Politik Aliran: Pengertian, Ciri, Penyebab, Dampak, dan Contohnya

Pengertian Politik Aliran
Pengertian Politik Aliran
Politik aliran adalah suatu gagasan yang digunakan untuk mencapai tujuan dari setiap kelompok tertentu dengan menggunakan sarana politik. Pembentukan politik aliran berdasarkan aliran dalam agama, suku, dan tentu ada yang berdasarkan aliran politik tertentu yang memang ada dalam dunia politik.

Pengertian lain menyebutkan bahwa politik aliran adalah keadaan di mana hadir sebuah kelompok yang dikelilingi oleh organisasi-organisasi massa, baik secara informal maupun secara formal. Tali pengikat tersebut, terjalin antara kelompok maupun organisasi massa dan berupa sekte atau ideologi tertentu.

Politik aliran, baik diakui maupun tidak, akan mempunyai kekuatan tersendiri dalam lembaga politik. Sebuah aliran akan mengembangkan tujuannya dalam bidang politik di mana massa yang dimilikinya akan menjadi pendukung fanatik sebuah partai politik.

Baca Juga: Pengertian Fanatisme, Ciri, Jenis, dan Dampaknya

Ciri Politik Aliran
Teori politik aliran merupakan wacana yang merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Clifford Geertz pada tahun 1962. Menurut Geertz, politik aliran memiliki karakteristik khas di antaranya,
1. Memiliki afiliasi dengan organisasi tertentu
Suatu organisasi politik, selalu memiliki hubungan dengan organisasi yang berada di negara tersebut. Organisasi yang memiliki afiliasi dengan partai politik memiliki tujuan yang sama dengan partai politik tersebut.

Partai politik yang dibuat, umumnya memang memiliki tujuan agar dapat memberikan ruang kepada anggota untuk dapat berkecimpung di dunia politik. Tokoh-tokoh dominan dari aliran atau organisasi tersebut, akan menjadi tokoh yang dikenal dalam politik aliran yang dibentuk.

2. Dukungan yang hadir berdasarkan suku
Orang-orang yang terlibat dalam politik aliran, dapat menggunakan alasan memiliki suku yang sama. Ikatan dari suku yang sama tersebut, menjadi ketertarikan tersendiri, agar seseorang mau masuk dalam ranah dunia politik.

Saat ini, ada dua daerah di Indonesia yang memiliki kekuatan politik berdasarkan suku, hingga membuat partai khusus untuk daerah tersebut. Kedua daerah tersebut ialah Papua dan Aceh.

3. Memilih sesuai dengan ormas yang diikuti
Terkadang, masyarakat yang terlibat dalam politik praktis tidak memilih berdasarkan dengan pilihannya sendiri. Akan tetapi mendapatkan pengaruh dari beberapa pihak.

Contohnya seperti golongan ormas tertentu yang memiliki banyak anggota, secara tidak langsung maka ormas tersebut berharap bahwa anggotanya akan memiliki politik dengan aliran yang sama dengan ormas yang diikuti.

4. Mencari dukungan
Ciri keempat dari politik aliran adalah untuk mencari dukungan. Pada dasarnya, politik aliran hadir atau dibuat oleh suatu kelompok demi mendapatkan dukungan yang pasti dari anggota kelompok, organisasi atau aliran yang mereka ikuti.

Hal tersebut diharapkan, agar membuat partai politik yang dibuat oleh organisasi tersebut terus eksis untuk menyuarakan pendapat dan meraih tujuan dari organisasi tersebut.

Faktor Penyebab Politik Aliran
Clifford Geertz mengelompokkan beberapa sumber politik yang kemudian ia sebut sebagai politik aliran dan menjadi ciri dari perpolitikan di Indonesia pada masa itu. Pengelompokan yang dimaksud bersumber dari etnis, agama, kedaerahan dan lainnya. Pengelompokan-pengelompokan tersebut, terjadi karena pada pasca kemerdekaan, masyarakat mengalami pembelahan sosial yang cukup tajam.

Pada masa pasca kemerdekaan, masyarakat tidak hanya terbelah berdasarkan beberapa kelompok tertentu, akan tetapi juga terjadi pada sistem kepartaian. Sehingga, hadirlah partai-partai yang memiliki ideologi yang berbeda-beda sesuai dengan aliran masing-masing.

Sehingga, partai politik pada masa itu pun memiliki basis massa yang berbeda-beda. Geertz juga berpendapat, bahwa politik aliran yang muncul di Indonesia ini tidak terlepas dari akar budaya sekaligus keagamaan pada masyarakat Indonesia di tahun 1950 an. Hadir kultur-kultur yang ikut mewarnai afiliasi politik di Indonesia dan menyebabkan politik di Indonesia tidak berimbang.

Kemudian Geertz menjelaskan pula bahwa politik aliran semakin menguat di masa Orla, dimulai dari pemanfaatan dari kesetiaan primordial demi kepentingan politik semata. Geertz menilai bahwa politikus Indonesia saat itu, menggunakan kesetiaan primordial sebagai dasar kesetiaan politik.

Baca Juga: Pengertian Primordialisme, Sebab, Ciri, Jenis, dan Dampaknya

Selain faktor-faktor yang dijelaskan oleh Geertz, politik aliran hadir di Indonesia karena disebabkan oleh beberapa hal berikut di antaranya,
1. Adanya kepentingan organisasi
Organisasi sosial mulai ingin memasuki dunia politik dengan caranya masing-masing serta memiliki kekuatan besar, umumnya akan memilih untuk membuat organisasi politiknya sendiri. Suatu aliran yang memiliki prinsip pun ingin menerapkan prinsipnya tersebut pada ruang lingkup yang lebih luas.

Keinginan organisasi maupun aliran yang ingin mendapatkan ruang lingkup yang lebih besar, membuat hadirnya politik aliran dan membuat golongan tertentu lebih mudah untuk mencapai tujuannya masing-masing.

2. Ada tujuan yang ingin dicapai
Politik aliran muncul karena setiap organisasi, aliran atau kelompok memiliki tujuannya masing-masing baik di dalam maupun di luar urusan politik. Ketika organisasi, aliran atau kelompok tersebut terbentuk, maka tokoh dan anggotanya telah memutuskan beragam tujuan yang ingin dicapai bersama.

Tujuan tersebut, biasanya tidak jauh berbeda dengan tujuan dari organisasi, aliran atau kelompok yang menjadi latar belakang dari terbentuk organisasi tersebut.

3. Memetakan suara
Adanya politik aliran diharapkan dapat dengan mudah ketika memperkirakan jumlah dukungan pada suatu partai politik. Pada masa-masa pasca kemerdekaan, di mana partai politik mulai berubah, setiap partai politik memiliki informasi yang minim, sehingga akan sulit untuk memetakan suara.

Akan tetapi dengan hadirnya politik aliran, yang basisnya adalah anggota organisasi yang berafiliasi dengan partai, maka partai politik pun akan lebih mudah untuk memetakan pemilih. Akan tetapi, pemetaan suara ini tentu berbeda dengan apa yang terjadi masa kini, sebab politik aliran kini hanya berlaku untuk beberapa organisasi, aliran maupun golongan besar saja.

Dampak Politik Aliran
Politik aliran yang hadir di Indonesia ini tentu menghadirkan beberapa dampak di antaranya,
1. Organisasi masyarakat dengan organisasi politik menjadi tercampur aduk
Terkadang, organisasi masyarakat yang berdiri dengan latar belakang yang sama dengan organisasi politik membuat masyarakat dan oknum-oknum menjadi kesulitan untuk membedakan keduanya. Campur aduk antara organisasi masyarakat dengan organisasi politik membuat kebijakan pemerintah menjadi kurang didukung oleh masyarakat.

2. Edukasi politik melalui komunitas tertentu
Politik aliran tidak hanya memberikan dampak negatif bagi masyarakat, akan tetapi juga memberikan dampak positif. Salah satunya adalah dapat memberikan edukasi melalui komunitas-komunitas tertentu.

Setiap organisasi masyarakat, akan memiliki andil untuk mengenalkan politik pada masyarakat dan para anggotanya. Politik aliran hadir juga, untuk memberikan penjelasan serta edukasi kepada anggota. Sehingga anggota dari suatu organisasi masyarakat dapat lebih mengenal dan melek politik praktis.

3. Membuat masyarakat lebih tertarik pada politik
Dengan politik aliran, partai politik atau organisasi politik tentu akan membutuhkan sumber tenaga manusia guna menjalankan usaha-usahanya. Organisasi politik akan tersebut berusaha untuk membina anggota maupun masyarakat agar mampu membantu jalannya politik praktis.

Semakin banyak masyarakat yang mengenal dan melek politik, maka semakin banyak pula masyarakat yang ingin mulai belajar dan mengenal dunia politik.

4. Membentuk masyarakat yang bersikap fanatik
Sayangnya, kehadiran politik aliran ini dapat berdampak negatif pula pada masyarakat. Sebab, pemetaan yang dibuat oleh politik aliran dapat membuat masyarakat menjadi fanatik pada politik aliran tersebut.

Masyarakat yang fanatik, cenderung bersikap buta dan tidak bisa membedakan salah atau benar yang dilakukan oleh tokoh-tokoh partai politik dukungannya. Selain itu, masyarakat fanatik juga cenderung selalu mendukung politik alirannya.

Dukungan yang berlebihan tersebut, bahkan bisa membuat kelompok atau aliran lainnya menjadi kurang nyaman, sehingga tak jarang pula dapat menyebabkan kesalahpahaman.

5. Memilih partai tertentu, karena ormas yang diikuti atau didukung
Ketika masyarakat memercaya organisasi tertentu, tak jarang masyarakat akan selalu mengikuti arah yang diberikan oleh organisasi yang ia dukung atau ikuti. Contohnya, ketika ada wakil presiden yang berasal dari kalangan tertentu di masyarakat, maka kebanyakan masyarakat dengan golongan yang sama dengan wakil presiden tersebut akan mendukung wakil presiden.

6. Mampu meningkatkan kesetiaan, kesatuan serta moral kelompok
Hadirnya politik aliran tentu akan menguntungkan bagi kelompok atau organisasi yang memiliki afiliasi dengan partai politik dan juga sebaliknya. Organisasi yang besar dan memiliki afiliasi dengan partai politik akan tampak lebih bertahan, dibandingkan dengan organisasi masyarakat yang tidak memiliki afiliasi dengan partai politik.

Sehingga, organisasi tersebut akan memiliki dampak positif dari politik aliran, yaitu untuk mengukuhkan patriotisme serta nasionalisme.

7. Memberikan perlindungan pada perubahan
Dengan politik aliran, maka masyarakat dapat mencegah hadirnya instrumen dari asing ke dalam kebudayaan yang dimiliki oleh suatu negara.

8. Menimbulkan konflik yang terjadi antar suku
Karena hadirnya perbedaan pada aliran-aliran, etnis, organisasi dan kepercayaan maka tak jarang politik aliran justru menimbulkan konflik antar suku. Sebab suku satu dengan lainnya akan menganggap bahwa aliran atau etnis miliknya lebih baik dibandingkan dengan aliran atau suku yang lain.

Konflik ini, juga terjadi di antara mayoritas dan minoritas di Indonesia.

Contoh Politik Aliran
Contoh adanya politik aliran di Indonesia di antaranya,
1. PKB dengan NU
Organisasi politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang kini dikenal oleh banyak orang dan menjadi salah satu partai pengusung pemilu 2019. Organisasi ini jelas merupakan organisasi yang dibuat berdasarkan aliran, dalam hal ini merupakan organisasi masyarakat Islam yang bernama Nahdatul Ulama.

Para petinggi organisasi ini membuat politik identitas kepartaian dengan bertujuan untuk memberikan wadah bagi para pengikutnya.

2. PNI dengan abangan
Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dibuat diawal-awal kemerdekaan. Organisasi ini dibuat juga berdasarkan aliran di masyarakat. Aliran yang dimaksud ialah kaum abangan. Mereka juga termasuk dalam orang Islam dalam identitas Kartu Tanda Penduduk (KTP). Organisasi ini dahulu cukup eksis dan dikenal oleh banyak orang.

3. Aliran Sunni dengan Syiah
Negara Islam seperti di daerah timur tengah dalam berpolitik tentu saja menggunakan contoh politik identitas. Konflik yang terjadi di beberapa negara timur tengah ialah konflik golongan Sunni dengan Syiah. Dua golongan ini sama-sama ingin menjadi yang paling kuat di daerah tersebut dengan alasan agama namun dengan menggunakan cara politik.

4. PKI dengan penganut komunisme
Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibuat oleh kelompok komunisme. Golongan ini juga ingin menyebarkan paham komunis kepada masyarakat Indonesia. Tindakan anarkis yang dilakukan oleh oknum penganut komunisme sehingga paham ini banyak di tolak oleh masyarakat. Saat ini organisasi ini sudah hilang karena dianggap menyimpang.

Sumber:
https://www.sosial79.com/2020/04/politik-aliran-sektarian.html
https://www.gramedia.com/literasi/politik-aliran/
https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/pengertian-ciri-ciri-dan-faktor-politik-aliran-21ccQTaFeDF
https://dosensosiologi.com/politik-aliran/

Download

Lihat Juga:

Fase F (Kelas XI):
Materi Sosiologi Kelas XI (Fase F) CP 1:
Materi Sosiologi SMA Kelas XI Bab 1: Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)
Materi Sosiologi SMA Kelas XI Bab 2: Permasalahan Sosial Akibat Pengelompokan Sosial (Kurikulum Merdeka)

Materi Sosiologi Kelas XI (Fase F) CP 2:
Materi Sosiologi SMA Kelas XI Bab 3: Konflik Sosial (Kurikulum Merdeka)
Materi Sosiologi SMA Kelas XI Bab 4: Membangun Harmoni Sosial (Kurikulum Merdeka)

1. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 4.1 Konflik, Kekerasan, dan Perdamaian (Kurikulum Revisi 2016)
2. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 4.2 Konflik, Kekerasan, dan Perdamaian (Kurikulum Revisi 2016)
3. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 4.3 Konflik, Kekerasan, dan Perdamaian (Kurikulum Revisi 2016)
4. Materi Sosiologi Kelas XI. Bab 4. Konflik, Kekerasan, dan Upaya Penyelesaiannya (Kurikulum 2013)
5. Materi Sosiologi Kelas XI. Bab 2. Konflik dan Integrasi Sosial (KTSP)
6. Materi Ujian Nasional Kompetensi Konflik Sosial dan Integrasi Sosial     
7. Materi Ringkas Konflik Sosial dan Integrasi Sosial

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment for "Politik Aliran: Pengertian, Ciri, Penyebab, Dampak, dan Contohnya"