Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Barang Inferior, Aspek, Elastisitas, dan Contohnya

Pengertian Barang Inferior, Aspek, Elastisitas, dan Contohnya


A. Pengertian Barang Inferior (Inferior Good)

Barang inferior (inferior good) atau barang mutu rendah adalah barang yang permintaannya menurun ketika pendapatan konsumen naik (atau permintaan meningkat ketika pendapatan konsumen menurun). Dengan kata lain, dengan meningkatnya pendapatan konsumen, maka mereka akan cenderung mengganti barangnya dengan yang lebih mahal.

Barang mutu rendah ini sering kali dikaitkan dengan kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah. Dapat dilihat juga bahwa barang inferior adalah barang yang memiliki kualitas rendah dan juga harga yang rendah, sehingga bagi konsumen yang memiliki penghasilan pas-pasan, maka barang inferior adalah pilihan terbaik untuk bisa memenuhi setiap kebutuhannya.

Jenis barang ini mempunyai tingkat elastisitas pendapatan yang kurang dari nol. Namun, barang inferior pada setiap negara tidak melulu harus sama. Seperti misalnya pada negara maju, roti mungkin bisa menjadi barang inferior. Tapi pada negara berkembang, roti adalah komoditas yang normal, dan bermasalah yang menjadi barang inferior.

B. Aspek Barang Inferior (Inferior Good)
Terdapat pengaruh penurunan harga terhadap barang inferior. Berikut penjelasan adanya akibat dari perubahan harga atas permintaan produk inferior. Hal ini disebabkan beberapa hal di antaranya,
1. Pengaruh Pendapatan
Pendapatan akan mempengaruhi perubahan harga pada pendapatan riil masyarakat. Sehingga apabila harga barang sedang jatuh, maka penghasilan masyarakat secara riil pun akan meningkat. Oleh karena itu konsumen biasanya cenderung membeli lebih banyak barang dengan jumlah nominal uang yang sama.

Begitu juga sebaliknya apabila harga sedang meningkat, maka pendapatan riil masyarakat akan menurun. Serta barang yang dibelanjakan sedikit dengan nominal yang sama karena harganya meningkat.
a. Akibat Harga Pada Barang Normal
Sebagai akibat barang normal tentu akan memiliki pendapatan yang cukup termasuk positif, di mana secara penghasilan yang meningkatkan finansial bisa terjadi pada suatu masyarakat yang dapat mempengaruhi peningkatan permintaan. Namun jika harga barang jatuh, maka konsumen akan memiliki peningkatan pendapatan riil. Sehingga, nantinya jika harga lebih rendah akan dapat meningkatkan permintaan barang secara normal.

b. Akibat Harga Pada Barang Inferior
Adanya akibat harga dan substitusi juga berlaku pada barang inferior, di mana kedua hal ini memiliki arah yang berlawanan. Ketika harga sedang jatuh, maka pendapatan pada produk inferior pun akan menjadi negatif. Namun apabila penurunan harga maka akan meningkatkan penghasilan riil konsumen, akibatnya akan mengurangi tingkat permintaan konsumen.

Itulah sebabnya barang ini dinilai negatif karena apabila harga barang inferior sedang menurun, maka permintaan juga menurun. Tetapi jika barang tersebut jatuh dan permintaan positif, maka penilaian ini kurang elastis dibandingkan dengan peningkatan.

Di mana jika dibandingkan akibat pendapatan ini bisa mengurangi tingkat jumlah permintaan kuantitas, di mana permintaan 10 item bisa mengakibatkan substitusi menjadi 15 item. Sehingga akhirnya penurunan harga bisa meningkatkan 5 item, di mana penyebab substitusi lebih besar daripada efek pendapatan.

2. Pengaruh Substitusi
Penyebab ini akan berkaitan dengan harga relatif dari dua barang, di mana penyebab subtitusi ini memberikan hasil yang negatif. Selain itu pengaruh inilah yang akan berdampak barang tersebut berlawanan arah dengan perubahan harga di pasar.

Artinya jika harga barang yang naik maka akan mengurangi permintaan konsumen, di mana konsumen akan lebih beralih pada produk alternatif. Akan tetapi jika harga produk menurun, maka permintaan menjadi akan meningkat. Sehingga, nantinya konsumen tersebut akan beralih dari produk pengganti ke produk tersebut.

3. Kondisi Ekonomi
Saat kondisi ekonomi sedang membaik, maka pendapatan masyarakat pun akan lebih meningkat, banyak lapangan pekerjaan dan upah juga akan meningkat. Dalam kondisi ini, maka belanja rumah tangga juga akan mengurangi permintaan pada barang inferior. Mereka akan lebih cenderung menggantinya dengan barang yang memiliki kualitas yang lebih tinggi dan harga yang lebih mahal.

Namun saat kondisi ekonomi sedang mengalami resesi, maka permintaan barang inferior juga akan meningkat. Kondisi resesi akan memperburuk pendapatan rumah tangga masyarakat. Ketika kondisi ini terjadi, maka belanja rumah tangga hanya sebatas pada barang inferior daripada barang normal

C. Elastisitas Barang Inferior (Inferior Good)
Tingkat elastisitas pendapatan merupakan tingkat ukuran dari responsivitas kuantitas permintaan dalam menanggapi dari perubahan pendapatan.
Elastisitas pendapatan dari permintaan (IE) = % Perubahan kuantitas permintaan / % Perubahan pendapatan

Berdasarkan rumus penilaian elastisitas, maka dapat dibedakan barang tersebut menjadi dua kelompok di antaranya,
1. Barang Normal
Untuk barang normal tingkat elastisitasnya positif dan ditandai dengan (IE>0). Pada saat tingkat pendapatan meningkat, maka kuantitas permintaan juga akan meningkat. Akan tetapi pada saat pendapatan menurun, maka jumlah permintaan akan meningkat pula.

2. Barang Inferior
Tingkat elastisitasnya negatif (IE<0). Untuk jenis barang ini tingkat pendapatan akan mampu mengurangi permintaan mereka. Lalu penurunan pendapatan pun akan mampu menghasilkan permintaan barang lebih tinggi.

D. Contoh Barang Normal dan Inferior
Untuk contoh barang normal, kita bisa menemukannya dengan mudah setiap hari. Sedangkan untuk barang mewah, barang ini lebih ditujukan untuk sebagian orang kaya.

Sementara itu, produk barang inferior ini bisa kita temukan dengan mudah pada mereka yang tingkat pendapatannya pas-pasan. Saat penghasilan mereka meningkat, maka mereka akan cenderung meminta barang dengan kualitas yang tinggi. Contoh sederhananya adalah mobil bekas, mobil ini akan lebih disukai oleh konsumen dengan tingkat pendapatannya yang pas.

Namun saat pendapatan mereka meningkat, maka permintaan mereka untuk mobil bekas pun tentu akan menurun. Mereka akan lebih beralih ke mobil baru karena lebih terjangkau. Jadi di dalam kisaran pendapatan seperti ini, mereka akan menganggap bahwa mobil bekas memiliki kualitas yang rendah.

Makanan murah seperti halnya mie instan dan singkong adalah contoh lain dari barang inferior. Saat pendapatan masyarakat sedang meningkat, maka mereka akan lebih memilih makanan yang lebih bergizi, menarik, atau lebih mahal.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 3.1 Ketimpangan Sosial sebagai Dampak Perubahan Sosial di Tengah Globalisasi (Kurikulum 2013)
2. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 3.2 Ketimpangan Sosial sebagai Dampak Perubahan Sosial di Tengah Globalisasi (Kurikulum 2013) 
3. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 3.3 Ketimpangan Sosial sebagai Dampak Perubahan Sosial di Tengah Globalisasi (Kurikulum 2013) 
4. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 3. Ketimpangan Sosial (Kurikulum 2013)
5. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 3.1 Ketimpangan Sosial sebagai Dampak Perubahan Sosial di Tengah Globalisasi (Kurikulum Revisi 2016)
6. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 3.2 Ketimpangan Sosial sebagai Dampak Perubahan Sosial di Tengah Globalisasi (Kurikulum Revisi 2016)
7. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 3.3 Ketimpangan Sosial sebagai Dampak Perubahan Sosial di Tengah Globalisasi (Kurikulum Revisi 2016)  

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Cobalah Untuk Menjadi Orang Baik __Abraham Maslow

Post a Comment for "Pengertian Barang Inferior, Aspek, Elastisitas, dan Contohnya"