permasalahan ini tentu bisa diatasi. Dari The Verywell Mind, berikut beberapa cara yang disarankan oleh terapis Caitlin Cantor untuk mengatasi permasalahan daddy issue di antaranya,
1. Mengenali
Pada awalnya anak dengan daddy issue sulit menerima keadaan yang terjadi di masa lalu. Trauma akan hubungan dengan sang ayah kerap menimbulkan penolakan terhadap diri sendiri—menganggap diri tidak berharga, tidak dicintai, tidak layak mendapatkan apapun—hingga beranjak dewasa.

Tahap awal yang harus dilakukan adalah mulai mengakui dan menerima bahwa kita pernah memiliki hubungan yang tidak baik dengan ayah kita di masa lampau. Setelah bisa menerima trauma tersebut, seseorang dengan daddy issue perlu mengenali seperti apa hubungan yang terjalin dengan ayahnya dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi kehidupan sekarang.

Selanjutnya kita perlu memberi penegasan atas apa yang terjadi di masa lalu dan di masa sekarang. Artinya, kita memisahkan bahwa trauma masa lalu tidak akan berdampak buruk pada hubungan yang dimiliki saat ini.

2. Meratapi
Sebagai manusia, kita diberikan kesempatan merasakan berbagai macam emosi yang datang karena banyak hal, termasuk hubungan masa lalu dengan figur ayah. Cantor menyarankan bahwa seseorang yang sudah dapat menerima trauma tersebut, bisa menyembuhkan diri dengan merasakan kesedihan, amarah.

Cara tersebut dinilai efektif untuk memberikan kesempatan kepada diri sendiri mengekspresikan perasaan yang tidak dapat kita luapkan saat muda. Ini juga merupakan upaya memenuhi kebutuhan psikologis yang pada masa lalu tidak dapat kita penuhi.

3. Mempelajari
Setelah melalui tahap pengenalan terhadap keyakinan yang terbentuk selama masa kanak-kanak mempengaruhi hubungan saat ini, seseorang dengan daddy issue dapat mulai mengganti keyakinan lama tersebut dengan yang baru dan lebih sehat.

Proses ini turut melibatkan kesadaran bahwa ketika menjalin hubungan dengan seseorang kita tidak boleh takut untuk mengevaluasi segala hal yang terjadi dalam hubungan tersebut. Setelah mengakui hal-hal di masa lalu, seseorang dengan daddy issue dapat mulai belajar untuk terhubung dengan pasangan yang kita inginkan dengan versi lebih ideal.

Hal ini dapat menyelamatkan agar seseorang tidak terus terjerumus ke dalam hubungan yang erat kaitannya dengan kepercayaan lama.

Langkah-langkah tersebut dapat membantu seseorang pulih dari daddy issue. Namun, setiap tahapannya perlu dilalui dengan proses yang mendalam. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, seseorang dengan daddy issue disarankan untuk menemui konselor atau terapis. Cara ini diharapkan dapat membantu memahami permasalahan daddy issue yang rumit.

Terapis juga dapat menuntun untuk lebih memahami bagaimana hubungan dengan ayah secara spesifik berperan dengan cara yang tidak sehat dalam hubungan yang dijalin saat ini.

Dari berbagai sumber

Download

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Daddy Issues: Pengertian, Penyebab, Ciri, Dampak, dan Cara Mengatasinya"