Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Angin Puting Beliung: Pengertian, Tanda, Ciri, Penyebab, Proses, dan Dampaknya

Pengertian Angin Puting Beliung
Angin Puting Beliung
Pengertian Angin Puting Beliung
Angin puting beliung adalah angin yang berputar dalam kecepatan 63 km/jam yang bergerak secara garis lurus selama kurang lebih 5 menit. Angin puting beliung lebih sering terjadi pada saat musim peralihan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat angka kejadian angin puting beliung mencapai angka 21 persen dari total seluruh bencana alam yang terjadi di Indonesia.

Tanda Terjadinya Angin Puting Beliung
Tanda-tanda awal terjadinya angin puting beliung bisa diamati dengan melihat keadaan sekitar di antaranya,
1. Udara terasa panas dan gerah (sumuk)
2. Di langit tampak muncul berangsur awan Cumulus (awan putih bergerombol yang berlapis-lapis)
3. Di antara awan tersebut ada satu jenis awan mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi yang secara visual seperti bunga kol
4. Awan tiba-tiba berubah warna dari berwarna putih menjadi berwarna hitam pekat (awan Cumulonimbus)
5. Angin kencang meniup ranting dan daun sehingga bergemirisik hebat, tanda waktu jelang datangnya angin beliung
6. Durasi fase pembentukan awan, hingga fase awan menghilang berlangsung paling lama sekitar 1 jam. Karena itulah, masyarakat agar tetap waspada selama periode ini

Ciri Angin Puting Beliung
1. Terjadi secara tiba-tiba selama 3-5 menit di sekitar area lokal
2. Memiliki bentuk yang beragam, biasanya berbentuk mirip corong/belalai gajah/selang vacuum cleaner
3. Jika terjadi dalam waktu yang sangat lama, dapat menyebabkan kerusakan pada jalur lintasannya
4. Sering terjadi pada siang hari, biasanya sekitar pukul 13.00 hingga 17.00
5. Sering terjadi di daerah dataran rendah
6. Terjadi pada musim pancaroba
7. Tidak ada angin puting beliung susulan
8. Tidak mempunyai siklus yang teratur

Penyebab Angin Puting Beliung
Penyebab terjadinya angin puting beliung secara sederhana karena adanya bentrokan pertemuan udara panas dan dingin yang kemudian membentuk awan Cumulonimbus (Cb).

Penyebab terjadinya angin puting beliung yang sering terjadi di musim pancaroba ini kerap terjadi pada siang hari di udara yang pengap serta awan hitam mengumpul. Kemudian kala awan terkena radiasi matahari, awan tersebut berubah vertikal.

Di dalam awan vertikal tersebut terjadi pergolakan arus udara naik dan turun dengan kecepatan yang cukup tinggi. Arus udara yang turun dengan kecepatan tinggi menghembus ke permukaan bumi secara tiba-tiba dan berjalan secara acak.  

Proses Terjadinya Angin Puting Beliung
Proses terjadinya berkaitan dengan adanya awan cumulonimbus yang terbagi menjadi beberapa fase di antaranya,
1. Fase Tumbuh Awan Cumulonimbus
Pada fase ini, terdapat awan yang di dalamnya memiliki arus kuat yang naik ke atas. Ketika hujan belum turun, titik-titik air maupun kristal es masih tertahan oleh adanya arus yang naik tersebut sebelum menuju ke puncak awan.

2. Fase Dewasa Awan Cumulonimbus
Pada fase ini, titik-titik air yang sudah tidak tertahan tersebut akan naik ke puncak awan. Ketika hujan telah turun, maka akan terjadi gaya gesek antara arus udara yang naik dan yang turun. Adanya temperatur massa udara yang turun menjadi lebih dingin dari udara di sekelilingnya menimbulkan arus geser yang memutar lalu menjadi bentuk pusaran.

Semakin lama, arus udara tersebut akan bergerak semakin cepat hingga akhirnya membentuk sebuah corong yang menyentuh permukaan bumi. Pada saat itulah sebuah angin puting beliung terjadi. Namun, terkadang angin puting beliung juga muncul disertai hujan deras hingga dapat membentuk pancaran air atau water spout.

3. Fase Punah Awan Cumulonimbus
Pada fase ini, massa udara akan meluas pada seluruh awan, lalu berhenti dan kemudian angin puting beliung pun berakhir.

Hal tersebut karena tidak ada massa udara yang naik hingga kemudian massa udara turun secara meluas di seluruh awan. Ketika proses kondensasi berhenti, udara yang turun tersebut melemah hingga akhirnya angin puting beliung pun berakhir.

Proses kondensasi adalah proses perubahan uap air atau benda gas menjadi benda cair yang terjadi pada suhu udara di bawah titik embun.

Dampak Angin Puting Beliung
Angin puting beliung dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kerusakan bangunan dan tidak menutup korban jiwa jika terlambat mengungsi. Berikut beberapa dampak yang bisa ditimbulkan oleh angin puting beliung yang bersifat merusak di antaranya,
1. Kerusakan pada rumah serta infrastruktur pada suatu daerah
2. Dalam kasus puting beliung ada beberapa yang kasus yang menimbulkan korban jiwa
3. Menimbulkan kerugian material seperti ternak terbawa angin dan mati dan sebagainya
4. Merusak kebun-kebun warga
5. Menciptakan banyak puing-puing dari kerusakan materi serta sampah yang berserakan
6. Dampak buruk dari angin puting beliung, dapat meluluhlantahkan tempat dengan area seluas 5 kilometer.

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 2.1 Permasalahan Sosial dalam Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
2. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 2.2 Permasalahan Sosial dalam Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
3. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 2.3 Permasalahan Sosial dalam Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
4. Materi Sosiologi Kelas XI. Bab 2. Permasalahan Sosial (Kurikulum 2013)
5. Materi Ujian Nasional Kompetensi Permasalahan Sosial

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Angin Puting Beliung: Pengertian, Tanda, Ciri, Penyebab, Proses, dan Dampaknya"