Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gerak Orogenesa: Pengertian, Sifat, Gerak, Hasil, dan Perbedaannya dengan Epirogenesa

Gerak Orogenesa: Pengertian, Sifat, Gerak, Hasil, dan Perbedaannya dengan Epirogenesa


Pengertian Gerak Orogenesa

Gerak orogenesa adalah gerakan pada lapisan kulit bumi secara horizontal maupun vertikal akibat pengangkatan dan penurunan permukaan bumi yang terjadi sangat cepat sekali. Orogenesa berasal dari kata Oros yang artinya pegunungan dan genos yang artinya pembentuk. Jadi, orogenesa adalah sebuah gerakan pembentuk pegunungan.

Umumnya, orogenesa terjadi dalam wilayah yang sempit dan dipengaruhi oleh faktor kompresi dan pelipatan. Sebagai gerakan yang membentuk pegunungan, maka bentang alam yang dibentuk oleh proses orogenesa cenderung cukup mencolok. Artinya terdapat perbedaan ketinggian atau bentuk yang signifikan dibandingkan dengan wilayah sekitarnya.

Gerakan orogenesa dapat berbentuk vertikal ataupun horizontal yang diakibatkan oleh adanya gaya kompresi atau tekanan pada kerak bumi yang cukup intens. Hampir semua gerakan orogenesis dipengaruhi oleh tektonik lempeng berupa subduksi dan kolisi. Namun, kedua ini akan menghasilkan gerakan orogenesis yang berbeda-beda pula.

Gerak Orogenesa Menurut Para Ahli
1. Gilbert (1890), orogenesa sebagai gerak pergeseran yang berlangsung dalam kerak bumi yang menghasilkan rangkaian pegunungan.
2. Stille (1920), orogenesa adalah perubahan yang terjadi secara berkala pada suatu pola batuan. Ada dua faktor utama dari orogenesa yaitu faktor waktu kejadian (peristiwa) dan juga faktor proses.
3. Upham (1984), menekankan peran proses pembentukan pegunungan oleh adanya gejala perlipatan dan patahan yang menghasilkan punggungan-punggungan sempit yang kemudian terangkat.

Sifat Jalur Orogen
Gejala orogenesa selalu ditandai oleh proses perlipatan atau pengangkatan yang menghasilkan ketidakselarasan bersudut. Jalur orogen biasanya ditandai oleh poros lipatan yang berbeda-beda dan suatu bidang ketidakselarasan. Sifat-sifat umum dari suatu jalur orogen di antaranya,
1. Dicirikan oleh proses deformasi yang berlangsung berkali kali
2. Terdiri atas lapisan sedimen tebal yang terlipat dengan arah sumbu lipatan berbeda-beda
3. Merupakan pengaruh dari berbagai proses yang berbeda-beda, termasuk intrusi dan gejala lengseran gaya berat, yang bekerja pada suatu bahan yang berbeda sifat serta kedalamannya.

Orogen yang sudah diketahui lokasi dan waktu pembentukannya, biasanya akan diberi nama. Ada beberapa cara yang dilakukan untuk menentukan umur atau waktu berlangsungnya suatu orogen di antaranya,
1. Menentukan umur gejala ketidakselarasannya
2. Menentukan Umur Radiometriknya
3. Menentukan Umur Batuan Metamorfisnya
4. Mengetahui produk endapannya (sedimen flysh ataupun mollase).

Zona di mana terjadinya gejala orogenesa merupakan suatu wilayah yang sebelumnya adalah suatu cekungan panjang, sempit, dan mempunyai endapan sedimen yang tebal. Geosinklin merupakan suatu contoh struktur lekukan yang sangat panjang, yang di dalamnya terendapkan sedimen yang sangat tebal.

Gerak Orogenesa
Gerakan orogenesa secara umum dapat dibagi menjadi dua di antaranya gerakan yang menghasilkan patahan dan lipatan. Dinamika antara keduanyalah yang akan membentuk bentang alam pegunungan dalam orogenesis.
1. Patahan
Patahan pada dasarnya adalah gerakan vertikal atau horizontal di mana kerak bumi yang elastis patah ketika diberikan tekanan. Hal ini mungkin saja terjadi ketika tekanan yang diberikan terlalu besar atau tekanan tersebut langsung diterima dalam jangka waktu yang relatif pendek.

Tekanan yang tinggi dan diberikan dalam jangka waktu yang pendek ini menyebabkan batuan patah karena gaya yang diterima melebihi titik patah batuan. Secara umum, terdapat beberapa bentang alam dan fenomena sehari-hari yang diasosiasikan dengan proses patahan. Fenomena-fenomena tersebut di antaranya,
a. Tanah naik (Horst) adalah daratan yang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya karena terjadi patahan. Horst terbentuk ketika suatu dataran ditekan secara horizontal dari dua arah atau lebih, sehingga terdorong ke atas
b. Tanah turun (Graben/Slenk) adalah daratan yang lebih rendah dibandingkan daerah sekelilingnya karena terjadi patahan. Graben terbentuk ketika suatu daratan mengalami penarikan secara horizontal dari dua arah atau lebih yang menyebabkan penurunan permukaan bumi dan terbentuknya lembah.
c. Sesar (Fault) adalah fenomena patahan di suatu wilayah yang dapat bergerak vertikal ataupun horizontal. Secara umum, sesar vertikal dibagi menjadi sesar normal dan sesar naik. Sedangkan, sesar horizontal dibagi menjadi sesar dekstral dan sesar sinistral.
d. Block Mountain adalah kumpulan pegunungan yang terdiri dari patahan-patahan. Pegunungan ini terbentuk karena dinamika tenaga endogen di suatu wilayah yang membentuk banyak patahan naik turun, sehingga seolah membentuk pegunungan.

Semua contoh fenomena di atas terjadi ketika tekanan yang diberikan kepada suatu batuan/kerak bumi terlalu tinggi sehingga kerak bumi mengalami pematahan.
 
2. Lipatan
Lipatan atau kerap disebut folding pada dasarnya adalah gerakan horizontal di mana kerak bumi yang elastis mengalami deformasi tetapi tidak patah. Deformasi ini membuat kerak bumi tersebut terlipat sehingga membentuk pegunungan dan perbukitan.

Proses lipatan ini akan menghasilkan dua jenis pegunungan/perbukitan yaitu yang berupa sinklinal dan antiklinal. Sinklin di sini artinya adalah lipatannya menghadap ke bawah, sedangkan antiklin lipatannya menghadap ke atas. Terdapat beberapa jenis lipatan yang dapat kita lihat di antaranya,
a. Lipatan Tegak terbentuk ketika gaya horizontal sama kuat sehingga tidak ada kemiringan dalam perlipatannya
b. Lipatan Miring terbentuk ketika kekuatan gaya horizontal tidak sama, sehingga arah gaya yang lebih kuat mendorong ke arah gaya yang lebih lemah
c. Lipatan Rebah terbentuk karena ada gaya horizontal namun hanya berasal dari satu arah saja
d. Lipatan Menutup terbentuk ketika ada gaya tangensial yang mempengaruhi pembentukan lipatan
e. Sesar Sungkup terbentuk karena ada patahan pada proses perlipatan batuan

Kelima jenis lipatan tersebut memiliki karakteristik serta proses terbentuk yang berbeda-beda. Bentang alam yang dihasilkan oleh kelima jenis lipatan tersebut pun berbeda-beda pula.
 
Hasil Proses Orogenesa
Bentang alam yang merupakan hasil dari proses orogenesa di antaranya,
1. Pegunungan
Orogenesa merupakan proses pembentukan pegunungan. Hal ini terjadi karena adanya proses subduksi atau kolisi yang melipat kerak bumi sehingga tercipta pegunungan.

Dua barisan pegunungan besar di dunia antara lain adalah pegunungan sirkum pasifik dan sirkum mediterania. Kedua barisan pegunungan ini dipengaruhi oleh dinamika banyak lempeng bumi, yang antara lain adalah lempeng Afrika, Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Amerika.

Bahkan, proses ini dapat membentuk gunung api ketika subduksi terjadi pada kedalaman yang tepat sehingga bisa terbentuk magma dari lelehan kerak bumi yang menghujam kedalam mantel tersebut.
 
2. Tebing
Patahan berbentuk sesar kerap menciptakan tebing-tebing di wilayah tertentu. Tebing seperti apa yang terbentuk sangat bergantung kepada sesar seperti apa yang terbentuk, apakah sesar naik atau sesar normal.
 
3. Sesar Transform
Sesar transform adalah garis sesar memanjang di suatu wilayah yang terbentuk ketika sesar tersebut bergerak menyamping secara horizontal, bukan vertikal. Umumnya, sesar ini terbentuk di daerah-daerah perbatasan antara 2 lempeng tektonik.

Salah satu contoh sesar transform yang paling terkenal adalah sesar San Andreas di benua Amerika. Sesar ini merupakan hasil interaksi pergerakan antara lempeng San Andreas dengan lempeng Amerika Utara.

Perbedaan antara Orogenesa dan Epirogenesa
Perbedaan utama dari orogenesis dan epirogenesis adalah durasi dan proses terjadinya. Orogenesis terjadi dalam durasi waktu yang cepat dan umumnya berupa proses pemadatan dan pelipatan secara horizontal. Namun, dinamika horizontal dari orogenesis ini juga mampu menghasilkan pergerakan vertikal, seperti yang kita lihat pada pembentukan gunung dan tebing-tebing.

Sedangkan, epirogenesis terjadi dalam jangka waktu yang lama dan umumnya terjadi secara vertikal, membentuk dataran tinggi dan dataran rendah. Epirogenesa tidak mempengaruhi daerah yang sempit, tetapi mempengaruhi daerah yang luas, bahkan satu benua.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 4. Rancangan Penelitian Sosial (KTSP)
2. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 5. Pengumpulan Data dalam Penelitian (KTSP)
3. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 6. Pengolahan Data (KTSP)
4. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 7. Penulisan Laporan Penelitian (KTSP)
5. Materi Sosiologi Kelas X Bab 4.1 Rancangan Penelitian Sosial (Kurikulum Revisi 2016)
6. Materi Sosiologi Kelas X Bab 4.2 Rancangan Penelitian Sosial (Kurikulum Revisi 2016) 

7. Materi Sosiologi Kelas X Bab 5.1 Pengumpulan Data dalam Penelitian (Kurikulum Revisi 2016)
8. Materi Sosiologi Kelas X Bab 5.2 Pengumpulan Data dalam Penelitian (Kurikulum Revisi 2016)
 
9. Materi Sosiologi Kelas X Bab 6.1 Pengolahan dan Analisis Data (Kurikulum Revisi 2016)
10. Materi Sosiologi Kelas X Bab 6.2 Pengolahan dan Analisis Data (Kurikulum Revisi 2016) 

11. Materi Sosiologi Kelas X Bab 7.1 Laporan Penelitian (Kurikulum Revisi 2016)
12. Materi Sosiologi Kelas X Bab 7.2 Laporan Penelitian (Kurikulum Revisi 2016)
13. Materi Ujian Nasional Kompetensi Jenis Penelitian Sosial
14. Materi Ujian Nasional Kompetensi Langkah-Langkah Penelitian Sosial
15. Materi Ujian Nasional Kompetensi Metode Penelitian Sosial
16. Materi Ujian Nasional Kompetensi Manfaat Hasil Penelitian       
17. Materi Ringkas Jenis, Prosedur, Metode (Pendekatan), dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian
18. Materi Ringkas Penentuan Topik dan Manfaat Penelitian

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Orang cerdas selalu punya cara untuk menang __Nasurudin Hoja

Post a Comment for "Gerak Orogenesa: Pengertian, Sifat, Gerak, Hasil, dan Perbedaannya dengan Epirogenesa"