Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Curah Hujan: Pengertian, Prakiraan, Klasifikasi, Alat Ukur, Metode, dan Curah Hujan di Indonesia

Pengertian Curah Hujan
Curah Hujan

Pengertian Curah Hujan
Curah hujan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah banyaknya hujan yang tercurah (turun) di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu; limpah(an) hujan. Lengkapnya, curah hujan (presipitasi) adalah jumlah air hujan yang jatuh selama periode waktu tertentu yang pengukurannya menggunakan satuan tinggi di atas permukaan tanah horizontal yang diasumsikan tidak terjadi infiltrasi, run off, maupun evaporasi.

Curah hujan dapat juga diartikan sebagai air hujan yang memiliki ketinggian tertentu yang terkumpul dalam suatu penakar hujan, tidak meresap, tidak mengalir, dan tidak menyerap (tidak terjadi kebocoran). Tinggi air yang jatuh ini biasanya dinyatakan dengan satuan milimeter. Curah hujan dalam 1 (satu) milimeter artinya dalam luasan satu meter persegi, tempat yang datar dapat menampung air hujan setinggi satu mm atau sebanyak satu liter.

Curah Hujan Menurut Para Ahli
Suroso (2006), curah hujan merupakan jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi milimeter (mm) di atas permukaan horizontal. Hujan juga dapat diartikan sebagai ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.

Prakiraan Hujan
Terdapat beberapa metode untuk melakukan prakiraan curah hujan. Ada 5 unsur yang perlu ditinjau untuk menentukan apakah curah hujan pada satu wilayah tertentu akan sama dampaknya, bila dibandingkan dengan curah hujan pada wilayah lainnya dalam kawasan tropik.

Unsur-unsur tersebut harus terdata dengan baik, sehingga dapat digunakan untuk penelitian yang valid. Adanya prakiraan cuaca membantu manusia untuk menentukan wilayah persebaran yang cocok bagi tanaman pangan. Selain itu, juga untuk menanggulangi dampak negatif yang muncul dari curah hujan yang tinggi.

Ilmu hidrologi adalah cabang ilmu geografi yang mempelajari siklus air (sumber, pergerakan, distribusi, dan kualitas) yang ada di bumi. Salah satu hal yang dipelajari dalam hidrologi adalah pendataan dan analisis curah hujan. Pengukurannya dilakukan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS), mulai dari hulu hingga muara.

5 unsur yang didata dan diukur pada DAS, antara lain:
1. Intensitas Laju Hujan. Melakukan pengukuran konsentrasi curah hujan pada wilayah tertentu, yaitu dengan mengukur seberapa banyak milimeter air yang turun dalam kurun waktu menit, jam, dan hari.
2. Durasi Curah Hujan. Penghitungan berdasarkan berapa lama waktu curah hujan turun dalam kurun waktu menit dan jam.
3. Ketinggian Curah Hujan. Pengukuran yang dilakukan setelah hujan reda dengan melihat ketebalan atau kedalaman air dalam milimeter pada bidang datar.
4. Frekuensi Periode Curah Hujan. Pengukuran yang dilakukan dengan pengamatan selama beberapa tahun untuk menentukan periode curah hujan yang berlangsung secara konsisten setiap tahunnya.
5. Cakupan Wilayah Curah Hujan. Mengamati frekuensi periode hujan terhadap cakupan luas geografis wilayah yang terkena hujan.

Klasifikasi Curah Hujan
Berdasarkan ukuran butirannya, klasifikasi hujan dibedakan menjadi empat di antaranya,
1. Gerimis atau drizzle merupakan presipitasi hujan dengan jumlah sedikit bahkan bisa disebut ringan yang umumnya memiliki diameter kurang dari 0.5 mm. Gerimis disebabkan oleh awan stratus kecil dan awan stratocumulus.
2. Hujan salju atau snow merupakan hujan dari kristal-kristal kecil air yang menjadi es dan memiliki temperatur di bawah titik beku.
3. Hujan batu es merupakan batu es yang turun dari awan yang memiliki temperatur dibawah 0° derajat celcius yang terjadi pada cuaca panas.
4. Hujan deras atau rain merupakan curahan air yang memiliki butiran kurang lebih 7 milimeter dan berasal dari awan yang memiliki temperatur di atas 0°.

Alat Ukur Curah Hujan
Berdasarkan mekanismenya, pengukur curah hujan dibedakan menjadi dua jenis di antaranya,
1. Ombrometer
Ombrometer sendiri dibagi lagi dalam beberapa jenis di antaranya,
a. Ombrometer Manual
Ombrometer manual merupakan alat penakar hujan manual berupa ember atau penampung yang telah diketahui ukuran atau diameternya. Pengukuran curah hujan secara manual dilakukan dengan mengukur volume air secara berkala dan jangka waktu tertentu untuk memperoleh hasil curah hujan suatu wilayah. Ombrometer manual dibagi menjadi dua jenis di antaranya,
a) Ombrometer Biasa
Ombrometer biasa merupakan alat penakar dengan cara kerja yang sangat sederhana. Prinsip kerja ombrometer biasa yaitu pembagian volume air hujan yang ditampung dengan luas mulut penakar. Air yang ditampung oleh penakar kemudian dibagi berdasarkan parameter luas mulut dan volume air hujan.

Ombrometer biasa dibuat dari seng dengan tinggi 60 cm dan pipa paralon dengan tinggi 100 cm. Kemudian diletakkan di ketinggian 120 hingga 150 cm, namun tentu saja belum mampu mencatat secara otomatis.

b) Ombrometer Observatorium
Ombrometer observatorium merupakan obrometer manual dengan menggunakan gelas ukur dan telah menjadi standar untuk mengukur curah hujan di Indonesia. Cara kerja ombrometer observatorium cukup mudah dan pemeliharaannya murah.

Namun ombrometer observatorium memiliki data yang terbatas karena hanya dapat digunakan untuk mengukur curah hujan selama 24 jam. Selain itu, sering terjadi kesalahan pada pengukuran satu alat dengan yang lainnya.

b. Ombrometer Otomatis
Ombrometer otomatis merupakan ombrometer dengan mekanisme otomatis dalam pencatatannya. Ombrometer otomatis memiliki hasil perhitungan yang lebih akurat dibandingkan ombrometer manual. Selain itu, ombrometer otomatis dapat mengukur kondisi curah hujan tinggi maupun rendah dan melakukan pencatatan dalam waktu tertentu. Contoh ombrometer otomatis di antaranya,
a) Penakar Hujan Tipe Hellman
b) Penakar Hujan Tipping Bucket
c) Penakar Hujan Tipe Bendix
d) Penakar Hujan Tipe Weighing Bucket
e) Penakar Hujan Tipe Optical
f) Penakar Hujan Tipe Tilting Siphon
g) Penakar Hujan Tipe Floating Bucket

2. Automatic Weather Station
Automatic Weather Stasion merupakan alat pengukur cuaca otomatis yang jauh lebih efisien dan mempunyai kemampuan lebih untuk mengukur suhu, curah hujan kelembaban, lama penyinaran matahari, kecepatan dan arah angin, serta pengukuran lainnya.

Automatic Weather Station terdiri dari sensor-sensor yang bekerja dalam sebuah sistem, digunakan ketika cuaca ekstrem seperti kemarau panjang dan badai. Automatic Weather Station juga telah dilengkapi alat untuk mengukur ketinggian awan (ceilometer).

Metode Pengukuran Curah Hujan
Metode pengukuran curah hujan digunakan untuk menganalisa jumlah curah hujan suatu wilayah. Metode pengukuran curah hujan dibagi menjadi tiga jenis di antaranya,
1. Metode Arimatik
Metode aritmatik merupakan metode yang paling sederhana dan mudah diterapkan, namun kurang akurat karena bergantung pada distribusi hujan terhadap ruang dan ukuran daerah aliran sungai (besar atau kecil).

Cara kerja metode arimatik dengan membagi aliran sungai ke beberapa wilayah pada DAS kemudian masing-masing wilayah yang sudah dibagi melakukan penghitungan curah hujan. Setelah itu jumlah hujan pada setiap wilayah akan ditotal, lalu dibagi dengan jumlah wilayah sehingga diperoleh hasil rata-rata curah hujan pada wilayah DAS yang sudah ditentukan.

2. Metode Poligon Thiessen
Metode poligon thiessen merupakan metode penghitungan yang lebih baik daripada metode arimatik namun lebih cocok digunakan pada wilayah dengan curah hujan sedikit dan persebarannya tidak merata. Metode polygon theissen melakukan perhitungan pengaruh letak wilayah persebaran curah hujan terhadap stasiun DAS yang sudah ditentukan dan diukur luasnya.

Cara kerja metode polygon thiessen dengan mengalikan curah hujan stasiun dengan luas daerah yang sudah ditentukan dan dibatasi. Kemudian hasil masing-masing perhitungan setiap daerah dijumlahkan dan dibagi dengan total luas wilayah stasiun yang masuk dalam perhitungan.

3. Metode Isohyet
Metode isohyet merupakan metode yang lebih kompleks dibandingkan dengan dua metode lainnya. Metode isohyet menggunakan komputer agar data yang diperoleh akurat dan hasil analisa dapat terjaga konsistensinya.

Cara perhitungan metode isohyet dengan menentukan dan membagi daerah-daerah sepanjang DAS yang memiliki intensitas hujan yang sama. Besaran curah hujan antara daerah pertama dan kedua dijumlahkan dan dibagi dua, kemudian dikalikan dengan luas DAS daerah pertama yang dibagi dengan luas DAS total daerah.

Kemudian ditambahkan dengan hasil perhitungan selanjutnya dengan cara yang sama sehingga didapatkan hasil rata-rata curah hujan pada daerah aliran sungai.

Curah Hujan di Indonesia
Curah hujan di Indonesia berdasarkan pola umum terjadinya, dibedakan menjadi 3 tipe di antaranya,
1. Tipe Ekuatorial
Tipe ekuatorial berhubungan dengan pergerakan zona konvergensi ke arah selatan dan arah utara yang mengikuti pergerakan semu matahari, yang dicirikan oleh dua kali curah hujan maksimum bulanan dalam satu tahun. Zona ini disebut dengan Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT) atau Inter-tropical Convergence Zone (ITCZ). Keberadaan ITCZ akan mempengaruhi curah hujan pada berbagai tempat yang dilalui ITCZ.

Pada bulan Maret dan bulan September, ITCZ berada di garis equator dan menyebabkan peningkatan peluang terjadinya hujan di daerah tersebut. Wilayah Indonesia yang mengikuti pola ini adalah sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan.

2. Tipe Monsun
Tipe monsoon dipengaruhi oleh angin darat dan angin laut dalam skala yang sangat luas. Monsun Barat biasanya lebih lembab dan menimbulkan hujan lebih banyak daripada Monsun Timur. Pola monsoon biasanya mempunyai ciri-ciri adanya perbedaan yang sangat jelas antara curah hujan pada musim hujan dan musim kemarau dalam periode satu tahun.

Monsun Timur udara bergerak dengan jarak yang pendek di atas laut sehingga kandungan uap air nya lebih sedikit. Sedangkan monsun barat bergerak dengan jarak yang jauh di atas laut sehingga massa udaranya lebih banyak mengandung uap air. Tipe hujan ini sangat berpengaruh di Pulau Nusa Tenggara seperti Kupang, Bali, dan Jawa.

3. Tipe Lokal
Tipe lokal dicirikan oleh pengaruh kondisi lingkungan setempat yang kuat, seperti keberadaan laut dan badan air, pegunungan, serta pemanasan matahari yang lebih intensif. Faktor pembentuknya diakibatkan oleh naiknya udara ke pegunungan atau dataran tinggi karena terjadi pemanasan lokal yang tidak seimbang. Tipe hujan ini banyak terjadi di Maluku, sebagian Sulawesi seperti Manado dan Papua.

Jumlah curah hujan tahunan rata-rata yang turun di berbagai tempat di Indonesia berkisar antara 500 mm sampai lebih dari 5000 mm. Banyak sedikitnya curah hujan dipengaruhi oleh letak dan ketinggian suatu tempat. Tempat-tempat yang terletak di pantai selatan atau barat memiliki curah hujan yang besar.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga 

Kamus Sosiologi

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Curah Hujan: Pengertian, Prakiraan, Klasifikasi, Alat Ukur, Metode, dan Curah Hujan di Indonesia"