Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Egosentrisme: Pengertian, Faktor yang Mendasari, Ciri Khas, dan Contohnya

Pengertian Egosentrisme
Egosentrisme
Pengertian Egosentrisme
Egosentrisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sifat dan kelakuan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala hal. Egosentrisme sebagai kualitas atau keadaan seseorang menjadi egosentris yaitu, perhatian yang berlebihan pada diri sendiri dan berfokus untuk kesejahteraan atau keuntungan sendiri dengan mengorbankan atau mengabaikan orang lain.

Egosentrisme merupakan konsep yang berasal dari teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Egosentrisme dalam hal ini memiliki makna diferensiasi yang tidak sempurna antara diri (the self) dengan dunia di luar diri (the world),termasuk orang lain; kecenderungan individu untuk melihat (perceive), memahami (understand), dan menafsirkan (interpref), dunia menurut pandangan dirinya.

Egosentrisme juga bisa diartikan sebagai ketidakmauan seseorang untuk melihat dari perspektif orang lain, yang meliputi gagalnya seseorang untuk menarik kesimpulan dari apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilihat orang lain, anak egosentris menghubungkan mereka dengan perspektifnya sendiri. Ketidakmampuan untuk mengurangi dari perspektif sendiri menghasilkan kebingungan egosentris dari perspektif sosial.

Prevalensi egosentrisme pada individu telah ditemukan untuk mengurangi antara usia 15 dan 16 (Louw, 1998). Namun, orang dewasa juga rentan menjadi egosentris atau memiliki reaksi atau perilaku yang dapat dikategorikan sebagai egosentris (Tesch, Whitbourne & Nehrke, 1978 dalam anonymous, 2012).

Frankenberger (2000) diuji remaja (14-18 tahun) dan dewasa (20-89) pada tingkat mereka egosentrisme dan kesadaran diri. Ditemukan bahwa kecenderungan egosentris telah diperpanjang sampai awal masa dewasa dan bahwa kecenderungan ini juga hadir di tahun-tahun dewasa tengah.

Egosentrisme Menurut Para Ahli
1. Kamus istilah psikologi, egosentrisme menyangkut diri sendiri, keasyikan terhadap diri sendiri.
2. Jean Piaget, egosentrisme merupakan ketidakmampuan memahami bahwa orang lain juga mempunyai kepentingan atau pandangan yang mungkin berbeda dengan yang dimilikinya.
3. Shaffer (2009), egosentrisme sebagai kecenderungan untuk memandang dunia dari perspektif pribadi seseorang tanpa menyadari bahwa orang lain bias memiliki sudut pandang yang berbeda.

Faktor yang Mendasari Egosentrisme
Berikut beberapa hal yang mendasari konsep egosentrisme kognitif di antaranya,
1. Adanya rasa takut
Salah satu bentuk setiap orang bersikap egois diakibatkan karena rasa ketakutan, contohnya ketakutan terhadap kedekatan dengan orang lain, adanya penolakan, ditinggalkan atau dicampakkan sehingga hal tersebut menjadi rasa ketakutan secara menyeluruh terhadap proses kehidupan.

Akibat rasa takut inilah yang tertanam dalam diri seseorang dan akhirnya menyebabkan ia takut untuk berhubungan dengan orang lain atau keluarganya, sehingga hanya merasa peduli pada keselamatan dirinya sendiri.

2. Kepribadian yang kurang matang
Konsep egosentrisme kognitif yang mendasar lainnya yaitu peranan orang tua yang terlalu memanjakan anak dengan terlalu melindungi dan memberikan segala hal yang ia mau. Akibatnya anak yang manja menjadi tidak toleran, tidak mampu untuk mengatasi masalah, sangat bersikap egois dan egosentris.

Anak dan seseorang hanya peduli pada orang yang memedulikan mereka, sikap yang kurang sabar, serta tidak toleran pada orang lain, rasa kurang percaya diri, memiliki fantasi merasa lebih hebat dari orang lain dan selalu ingin menjadi pusat perhatian di lingkungan sekitarnya.

3. Sifat manja dan kekanak-kanakan
Pada beberapa anak belum memiliki tingkah laku matang bahkan untuk tingkat yang paling sederhana dan mendasar. Penyebabnya yaitu karena keterbelakangan, gangguan proses bicara dan gangguan pada tahap kembang belajarnya.

Sebab itu, anak menjadi egois karena belum mampu memahami dan belajar rasa peduli terhadap kepentingan orang lain. Serta anak belum termotivasi untuk mengetahui bagaimana merasakan perasaan orang lain serta belum mampu mempelajari nilai kepedulian pada diri orang lain dan sekitarnya.

4. Intelegensi
Konsep egosentrisme kognitif dapat dilihat dari inteligensi konsep abstrak, yang diukur secara tidak langsung dalam mencakup contoh pada kemampuan verbal, keterampilan memecahkan suatu masalah, kemampuan belajar serta kemampuan menyesuaikan diri terhadap pengalaman hidup sehari-hari.

Salah satu perilaku yang merupakan indikasi inteligensi dapat berbeda-beda antara satu budaya dengan lainnya, hal inilah yang menumbuhkan egois muncul dan akan bertambah jika tidak diatasi dengan didikan dan pengetahuan yang baik.

5. Karena merasa menjadi superior
Umumnya anak karena merasa superior, maka anak egosentris berharap orang menunggunya, memujinya, dan percaya diri tinggi akan peran sebagai pimpinan. Hal ini menjadikan mereka merasa sok berkuasa, tidak peduli terhadap orang lain dan sekitarnya, sulit untuk bekerja sama dan sibuk berbicara mengenai diri sendiri. Hal ini tentu menjadi satu gejala bahwa ia memiliki rasa egois yang tinggi.

6. Merasa dirinya inferior
Salah satu sifat egois yang bisa dilihat pada anak yaitu menjadi individu yang memfokuskan semua permasalahan kepada diri sendiri. Anak yang demikian biasanya sangat mudah untuk dipengaruhi dan selalu mau disuruh oleh orang lain.

Karena dirinya merasa bahwa tidak memiliki kemampuan yang baik dalam kelompok bermain dan belajar. Hal ini yang menjadi penyebab anak sering kali merasa diabaikan atau bahkan mereka tidak disukai.

7. Merasa dirinya adalah korban
Satu lagi contoh konsep egosentrisme kognitif yaitu adanya perasaan tidak diperlakukan secara adil sehingga mereka marah kepada semua orang. Akibatnya, anak akan menunjukan kemarahannya secara agresif dan berlebihan, baik terhadap orangtua, dan lingkungan sekitarnya. Hal ini tentu harus diatasi dengan pola pendidikan, teladan dan pengetahuan yang baik dan tepat.

Ciri Khas Kepribadian Egosentris
Berikut beberapa karakteristik orang yang egois di antaranya,
1. Citra diri yang terdistorsi
a. Kepercayaan diri yang salah
Meskipun citra eksternal egosentris mungkin tampak seperti kepercayaan diri yang besar, kenyataannya berbeda. Orang egosentris sebenarnya seringkali tidak aman. Menurut psikolog Jerman Erich Fromm, hal ini disebabkan oleh mekanisme pertahanan (1991).

Mereka memproyeksikan kepercayaan diri yang dibuat-buat dan tampak yakin akan semua yang mereka katakan, itulah sebabnya mereka dapat menjadi persuasif dan dapat bertindak seolah-olah mereka memiliki harga diri yang tinggi.

b. Harga diri yang berlebihan
Teramati bahwa mereka menghargai diri sendiri secara berlebihan. Namun, peneliti D.M. Svarkic berpendapat bahwa sikap ini mungkin menunjukkan hal yang sebaliknya: harga diri yang rapuh yang coba mereka kompensasi melalui upaya untuk dihormati, diakui, dan dikagumi oleh orang lain.

c. Perasaan hebat
Orang yang egosentris percaya bahwa dia memiliki bakat dan kemampuan khusus yang hebat, dan berpikir bahwa masalah dan kebutuhan mereka hanya dapat diurus oleh orang-orang dengan kapasitas dan prestise yang besar. Lingkungan orang egosentris biasanya menggunakan beberapa ekspresi untuk merujuk pada sikap ini, seperti “seseorang percaya divo / a”.

d. Ambisi dan ekspektasi yang berlebihan
Sebagai hasil dari perasaan mereka yang hebat, orang-orang yang egois dapat terus-menerus fokus pada fantasi mereka tentang kekuasaan, kesuksesan, cinta, seks, dan sebagainya. Tidak jarang mereka berpikir bahwa setiap saat kehidupan profesional mereka akan berkembang dan mereka akan menjadi jutawan.

e. Distorsi realitas
Orang egosentris hanya menerima kenyataan yang sesuai dengan impiannya tentang keagungan. Anda cenderung tidak percaya atau hanya menolak aspek-aspek kehidupan Anda yang mempertanyakan prestise dan citra Anda sebagai orang yang sempurna dan mengagumkan.

2. Empati kecil
a. Tidak mampu mengenali perasaan orang lain
Manifestasi yang buruk dari perasaan dan sikap afektif terhadap orang-orang di sekitar mereka (menunjukkan kepekaan akan membuat mereka merasa rendah diri) kontras dengan kebutuhan egosentris untuk dikagumi, disanjung dan dihormati. Dia tidak terlalu peka terhadap orang lain.

b. Kesulitan dalam menilai karakteristik pribadi orang-orang di sekitar mereka
Poin ini menghasilkan kurangnya komitmen, empati dan kasih sayang antara orang egosentris dan kerabat mereka.

3. Hipersensitif terhadap evaluasi orang lain
a. Bereaksi secara berlebihan terhadap kritik yang diterima
Meskipun mungkin tidak mengungkapkannya secara langsung, individu dengan kepribadian egosentris sangat mungkin merasa tersinggung oleh kritik apa pun (Kohut, 1972). Dia menganggap bahwa orang lain tidak memiliki level atau otoritas yang cukup untuk menghakiminya, dan bahwa kritik itu mungkin karena rasa iri yang dia bangkitkan. Mereka cenderung sangat rentan.

b. Membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa iri
Anda khawatir tentang merasa dihargai lebih baik dari orang lain. Secara tidak langsung, orang yang egosentris mengungkapkan perasaan iri, karena tidak mampu menerima kesuksesan orang lain. Mereka juga tidak dapat menerima bantuan orang lain. Poin terakhir ini paradoks, karena meskipun mereka perlu menerima pujian dan rasa hormat dari orang lain, mereka tidak dapat menerima bantuan apa pun.

4. Kesulitan dalam hubungan interpersonal
a. Eksibisionisme
Kepribadian egosentris juga terwujud dalam sikap tertentu seperti motivasi untuk senang disanjung dan dikagumi. Hal ini sering terlihat dalam keinginan yang berlebihan untuk mengharapkan penghargaan dengan pujian dari orang lain, serta kebutuhan akan perhatian yang berkelanjutan.

Untuk alasan ini, mereka cenderung menunjukkan kecenderungan besar untuk menduduki posisi reaksi publik, dari mana mereka dapat menjadi objek perhatian dan kekaguman (Akhtar dan Thompson, 1982).

b. Perasaan memiliki hak atas orang lain
Ini menyiratkan bahwa orang egosentris percaya bahwa dia memiliki hak untuk menerima perlakuan istimewa dan hak istimewa tertentu sehubungan dengan orang lain. Ini memanifestasikan dirinya dalam menampilkan kesombongan, kesombongan, dan pada saat hak istimewa dan tunjangan tertentu diminta.

c. Machiavellianisme
Machiavellianisme didefinisikan sebagai kecenderungan menggunakan orang lain untuk keuntungan pribadi. Perilaku ini memperkuat perasaan iri yang kuat pada orang yang egosentris, dan dia hanya tertarik pada orang lain sejauh dia dapat menggunakannya untuk mendapatkan sesuatu sebagai balasannya.

d. Kontrol atas orang lain (manipulasi)
Kepribadian egosentris membutuhkan kuota kekuatan yang tinggi untuk dapat mengimbangi perasaan tidak aman yang mendasarinya. Individu egosentris mencoba memaksa orang lain untuk memberikan kekaguman tanpa syarat melalui kontrol atas ide, tindakan, atau perilaku mereka; melalui manipulasi atau pemerasan emosional.

e. Distorsi dalam ekspresi verbal
Karakteristik ini biasa disebut sebagai “egosentrisitas bahasa”. Tujuan akhir dari bahasa berbasis ego adalah mencoba mengesankan dan meningkatkan harga diri Anda sendiri. Fungsi komunikatif bahasa mengambil tempat duduk belakang. Gaya komunikatif ditandai dengan fokus yang konstan pada diri sendiri, dan dengan tidak dapat mendengarkan lawan bicara.

f. Kesepian dan pesimis
Orang egosentris, akhirnya, dicirikan oleh penderitaan perasaan kehampaan dan kesedihan. Kesepian adalah salah satu akibat dari kepribadian egosentris, karena sedikit demi sedikit mereka ditolak oleh orang-orang dekat (teman, keluarga, rekan kerja).

Contoh Egosentrisme
Berikut beberapa contoh egosentrisme pada anak yang dapat diketahui di antaranya,
1. Tidak Mau Mengalah
Terkadang ada pola sikap dari anak usia dini memiliki tingkah tidak mau mengalah. Terutama pada kasus anak yang memiliki adik atau kakak yang usianya tidak jauh berbeda, atau sesama temannya. Contoh pada saat anak bermain yang tidak mau mengalah dalam memperebutkan mainan.

Tingkah laku ini terkadang membuat orang tua merasa tidak sabar atau kesal, namun itulah sikap dasar anak – anak yang tidak tahu apa itu baik dan apa itu tidak baik.

2. Iri dan Cemburuan
Contoh egosentrisme pada anak lainnya adalah sikap cemburu dan iri yang memang dimiliki setiap anak usia dini. Contohnya pada saat anak merasa cemburu karena tidak diperhatikan, cemburu melihat ada anggota keluarga baru seperti memiliki adik baru, atau iri melihat teman atau saudaranya memiliki mainan baru dan sebagainya. Sikap ini memang sangat natural dimiliki anak – anak, karena ketidaktahuannya tentang arti dari sikap cemburu dan iri.

3. Tantrum
Satu lagi contoh sikap yang biasa diperlihatkan oleh anak – anak adalah sikap yang mudah marah secara berlebihan. Apabila anak tidak diberikan apa yang ia minta atau mau, atau diminta untuk tidak melakukan hal yang tidak boleh maka ia akan bersikap marah dan ngambek.

Pola tantrum pada setiap anak berbeda – beda, ada yang bisa diatasi dengan bujukan, namun ada yang sulit untuk dibujuk. Karena itu orangtua harus pandai dan memiliki tingkat emosi yang tinggi untuk menghadapi tipe anak dengan sikap yang seperti ini.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Egosentrisme: Pengertian, Faktor yang Mendasari, Ciri Khas, dan Contohnya"