Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Konsep Epigenesis Erikson: Pengertian, Biografi, dan 8 Tahap Perkembangan Psikososialnya

Pengertian Konsep Epigenesis Erikson
Konsep Epigenesis Erikson
Pengertian Konsep Epigenesis Erikson
Epigenesis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah konsep tentang berkembangnya suatu makhluk dengan pemunculan struktur dan fungsinya; pada fase embrio. Epigenesis berasal dari bahasa Yunani epi (di, pada, di atas) dan genesis (asal).

Epigenesis adalah teori bahwa embrio tidak diprabangun di sel telur atau sperma, tetapi berkembang secara bertahap dengan pembentukan bagian-bagian baru secara berturut-turut. Konsep epigenesis dari bidang embriologi kemudian digunakan dalam psikologi kepribadian oleh tokoh psikolog terkenal Erik Homburger Erikson.

Teori psikososial Erikson mengembangkan konsep psikoanalisa milik Freud, di mana psikoseksual yang sifatnya biologis bersifat epigenesis. Ini artinya psikososial untuk berkembang membutuhkan stimulus khusus dari lingkungan sosial.

Perkembangan ego diibaratkan layaknya embrio yang berkembang tidak dari sel telur atau sel sperma begitu saja, namun berkembang secara bertahap dengan pembentukan bagian-bagian baru secara berturut-turut.

Ringkasnya, konsep epigenesis ini menjabarkan setiap perubahan dalam suatu organisme yang dipengaruhi oleh faktor di luar genetisnya.

Biografi Erikson
Erik Homberger Erikson (lahir Erik Salomonsen ; 15 Juni 1902 - 12 Mei 1994) adalah seorang psikolog dan psikoanalis perkembangan Jerman-Amerika yang dikenal karena teorinya tentang perkembangan psikologis manusia.

Lahir di keluarga dokter Denmark Yahudi di Frankfurt, Jerman. Setelah keluar dari universitas dan bekerja sebagai pelukis di mana-mana. Pada tahun 1933, ia pindah ke Amerika Serikat untuk menghindari penganiayaan terhadap Nazi.

Meskipun tidak memiliki gelar sarjana, Erikson menjabat sebagai profesor di institusi terkemuka, termasuk Harvard, Universitas California (UC Berkeley), dan Yale. Sebuah Tinjauan survei Psikologi Umum , yang diterbitkan pada tahun 2002, menempatkan Erikson sebagai psikolog yang paling banyak dikutip pada abad ke-20.

8 Tahap Perkembangan Psikososial
Erickson memusatkan kajiannya pada perkembangan psikososial anak. Menurut Erickson (dalam Harre dan Lamb, 1988), dalam perkembangannya anak melewati delapan tahapan perkembangan (developmental stage), disebut siklus kehidupan (life Cycle) yang ditandai dengan adanya krisis psikososial tertentu.

Teori Erickson ini secara luas banyak diterima, karena menggambarkan perkembangan manusia mencakup seluruh siklus kehidupan dan mengakui adanya interaksi antara individu dengan konteks sosial. Kedelapan tahap tersebut di antaranya,
1. Pada tahap basic trust vs mistrust (infancy—bayi)
Anak baru mulai mengenal dunia, perhatian anak adalah mencari rasa aman dan nyaman. Lingkungan dan sosok yang mampu menyediakan rasa nyaman/aman itulah yang dipercaya oleh anak, sebaliknya, yang menjadikan sebaliknya cenderung tidak dipercaya.

Rasa aman dan nyaman ini terkait dengan kebutuhan primer seperti makan, minum pakaian, kasih sayang. Sosok ibu atau pengasuh biasanya sangat dipercaya karena siap mendatangkan kenyamanan. Sedangkan orang yang dianggap asing akan ditolaknya.

2. Pada tahap autonomi vs shame and doubt (toddler—masa bermain)
Anak tidak ingin sepenuhnya tergantung pada orang lain. Anak mulai mempunyai keinginan dan kemauan sendiri. Dalam masa ini, orang tua perlu memberikan kebebasan terkendali, karena apabila anak terlalu dikendalikan/didikte, pada diri anak dapat tumbuh rasa selalu was-was, ragu-ragu, kecewa.

3. Pada tahap initiative vs guit (preschool—prasekolah)
Pada diri anak mulai tumbuh inisiatif yang perlu difasilitasi, didorong, dan dibimbing oleh orang dewasa sekitarnya. Anak mulai bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Berbagai aktivitas fisik seperti bermain, berlari, lompat, banyak dilakukan.

Kurangnya dukungan dari lingkungan, misalnya terlalu dikendalikan, kurangnya fasilitas, sehingga inisiatifnya menjadi terkendala, pada diri anak akan timbul rasa kecewa dan bersalah.

4. Pada tahap industry vs inferiority (schoolage—masa sekolah)
Anak cenderung luar biasa sibuk melakukan berbagai aktivitas yang diharapkan mempunyai hasil dalam waktu dekat. Keberhasilan dalam aktivitas ini akan menjadikan anak merasa puas dan bangga. Sebaliknya, jika gagal, anak akan merasa rendah diri. Oleh karena itu, anak memerlukan bimbingan dan fasilitas agar tidak gagal dari setiap aktivitasnya.

5. Pada tahp identity vs role confusion (adolescence—remaja)
Anak dihadapkan pada kondisi pencarian identitas diri. Jati diri ini akan berpengaruh besar pada masa depannya. Pengaruh lingkungan sangat penting. Lingkungan yang baik akan menjadikan anak memiliki jati diri sebagai orang baik, sebaliknya lingkungan yang tidak baik akan membawanya menjadi pribadi yang kurang baik.

Orang tua harus menjamin bahwa anak berada dalam lingkungan yang baik, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.

6. Pada tahap intimacy vs isolation (young adulthood—dewasa awal)
Anak mulai menyadari bahwa meskipun dalam banyak hal memerlukan komunikasi dengan masyarakat dan teman sebaya, dalam hal-hal tertentu ada yang memang harus bersifat privat. Ada hal-hal yang hanya dibicarakan dengan orang tertentu, ada orang tertentu tempat mencurahkan isi hati, memerlukan orang yang lebih dekat secara pribadi, termasuk pasangan lawan jenis.

Kegagalan pada tahap ini dapat mengakibatkan anak merasa terisolasi di kehidupan masyarakat.

7. Tahap generativy vs stagnation (middle adulthood—dewasa tengah-tengah)
Menandai munculnya rasa tanggung jawab atas generasi yang akan datang. Bentuk kepedulian ini tidak hanya dalam bentuk peran sebagai orang tua, tetapi juga perhatian dan kepeduliannya pada anak-anak yang merupakan generasi penerus. Ada rasa was-was akan generasi penerusnya (keturunannya).

8. Tahap ego integrity vs despair (later adulthood—dewasa akhir)
Adalah tahap akhir dari siklus kehidupan. Individu akan melakukan introspeksi, mereview kembali perjalanan kehidupan yang telah dilalui dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, dari karier satu ke karier lainnya. Yang paling diharapkan adalah jika tidak ada penyesalan.

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Konsep Epigenesis Erikson: Pengertian, Biografi, dan 8 Tahap Perkembangan Psikososialnya"