Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Retardasi Mental: Pengertian, Ciri, Penyebab, Faktor Risiko, dan Jenisnya

Pengertian Retardasi Mental
Retardasi Mental
Pengertian Retardasi Mental
Retardasi mental adalah gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ-nya di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, penderita butuh banyak waktu dan keterlibatan banyak pihak agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal.

Retardasi mental juga dikenal dengan istilah gangguan intelektual. Retardasi mental dapat terjadi kapan saja, bahkan sebelum anak lahir. Namun, gejala gangguan ini biasanya baru terlihat ketika anak memasuki masa perkembangan, yaitu di usia kurang dari 18 tahun.

Seseorang dengan kondisi yang sering disebut sebagai keterbelakangan mental ini memiliki keterbatasan dalam dua bidang di antaranya,
1. Fungsi intelektual. Juga dikenal dengan IQ, yaitu kemampuan untuk belajar, berpikir, mengambil keputusan dan memecahkan masalah.
2. Perilaku adaptif. Hal ini adalah keterampilan yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti berkomunikasi dengan efektif, berinteraksi dengan orang lain dan merawat diri.

Ciri Umum
Retardasi mental dapat Anda kenali dengan ciri di antaranya,
1. Wajah dan tanda fisik terlihat
Umumnya untuk anak penyandang cacat, khususnya cacat mental mempunyai bentuk muka yang bulat.  Jika dilihat dari sisi samping, maka mukanya cenderung memiliki tampang yang terlihat pipih. Hal ini biasa disebut sebagai “Brachycephaly” (kepala pendek dan lebar). Meskipun tidak semua penderita benar-benar memiliki ciri wajah, biasanya salah satunya. Jika tidak bulat, pipih atau berkepala pendek.

2. Mata yang Berbeda
Setelah wajah, penderita retardasi mental bisa dikenali dari ciri matanya. Mengenai mata hampir semua anak maupun orang dewasa yang retardasi cenderung sipit atau miring ke atas. Penderita juga sering juga ada lipatan kecil dari kulit Epicanthic Fold yang timbul tegak lurus di antara bagian sudut dalam dari mata dan  juga jembatan hidung.

3. Rongga Mulut
Untuk mulut atau rongga mulut, penderita retardasi mental memiliki mulut yang nyatanya lebih kecil dan juga lidah lebih besar yang dari biasanya. Hal ini sebenarnya mendorong untuk memiliki kebiasaan mengeluarkan lidah dan hal ini akan membuatnya terbiasa.  Penyebab Lemah Mental Pada Anak dan Anda sebagai orangtuanya harus teliti

4. Anggota tubuh
Jika melihat anggota tubuh, penderita retardasi mental memiliki tangan yang lebar, sedangkan kaki cenderung pendek dan tebal serta mempunyai sela yang lebar antara jempol kaki dan jari-jari di sebelahnya.

5. Koordinasi anggota tubuh
Seringkali penderita retardasi mental mengalami masalah pada koordinasi. Untuk itu mereka kurang stabil dan juga terkadang seringkali terlihat tidak bisa bergerak dengan benar.  Hal ini bisa terlihat pada anak yang ragu-ragu melangkah dan menggerakkan tangannya.

6. Gaya duduk
Khusus gaya duduk umumnya memang tidak bisa dijadikan patokan. Namun hampir semuanya memiliki cara duduk atau gaya duduk yang hampir sama. Biasanya kedua lututnya mengarah lebar ke depan, sedangkan bagian lutut ke bawah sampai telapak kaki terlipat mengarah ke belakang, masing-masing di sebelah kanan dan kiri pinggang.

7. Sikap dan tingkah laku
Apabila membicarakan mengenai tingkah laku untuk retardasi mental ada dua tipe, yaitu mereka yang terlalu apatis (diam) dan ada juga yang terlalu hiperaktif.

Ciri lain (8-14)
Selain ciri di atas ada lagi ciri yang bisa dikenali untuk mereka yang menderita retardasi mental di antaranya,
1. Adanya keterlambatan dalam tahapan perkembangan baik dari anak-anak hingga ketika mereka dewasa
2. Adanya kesulitan dalam belajar dan kesulitan dalam bersosialisasi, khususnya melakukan pekerjaan umum dan lainnya
3. Tidak mampu memahami/melaksanakan instruksi yang diberikan oleh orang lain
4. Adanya perilaku seksual yang tidak sesuai khususnya ketika penderita masuk ke dalam usia remaja atau masa pubertasnya.
5. Adanya kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari orang dewasa sehingga harus dipandu bahkan hingga harus dibantu.
6. Adanya kesulitan dalam adaptasi sosial (orang dewasa). Terkadang retardasi mental bahkan hingga tidak bisa melakukan kegiatan dasar sendiri seperti makan, buang air dan juga hal lain yang dianggap kegiatan dasar manusia.

Penyebab Retardasi Mental
Mungkin sulit untuk mengidentifikasi penyebab spesifik dari retardasi mental yang dialami seseorang. Namun, kondisi ini biasanya disebabkan oleh gangguan perkembangan otak. Apa pun yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak dapat menyebabkan kondisi ini. Berikut beberapa hal yang menjadi penyebab yang paling sering terjadi dua antaranya,
1. Kelainan Genetik. Kelainan seperti sindrom down dan sindrom fragile X yang diduga memiliki keterkaitan dengan kelainan genetik yang kemudian bisa menyebabkan kondisi ini.
2. Masalah selama Kehamilan. Beberapa kondisi yang terjadi selama kehamilan nyatanya bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak janin. Ini termasuk penggunaan alkohol, konsumsi obat-obatan terlarang, gizi buruk, infeksi, dan preeklamsia.
3. Masalah selama Masa Bayi. Retardasi mental juga bisa terjadi akibat gangguan selama masa kelahiran. Seperti misalnya akibat bayi tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup, atau bayi lahir dalam kondisi yang sangat prematur sehingga paru-paru belum matang secara sempurna.
4. Cedera atau Penyakit Lainnya. Infeksi seperti meningitis, atau campak juga bisa menyebabkan anak mengalami penyakit ini. Cedera kepala berat, keadaan hampir tenggelam, malnutrisi ekstrem, infeksi otak juga merupakan contoh hal-hal yang bisa memicu retardasi mental.

Faktor Risiko Retardasi Mental
Ada beberapa faktor yang nyatanya bisa meningkatkan risiko pada anak di antaranya,
1. Faktor biologis, contohnya saat terjadinya kelainan kromosom pada pengidap sindrom Down.
2. Faktor metabolik, beberapa kelainan metabolik dapat meningkatkan risiko retardasi mental seperti penyakit phenylketonuria (PKU), di mana tubuh tidak dapat mengubah asam amino fenilalanin menjadi tirosin.
3. Faktor prenatal, perawatan pra kelahiran yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit ini pada bayi, contohnya konsumsi alkohol pada kehamilan dan infeksi cytomegalovirus  saat kehamilan.
4. Faktor psikososial, yakni lingkungan rumah dan keluarga yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Terutama tipe sosio-kultural, yang merupakan retardasi mental dengan tingkatan yang ringan.

Jenis Retardasi Mental
Retardasi mental terbagi menjadi 5 jenis (menurut PPDGJ-I) di antaranya,
1. Retardasi mental taraf perbatasan IQ 68 – 85. Beberapa kali tidak naik kelas di SD. Jika mereka sudah masuk ke dalam dunia kerja, maka retardasi mental tidak dapat bersaing dalam mencari nafkah.
2. Retardasi mental ringan IQ 52 – 67. Dapat mencari nafkah secara sederhana dalam keadaan baik. Dapat dilatih dan dididik di sekolah khusus.
3. Retardasi mental sedang IQ 36 – 51. Dapat dilatih dan dapat dididik (Trainable & Educable) sampai ke taraf kelas II – III SD merupakan spesifikasi retardasi mental tingkat sedang, meskipun cirinya hampir mirip dengan Gangguan Mental Pada Anak. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti halnya bekerja yang tentu tidak akan bisa terutama jika mengenai analisa. Kemampuan motorik tetap terganggu dan lainnya.
4. Retardasi mental berat IQ 20 – 35. Dalam tahap ini beberapa anak bisa mengenal bahaya dan tidak bahaya, selain itu retardasi mental dengan IQ ini masih dapat dilatih dan tak dapat dididik.
5. Retardasi mental sangat berat IQ < 20. Untuk skala ini, retardasi mental yang diidap sudah sangat parah. tidak dapat merawat dirinya sendiri. Beberapa Gangguan Mental Organik makan harus disuap. Mandi dan berpakaian harus ditolong, beberapa kegiatan harus benar-benar dipandu sejak awal hingga akhir dan tidak bisa mencontoh atau melakukan berbagai kegiatan sendiri.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Retardasi Mental: Pengertian, Ciri, Penyebab, Faktor Risiko, dan Jenisnya"