Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Panic Attack: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Cara Meredakannya

Pengertian Panic Attack atau Serangan Panik
Panic Attack (Serangan Panik)
Pengertian Panic Attack
Panic attack (serangan panik) adalah suatu perasaan takut yang muncul secara tiba-tiba dan terasa intens, kadang tanpa penyebab yang jelas. Serangan ini tidak dapat diprediksi kapan datangnya. Pada saat terjadi, mungkin jantung ikut berdegup kencang, berkeringat, dan merasa seperti tidak bisa bernapas atau berpikir.

Kondisi ini bisa dialami sesekali dalam hidup, yang biasanya menghilang saat keadaan atau situasi pemicunya berakhir. Namun, jika serangan panik terjadi secara berulang dan untuk jangka waktu yang lama, maka kondisi ini disebut gangguan panik atau panic disorder.

Berdasarkan Anxiety and Depression Association of America, panic attack ini sering terjadi pada akhir fase remaja atau dewasa awal pada usia 18-25 tahun. Menurut penelitian tersebut, lebih banyak perempuan daripada pria yang mengalami panic attack ini.

Gejala Panic Attack
Melansir Mayo Clinic, orang dengan panic disorder mungkin memiliki gejala berikut di antaranya,
1. Berkeringat secara berlebihan
2. Merasa gelisah atau berpikir secara irasional
3. Mulut terasa kering
4. Otot menjadi tegang
5. Merasa sangat takut
6. Gemetar
7. Sesak napas
8. Jantung terasa berdebar
9. Detak jantung meningkat
10. Kram perut
11. Nyeri dada
12. Mual
13. Pusing atau pingsan

Gejala panic attack sering terjadi tanpa alasan yang jelas. Biasanya, gejalanya tidak sebanding dengan tingkat bahaya yang ada di lingkungan. Panic attack dapat berlangsung selama 5-10 menit, namun bisa juga terjadi secara berkesinambungan dalam waktu 2 jam.

Panic attack bisa menakutkan, mengganggu, dan melemahkan. Banyak gejalanya yang serupa juga ditemukan pada sejumlah penyakit umum, seperti:
1. Penyakit jantung
2. Masalah tiroid
3. Gangguan pernapasan
4. Penyakit saluran napas lainnya

Orang yang mengalami panic attack sering membuat beberapa kunjungan ke ruang gawat darurat atau dokter. Mereka berpikir memiliki penyakit yang mengancam jiwa. Karena serangan ini tidak dapat diprediksi, kondisi ini dapat secara signifikan memengaruhi fungsi tubuh kita.

Penyebab Panic Disorder
1. Genetik
Penyebab panic disorder tidak dipahami dengan jelas. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa panic disorder mungkin terkait secara genetik. Karena itu, gangguan panik kadang-kadang terjadi dalam keluarga, tetapi tidak ada yang tahu pasti mengapa beberapa anggota keluarga memilikinya sementara yang lain tidak.

2. Transisi Kehidupan
Penyebab panic disorder berikutnya, dikaitkan dengan transisi signifikan yang terjadi dalam kehidupan. Meninggalkan kuliah, menikah, atau memiliki anak pertama, semua fase ini adalah transisi kehidupan utama, yang dapat membuat stres dan mengarah pada perkembangan panic disorder.

Cara Meredakan Panic Attack
Serangan panik sangat sulit disembuhkan tanpa bantuan dari luar. Itu karena salah satu masalah paling umum dalam menangani serangan panik adalah semakin Anda memikirkan tentang serangan panik, semakin besar kemungkinan Anda mengalaminya.

Meskipun serangan panik bisa tiba-tiba muncul, biasanya disebabkan oleh kepekaan yang berlebihan terhadap perasaan Anda, dalam pola yang menyerupai ini:
1. Anda menjalani hidup Anda dengan khawatir tentang serangan panik.
2. Anda merasakan sesuatu apa saja seperti sedikit peningkatan detak jantung atau ketidaknyamanan ringan.
3. Anda selalu menyadarinya, karena serangan panik membuat Anda terlalu peka terhadapnya.
4. Anda kemudian khawatir atau yakin akan mendapatkan serangan panik.
5. Kekhawatiran ini membanjiri tubuh Anda dengan kecemasan.
6. Anda mendapat serangan panik.

Kepekaan berlebihan dikenal sebagai hipersensitif, dan ini adalah kondisi yang sangat umum terjadi pada mereka yang mengalami kecemasan dan serangan panik.

Pada dasarnya, Anda menjadi terlalu terbiasa dengan tubuh Anda karena Anda selalu mengkhawatirkan serangan panik lainnya, dan ini membuat Anda memperhatikan setiap perubahan yang dialami tubuh Anda, yang membanjiri Anda dengan kecemasan karena Anda khawatir itu bisa berarti serangan panik lainnya.

Selain itu, kecemasan karena mengkhawatirkan serangan panik dapat menyebabkan peningkatan detak jantung dengan sendirinya, yang dapat berperan sebagai sensasi yang memicu serangan tersebut.

Inilah salah satu alasan utama mengapa serangan panik bisa sangat sulit disembuhkan sendiri. Serangan panik dalam banyak hal disebabkan oleh diri sendiri. Jika Anda semakin memikirkan, takut, dan dalam beberapa kasus bahkan mencoba untuk mengobati serangan panik tersebut maka semakin besar pula kemungkinan Anda memiliki serangan panic itu.

Alternatif Meredakan Serangan
Berikut beberapa cara meredakan panic attack di rumah yang efektif di antaranya,
1. Latihan Ulang Pernapasan
Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah melatih kembali tubuh Anda untuk bernapas dengan cara yang lebih efisien, dan mempelajari bagaimana pernapasan Anda memengaruhi serangan panik.

Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa sebagian besar gejala serangan panik tidak berasal dari adrenalin, tetapi dari hiperventilasi. Hiperventilasi adalah saat tubuh Anda melepaskan terlalu banyak karbon dioksida. Biasanya terjadi karena Anda bernapas terlalu cepat, tetapi dalam beberapa kasus dapat terjadi karena Anda menghirup terlalu banyak oksigen.

Banyak orang yang mengalami serangan panik bernapas dengan cepat karena sedang “panik”, atau mencoba menarik napas dalam-dalam karena merasa perlu. Yang memperburuk keadaan adalah salah satu gejala hiperventilasi adalah perasaan seperti Anda tidak bisa mendapatkan cukup udara.

Hal ini menyebabkan Anda secara alami ingin bernapas lebih banyak, dan sayangnya hal ini memperburuk hiperventilasi. Gejala hiperventilasi lainnya memainkan peran kunci dalam serangan panik di antaranya,
a. Sakit dada.
b. Sakit kepala ringan.
c. Sesak napas.
d. Kelemahan otot dan kesemutan.
e. Kesulitan berkonsentrasi.
f. Detak jantung cepat.

Siapa pun yang mengalami serangan panik dengan gejala-gejala ini maka sangat penting untuk mengontrol dan mencegah hiperventilasi. Kamu dapat melakukannya dengan dua cara di antaranya,
a) Pernapasan lebih lambat
Tepat ketika Anda merasa akan mengalami serangan panik, latih diri Anda untuk memperlambat pernapasan. Tarik napas setidaknya selama 5 detik, tahan selama 2 atau 3 detik, dan hembuskan napas setidaknya selama 7 detik.

Pastikan Anda menarik napas melalui hidung dan keluar melalui hidung atau keluar melalui bibir yang mengerucut seperti Anda bersiul. Bukan berarti hal ini dapat mencegah serangan panik, tetapi akan membuatnya jauh lebih ringan.

b) Latihan ulang
Anda juga harus meluangkan waktu untuk mempraktikkan jenis metode pernapasan ini bahkan saat Anda tidak mengalami serangan panik. Serangan panik dan kecemasan membuat tubuh Anda keluar dari pola pernapasan normalnya.

Meluangkan waktu 30 menit setiap hari untuk mempraktikkan jenis pernapasan ini dapat membantu tubuh mempelajari kembali cara bernapas dengan cara ini, dan mengurangi kemungkinan terjadinya hiperventilasi di masa mendatang. Ketika Anda mengalami kecemasan dan serangan panik, tubuh Anda akan mengalami proses pembiasaan bernapas dengan sangat buruk sehingga Anda mengalami hiperventilasi.

Hal ini menyebabkan gejala seperti serangan panik, yang kemudian dapat memicu serangan panik yang sebenarnya. Jadi, mengajari diri sendiri cara bernapas yang lebih baik itu merupakan hal penting.

2. Desensitisasi
Desensitisasi adalah proses untuk membuat serangan panik menjadi tidak terlalu menakutkan, dengan mengalaminya berulang kali sampai tubuh tidak lagi menemukan serangan panik yang menyebabkan banyak kecemasan.

Misalnya, pemicu serangan panik yang paling umum adalah pusing, sesak napas, dan berada di dalam mobil. Kamu akan membuat dirimu tidak peka terhadap serangan panik yang terjadi menggunakan beberapa variasi berikut di antaranya,
a. Pusing. Berputarlah di kursi lalu tunggu sampai kamu tenang.
b. Sesak Nafas. Cobalah melakukan hiperventilasi dengan sengaja.
c. Berada di dalam Mobil. Berkendaralah selama berjam-jam di lingkungan yang aman sampai kamu merasa lebih tenang.

Ini perlu dipadukan dengan beberapa jenis latihan relaksasi untuk memastikan bahwa Anda tidak mengalami kecemasan yang terlalu dalam saat mencobanya. Anda juga perlu berkomitmen untuk itu. Jika Anda benar-benar mengalami serangan panik saat mencoba teknik desensitisasi ini dan Anda membiarkan serangan itu menghentikan untuk terus maju.

Anda dapat meningkatkan kemungkinan pemicu tersebut menyebabkan serangan panik di masa mendatang. Itulah mengapa sering kali disarankan agar Anda melakukan latihan ini di hadapan seorang profesional.

Namun, banyak orang yang benar-benar mampu mengendalikan pemicu serangan panik mereka sendiri menggunakan sistem jenis ini. Jika Anda yakin dengan kemampuan Anda untuk berkomitmen, mungkin patut dicoba.

3. Olahraga
Olahraga mungkin tidak terdengar seperti pengobatan rumahan untuk serangan panik, tetapi sebenarnya memang demikian. Meskipun beberapa orang benar-benar mengalami kecemasan dan kepanikan akibat berolahraga, yang lain akan menemukan bahwa olahraga itu sendiri yang dibutuhkan untuk mengendalikan gejala kecemasan secara permanen.

Olahraga memiliki beberapa manfaat yang penting untuk kecemasan di antaranya,
1. Mengurangi energi otot dan mental yang berlebihan.
2. Melepaskan endorfin yang menenangkan pikiran dan tubuh.
3. Mempromosikan tidur yang lebih baik.
4. Meningkatkan regulasi hormon dan dapat membakar hormon stres.
5. Membantu pernapasan Anda meningkat.

Ini semua adalah strategi yang sangat penting untuk mengendalikan kecemasan, dan ada beberapa bukti bahwa salah satu penyebab utama serangan panik dan kecemasan adalah kurangnya olahraga. Tanyakan pada dirimu apakah Anda berolahraga setiap hari. Jika tidak, segeralah pertimbangkan untuk berolahraga.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Panic Attack: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Cara Meredakannya"