Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Yugoslavia: Sejarah, Proses Keruntuhan, Upaya Perdamaian, dan Dampaknya

Sejarah Yugoslavia atau Balkan
Yugoslavia (Balkan)

Sejarah Yugoslavia
Wilayah Yugoslavia (Balkan) pada awalnya merupakan wilayah jajahan Ottoman selama berabad-abad dan sebagian lagi adalah jajahan Austro-Hungaria dan Rusia. Yugoslavia yaitu berasal dari kata bahasa “Slavia”, yang berarti selatan dan slaveni yang berarti “Slavia”. Hal ini mengacu pada kenyataan, kalo etnis mayoritas negara ini merupakan Slav dan terletak di bagian selatan Balkan.

Yugoslavia berdiri pada 1918, sebagai hasil dari Deklarasi Corfu (Yunani) pada 20 Juli 1917, melibatkan Parlemen Serbia di pengasingan (yang mewakili Slovenia, Kroasia, dan Serbia) dan Dinasti Karadordevic dari Kerajaan Serbia. Pada awal pendirinya, nama yang digunakan adalah Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia.

Hal itu karena negara baru ini yaitu gabungan antara Negara Slovenia, Kroasia, dan Serbia yang masih bersifat sementara (terbentuk dari wilayah-wilayah bekas Kekaisaran Austro-Hungaria). Enam negara republik dan dua provinsi otonom sosialis yang membentuk Negara Yugoslavia di antaranya Bosnia-Herzegovina, Serbia, Montenegro, Kroasia, Slovenia, Macedonia, Dua provinsi otonom, yaitu Vojvodina dan Kosovo.

Setiap negara republik memiliki cabang partai komunis dan pejabat elite, dan semua perselisihan yang ada diselesaikan di tingkat federal. Model pemerintahan Yugoslavia beserta “jalan tengah” di antara ekonomi terpimpin dan liberal yang dianut merupakan sebuah keberhasilan dan negara tersebut pun mengalami masa-masa pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta politik yang relatif stabil sampai dengan tahun 1980-an, di bawah kekuasaan handal presiden seumur hidup Josip Broz Tito.

Sepeninggalnya pada tahun 1980, sistem pemerintahan federal yang melemah tidak lagi mampu menangani tantangan politik dan ekonomi yang semakin sulit. Pada tahun 1980-an, penduduk etnis Albania di Kosovo mulai menuntut agar provinsi otonomi mereka diberi status republik anggota, dimulai dari protes pada tahun 1981.

Ketegangan antara etnis Albania dan Serbia yang tidak mereda sepanjang dasawarsa, yang mana mengakibatkan penyebaran etnis Serbia ke seluruh Yugoslavia, dan sistem perundingan yang tidak efektif di tingkat federal dianggap sebagai penghambat oleh etnis Serbia yang menyaksikan semakin tingginya otonomi provinsi-provinsi di Serbia.

Pada tahun 1987, Slobodan Milošević mengambil alih kepemimpinan di Serbia dan melalui serangkaian gerakan yang didukung khalayak ramai, berhasil secara de facto menguasai Kosovo, Vojvodina dan Montengro. Kebijakannya yang menggalakkan persatuan pun mendapat dukungan dari kalangan etnis Serbia.

Akan tetapi, Milošević mendapat bantahan dari pemimpin-pemimpin partai di Slovenia dan Kroasia yang mendukung perluasan asas demokrasi seiring dengan melemahnya paham komunis di Eropa Timur. Pada akhirnya, Yugoslavia yang merupakan perkumpulan negara-negara berpaham komunis pun bubar pada tahun 1990.

Pada tahun 1990, partai komunis dikalahkan oleh partai-partai nasionalis dalam pemilihan umum multi-partai pertama yang diselenggarakan di seluruh negara, kecuali Serbia dan Montenegro, di mana Milošević dan sekutu-sekutunya memenangkan pemilihan umum. Hasutan nasionalis yang bersumber dari berbagai arah pun semakin memanas.

Pada tahun 1991, satu demi satu republik anggota memproklamasikan kemerdekaan, kecuali Serbia dan Montengero, tetapi masalah status etnis minoritas Serbia yang berada di luar Serbia tetap tidak terselesaikan. Setelah segelintir peristiwa bentrokan antaretnis, Perang Yugoslavia pun meletus, pertama-tama di Kroasia, yang kemudian merambat dan berdampak paling parah di Bosnia dan Herzegovina.

Perang Yugoslavia di Bosnia dan Herzegovina yang multi-etnis meninggalkan jejak berupa krisis politik dan ekonomi yang berkepanjangan.

Proses Keruntuhan Yugoslavia
Pada tahun 1987, terjadi krisis ekonomi dan politik tingkat nasional di Yugoslavia. Krisis tersebut disebabkan oleh perpecahan antar-etnis dan kondisi pemerintahan yang tidak menentu. Krisis Yugoslavia tahun 1987 diperparah dengan terpilihnya Slobodan Milosevic sebagai presiden Serbia.

Slobodan Milosevic menerapkan kebijakan deskriminatif berdasarkan etnisitas yang merugikan bagi mayoritas masyarakat Yugoslavia. Dalam jurnal Genosida terhadap Bosnia Hezergovina (2014) karya Siska Amelia, kehidupan politik dan negara Yugoslavia yang kehilangan arah menyebabkan munculnya aksi proklamasi dari beberapa negara bagian Yugoslavia.

Pada tahun 1991, Slovenia, Makedonia, Bosnia dan Kroasia memproklamirkan kemerdekaannya secara sepihak. Mereka kemudian mendirikan pemerintah berdaulat yang memiliki mata uang, angkatan bersenjata dan wilayah negara tersendiri.

Pada perkembangannya, proklamasi negara bagian Yugoslavia mendapat penolakan oleh Serbia. Serbia berupaya untuk tetap mempertahankan eksistensi republik Yugoslavia. Kemudian terjadilah perang antar-etnik antara Serbia dan Bosnia yang menimbulkan ribuan korban jiwa.

Upaya Perdamaian di Daerah Bekas Yugoslavia
Pada mulanya perundingan perdamaian Boznia Herzegovina dilakukan pada tanggal 1 November 1995 di Dayton, Amerika Serikat.  Kemudian dilanjutkan dengan Konferensi Internasional di Paris, Prancis pada tanggal 14 Desember 1995.

Kesepakatan perdamaian ini kemudian ditandatangani oleh Elijah Izetbegovic, Presiden Kroasia Franjo Tujman dan Presiden Serbia Montenegro Slobodan Milosevic. Berikut poin-poin perjanjian damai tersebut di antaranya,
1. Bosnia-Herzegovina tetap menjadi Negara Tunggal, namun kekuasaannya dibagi atas dua kesatuan federasi yakni Bosnia – Kroasia (51% wilayah Bosnia-Herzegovina) dan Serbia (41% wilayah dari Bosnia-Herzegovina)
2. Ibukota Sarajevo menjadi kota terbuka dan berada di bawah federasi Bosnia Kroasia
3. Wilayah kantong muslim Boznia, Gazarde akan berhubungan dengan Sarajevo melalui Koridor.
4. Mengirimkan pasukan perdamaian PBB yakni UNPROFOR (United National Protection Forces) yang memiliki tugas memantau gencatan senjata di Bosnia.
5. Melakukan pemilihan umum yang berlangsung pada 6-9 bulan setelah penandatanganan persetujuan Paris

Pada tanggal 14 September 1996, dilaksanakan pemilihan umum pertama yang diikuti sebanyak 29 partai politik, di antaranya berhasil memilih tiga orang tokoh presiden kolektif yaitu : Elijah Izetbegovic dari Bosnia, Momoilo Krajisnik dari Serbia dan Kresimir Zubak dari Kroasia.

Dampak Keruntuhan Yugoslavia
Keruntuhan Yugoslavia memberikan dampak yang besar bagi tatanan kehidupan sosial, politik dan ekonomi masyarakat internasional. Berikut beberapa dampak keruntuhan Yugoslavia di antaranya,
1. Munculnya negara-negara baru di kawasan Eropa Timur.
2. Terjadinya krisis sosial di kawasan Semenanjung Balkan.
3. Munculnya genosida terhadap kaum muslim Bosnia oleh bangsa Serbia.
4. Terancamnya perdamaian dunia pasca Perang Dingin.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 4.1 Konflik, Kekerasan, dan Perdamaian (Kurikulum Revisi 2016)
2. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 4.2 Konflik, Kekerasan, dan Perdamaian (Kurikulum Revisi 2016)
3. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 4.3 Konflik, Kekerasan, dan Perdamaian (Kurikulum Revisi 2016)
4. Materi Sosiologi Kelas XI. Bab 4. Konflik, Kekerasan, dan Upaya Penyelesaiannya (Kurikulum 2013)
5. Materi Sosiologi Kelas XI. Bab 2. Konflik dan Integrasi Sosial (KTSP)
6. Materi Ujian Nasional Kompetensi Konflik Sosial dan Integrasi Sosial     
7. Materi Ringkas Konflik Sosial dan Integrasi Sosial

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Yugoslavia: Sejarah, Proses Keruntuhan, Upaya Perdamaian, dan Dampaknya"