Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Limbah Pertanian: Pengertian, Jenis, Dampak, dan Cara Pengelolaannya

Limbah Pertanian: Pengertian, Jenis, Dampak, dan Cara Pengelolaannya


A. Pengertian Limbah Pertanian

Limbah pertanian adalah sisa dari proses produksi pertanian. Limbah pertanian juga dapat diartikan sebagai bagian material biologi yang terkumpul sebelum atau sementara hasil utamanya diambil untuk keperluan konsumtif. Limbah pertanian bisa dikatakan sangat melimpah keberadaannya saat suasana panen raya.

barang sisaan ini biasanya hanya dikumpulkan sebagai sampah serta ditangani dengan cara dibakar saja. Padahal sebenarnya limbah pertanian tersebut masih dapat diolah menjadi bahan bakar langsung, difermentasi menjadi gas bio, media atau campuran media jamur, campuran makanan ternak lainnya.

B. Jenis Limbah Pertanian
Limbah pertanian terbagi menjadi tiga jenis di antaranya,
1. Limbah Pertanian Berdasarkan Sumber Penghasilannya
Limbah pertanian berdasarkan sumbernya dikelompokkan di antaranya,
a. Limbah Tanaman Pangan dan contohnya
Limbah tanaman pangan berasal dari hasil pengelolaan tanaman yang menjadi bahan pangan, seperti padi, jagung, ketela pohon, kacang kedelai, kacang hijau, dan kacang tanah. Limbah tanaman pangan sering dimanfaatkan sebagai bahan baku pengelolaan pupuk atau pupuk organik.

Tanaman pangan yang cocok dimanfaatkan sebagai pupuk, yaitu padi, jagung dan singkong. Limbah tanaman jagung juga dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengemasan makanan tradisional, seperti wajik dan dodol.

b. Limbah Tanaman Hortikultura: Tanaman Sayuran dan Buah-buahan
Sayuran dan buah-buahan yang rusak atau tidak memenuhi kualitas penjualan akan menjadi limbah pertanian. Limbah tanaman sayuran dapat berasal dari pengelolaan hasil pertanian bawang merah, bawang putih, kentang, kubis, kembang kol, wortel, lobak, kacang merah, kacang panjang, cabai, paprika, tomat, buncis, kangkung, bayam, mentimun, dan jenis sayuran lainnya.

Limbah tanaman buah-buahan dapat berasal dari pengelolaan hasil pertanian alpukat, belimbing, anggur, apel, mangga, manggis, pepaya, durian, dan jenis buahan lainnya. Limbah ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bahan pembuatan pupuk kompos atau pupuk organik.

c. Limbah Tanaman Perkebunan dan contohnya
Limbah tanaman perkebunan berasal dari pengelolaan hasil perkebunan, seperti kelapa, kelapa sawit, teh, kopi, cengkeh, kakao, jambu mete, dan tebu. Limbah dari hasil tanaman kelapa sawit, teh, kopi, cengkeh, kakao, jambu mete, dan tebu cocok untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk organik.

Sedangkan limbah dari tanaman kelapa dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan arang serta kerajinan atau bahan baku industri rumah tangga, seperti keset.

d. Limbah Peternakan dan contohnya
Peternakan menjadi salah satu penghasil limbah yang paling besar dan terus mengalami peningkatan seiring dengan penambahan jumlah hewan ternak. Limbah peternakan berasal dari pengelolaan sapi perah, sapi potong, kerbau, kuda, domba, kambing, babi, dan unggas. Limbah peternakan sangat cocok untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuahan pupuk organik atau pupuk kompos, baik dalam bentuk padat maupun cair.

Limbah dari hasil pengelolaan sapih perah, sapi potong, ayam padaging, ayam buras, dan ayam petelur menjadi yang paling cocok untuk dimanfaatkan dalam pembuatan pupuk kompos. Selain itu, limbah peternakan juga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan biogas.

e. Limbah Organik Perkotaan
Jumlah limbah di perkotaan semakin meningkat seiring dengan penambahan jumlah penduduk. Beberapa kota dengan produksi limbah tertinggi di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Surakarta. Limbah organik di perkotaan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk kompos atau pupuk organik serta bahan pembuatan bioenergi.

2. Limbah Pertanian Berdasarkan Waktu penghasilannya
Limbah pertanian berdasarkan waktunya dibagi menjadi tiga di antaranya,
a. Limbah Prapanen, merupakan limbah yang terkumpul sebelum atau saat hasil pertanian utama sedang diambil, seperti jamur, daun, batang, ranting tanaman, dan kotoran hewan.
b. Limbah Saat Panen, merupakan limbah yang dihasilkan saat musim panen, seperti jerami jagung, jerami padi, sorgum, pelepah pisang, daun pisang, dan jerami kacang tanah.
c. Limbah Pascapanen, merupakan limbah yang terkumpul setelah proses panen, seperti kulit, darah, jeroan, tempurung kelapa, sabut kelapa, sekam kasar, dedak, meni, serta buah atau sayuran yang rusak.  Limbah industri pertanian juga menjadi bagian dari limbah pascapanen. Limbah ini berasal dari pabrik atau industri pengolahan hasil pertanian.   

3. Limbah Pertanian Berdasarkan Wujudnya
Limbah pertanian berdasarkan wujudnya dibagi menjadi tiga jenis di antaranya,
a. Limbah Padat
Limbah padat dapat berasal dari limbah prapanen, limbah panen, limbah pascapanen, dan limbah industri pertanian, seperti daun kering, jerami, sabut dan tempurung kelapa, serta ampas tahu. Limbah padat ini jika dibiarkan menumpuk akan menyebabkan pencemaran lingkungan serta memunculkan hewan, seperti lalat, kecoak, dan tikus yang dapat membawa berbagai kuman penyebab penyakit.

b. Limbah Cair
Limbah cair biasanya dihasilkan dari proses pembersihan bahan pangan dan peralatan pengelolaan hasil pertanian, sisa pupuk cair, serta bahan-bahan (kotoran) lain yang dihanyutkan. Limbah cair tersebut akan menyebabkan mikroorganisme berkembang biak secara cepat karena banyak mengandung bahan organik berupa nutrient. Proses perkembangbiakan mikroogranisme tersebut dapat menghabiskan oksigen yang terlarut dalam air sehingga air menjadi kotor dan menimbulkan bau busuk.

c. Limbah Gas
Limbah gas dihasilkan dalam proses pengolahan hasil pertanian, seperti uap air dari proses pengurangan kadar air selama pelayuan teh dan pengeringannya. Limbah gas perlu disalurkan melalui cerobong agar tidak menimbulkan bahaya.

C. Dampak Limbah Pertanian
Dampak yang terjadi akibat adanya limbah pertanian pada lingkungan dan makhluk hidup di antaranya,
1. Gangguan terhadap Kehidupan Biotik
Dengan banyaknya zat pencemar yang ada di dalam air limbah, maka akan dapat menyebabkan menurunnya kadar oksigen yang terlarut di dalam air limbah. Dengan demikian akan dapat menyebabkan kehidupan di dalam air yang membutuhkan oksigen akan terganggu, dalam hal ini akan dapat mengurangi perkembangannya.

Selain kematian kehidupan di dalam air yang disebabkan karena kurangnya oksigen di dalam air bisa juga disebabkan karena adanya zat beracun yang berada di dalam air limbah tersebut.

Selain matinya ikan serta bakteri-bakteri di dalam air juga bisa menimbulkan kerusakan pada tanaman atau tumbuhan air. Sebagai akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses penjernihan sendiri yang seharusnya dapat terjadi pada air limbah menjadi terhambat.

Sebagai akibat selanjutnya ialah air limbah akan sulit untuk diuraikan. Selain bahan-bahan kimia yang bisa mengganggu kehidupan di dalam air, maka kehidupan di dalam air juga bisa terganggu dengan adanya pengaruh fisik seperti adanya temperatur tinggi yang dapat dikeluarkan oleh industri yang memerlukan proses pendinginan.

Panasnya air limbah ini bisa mematikan semua organisme apabila tidak dilakukan pendinginan terlebih dahulu sebelum dibuang ke dalam saluran air limbah.

2. Gangguan terhadap Keindahan
Dengan semakin banyaknya zat organik yang dibuang oleh perusahaan yang dapat memproduksi bahan organik seperti tapioka, maka setiap hari akan dihasilkan air limbah yang berupa bahan-bahan organik dalam jumlah yang sangat besar.

Ampas yang berasal dari pabrik ini juga perlu dilakukan pengendapan terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran air limbah, akan tetapi memerlukan waktu yang sangat lama.

Selama waktu tersebut maka air limbah dapat mengalami proses pembusukan dari zat organik yang ada di dalamnya. Sebagai akibat selanjutnya ialah timbulnya bau hasil pengurangan dari zat organik yang sangat menusuk hidung.

Di samping bau yang ditimbulkan, maka dengan menumpuknya ampas akan dapat memerlukan tempat yang banyak dan mengganggu keindahan tempat di sekitarnya. Pembuangan yang sama akan dapat dihasilkan juga oleh perusahaan yang menghasilkan minyak serta lemak.

Selain menimbulkan bau juga dapat menyebabkan tempat di sekitarnya menjadi licin. Selain bau serta tumpukan ampas yang mengganggu, maka warna air limbah yang kotor akan dapat menimbulkan gangguan pemandangan yang tidak kalah besarnya.

Keadaan yang demikian akan lebih parah lagi, Jika pengotoran ini dapat mencapai daerah pantai di mana daerah tersebut adalah daerah tempat rekreasi bagi masyarakat sekitarnya.

3. Gangguan terhadap Kesehatan
Limbah cair sangat bisa berbahaya terhadap kesehatan manusia mengingat bahwa banyak penyakit yang bisa ditularkan melalui air limbah. Limbah cair ini ada yang hanya berfungsi sebagai media pembawa saja seperti yaitu penyakit kolera, radang usus, hepatitis infektiosa, dan skhistosomiasis.

Selain sebagai pembawa penyakit di dalam limbah cair itu sendiri banyak terdapat bakteri patogen dengan penyebab penyakit seperti :
a. Virus, dapat menyebabkan penyakit polio myelitis dan hepatitis. Secara pasti modus penularannya masih belum diketahui serta banyak terdapat pada air hasil pengolahan (effluent) pengolahan air limbah.
b. Vibrio Kolera, dapat menyebabkan penyakit kolera dengan penyebaran utama melalui limbah cair yang telah tercemar oleh yaitu kotoran manusia yang mengandung vibrio kolera.
c. Salmonella Typhosa a serta Salmonella Typhosa b,  adalah penyebab tiphus abdominalis dan para tiphus yang banyak terdapat di dalam air limbah bila terjadi wabah. Prinsip penularannya ialah melalui air dan makanan yang telah tercemar oleh yaitu manusia yang berpenyakit tiphus.

D. Pengelolaan Limbah Pertanian
Sebagai produk sisa atau produk buangan, limbah pertanian dapat menimbulkan dampak negatif jika tidak dikelola dengan baik. Namun, jika dikelola secara optimal, limbah pertanian akan memberikan manfaat besar. Berikut beberapa bentuk pengelolaan limbah pertanian di antaranya,
1. Limbah Pertanian sebagai Pupuk Organik
Limbah pertanian yang berasal dari tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, dan peternakan, seperti jerami, singkong, batang dan tongkol jagung, sekam padi, gulma, batang pisang, sabut kelapa, dan kotoran hewan ternak dapat diolah menjadi pupuk kompos melalui proses pengomposan.

Pengomposan merupakan pemanfaatan bahan organik melalui proses penguraian secara biologis. Proses pembuatan pupuk kompos dilakukan dengan mencampur bahan secara seimbang dengan memberikan air yang cukup, mengatur aerasi, dan menambah aktivator pengomposan.

Pencampuran limbah pertanian kering, seperti sisa tanaman, daun kering, dan sampah sapuan diperlukan untuk meningkatkan kualitas pupuk kompos dan rendemen kompos. Penggunaan pupuk kompos dapat meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan kandungan bahan organik tanah, serta meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah.

Aktivitas mikroba dari penggunaan pupuk ini juga akan membantu pertumbuhan tanaman sehingga kualitasnya cenderung lebih baik daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia. Manfaat lain dari penggunaan pupuk kompos adalah menghemat biaya transportasi dan penimbunan limbah, mengurangi limbah, memiliki nilai jual yang lebih tinggi, mengurangi polusi udara akibat pembakaran limbah, serta menambah pemanfaatan lahan karena berkurangnya penimbunan limbah.

2. Limbah Pertanian sebagai Pengendalian Penyakit Tanaman
Selain dapat dimanfaatkan sebagai pupuk yang meningkatkan memperbaiki unsur tanah, limbah pertanian juga dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan penyakit tanaman. Penggunaan limbah pertanian, seperti kotoran ayam dan sapi, baik yang segar maupun yang sudah difermentasi, telah mampu mengendalikan penyakit tanaman.

3. Limbah Pertanian sebagai Pakan Ternak
Limbah pertanian, seperti jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, pucuk ubi kayu, jerami ubi jalar, serta jerami kacang tanah, dapat dimanfaatkan menjadi sumber makanan hewan ternak. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan hewan ternak dilakukan dengan mengeringkan limbah tersebut di bawah sinar matahari selama 3-4 hari.

Pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber makanan ternak juga dapat dilakukan melalui proses fermentasi. Proses fermentasi mampu meningkatkan kandungan nutrisi pakan ternak. Fermentasi dapat dilakukan melalui penggunaan mikroorganisme penghasil enzim yang akan memecah serat kasar serta meningkatkan kandungan proteinnya.

4. Limbah Pertanian sebagai Bahan Kerajinan
Berbagai hasil limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat kerajinan. Salah satu bahan yang dapat diolah untuk kerajinan adalah batang pisang. Batang pisang dapat dijadikan kertas melalui beberapa tahapan. Pertama, memotong batang pisang menjadi bagian-bagian kecil dengan ukuran sekitar 25 cm.

Kemudian, jemur potongan tersebut di bawah sinar matahari hingga kering. Lalu rebus potongan batang pisang hingga menjadi lunak dengan menambahkan formalin atau kostik soda untuk menghilangkan getah dan mempercepat pelunakan batang pisang. Setelah batang pisang menjadi lunak, bersihkan dan blender hingga menjadi bubur. Bentuk atau cetak bahan tersebut menjadi lembaran kertas dan jemur hingga lembaran kertas tersebut mengering.

5. Limbah Pertanian sebagai Produk Budidaya
Onggok merupakan salah satu limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengolahan produk budidaya. Onggok berasal dari hasil pengolahan singkong menjadi tapioka. Onggok menjadi salah satu limbah pertanian yang memiliki kadar pencemaran yang tinggi. Onggok membutuhkan oksigen yang cukup besar untuk proses perombakannya sehingga jika langsung dibuang begitu saja akan mengambil cadangan oksigen di area pembuangannya. Hal tersebut akan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem serta bau busuk yang mencemarkan lingkungan.

Untuk menghindari pencemaran lingkungan tersebut, onggok perlu dimanfaatkan dengan optimal. Salah satu bentuk pemanfaatan onggok, yaitu digunakan sebagai pengganti jerami untuk budidaya jamur merang. Dalam budidaya jamur merang, dilakukan proses pengomposan yang memerlukan kelembapan, sumber nitrogen, dan sumber mikroorganisme perombak selulosa. Proses ini akan menurunkan kadar bahan organik yang terkandung dalam onggok sehingga jika dibuang,  tidak lagi memerlukan banyak oksigen dalam proses perombakannya.

6. Limbah Pertanian sebagai Bioenergi (biogas).
Saat ini, teknologi untuk pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan produksi biogas telah banyak dikembangkan. Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses biologi bahan organik oleh bakteri-bakteri metan. Biogas dapat diproduksi dari hasil pemanfaatan berbagai bahan organik yang dibuat bubur dan diperam selama beberapa hari sampai timbul gas.

Limbah pertanian berupa batang pohon singkong, daun singkong kering, dan onggok yang dicampur dengan kotoran ternak dapat menambah sumber nitrogen dan sumber mikroorganisme biogas, yang kemudian akan diproses menjadi biogas.

Biogas dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi pemanasan dan penerangan serta dimurnikan sebagai gas metan dalam tangki gas yang dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. Dalam proses pembuatan biogas juga akan diperoleh air yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan irigasi serta lumpur yang dapat dikeringkan dan menjadi pupuk kompos.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 4.1 Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Komunitas (Kurikulum 2013)
2. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 4.2 Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Komunitas (Kurikulum 2013)
3. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 4.3 Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Komunitas (Kurikulum 2013)
4. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 4. Pemberdayaan Komunitas (Kurikulum 2013)
5. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 4.1 Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Komunitas (Kurikulum Revisi 2016)
6. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 4.2 Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Komunitas (Kurikulum Revisi 2016)
7. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 4.3 Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Komunitas (Kurikulum Revisi 2016)
8. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 4.4 Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Komunitas (Kurikulum Revisi 2016)  

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Cobalah Untuk Menjadi Orang Baik __Abraham Maslow

Post a Comment for "Limbah Pertanian: Pengertian, Jenis, Dampak, dan Cara Pengelolaannya"