Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Emotional Marketing, Aspek, Komponen, Tujuan, Pendekatan, dan Strateginya

Pengertian Emotional Marketing, Aspek, Komponen, Tujuan, Pendekatan, dan Strateginya


A. Pengertian Emotional Marketing

Emotional marketing adalah suatu tindakan yang dilakukan brand untuk menjaga pelanggan-nya agar tercipta ikatan emosi dalam diri pelanggan untuk tetap mempertahankan penggunaan produk dari sebuah brand atau merek.

Emosional marketing juga berarti strategi pemasaran dari suatu perusahaan untuk memenangkan persaingan dengan melakukan pendekatan secara emosional dengan cara membangun hubungan berkelanjutan sehingga konsumen merasa loyal karena merasa dihargai dan diperhatikan.

Dalam banyak penelitian tentang strategi pemasaran yang pernah dilakukan, menunjukkan bahwa konsumen cenderung membuat keputusan untuk membeli suatu produk barang atau jasa karena pengaruh dari dorongan emosi dari pada logika.

Emotional Marketing Menurut Para Ahli
1. Scott Robinette  dan Claire Brand, emotional marketing adalah usaha yang dilakukan oleh perusahaan untuk menciptakan hubungan yang berkelanjutan dengan para konsumen, sehingga konsumen merasa berharga dan diperhatikan yang pada akhirnya akan membuat konsumen loyal pada perusahaan.
2. Hermawan Kartajaya, emotional marketing adalah bagaimana memenangkan persaingan dengan melakukan pendekatan secara emosional terhadap para pelanggannya.  Hal tersebut dilakukan karena persaingan sudah semakin ketat sehingga pendekatan secara rasional saja tidak lagi cukup.
3. Susilo dkk (2015), emotional marketing adalah teknik yang digunakan perusahaan dalam membangun hubungan berkelanjutan yang membuat pelanggan merasa dihargai.
4. Robinette dan Brand (2001), emotional marketing adalah usaha menyeluruh dari perusahaan untuk memperoleh hubungan yang membuat konsumen merasa dihargai dan diperhatikan sehingga konsumen menjadi loyal.

B. Aspek Emotional marketing
Emotional Marketing dapat diukur dari lima (5) aspek di antaranya,
1. Uang. Harga produk / layanan wajar dan ditawarkan dengan harga bersaing dan memiliki promosi yang menarik.
2. Produk. Layanan yang memenuhi kebutuhan orang, dan produk memiliki fungsi yang sesuai dan secara efektif menyelesaikan pekerjaan.
3. Adil. Keadilan terkait dengan kepercayaan. Ketika suatu merek memenangkan kepercayaan konsumennya, itu menjadi dasar untuk pengembangan hubungan dengan konsumen menjadi loyalitas. Identitas merek dan citra merek membantu membangun aset.
4. Pengalaman. Tentang interaksi antara pelanggan dan merek. Sikap pelanggan dapat dipengaruhi oleh kunjungan ke toko atau situs web, kontak karyawan, komunikasi, program loyalitas, dan penggunaan produk atau layanan itu sendiri. Ini adalah peluang terbaik bagi merek untuk mengesankan pelanggan setelah penjualan.
5. Energi. Produk yang dibutuhkan mudah didapat, nyaman bagi masyarakat, harga tinggi, serta nyaman dan efektif bagi pelanggan.

C. Komponen Emotional Marketing
Emotional marketing dilakukan dengan mendengarkan konsumen secara seksama, agar bisa menjalin hubungan yang kuat dengan mereka, dengan cara membawa solusi yang menyenangkan dan dapat meningkatkan gaya hidup ke dalam dunia mereka. Terdapat empat komponen utama yang digunakan dalam membangun emotional branding menurut Gobe (2001) di antaranya,
1. Hubungan (Relationship)
Hubungan yang sangat dalam akan menunjukkan penghargaan pada konsumen dan memberikan mereka pengalaman emosional yang mereka inginkan. Inti dari gagasan ini adalah berhubungan dengan konsumen dan melayani konsumen sebagai makhluk yang nyata, hidup, bernapas dan kompleks. Hubungan juga menjadi sebuah kunci dalam menciptakan suatu merek yang mempunyai keberadaan emosional jangka panjang dalam kehidupan masyarakat.

Sebelum memenuhi kebutuhan pribadi siapa pun dan membuat hubungan emosional yang mendalam, hal yang harus dilakukan pertama kali adalah mengetahui secara pasti karakteristik konsumen. Hal tersebut menjadi semakin kompleks, terutama di dalam masyarakat sangat cepat berubah dan dinamis.

2. Pengalaman Panca-Indra (Sensorial Experience)
Pengalaman panca-indra merupakan aktivitas penciptaan merek dengan cara memberikan rangsangan panca-indra konsumen dengan tujuan menggugah mereka secara emosional serta memperkuat hubungan atau kaitan yang semakin erat antara merek dengan konsumen. Pengalaman panca-indra juga dapat diartikan sebagai kesan pertama yang ditimbulkan ketika indra kita bersentuhan dengan suatu produk.

Pengalaman yang berhubungan dengan panca-indra berlangsung kuat, cepat, dan mampu benar-benar mengubah hidup kita. Beberapa komponen rangsangan panca-indra tersebut di antaranya,
a. Bunyi yang membawa suasana. Bunyi mempunyai dampak yang segera dan jauh lebih langsung terhadap ingatan dan emosi. Berbagai kegunaan musik antara lain sebagai pendekatan yang efektif karena tidak sekedar alat untuk menaruh perhatian konsumen, tetapi juga untuk memikat emosi mereka; musik dapat juga digunakan oleh perusahaan sebagai identitas dirinya.
b. Warna yang menghipnotis/simbol yang memikat. Asosiasi warna memungkinkan mengidentifikasi serta menyampaikan suatu citra dan emosi tertentu. Setiap strategi emotional branding harus mempertimbangkan efek dari warna (atau tidak adanya warna) terhadap merek. Warna yang dipilih secara tepat mengidentifikasikan logo, produk, tampilan merek, serta merangsang ingatan yang lebih baik terhadap suatu merek. Gambar dapat berbicara langsung ke sasaran dengan segera dan dengan jangkauan yang luas.
c. Rasa yang menggiurkan. Menawarkan makanan menunjukkan empati, membuat perasaan menjadi lega, dan bahkan memberikan kesenangan. Ketika konsumen menghabiskan waktunya di sebuah toko, perlu menyediakan tempat bagi mereka untuk duduk dan bersantai, makan dan minum saja.
d. Bentuk yang menyentuh. Memegang, merasakan, membelai, merupakan cara dasar yang menyenangkan untuk menjelajah dan menghadapi dunia. Penelitian telah menemukan bahwa begitu informasi mengenai merek tidak cukup, konsumen cenderung untuk menyentuh produk sebagai evaluasi. Diasumsikan, bahwa para pembeli mengkompensasi ketiadaan informasi dengan cara menggunakan indra mereka untuk memperoleh lebih banyak informasi.
e. Aroma yang menggoda. Masing-masing bau berbeda antara satu dengan yang lainnya dan memberikan petunjuk mengenai bagaimana bau secara halus dapat digunakan untuk mengelola identitas merek. Aroma yang direncanakan dengan baik akan mendorong penjualan, sama halnya dengan warna dan desain cahaya yang cerdas.

3. Imajinasi (imagination)
Imajinasi dalam strategi emotional marketing adalah mengaplikasikan setiap aspek imajinatif dari konsep merek menjadi sebuah bentuk desain merek yang mampu menggugah aspek emosi konsumen. Kreativitas desain dan aspek artistik visual dalam menentukan desain merek, packaging, brand presence (kehadiran merek), gerai, maupun iklan, berperan aktif dalam menjalin hubungan emosional antara merek dengan konsumen.

Desain adalah ekspresi yang paling ampuh dari sebuah merek dan menghidupkan ide-ide hebat melalui desain merupakan cara terbaik dalam menciptakan hubungan yang kekal antara produsen dan konsumen. Pada akhirnya, desain berperan dalam menciptakan emosi, pengalaman indrawi, dan terutama penjualan.

4. Visi (vision)
Dalam strategi emotional marketing, visi merupakan faktor utama dalam kesuksesan merek jangka panjang. Merek berkembang melalui proses life cycle, dan untuk terus memelihara keberadaan dan kompetensi merek dalam pasar maka merek harus selalu berada dalam kondisi keseimbangan dengan cara memperbaharui merek secara terus menerus. Hal ini memerlukan visi merek yang kuat. Perangkat yang dimiliki perusahaan membantu dalam mengarahkan perusahaan agar berada dalam arah yang tepat dan sejalan dengan emosional konsumen pada saat ini.

D. Tujuan Emosional Markening
Tujuan dari strategi pemasaran emotional marketing di antaranya,
1. Menjaga hubungan berkelanjutan dengan para konsumen.
2. Menciptakan rasa kepuasan konsumen terhadap produk barang atau jasa yang dikonsumsinya.
3. Menciptakan loyalitas konsumen.

E. Pendekatan Emotional Marketing
Emotional marketing yang dilakukan harus terasa otentik dan jujur agar dapat diterima oleh calon konsumen. Selain itu, perusahaan juga harus memahami calon konsumen untuk menemukan suatu strategi pendekatan yang tepat.

Berikut beberapa pendekatan yang bisa dipakai yang diharapkan dapat membuat calon konsumen atau mengubah konsumen menjadi konsumen yang loyal dan fanatik di antaranya,
1. Menginspirasi (inspirational). Suatu pendekatan yang dapat digunakan dalam emotional marketing untuk membangun emosi dengan konsumen dan menciptakan hallo effect untuk produk (merek) perusahaan.
2. Aspiratif (aspirational). Suatu pendekatan yang dapat digunakan dalam emotional marketing untuk mencoba menyentuh harapan atau mimpi konsumen. Oleh karenanya, perusahaan harus dapat memahami kebutuhan, harapan, atau keinginan dari konsumen sehingga pendekatan ini akan menjadi berhasil.
3. Mengekspresikan kasih sayang (expressing love), suatu pendekatan yang dapat digunakan dalam emotional marketing yang berfokus pada menarik emosi konsumen terhadap produk barang atau jasa sehingga dapat menjadi produk barang atau jasa yang dapat dipahami dan dipedulikan oleh masyarakat.
4. Pencapaian (a milestone connection). Suatu pendekatan yang dapat digunakan dalam emotional marketing untuk memperkuat hubungan produk barang atau jasa dengan konsumen, melalui pengembangan produk barang atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.
5. Sudut pandang lokal (the local angle). Suatu pendekatan yang dapat digunakan dalam emotional marketing dengan melakukan penyesuaian terhadap produk barang atau jasa yang dihasilkan dengan tempat-tempat di mana perusahaan melakukan produksi atau melakukan pemasaran atas produk barang atau jasanya.

F. Strategi Emotional Marketing
Emosi yang ditimbulkan dari merek bisa menjadi sangat kuat dan terhubungkan dengan penggunaan produk yang konsumen pakai sehari-hari. Terdapat 10 strategi membangun hubungan dalam emotional marketing menurut Gobe (2001) di antaranya,
1. Dari konsumen menuju manusia. Hubungan yang saling menghormati antara perusahaan dengan konsumen, yang menganggap bahwa konsumen bukan hanya sebagai objek, tetapi juga sebagai mitra, akan menimbulkan hubungan timbal balik yang menguntungkan antara perusahaan dengan konsumen.
2. Dari produk menuju pengalaman. Sebuah pengalaman produk atau pengalaman berbelanja mempunyai nilai tambah dan akan bertahan dalam ingatan emosional konsumen sebagai suatu hubungan yang tercipta pada tingkatan yang bukan sekedar memenuhi kebutuhan.
3. Dari kejujuran menuju kepercayaan. Kejujuran adalah syarat mutlak dalam bisnis saat ini serta merupakan hal yang sangat diharapkan oleh para konsumen dari para penyedia barang dan jasa. Sedangkan kepercayaan lebih mengikat erat. Strategi ini memberikan kenyamanan total bagi konsumen atas pilihan mereka.
4. Dari kualitas menuju preferensi. Kualitas merupakan suatu penawaran yang penting untuk tetap berada dalam bisnis, sedangkan preferensi terhadap suatu merek memiliki hubungan yang nyata dengan kesuksesan. Konsumen tidak akan berhenti mengkonsumsi suatu merek jika mereka memiliki preferensi terhadap merek tersebut.
5. Dari kemahsyuran menuju aspirasi. Jika suatu produk ingin disukai, maka suatu produk harus menangkap aspirasi konsumen. Sehingga membuat awareness bukan merupakan satu-satunya kriteria dalam kesuksesan branding.
6. Dari identitas menuju kepribadian. Identitas merek merupakan suatu yang unik dan mengekspresikan suatu perbedaan dalam kompetisi. Kepribadian merek, di sisi lain menciptakan karakter dan karisma para merek yang memberikan dorongan secara emosional.
7. Dari fungsi menuju perasaan. Fungsi dapat menjadi kurang jika penampilan dan kegunaannya didesain tanpa mempertimbangkan faktor perasaan (feeling). Penciptaan suatu produk seharusnya adalah agar suatu produk lebih diingat dan lebih menarik konsumen.
8. Dari ubikuitas menuju kehadiran. Kebanyakan strategi kehadiran merek didasarkan atas konsep kuantitas, bukan kualitas. Sebaiknya strategi tersebut berfokus pada suatu cara yang inovatif untuk menciptakan hubungan yang nyata dan tahan lama.
9. Dari komunikasi menuju dialog. Komunikasi lebih bersifat satu arah (telling), sedangkan dialog bersifat dua arah (sharing). Kemajuan dalam media digital memungkinkan hal ini dapat terjadi, yang akhirnya membangun kemitraan yang berharga antara konsumen dengan perusahaan.
10. Dari pelayanan menuju hubungan. Pelayanan adalah efisiensi dari transaksi jasa sedangkan hubungan lebih mengarah kepada bagaimana merek mengerti apa yang konsumen inginkan.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.1 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
2. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.2 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
3. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.3 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
4. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 1. Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
5. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 1. Perubahan Sosial (KTSP)
6. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.1 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
7. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.2 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
8. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.3 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
9. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.4 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
10. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.5 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
11. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.6 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
12. Materi Ujian Nasional Kompetensi Perubahan Sosial             
13. Materi Ringkas Perubahan Sosial

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Cobalah Untuk Menjadi Orang Baik __Abraham Maslow

Post a Comment for "Pengertian Emotional Marketing, Aspek, Komponen, Tujuan, Pendekatan, dan Strateginya"