Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teori Lokasi Industri: Pengertian, Faktor Penentu, Weber, dan Moses

Teori Lokasi Industri Weber dan Moses
Teori Lokasi Industri
Pengertian Teori Lokasi Industri
Teori lokasi adalah sebuah teori yang dikembangkan agar menghitung serta memperlihatkan suatu pola lokasional dalam sebuah kegiatan ekonomi, termasuk industri menggunakan cara yang logis dan juga konsisten, serta supaya bisa melihat dan memperhitungkan bagaimana daerah kegiatan ekonomi tersebut saling berhubungan.

Dalam menentukan lokasi pabrik, perusahaan umumnya menggunakan analisis cost-benefit. Aktivitas ekonomi dan jumlah output suatu wilayah bergantung pada faktor input yang tersedia pada wilayah tersebut. Sedangkan, kekayaan suatu wilayah dipengaruhi oleh keuntungan yang diterima oleh faktor-faktor input tersebut.

Faktor Penentu Teori Lokasi Industri
Sebagian faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan sebuah lokasi industri di antaranya,
1. Tenaga Kerja
Tenaga kerja itu merupakan sebuah tulang punggung dalam menjaga keberlangsungan suatu proses industri, baik itu keahlian ataupun jumlahnya. Terkadang suatu industri itu memerlukan yang namanya tenaga kerja yang cukup banyak, walaupun kurang dalam hal berpendidikan.

Namun, ada juga industri yang cuma membutuhkan tenaga-tenaga kerja yang memiliki keterampilan serta berpendidikan. Dengan hal demikian, penempatan lokasi industri berdasarkan dari tenaga kerja itu sangatlah tergantung pada karakteristik serta jenis kegiatan industrinya.

2. Sumber Energi
Setiap kegiatan industri itu pasti sangat membutuhkan yang namanya energi. Jadi, energi tersebut berfungsi untuk menggerakkan mesin-mesin produksi seperti batubara, minyak bumi, kayu bakar, listrik, gas alam, tenaga nuklir atau atom, dsb. Setiap industri yang membutuhkan banyak energi, pada umumnya mendekati lokasi-lokasi yang menjadi sumber energi tersebut.

3. Modal
Modal yang dipakai dalam sebuah proses produksi itu merupakan suatu hal yang terbilang sangat penting. Hal tersebut berkaitan dengan jumlah produk yang dihasilkan seperti penyediaan bahan mentah, tenaga kerja yang dibutuhkan, luasnya sistem pemasaran, teknologi yang digunakan, dsb.

4. Bahan Mentah
Bahan mentah ini merupakan suatu kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi dalam sebuah kegiatan industri, yang membuat keberadaannya itu harus terus tersedia dalam jumlah yang banyak demi sebuah kelancaran serta keberlangsungan proses produksi.

Jadi, jika bahan mentah yang dibutuhkan industri itu memiliki cadangan yang cukup besar serta banyak ditemukan, maka akan lebih mudah dan memperbanyak pilihan atau sebuah alternatif dalam penempatan lokasi industri.

Jika cadangan bahan mentah yang dibutuhkan itu terbatas dan cuma bisa ditemukan pada tempat tertentu saja, maka akan mengakibatkan kenaikan biaya operasional dan pilihan untuk penempatan lokasi industri akan semakin terbatas.

5. Transportasi
Selanjutnya yaitu transportasi. Kegiatan industri itu perlu ditunjang dengan kemudahan dari sarana transportasi serta perhubungan. Hal tersebut itu untuk melancarkan pasokan bahan baku serta menjamin distribusi dalam pemasaran produk yang dihasilkan.

6. Perangkat Hukum
Perangkat hukum itu jika dalam bentuk perundang-undangan dan peraturan sangatlah penting, demi menjamin sebuah kepastian berusaha dan keberlangsungan industri, antara lain fungsi wilayah, upah minimum regional (UMR), sistem perpajakan, perizinan, keamanan, dsb. Termasuk juga jaminan keamanan dan juga hukum pemakaian bahan baku, proses produksi serta pemasaran.

7. Pasar
Pasar merupakan komponen yang sangatlah penting sekali dalam mempertimbangkan suatu lokasi industri, karena pasar sebagai sarana untuk memasarkan atau menjual sebuah produk yang dihasilkan. Lokasi industri diusahakan sedekat mungkin, untuk bisa dijangkau oleh konsumen dengan mudah dan hasil produksi juga menjadi lebih mudah untuk dipasarkan.

8. Teknologi yang digunakan
Pemakaian teknologi yang kurang tepat itu bisa menghambat jalannya sebuah kegiatan industri. Penggunaan teknologi yang direkomendasikan untuk pengembangan suatu industri di masa mendatang yaitu industri yang mempunyai tingkat pencemaran seperti air, udara, kebisingan, dsb. Yang rendah, bisa hemat bahan baku, hemat air, serta mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi.

9. Keadaan Lingkungan
Faktor lingkungan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang ada di sekeliling dan bisa menunjang kelancaran produksi. Sebuah lokasi yang sangat kurang mendukung, misalnya seperti Ketertiban dan juga keamanan, Struktur bebatuan yang kurang stabil, Jarak ke pemukiman, terbatasnya sumber air, iklim yang tidak cocok, dan yang lainnya. Hal tersebut itu bisa menghambat keberlangsungan sebuah kegiatan industri.

Teori Lokasi Industri Weber
Teori Lokasi Industri pada dasarnya merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang lokasi secara geografis serta pengaruhnya terhadap berbagai macam usaha dan kegiatan. Aflred Weber, seorang ahli ekonomi, geografis dan sosiologis Jerman mengemukakan sebuah Teori tentang penentuan lokasi Industri (1909) yang kemudian menjadi titik awalnya pemikiran industri modern mengenai studi dan analisis penentuan lokasi industri.

Teori Lokasi Industri yang dikemukakan oleh Alfred Weber adalah memperhitungkan beberapa faktor spasial (mengenai ruang/tempat) untuk menemukan lokasi yang optimal dan biaya yang minimal untuk pembangunan pabrik. Menurut Alfred Weber, faktor penentu lokasi Industri dapat digolongkan menjadi dua faktor utama di antaranya,
1. Faktor Regional
Setelah melakukan penelitian tentang struktur biaya di berbagai industri, Weber mengambil kesimpulan bahwa biaya produksi bervariasi pada satu tempat dengan tempat lainnya. Oleh karena itu, Industri pada umumnya terlokalisir di tempat ataupun daerah yang biaya produksinya paling rendah (minimum). Menurut Weber, terdapat dua faktor umum regional yang mempengaruhi biaya produksi. Kedua faktor umum regional tersebut di antaranya,
a. Biaya Transportasi
Biaya Transportasi memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan lokasi industri. Berat barang yang diangkut dan jarak dari pabrik ke pelabuhan atau jarak antara pabrik dan pusat distribusi mempengaruhi biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Umumnya, lokasi yang dipilih adalah lokasi di mana bahan baku dan bahan bakar mudah diperoleh.

Weber membagi bahan baku menjadi dua kategori yaitu yang pertama adalah material yang mudah di dapat di mana pun lokasi pabrik tersebut berada sedangkan yang kedua adalah material yang hanya tersedia pada lokasi tertentu saja.

Menurut Weber, Industrinya juga dikelompokkan menjadi dua jenis kecenderungan lokasi pabrik/industri berdasarkan di mana bahan bakunya mudah tersedia atau lokasi yang lebih dekat dengan pasar. Industri yang hasil produksinya (produk jadi) lebih ringan dari bahan bakunya setelah melewati berbagai proses produksi dinamakan dengan Industri yang Weight Losing.

Pada Industri Weight Losing, lokasi pabrik harus lebih dekat dengan sumber bahan baku karena biaya transportasi bahan baku akan lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya transportasi produk jadi menuju ke Market (pasar). Contoh Industi Weight Losing adalah seperti produksi gula (produk jadi) yang lebih ringan dari bahan bakunya yaitu Tebu.

Sedangkan Industri yang hasil produksinya (produk Jadi) lebih berat dari bahan bakunya setelah melewati proses-proses produksi disebut dengan Weigth Gaining. Lokasi pabrik pada industri Weight Gaining sebaiknya diletakan lebih dekat dengan market (pasar) karena biaya transportasi produk jadi lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya transportasi bahan bakunya.

b. Biaya Tenaga Kerja
Biaya Tenaga Kerja atau labour cost juga merupakan faktor terpenting dalam penentuan lokasi pabrik. Jika lokasi pabrik menguntungkan, namun biaya tenaga kerja kurang baik (mahal), lokasi tersebut juga kurang cocok untuk suatu lokasi industri.

Mungkin pada industri tertentu akan lebih cenderung ke lokasi di mana biaya tenaga kerja lebih rendah. Namun pada dasarnya, kondisi ideal untuk suatu lokasi industri adalah lokasi yang memiliki biaya tenaga kerja yang rendah dan biaya transportasi yang rendah juga.

2. Faktor Agglomerasi dan Degglomerasi
Agglomerasi adalah terdapatnya faktor-faktor yang membuat terjadinya pemusatan industri pada lokasi tertentu. Faktor-faktor tersebut di antaranya seperti adanya sekolah-sekolah yang dapat melatih tenaga kerjanya, adanya perusahaan perbankan, perusahaan asuransi, rumah sakit dan fasilitas pendukung lainnya.

Degglomerasi adalah faktor-faktor yang menyebabkan pabrik/industri meninggalkan lokasi tertentu. Faktor-faktor tersebut di antaranya seperti naiknya pajak daerah, berkurangnya tenaga kerja yang terampil, kurangnya tanah untuk industri serta faktor-faktor yang menyebabkan tingginya biaya operasional lainnya.

Location Triangle (Segita Lokasi) Weber
Weber menggunakan istilah Triangle Location (Segita Lokasi) untuk menentukan lokasi terbaik untuk industri atau pabrik yang dianalisis. Berikut ini bentuk Segitiga Lokasinya:
Location Triangle atau Segita Lokasi Weber
Location Triangle (Segita Lokasi) Weber

Teori Lokasi Produksi Moses
 
Teori Lokasi Produksi Moses
Teori Lokasi Produksi Moses

Pada teori lokasi Weber dan Laundhart, input M1 dan M2 adalah konstan untuk setiap M3 yang diproduksi (rasionya selalu tetap), namun untuk mencapai efisiensi yang lebih tinggi, terkadang perusahaan mensubstitusikan suatu input dengan input yang lebih murah.

Moses menggunakan garis IJ agar jarak terhadap pasar selalu konstan, sehingga yang menjadi variabel adalah rasio antar input. Pendekatan ini menciptakan suatu Envelope Budget Constraint yang merupakan fungsi biaya dari kedua input (m1 dan m2).

Isoquant adalah garis yang mendelineasi wilayah-wilayah yang memiliki jumlah output sama, oleh karena itu, titik optimum dapat dianggap sebagai titik dimana garis isoquant menyentuh garis envelope budget constraint.

Perubahan Envelope Budget Constraint Ketika ada Perubahan Harga
Jika suatu saat terjadi pembangunan infrastruktur transportasi pada wilayah input M1, biaya transportasi sumberdaya M1 tentu saja akan menurun, hal tersebut dilambangkan pada grafik diatas yang menunjukkan fenomena perubahan biaya transportasi pada sumberdaya M1. Perubahan harga ini menyebabkan terjadinya perpindahan titik optimum yang tadinya berada di E* menjadi di E’. Dampak dari pergeseran ini adalah jumlah input M1 meningkat dan input M2 berkurang.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.1 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
2. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.2 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
3. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.3 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
4. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 1. Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
5. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 1. Perubahan Sosial (KTSP)
6. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.1 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
7. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.2 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
8. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.3 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
9. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.4 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
10. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.5 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
11. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.6 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
12. Materi Ujian Nasional Kompetensi Perubahan Sosial             
13. Materi Ringkas Perubahan Sosial

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Teori Lokasi Industri: Pengertian, Faktor Penentu, Weber, dan Moses"