Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Homeschooling: Pengertian, Sejarah, Dasar Hukum, Karakteristik, Jenis, Metode, Kelebihan, dan Kekurangannya

Pengertian Homeschooling atau Sekolah Rumah
Homeschooling (Sekolah Rumah)
Pengertian Homeschooling
Homeschooling (sekolah rumah) adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (informal). Sekolah rumah dilakukan di rumah, di bawah pengarahan orang tua dan tidak dilaksanakan di tempat formal lainnya dengan model kegiatan belajar terstruktur dan kolektif.

Dalam homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak. Orang tua bisa berperan sebagai guru atau juga mendatangkan guru pendamping atau tutor ke rumah, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.

Sekolah rumah bukan berarti kegiatannya selalu di rumah. Siswa dapat belajar di alam bebas baik di laboratorium, perpustakaan, museum, tempat wisata, dan lingkungan sekitarnya. Komitmen orang tua dalam menemani anak belajar adalah kunci utama.

Homeschooling dilakukan dengan menyesuaikan kemampuan, kebutuhan, dan potensi anak. Sistem pembelajaran dirancang sedemikian rupa agar anak merasa senang, nyaman, tidak merasa dipaksa dan tidak merasa terbebani dalam belajar sehingga dapat mencapai hasil belajar yang optimal.

Homeschooling Menurut Para Ahli
1. Saputra (2007:47), homeschooling adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar dan terarah yang dilakukan oleh orang tua atau keluarga dengan proses belajar mengajar yang kondusif.
2. Suryadi (2006:12), homeschooling adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua atau keluarga di rumah atau tempat-tempat lain dengan penuh tanggung jawab di mana proses belajar mengajar dapat berlangsung dalam suasana yang kondusif dengan tujuan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal.
3. Rachman (2007:18), homeschooling adalah sekolah yang diadakan di rumah. Sedangkan secara hakiki homeschooling adalah sebuah sekolah alternatif yang menempatkan anak sebagai subjek dengan pendekatan pendidikan secara at Home. Dengan pendekatan ini anak merasa nyaman. Mereka bisa belajar sesuai keinginan dan gaya belajar masing-masing; kapan saja dan di mana saja, sebagaimana ia tengah berada di rumahnya sendiri.
4. Komariah (2007:4)), homeschooling adalah Proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua/ keluarga di rumah atau tempat-tempat lain, di mana proses belajar mengajar dapat berlangsung dalam suasana yang kondusif dengan tujuan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal.
5. Sumardiono (2014:6), homeschooling adalah pendidikan yang dilakukan secara mandiri oleh keluarga, di mana materi-materinya dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan anak. Kekhasan dan kekuatan homeschooling paling besar adalah customized education, yakni pendidikan yang disesuaikan dengan potensi anak dan lingkungan yang ada di sekitar. Dalam homeschooling keragaman anak dihargai dan seorang anak tidak dituntut untuk seragam dan serupa.

Sejarah Homeschooling
John Caldwell Holt seorang pendidik dan penulis di Amerika Serikat prihatin atas sistem pendidikan di tempat dia mengajar. Akhirnya Holt mengembangkan Homeschooling sekitar tahun 1960-an yang memberikan kebebasan dalam pendidikan kepada anak.

Dasar pemikiran Holt mengandung misi pembebasan cara berpikir instruktif seperti yang dikembangkan melalui sekolah. (John C. Holt & Pat Farenga, Teach Your own.h.85). Holt berkeyakinan bahwa anak-anak yang dilengkapi dengan lingkungan belajar yang luas dan menarik akan membuat anak siap untuk belajar.

Selain itu, anak-anak tidak perlu dipaksa belajar karena anak akan melakukannya secara alami jika diberi kebebasan untuk mengikuti kepentingan mereka sendiri dengan berbagai macam sarana dan sumber belajar.

Sejak itu konsep homeschooling terus berkembang ke negara-negara Eropa dengan konsep yang juga berkembang dari waktu ke waktu. Masyarakat pun mulai ikut mengikuti karena sebagian menganggap pendidikan formal di sekolah cenderung stagnan.

Di Indonesia, homeschooling diperkirakan mulai muncul sekitar tahun 1996 dan mulai marak dijadikan alternatif pendidikan pada tahun 2005. Banyak orang tua yang akhirnya berminat menyekolahkan anaknya di homeschooling, terutama yang tinggal di kota-kota besar.

Setidak-tidaknya keberadaan homeschooling akan memenuhi sekitar 10% dari total jumlah anak di Indonesia. (Kurniasih, 2009: 8)

Dasar Hukum Homeschooling
Secara global, dasar hukum penyelenggaraan homeschooling merujuk pada Komitmen Internasional yaitu A World Fit For Children (Menciptakan Dunia Yang Layak Bagi Anak) tahun 2002 yang menyatakan:
”Menempatkan anak sebagai pertimbangan pertama untuk kepentingan terbaik anak; Memperhatikan tumbuh kembang terbaik anak sebagai dasar utama pengembangan manusia; Dan memberikan kesempatan pendidikan yang sama untuk setiap anak”. (www.unicef.org)

Sedangkan di Indonesia, dasar legalitas homeschooling atau program sekolah rumah tinggal dan majemuk dapat dimasukkan sebagai model pendidikan yang diklasifikasikan sebagai satuan pendidikan informal sesuai dengan:
1. PP Nomor 73 tentang Pendidikan Luar Sekolah;
2. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0131/U/1991 tentang paket A dan B;
3. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 132/U/2004 tentang Paket C. Dalam UU Sisdiknas dikenal tiga jalur pendidikan, yaitu pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal.

Karakteristik Homeschooling
Adapun karakteristik pendidikan berbasis homeschooling menurut Muhtadi (2011) di antaranya,
1. Orientasi pendidikan lebih menekankan pada pembentukan karakter pribadi dan perkembangan potensi bakat, dan minat anak secara ilmiah dan spesifik.
2. Kegiatan belajar bisa terjadi secara mandiri, bersama orang tua, atau bersama guru pendamping.
3. Orang tua memegang peranan utama sebagai guru, motivator, fasilitator, dinamisator, teman diskusi dan teman dialog dalam menentukan kegiatan belajar dan dalam proses kegiatan belajar.
4. Keberadaan guru (tutor) lebih berfungsi sebagai pendamping dan pengarah minat anak dalam mata pelajaran yang disukainya.
5. Adanya fleksibilitas pengaturan jadwal kegiatan pembelajaran.
6. Adanya fleksibilitas pengaturan jumlah jam pelajaran untuk setiap materi pelajaran (pembahasan tidak akan pindah ke topik lain jika anak belum dapat menguasainya dan anak diberi kesempatan secara lebih luas menentukan topik bahasan untuk setiap pertemuan).
7. Pendekatan pembelajaran lebih bersifat personal dan humanis.
8. Proses pembelajaran dilaksanakan kapan saja.
9. Memberi kesempatan anak belajar sesuai minat, kebutuhan, kecepatan, dan kecerdasan anak.
10. Tidak ada istilah anak tidak naik kelas, semua anak bisa naik kelas sesuai dengan kecepatan masing-masing.

Jenis Homeschooling
Homeschooling dibagi menjadi 3 jenis di antaranya,
1. Homeschooling Tunggal
Homeschooling tunggal, merupakan homeschooling yang hanya melibatkan orangtua dalam satu keluarga dan tidak bergabung dengan keluarga lainnya. Pada homeschooling tunggal peran orang tua sangatlah penting sebagai pembimbing, teman belajar ataupun penilai. Homeschooling ini memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi karena dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Dalam homeschooling tunggal ini juga termasuk di dalamnya orang tua yang menyelenggarakan homeschooling mandiri dengan sistem online program. Orang tua berlangganan program secara online dalam pembelajaran homeschooling bagi anaknya.

2. Homeschooling Majemuk
Homeschooling Majemuk, dilaksanakan oleh dua keluarga atau lebih untuk kegiatan tertentu, dengan kesamaan minat tertentu, sedangkan kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing-masing. Homeschooling ini dapat merangsang insting sosial anak karena melibatkan anak-anak lain.

Anak akan terpacu pula untuk berkompetisi sehingga akan timbul semangat untuk bersaing untuk berprestasi menjadi yang lebih baik akan tetapi tetap positif. Homeschooling ini terbentuk biasanya berdasarkan minat yang sama, atau memiliki tujuan pembelajaran dalam agama yang sama.

3. Homeschooling Komunitas
Homeschooling komunitas, merupakan gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, RPP, bahan ajar, sarana, serta jadwal pembelajaran. Peserta didik yang mengikuti homeschooling komunitas memiliki ruang gerak sosialisasi yang lebih luas dibandingkan dengan homeschooling lainnya.

Metode Homeschooling
Sementara metode yang digunakan dalam program homeschooling (Abdulhak dan Suprayogi, 2012:82) di antaranya,
1. School at home. Pendekatan School at home merupakan model pendidikan yang sama dengan pendidikan yang diselenggarakan disekolah.
2. United studies. Pendekatan United studies merupakan model pendidikan yang berbasis tema. Siswa tidak belajar per mata pelajaran, tetapi belajar melalui tema tertentu yang ditinjau dari berbagai mata pelajaran.
3. Charlotte mason atau The living book approach. Pendekatan ini merupakan model pendidikan melalui pengalaman nyata.
4. Classical. Pendekatan classical merupakan model pendidikan yang menggunakan kurikulum berstruktur berdasarkan tiga tahap perkembangan anak.
5. Waldrorf. Pendekatan Waldorf merupakan model pendidikan yang berusaha menciptakan setting sekolah yang mirip keadaan rumah.
6. Montessori. Pendekatan Montessori merupakan model pendidikan dengan mempersiapkan lingkungan yang alami agar dapat mendorong anak untuk berinteraksi dengan lingkungan.
7. Electic. Pendekatan electic merupakan model pendidikan yang memberi kesempatan pada keluarga untuk mendesain sendiri program homeschooling yang sesuai, dengan cara memilih atau menggabungkan sistem yang ada.

Kelebihan Homeschooling
1. Anak Lebih Fokus Dalam Belajar
Setiap pengetahuan yang diberikan dengan mudah dicerna, bisa langsung bertanya kepada pembimbing dan tidak malu untuk mengutarakan hal yang perlu dipertanyakan. Sehingga anak tidak terganggu dengan hambatan lain di luar pengajaran secara homeschooling.

2. Lebih Fleksibel dalam Jadwal Belajar
Homeschooling juga berdampak anak lebih fleksibel dalam mengatur jadwal belajar sesuai dengan kebutuhannya. Guru yang dipilih juga disesuaikan dengan keinginan anak dan orang tua.

Dengan cara seperti ini, setiap kesibukan anak dapat diganti dengan waktu yang fleksibel, hal ini tidak memaksa dan mengikat anak Anda. Berikut ini manfaat home schooling bagi anak yang perlu Anda ketahui.

3. Anak Jadi Lebih Bebas Melakukan Banyak Hal
Berikutnya efek dari homeschooling lain yang bisa dirasakan oleh anak yaitu anak mampu mengembangkan bakat, ide, pemikiran dan sebagainya melalui satu orang guru tanpa ada campur tangan dari anak lainnya.

Sehingga perkembangan motorik dan juga otak lebih meningkat dan lebih dalam, pembimbing pun lebih leluasa untuk memberikan metode dan pengetahuan baru kepada si anak.

4. Orang tua Mudah Mengontrol Kondisi Anak dengan Baik
Dampak positif dan negatif homeschooling bagi anak lainnya adalah orang tua lebih mudah untuk mengontrol bahkan bisa menanyakan langsung ke guru pembimbing mengenai perkembangan belajar anaknya.

Tanpa rasa takut dan kuatir orang tua mengetahui setiap pelajaran juga metode dari sang pembimbing secara lengkap. Bahkan orang tua bisa ikut berperan dalam memberikan arahan mana yang terbaik untuk si anak. Perhatikan apa saja ragam dan jenis gangguan belajar pada anak mulai dari rumah.

Kekurangan Homeschooling
1. Sulit Untuk Memiliki Teman Baru
Contoh dampak negatif anak yang memilih homeschooling dibanding sekolah formal yaitu anak akan memiliki teman yang sedikit.

Anak hanya tahu teman yang ada di sekitar rumah atau lingkungan. Hal ini bisa berdampak kepada anak menjadi tertutup dan pemilih dalam bergaul. Pentingnya peran orang tua dalam pembentukan kepribadian anak yang Hal penting.

2. Kesulitaan Bersosialisasi terhadap Lingkungan
Kemudian dampak positif dan negatif homeschooling bagi anak yang lain yaitu anak sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Apabila anak Anda berkumpul dalam satu permainan atau suasana baru, sulit baginya untuk mengenal dan butuh waktu bagi si anak merasa nyaman dan dekat dengan suasana serta teman barunya.

3. Anak Menjadi Kuper (Kurang Pergaulan)
Dampak negatif lain dari metode homeschooling lain anak akan menjadi kuper atau kurang pergaulan. Hampir sama dengan point pertama, dunia akan hanya seputaran rumah, halaman dan sekitarnya. Hal baru yang di luar sana yang sulit untuk diakses menjadi hambatan bagi anak menemukan hal baru yang lebih asyik dan membuat daya pikirnya berkembang. 

Dari berbagai sumber

Download

Dani Ramdani
Dani Ramdani | Pemilik Situs Sosiologi79.com dan Sosial79.com | Alumni Sosiologi Universitas Lampung | Staf Pengajar Sosiologi di SMAN 1 Cibeber Kab. Lebak Banten

Post a Comment for "Homeschooling: Pengertian, Sejarah, Dasar Hukum, Karakteristik, Jenis, Metode, Kelebihan, dan Kekurangannya"