Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gangguan Depresi Mayor: Pengertian, Gejala, Penyebab, Jenis, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

Pengertian Gangguan Depresi Mayor
Gangguan Depresi Mayor
Pengertian Gangguan Depresi Mayor
Gangguan Depresi Mayor (GDM) atau Major Depressive Disorder (MDD) adalah gangguan mental yang ditandai dengan setidaknya dua minggu mood rendah yang hadir di sebagian besar situasi. Hal ini sering disertai dengan rendah diri terus-menerus, kehilangan minat dalam kegiatan normal menyenangkan (anhedonia), dan semangat yang rendah.

Gangguan ini memiliki nama lain yaitu depresi, depresi mayor, gangguan afektif depresi mayor, depresi unipolar, gangguan unipolar, atau gangguan mood unipolar. Berbeda dengan depresi bipolar yang mengacu pada keadaan yang terombang-ambing antara episode depresi dan mania.  Sebaliknya, depresi unipolar hanya berfokus pada simtom dan emosi negatif yang pernah dialami.

Menurut Biro Sensus Populasi AS dalam Karakteristik Demografis tahun 2005, rata-rata usia munculnya gangguan depresi adalah pada usia 32 tahun. Data pasien berdasarkan Journal of American Medical Association, depresi memiliki angka sebesar 20-26% untuk wanita dan 8-12% untuk pria di Amerika Serikat.

Berdasarkan data tersebut, wanita dinyatakan lebih memiliki risiko untuk mengalami gangguan depresi dibandingkan pria. Psychology today juga menyatakan bahwa pernyataan tersebut didukung dengan fakta bahwa wanita mengalami fluktuasi hormon, khususnya pada masa pubertas, persalinan, dan menopause.

Gejala Gangguan Depresi Mayor
Banyak dari gejala gangguan depresi mayor yang terlihat sama, atau setidaknya sangat mirip. Berikut beberapa gejala gangguan depresi mayor yang bisa kita temukan di antaranya,
1. Waktu tidur jadi terganggu
Perubahan waktu tidur adalah gejala pertama yang mungkin bisa diperhatikan ketika berhadapan dengan gangguan depresi mayor. "Beberapa orang mengalami kesulitan tidur atau mungkin terbangun sangat pagi," ujar Pooja Lakshmin, psikiater bersertifikat yang berspesialisasi dalam kesehatan mental wanita dan psikiatri perinatal.

Sementara tanda lainnya, bisa tertidur dengan baik, tetapi bangun sepanjang malam dan tidak merasa tidak mendapatkan istirahat yang cukup di pagi hari.

2. Tidak punya motivasi
"Salah satu tanda gangguan depresi mayor yang jelas adalah tidak lagi menikmati hal-hal yang pernah kita nikmati," jelas Marianna Strongin, pendiri Strong In Therapy. Menurutnya kita akan merasa kurang motivasi.

Misalnya dulunya suka membaca, tapi sekarang tidak ingin membaca lagi, meskipun ada setumpuk buku bagus di samping tempat tidur. Atau tidak ingin bertemu dengan teman, meskipun mereka mengajak jalan-jalan.

3. Merasa tidak nyaman dengan hal-hal kecil
Kecelakaan di tempat kerja, kemacetan lalu lintas, kehilangan kunci atau lupa menaruh sesuatu, hal-hal ini mungkin akan terasa mengganggu, tetapi tidak sampai menimbulkan rasa putus asa.

“Namun, jika gangguan depresi mayor mulai muncul, kita mungkin "mulai percaya bahwa tidak ada yang akan lebih baik atau berubah," jelas Sheila Tucker, terapis asosiasi perkawinan dan keluarga dan pemilik Heart Mind & Soul Counseling.

4. Semua terasa sulit dilakukan
Perasaan yang terjadi pada gangguan depresi mayor dapat membuat segalanya terasa sulit, mulai dari bangun, untuk mandi atau menyikat gigi, pergi bekerja, untuk mengirim pesan teks ke teman, hingga memasak makan malam. Semuanya akan terasa sulit untuk dilakukan.

5. Kehilangan nafsu makan
Meskipun mungkin terdengar tidak berkaitan dengan gangguan depresi mayor, perhatikan sedikit perubahan pada kita, seperti kurangnya nafsu makan, meskipun dihadapkan dengan makanan favorit kita.

"Depresi dapat menyebabkan perubahan besar dalam nafsu makan," kata Pooja Lakshmin. Kita akan merasa tidak peduli dengan apa yang dimakan, meskipun kita termasuk suka makan.

6. Tidak Sabaran
Gangguan depresi mayor membuat keadaan kita terkuras secara emosional, dan sejak awal, kita mungkin menunjukkan tanda-tanda penurunan cadangan emosional, sehingga kehilangan kesabaran.

Kita bisa membentak rekan kerja atau merasa tidak sabar dengan anggota keluarga. Mungkin lebih banyak berdebat dengan pasangan. Tanda lainnya seperti merasa sering panik dan khawatir, tidak peduli keadaan sekitar dan lebih sering menyendiri.

Penyebab Gangguan Depresi Mayor
Tidak diketahui dengan pasti sebenarnya apa yang menyebabkan gangguan depresi mayor. Seperti halnya banyak gangguan mental lainnya, berbagai faktor bisa jadi penyebabnya, seperti beberapa di antaranya,
1. Perbedaan Biologis
Orang yang menderita gangguan depresi mayor tampaknya memiliki perubahan fisik di otak mereka. Signifikansi dari perubahan ini masih belum pasti, tetapi pada akhirnya dapat membantu menentukan penyebabnya.

2. Bahan Kimia Otak
Neurotransmitter adalah bahan kimia otak yang muncul secara alami, dan kemungkinan berperan dalam gangguan depresi mayor.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan fungsi dan efek neurotransmiter ini berperan dalam menjaga stabilitas suasana hati. Pada akhirnya, ini dapat memainkan peran penting dalam depresi dan perawatannya.

3. Hormon
Perubahan keseimbangan hormon tubuh juga bisa menyebabkan dan memicu gangguan depresi mayor. Perubahan hormon dapat terjadi dalam kehamilan dan beberapa minggu atau bulan setelah melahirkan (postpartum) dan dari masalah tiroid, menopause, atau sejumlah kondisi lainnya.

4. Sifat Bawaan
Gangguan depresi mayor lebih sering terjadi pada orang yang kerabat darahnya juga mengalami kondisi ini. Para peneliti mencoba menemukan gen yang mungkin terlibat dalam menyebabkan depresi.

Jenis Gangguan Depresi Mayor
Mengutip buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima, adapun kriteria diagnosis untuk gangguan depresi mayor terbagi menjadi beberapa jenis di antaranya,
1. Depresi mayor melankolis (melancholia)
Penderita yang mengalami depresi melankolis sering menunjukkan tanda-tanda depresi yang paling khas termasuk penurunan berat badan dan penurunan minat dalam aktivitas yang pernah mereka sukai. Anda mungkin mengalami suasana hati yang tertekan seperti setelah kehilangan seseorang yang Anda cintai atau kesedihan yang mendalam.

2. Depresi mayor dengan fitur atipikal
Penderita yang memiliki depresi atipikal bisa mengalami peningkatan mood sebagai respons terhadap kondisi dan kejadian positif. Depresi atipikal sering berhubungan langsung dengan suasana hati kamu dan interaksi dengan orang lain. Gejalanya meliputi hipersomnia, peningkatan berat badan, dan kecemasan sosial.

3. Depresi mayor dengan fitur psikotik
Depresi psikotik sering berkembang jika penderita telah berhalusinasi atau percaya pada delusi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Ini dapat disebabkan oleh peristiwa traumatis atau jika Anda pernah mengalami depresi di masa lalu.

4. Depresi mayor dengan fitur katatonia
Penderita depresi katatonik, kemungkinan besar mengalami masalah motorik dan masalah perilaku. Penderita mungkin tidak dapat bergerak atau memiliki gerakan yang tidak disengaja.

Menurut US National Library of Medicine National Institute of Health, ini adalah “gangguan psikotik yang menghadirkan risiko signifikan bagi kesejahteraan pasien, serta penghalang tambahan untuk mengobati gangguan yang mendasarinya. Tanda dan gejala katatonia sangat mengganggu aktivitas penting kehidupan sehari-hari”.

Pengobatan Gangguan Depresi Mayor
Gangguan depresi mayor adalah kondisi yang sangat bisa diobati. Terdapat beberapa metode pengobatan untuk gangguan depresi mayor, antara lain psikoterapi, ECT (electroconvulsive treatment), dan terapi somatik lainnya. Namun, ECT hanya digunakan pada kondisi yang ekstrem.

Psikiater dapat memberikan layanan psikoterapi dan memberikan resep antidepresan yang berbeda berdasarkan kebutuhan individu.

Jika kamu merasa mengalami gejala di atas, sesegera mungkin mencari bantuan dengan menghubungi seorang profesional. Terdapat banyak informasi tentang depresi dan ahli profesional yang mampu membantu seseorang menghadapi depresinya. Berbicara dengan konselor atau profesional adalah langkah pertama untuk menjalani hidup yang lebih baik dan memuaskan.

Cara mencegah Gangguan Depresi Mayor
Setelah rutin melakukan pengobatan dengan psikiater yang dikombinasikan dengan terapi obat, dokter akan merekomendasi untuk melakukan dalam perubahan gaya hidup dan perilaku di antaranya,
1. Rutin berolahraga
Rutin berolahraga merupakan cara untuk menyiasati agar tidak mudah memiliki perasaan negatif. Beberapa bentuk olahraga dapat membantu meningkatkan mood seperti dengan berjalan kaki selama 30 menit setiap hari dapat membuat mood Anda lebih baik.

Terdapat beberapa bukti yang menunjukkan bahwa endorfin, zat kimia alami yang membuat merasa baik, dapat ditingkatkan dengan melakukan olahraga setiap hari. Hal ini memberi dampak positif dalam jangka panjang untuk mereka yang sering mengalami depresi dan mendorong otak untuk berpikir secara positif.

2. Makan yang bergizi
Makanan bergizi bermanfaat bagi pikiran dan tubuh Anda, dan meskipun tidak ada makanan yang dapat menyembuhkan depresi, pilihan makanan sehat tertentu dapat bermanfaat bagi kesehatan mental Anda.

Pilihlah makan makanan yang:
a. Mengandung asam lemak omega-3, seperti salmon
b. Kaya akan vitamin b, seperti kacang-kacangan dan biji-bijian
c. Dengan magnesium, yang ditemukan dalam kacang-kacangan, biji-bijian, dan yogurt
d. Hindari alkohol dan makanan olahan tertentu

Ini bermanfaat untuk menghindari alkohol karena itu adalah depresan sistem saraf yang memperburuk gejala depresi tersebut.

3. Tidur yang cukup
Sangat penting untuk mendapatkan tidur yang cukup setiap malam, yang biasanya berkisar antara 7 hingga 9 jam. Orang dengan depresi sering mengalami kesulitan tidur. Hindari segala distraksi, seperti komputer, TV, handphone sebelum tidur agar mempermudah untuk tidur.

Kemudian, minum secangkir susu hangat atau mandi sebelum tidur adalah ide yang baik untuk mengurangi depresi. Bicarakan dengan dokter jika mengalami kesulitan tidur atau tidur berlebihan.

4. Menjalin hubungan sosial dengan orang lain
Menjalin hubungan dengan orang lain merupakan bagian dari sistem pendukung yang kuat dan kehidupan sosial yang aktif penting untuk kesehatan mental kita. Penelitian telah menunjukkan bahwa memiliki dukungan sosial yang “memadai” dapat melindungi diri dari depresi.

Jadi, pastikan Anda terhubung secara teratur dengan teman dan keluarga, bahkan ketika sibuk.

5. Mengurangi pemakaian sosial media
Kurangi waktu penggunaan sosial media Penelitian telah menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan media sosial dapat menyebabkan depresi dan harga diri yang rendah. Dengan membatasi waktu media sosial dapat membantu mencegah depresi.

Cara untuk mengurangi waktu pemakaian sosial media seperti menghapus semua aplikasi sosial media dari ponsel.

6. Meditasi
Bermeditasi mampu memberikan sensasi ketenangan yang bisa membantu untuk mengatasi stres dan depresi. Cobalah untuk melatih pernapasan dalam dan relaksasi otot ketika melakukan meditasi.

7. Lakukan Apa yang Anda Senangi
Cara mencegah datangnya depresi dengan melakukan apa yang Anda senangi. Meski sulit, lakukanlah hal-hal yang menjadi hobi. Apa pun hobi kamu, seperti bermusik, melukis, merajut, menulis, berenang, coba lakukanlah secara bertahap.

Dengan begitu, Anda dapat mengembalikan semangat yang sudah lama terkubur.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Gangguan Depresi Mayor: Pengertian, Gejala, Penyebab, Jenis, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya"