Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keruangan Desa dan Kota, serta Interaksinya

Interaksi Keruangan Desa dan Kota
Interaksi Keruangan Desa dan Kota

Interaksi Keruangan
Ruang adalah tempat di permukaan bumi, baik secara keseluruhan maupun hanya sebagian yang digunakan makhluk hidup untuk tinggal (Nursid Sumaatmadja, 1981). Setiap ruang di permukaan bumi memiliki ciri khas tertentu yang berbeda antara suatu wilayah dengan wilayah yang lain.

Tidak ada satu ruang pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri. Setiap ruang membutuhkan ruang lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal inilah menyebabkan adanya interaksi antarsatu ruang dengan yang lainnya. Termasuk komunikasi antar manusia yang tinggal di dalamnya.

Salah satu yang menjadi alasan adanya interaksi antar-ruang adalah perbedaan potensi dan sumber daya yang dimiliki. Interaksi antarruang dapat berupa pergerakan orang, barang, atau informasi dari daerah asal menuju daerah tujuan atau dari suatu daerah ke daerah lain. Salah satu bentuk interaksi keruangan yang kita kenal adalah interaksi keruangan desa dan Kota.

Keruangan Desa dan Kota
Desa
Desa adalah wilayah yang bercirikan agraris dan masyarakatnya memiliki hubungan kekerabatan yang kental (gemeinschaft). Gemeinschaft (paguyuban) mengacu pada ikatan solidaritas yang bisa didasari kekerabatan, kesamaan tempat tinggal, atau kesamaan tempat kerja.

Pola keruangan desa
1. Pola Linier atau Memanjang. Adalah pola garis lurus. Desa dengan pola linier memiliki bentuk yang mengikuti jalan atau sungai sehingga mobilitas penduduk, barang, dan jasa lebih dimudahkan. Bisa juga memanjang mengikuti garis pantai apalagi bagi masyarakat nelayan yang memang perlu beraktivitas di sekitar laut.
2. Pola Memusat atau Terpusat. Pola pemukiman terpusat ini bisa terjadi karena banyak orang yang tinggal di area tertentu sehingga permukimannya terpusat di lokasi tersebut.
3. Pola Menyebar atau Terbesar. Pola tersebar biasanya dapat ditemukan di wilayah pegunungan atau dataran yang memiliki teknologi pertanian tinggi. Di pegunungan, warga tentu harus mencari tanah yang cukup datar untuk bisa membuat rumah mereka. Memungkinkan faktor topografi mempengaruhi lokasi rumah-rumah di wilayah seperti ini.
4. Mengelilingi Fasilitas Tertentu. Biasanya mengelilingi fasilitas tertentu contohnya sumber mata air seperti waduk atau danau.

Klasifikasi desa
Desa berdasarkan perkembangannya dapat dibagi menjadi tiga di antaranya,
1. Desa Swadaya. Desa swadaya bisa dibilang desa yang paling sederhana, dicirikan dengan kehidupan yang bergantung pada alam, produktivitas rendah, dan pekerjaan homogen. Contohnya, desa Anak Dalam dan Suku Baduy.
2. Desa Swakarya. Desa swakarya kadang disebut sebagai desa transisi. Desa ini mampu menyelenggarakan pemerintah dan adat istiadatnya mulai longgar. Dibandingkan desa swadaya, pekerjaan di desa ini beragam. Contohnya seperti desa di Kalimantan.
3. Desa Swasembada. Desa swasembada adalah desa mandiri dengan sarana prasarana lengkap. Pengelolaan administrasi desa juga tergolong baik dan terorganisir. Pekerjaannya banyak bergerak di bidang jasa. Contohnya seperti Desa Selo yang terletak di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Kota
Kota didefinisikan sebagai wilayah yang memiliki ciri non agraris dan masyarakatnya cenderung individualistis. Kegiatan ekonomi di perkotaan biasanya berbasis sektor industri dan jasa.

Tahapan Perkembangan Kota
1. Tahap Eopolis, tahapan pertumbuhan kota yang pertama ini, dicirikan dengan terbentuknya benih kota, yakni perkampungan. Wilayah ini masih mencirikan kehidupan pedesaan, namun sudah condong menjadi sebuah kota. Kegiatan masyarakat masih terfokus pada sektor pertanian, pertambangan, perkebunan, dan perikanan.
2. Tahap Polis, pada tahapan ini, ciri utamanya yakni tumbuhnya pengaruh industri yang belum begitu besar, dan masyarakatnya lebih cenderung untuk membuka produksi kecil-kecilan (home industry).
3. Tahap Metropolis. Setelah tahapan polis mulai menampakkan pertumbuhan, lalu masuk kedalam tahapan metropolis yang dapat dilihat berdasarkan struktur ruang kota yang sudah berkembang dan cukup besar. Kota ini juga sudah memiliki pengaruh bagi wilayah sekitarnya dan memunculkan kota satelit atau kota-kota penyangga yang berada di sekitar kota metropolis.
4. Tahap Megapolis, tak berbeda jauh dengan tahapan metropolis, pada megapolis, dicirikan perilaku penduduknya rata-rata materialistis, dan sistem birokrasinya mulai rancu akibat  jumlah penduduk yang terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan penduduknya yang kompleks.
5. Tahap Tyranopolis, hal ini menjadi awal mula kemunduran sebuah kota, di mana angka kriminalitas naik dan kondisi perdagangan menurun.
6. Tahap Necropolis yang berarti tahap kehancuran. Kota dinilai hancur dan ditinggalkan penduduknya akibat kekacauan. Beberapa faktor yang memicu tahapan ini antara lain kelaparan, perang, bencana, atau sistem tata kota yang buruk. Salah satu contoh kota ini adalah Kota Pripyat di Ukraina, yang ditinggalkan penduduknya akibat bencana ledakan pembangkit listrik negara nuklir di Chernobyl pada tahun 1986.

Pola Keruangan Kota
1. Teori Kota Konsentrik
Model kota ini merupakan salah satu model teoritis kota paling awal, model ini diciptakan oleh sosiolog Ernest Burgess pada tahun 1925. Burgess merujuk kepada teori ekologi manusia dan studinya di kota Chicago untuk membuat model ini, Burgess merupakan ahli pertama yang mendeskripsikan distribusi kelas sosial dalam modelnya.

Model konsentrik Burgess memiliki 5 zona dengan penggunaan lahan yang berbeda di antaranya,
a. Central Business District
Zona ini merupakan zona sentral yang mempunyai harga lahan tertinggi. Pada zona ini, kegiatan ekonomi umumnya berasal dari sektor tersier dan memiliki profit yang tinggi. Zona ini juga memiliki aksesibilitas yang sangat tinggi karena merupakan titik konvergensi dari berbagai jaringan transportasi baik itu intra-kota maupun antar-kota.

Zona CBD umumnya memiliki bangunan yang tinggi karena bangunan yang luas dirasa tidak menguntungkan mengingat harga tanah yang sangat mahal. Hampir tidak ada perumahan atau apartemen pada zona ini dikarenakan aktivitas ekonomi yang sangat intens.

b. Zone of Transition
Zona transisi terdiri dari zona mixed use antara residensial dan komersial, selain itu ia juga umumnya dipenuhi oleh pabrik-pabrik tua. Zona ini sangat dekat dengan CBD dan memiliki karakteristik yang selalu berubah. Zona ini cenderung dianggap sudah mengalami decay karena terdapat sangat banyak bangunan-bangunan tua.

Pada awal pembentukan kota, zone of transition umumnya merupakan tempat industri dan perumahan bagi buruh pabriknya. Zona ini umumnya memiliki penduduk yang relatif miskin dan hidup dengan kondisi yang kurang baik.

Walaupun harga tanah mahal, jarak yang dekat dengan tempat kerja dan kepadatan penduduk yang relative tinggi membuat biaya tempat tinggal dan transportasi tidak semahal di wilayah suburban.

c. Zone of Independent Worker Homes
Zona ini diisi oleh perumahan-perumahan yang memiliki kualitas lebih tinggi dari zona transisi, umumnya pekerja pabrik yang lebih kaya dan memiliki pangkat lebih tinggi tinggal di zona ini. Zona ini memiliki variasi umur dan kualitas bangunan yang cukup tinggi, oleh karena itu, ia memerlukan redevelopment skala kecil yang terfokus untuk memperbaiki beberapa areanya.

Karena zona ini lebih dekat dengan pusat kota serta pabrik-pabrik di sekitarnya, biaya transportasinya pun lebih murah jika dibandingkan daerah outer suburbs.  Oleh karena itu, zona ini digunakan umumnya oleh para pekerja pabrik dan pekerja retail di pusat kota.

d. Zone of Better Residences
Daerah ini umumnya dihuni oleh pekerja dengan tingkat ekonomi menengah dan keatas, rumah-rumah di zona ini juga relatif lebih besar dan berkualitas lebih tinggi. Rumah-rumah di sini dibangun dengan sekat antar rumah yaitu pekarangan atau pagar, hal ini dilakukan agar privasi dari penghuni rumah tersebut lebih terjaga.

Fasilitas publik yang ada pada zona ini umumnya lebih lengkap dan berkualitas lebih baik. Peningkatan kualitas hidup ini diiringi dengan meningkatnya waktu dan biaya yang harus dikeluarkan untuk transportasi, sehingga berpotensi menyebabkan stress perjalanan.

e. Commuters Zone
Ini merupakan zona yang paling jauh dari pusat kota, oleh karena itu, zona ini memiliki biaya dan waktu transportasi ke pusat kota yang paling lama. Penduduk zona ini umumnya merupakan kelas atas yang dapat membeli rumah besar, tanah luas, dan dapat menanggung biaya transportasi yang relatif tinggi.

Fasilitas yang tersedia pada zona ini antara lain adalah mall, bioskop, dan taman-taman besar. Umumnya, pembangunan pada daerah ini dicirikan dengan kepadatan bangunan dan penduduk yang rendah.
 
f. Teori Kota Sektoral
Teori sektoral kota dikemukakan oleh land economist (ekonom pertanahan) Homer Hoyt. Model ini merupakan pengembangan dari model sektoral Burgess, karena zonasi yang bersifat sektoral, model ini memungkinkan pertumbuhan keluar, tidak seperti model Burgess yang dianggap cukup stagnan.

Model ini sesuai dengan struktur kota-kota di Inggris karena kota-kota zaman dahulu, terutama di Inggris dan Eropa sangat bergantung pada transportasi. Semua zonasi dan perkembangan wilayahnya tergantung dari ketersediaan dan kualitas jalur transportasi.

Secara umum, kota-kota kuno umumnya mengikuti model sektoral Hoyt, sedangkan kota-kota baru umumnya mengikuti model konsentrik Burgess. Seperti model konsentrik Burgess, model sektoral Hoyt juga mempunyai banyak sekali kelemahan menurut para kritik, kelemahan-kelemahan tersebut di antaranya,
a. Transportasi. Model ini dibuat dengan mengacu pada transportasi rel kereta dan tidak memperhitungkan adanya kendaraan pribadi yang dapat mempermudah transportasi di daerah pinggiran kota.
b. Faktor Fisik. Faktor fisik dapat menghambat ataupun menunjang perkembangan sektor-sektor tertentu, sehingga pada kondisi asli, sektor yang ada tidak seperti yang ada pada model ini.
c. Urban Sprawl. Perkembangan kota yang bercorak leapfrog dapat mengganggu pola persebaran sektor dari model ini. Jika terjadi sprawl bercorak leapfrog, pola kota yang terbentuk tidak akan sesuai dengan model sektor ini.
d. Perkembangan Pemukiman Jenis Baru. Model ini juga tidak memperhitungkan adanya edge cities dan boomburb yang mulai populer pada era 1980an. Semenjak adanya boomburb dan edge cities, CBD mulai kehilangan perannya sebagai pusat kegiatan karena semakin banyak pusat bisnis dan komersial melakukan relokasi ke wilayah suburban.
 
2. Teori Kota Multiple Nuclei
Model multiple nuclei atau inti banyak diciptakan oleh Chauncy Harris dan Edward Ullman pada tahun 1945 dalam artikel mereka yang berjudul “Nature of Cities”. Model ini mendeskripsikan bentuk kota yang diinspirasi dari kota Chicago.

Menurut mereka, sebuah kota yang pada awalnya hanya memiliki satu CBD akhirnya akan mengalami pertumbuhan CBD kecil yang berlokasi di dekat pinggiran kota pada wilayah pemukiman kaya. CBD baru ini menciptakan suatu node baru dalam kota tersebut, oleh karena itu model ini disebut multiple nuclei. Tujuan utama mereka dalam menciptakan model ini di antaranya,
a. Merepresentasikan kompleksitas area urban, terutama yang berukuran besar
b. Mengembangkan model konsentrik Burgess

Seiring dengan perkembangan dari kota, pusat-pusat transportasi seperti bandara, pelabuhan dan halte akan dibangun untuk mengurangi biaya transportasi, baik bagi industri maupun untuk komersial. Pusat-pusat transportasi ini akan memiliki externality negatif seperti polusi udara dan harga tanah yang lebih rendah, sehingga harga tanah di sekeliling pusat transportasi tersebut akan cenderung lebih murah.

Penginapan seperti hotel dan motel juga akan dibangun dekat dengan pusat transportasi tersebut karena umumnya orang yang bepergian ingin menginap dekat dengan pusat transportasi mereka. Menurut Harris dan Ullman, sebuah kota tidak mungkin hanya mempunyai satu nukleus inti, umumnya kota mempunyai banyak nukleus-nukleus lainnya yang bertindak sebagai growth point.

Teori ini didasarkan pada sebuah hipotesa bahwa dengan adanya kendaraan pribadi, mobilitas penduduk semakin besar. Peningkatan mobilitas ini memungkinkan adanya spesialisasi antar wilayah (contoh. Industri berat, pusat perbelanjaan, pusat wisata, pusat bisnis, dll). Oleh karena itu, model ini cocok untuk diaplikasikan kepada kota-kota yang besar dan terus berkembang.

Jumlah nukleus yang ada pada wilayah kota bervariasi tergantung dengan situasi kota tersebut dan aspek historis. Model berinti banyak ini umumnya terbentuk ketika:
a. Aktivitas industri tertentu memerlukan fasilitas transportasi, seperti pelabuhan dan stasiun kereta api untuk menurunkan biaya transportasi.
b. Terdapat aktivitas-aktivitas yang cenderung terpisah, seperti area perumahan dengan bandara, dan wilayah pabrik dengan taman-taman kota.
c. Terdapat aktivitas-aktivitas yang cenderung menyatu karena saling menguntungkan, seperti universitas dengan toko buku dan café, serta pabrik dengan pusat transportasi seperti pelabuhan dan stasiun kereta api.
d.  Ada aktivitas atau fasilitas tertentu yang harus berlokasi di area tertentu suatu kota, seperti CBD yang memerlukan jaringan transportasi ekstensif ke semua bagian kota, dan pabrik yang memerlukan jaringan distribusi, penyimpanan dan transportasi material yang baik.

Interaksi Desa-Kota
Desa dan kota memiliki sifat yang dinamis. Hal inilah yang menyebabkan kedua wilayah tersebut dapat saling berinteraksi dalam proses perkembangannya. Interaksi dalam hal ini adalah hubungan timbal balik antara dua wilayah (desa-kota) yang dapat menimbulkan gejala baru. Misalnya Desa A sebagai penghasil kapas, sedangkan Kota B memiliki industri tekstil.

Interaksi yang terjadi adalah Desa A menjualkan hasil panennya ke Kota B. Berikut penjelasan Edward Ullman bahwa interaksi terjadi karena tiga faktor utama di antaranya,
1. Komplementaritas (regional complementary), yaitu perbedaan ketersediaan sumber daya antar wilayah seperti kegiatan permintaan dan penawaran
2. Saling berintervensi (intervening opportunity), yaitu kemungkinan adanya perantara yang menghambat atau melemahkan interaksi antar wilayah seperti kehadiran wilayah lain ataupun peristiwa tidak terduga (misal bencana alam)
3. Transferabilitas (spatial transfer ability), yaitu berkaitan dengan pergerakan barang/gagasan yang dipengaruhi oleh jarak antar wilayah, biaya, dan sarana transportasi

Zona Interaksi Desa-Kota
Salah satu dampak interaksi desa-kota adalah terbentuknya kota kecil di perbatasan wilayah desa-kota. Bintarto pun menjelaskan bahwa interaksi tersebut menghasilkan zona yang berpola konsentrik berikut di antaranya,
1. City : pusat kota.
2. Urban : daerah yang memiliki suasana kehidupan atau penghidupan yang modern atau disebut daerah perkotaan.
3. Suburban atau Fauburgh : suatu daerah peralihan yang lokasinya berdekatan dengan pusat kota dengan luas mencakup daerah penglajo atau commuter
4. Suburban Fringe : daerah peralihan antara kota dan desa, lokasinya mengelilingi suburban.
5. Urban Fringe : daerah batas luar kota yang memiliki sifat-sifat yang serupa dengan kota kecuali pusat kota.
6. Rulal Urban Fringle : jalur daerah yang terletak antara daerah kota yang berdekatan dengan desa, daerah ini juga ditandai dengan penggunaan tanah campuran.
7. Town : suatu kota kabupaten.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 1.1 Kelompok Sosial di Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016) 
2. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 1.2 Kelompok Sosial di Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
3. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 1.3 Kelompok Sosial di Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
4. Materi Sosiologi Kelas XI. Bab 1. Kelompok Sosial di Masyarakat (Kurikulum 2013)
5. Materi Sosiologi Kelas XI. Bab 5. Kelompok Sosial di Masyarakat (KTSP)
6. Materi Ujian Nasional Kompetensi Kelompok Sosial
7. Materi Ringkas Kelompok Sosial dan Mobilitas Sosial

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” _Imam Syafi’i

Post a Comment for "Keruangan Desa dan Kota, serta Interaksinya"