Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Inferiority Feeling (Rendah diri), Aspek, Ciri, Faktor, dan Kompensasinya

Pengertian Inferiority Feeling (Rendah diri), Aspek, Ciri, Faktor, dan Kompensasinya


A. Pengertian Inferiority Feeling (Rendah diri)

Inferiority feeling adalah perasaan rendah diri atau kurang percaya diri dengan dirinya sendiri untuk tampil di muka umum atau dengan teman-teman dan lingkungan karena ketidaksempurnaan kondisi fisik yang dimiliki. Sementara rasa rendah diri atau minder atau low self-esteem atau condescending, adalah perasaan bahwa seseorang lebih rendah dibanding orang lain dalam satu atau lain hal.

Perasaan demikian dapat muncul sebagai akibat sesuatu yang nyata atau hasil imajinasinya saja. Rasa rendah diri sering terjadi tanpa disadari dan bisa membuat orang yang merasakannya melakukan kompensasi yang berlebihan untuk mengimbanginya, berupa prestasi yang spektakuler, atau perilaku antisosial yang ekstrem, atau keduanya sekaligus.

Demikian, inferiority feeling sebenarnya bukanlah tanda ketidakmampuan seseorang namun ini hanya suatu bentuk perasaan ketidakmampuan pada dirinya, inferiority feeling adalah sumber dari semua kekuatan manusia. Semua orang berproses, tumbuh, dan berkembang hasil dari usaha untuk mengkompensasikan perasaan inferioritasnya.

Bisa diartikan bahwa inferiority feeling adalah sebuah motivasi yang dimiliki oleh seseorang untuk berperilaku (berproses, tumbuh, dan berkembang) menuju perasaan superior. Melalui Inferiority Feeling, individu berjuang untuk menjadi pribadi yang unggul dan mandiri (Noor, 2007).

Pengertian Inferiority Feeling (Rendah diri) Menurut Para Ahli
1. Fleming and courtney (dalam Salili and Hoosain, 2009), inferiority feeling adalah rasa diri kurang atau rasa rendah diri yang timbul karena perasaan kurang berharga atau kurang mampu dalam penghidupan apa saja.
2. Alferd Adler, seorang ilmuan sekaligus penemu dari individual psikologi berawal dari ide yang berasal dari inferiority organ yaitu kekurangsempurnaan organ atau bagian tubuhnya pada daerah-daerah tertentu baik karena bawaan atau kelainan dalam perkembangan. Inferiority organ membutuhkan pengkompensasian melalui latihan-latihan untuk memperkuat bagian tubuh tersebut Sujanto (2009).
3. Kartono (dalam Hariyani, 2017), inferiority feeling muncul sejak usia kanak-kanak yang umumnya perasaan ini tidak bisa diterima individu yang bersangkutan karena dirasakan sangat menghimpit dirinya, dan juga menyiksa batinnya. Sehingga muncul dorongan-dorongan untuk mengkompensasikan atau menyelesaikan.
4. Freud, inferiority feeling adalah ekspresi tekanan yang terjadi antara ego dan superego.
5. Rober dan Reber (dalam Hariyani, 2017), inferiority feeling adalah sikap apapun terhadap diri sendiri yang terlalu kritis dan umumnya negatif. Inferiority feeling diartikan sebagai perasaan kurang percaya diri, biasanya cenderung pasrah, menerima keadaan apa adanya, menganggap dirinya kurang berarti, rendah diri atau hina diri. Istilah inferiority feeling secara sederhana dengan konsep diri yang negatif atau harga diri yang rendah.
6. Chaplin (2012), Inferiority Feeling adalah suatu perasaan tidak aman, tidak mantap, tidak tegas, merasa tidak berarti sama sekali dan tidak mampu memenuhi tuntutan-tuntutan hidup. Pendapat lain menyebutkan bahwa inferiority feeling merupakan perasaan rendah diri yang menyerap ke dalam berbagai tingkah laku Kartono (dalam Hariyani, 2017).

B. Aspek Inferiority Feeling (Rendah diri)
Fleming dan Courtney (dalam Salili and Hoosain, 2009) menjabarkan inferiority feeling dalam alat ukurnya yang bernama Feeling of Inadequacy scale yang mengindikasikan perasaan tidak mampu dalam lima aspek di antaranya,
1. Social confidance, merupakan perasaan kurang pasti, merasa kurang bisa diandalkan, dan kurangnya rasa percaya pada kemampuan seseorang dalam situasi yang melibatkan orang lain. Faktor sosial confidance lebih mendekati pada umur dan pengalaman.
2. School abilities, merupakan perasaan tidak mampu atau tidak berdaya terhadap kualitas, kekuatan, daya kompetensi, kecakapan, keahlian, keterampilan, kesanggupan dalam melakukan tugas akademik.
3. Self-regard, penghormatan terhadap dirinya sendiri yang rendah atau kurangnya perhatian dan pertimbangan terhadap kepentingan dan minatnya sendiri.
4. Physical appearance, individu dengan inferiority feeling sangat memperhatikan penampilannya, dia akan berusaha memperlihatkan penampilan tubuhnya, ini merupakan salah satu bentuk untuk mengkompensasikan inferiority feeling miliknya.
5. Physical abilities, perasaan diri lebih lemah dalam hal kemampuan tubuh yang dimiliki serta potensi individu untuk melakukan performasi yang berkaitan dengan fisiknya dibandingkan teman atau kelompok sebayanya.

C. Ciri Inferiority Feeling (Rendah diri)
Lautser (dalam Wahyudi, 2013) menyebutkan karakteristik remaja yang memiliki inferiority feeling di antaranya,
1. Individu merasa bahwa tindakan yang dilakukan tidak adekuat, individu tersebut cenderung merasa tidak aman dan tidak bebas bertindak, cenderung ragu-ragu dan membuang waktu dalam pengambilan keputusan, memiliki perasaan rendah diri dan pengecut, kurang bertanggung jawab dan cenderung menyalahkan pihak lain sebagai penyebab masalahnya serta pesimis dalam menghadapi rintangan.
2. Individu merasa tidak diterima oleh kelompoknya atau orang lain. Individu ini cenderung menghindari situasi komunikasi karena merasa takut disalahkan atau direndahkan, merasa malu jika tampil di hadapan orang.
3. Individu tidak percaya terhadap dirinya dan mudah gugup. Individu ini merasa cemas dalam mengemukakan gagasannya dan selalu membandingkan keadaan dirinya dengan orang lain.

D. Faktor Inferiority Feeling (Rendah diri)
Individu yang tinggal dilingkungan sosial yang buruk atau tidak menguntungkan misalnya, dan pemanjaan yang berlebihan, akan mengekalkan rasa ketergantungan anak, lalu sosial menumbuhkan Inferiority Feeling. Lebih lanjut lagi oleh Kartono, lingkungan keluarga dan pengkondisian yang sangat kejam tanpa cinta kasih sama sekali, penuh kekerasan dan ucapan-ucapan penghinaan akan mengembangkan perasaan penolakan terhadap sosial, benci, dan dendam yang hebat serta Inferiority Feeling. Rasa rendah diri menurut Adler (dalam Hariyani, 2017) disebabkan di antaranya,
1. Cacat jasmani, setiap orang akan merasa senang bila memiliki tubuh yang sempurna, sementara cacat jasmani akan menjadi sasaran ejekan dari teman sebaya individu. Maka dari itu timbul perasaan tidak enak pada diri sendiri terhadap orang lain, dan merasa seakan lingkungan sekitarnya memusuhinya
2. Cacat rohani, timbul sejak anak masih kecil, sejak lahir anak melihat di sekelilingnya orang-orang besar, sempurna dan dapat mengerjakan segala yang ia tidak dapat. Hal tersebut menimbulkan perasaan kurang pada anak-anak, terutama kalau orang dewasa yang ada di sekitarnya tidak dapat menyadari dunia anak-anak dan tidak menghargainya. Namun, cacat rohani dapat timbul pula pada orang dewasa, apabila cita-cita dan kemampuan diri tidak dapat sejalan.
3. Pendidikan yang salah, mendidik dengan memanjakan dan mendidik dengan kekerasan, kedua cara mendidik tersebut akan menimbulkan rasa Inferioritas pada individu. Memanjakan, individu selalu ditolong dalam setiap pekerjaan akan mengakibatkan individu tidak memiliki kekuatan, selalu menggantungkan diri pada orang lain, tidak dapat berdiri sendiri, dan menganggap dunia sekitarnya harus meladeninya. Akibatnya individu menjadi tidak berani bergaul dengan masyarakat dan menjauhkan diri dari lingkungan. Sementara mendidik dengan kekerasan, menyebabkan anak selalu merasa dimusuhi, tertekan, hingga tidak dapat mengembangkan rasa kemasyarakatannya. Akibatnya individu merasa terasingkan dari masyarakat dan tidak akan pernah mencapai keinginannya, yaitu cinta dan kasih sosial.

Lin menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan individu mengalami inferiority feeling di antaranya,
1. Sikap orang tua (parental attitude), memberikan pendapat dan evaluasi sosial terhadap perilaku dan kelemahan individu ketika berada di bawah usia enam tahun, akan menentukan sikap individu tersebut dikemudian hari. Ketika individu diberikan cap sosial, maka hal ini akan terbawa pada saat ia dewasa. Akibatnya individu akan merasa rendah diri dan tidak memiliki rasa keyakinan diri, terutama ketika bertemu orang lain karena dalam pandangan dirinya sudah dibentuk konsep diri yang sosial oleh orang tuanya.
2. Kekurangan fisik (physical defects), seperti kepincangan, bagian wajah yang tidak proposional, ketidakmampuan dalam bicara atau penglihatan, akan mengakibatkan reaksi emosional dan berhubungan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan pada kejadian sebelumnya.
3. Keterbatasan mental (mental limitations), biasanya muncul rasa rendah diri saat dilakukan perbandingan dengan prestasi orang lain yang lebih tinggi. Ketika individu diharapkan untuk penampilan yang sempurna dalam suatu pertandingan, ia menjadi tidak dapat memahami aturan pertandingan tersebut.
4. Kekurangan secara sosial (social disadvantage), biasanya muncul dikarenakan status keluarga, ras, jenis kelamin, atau status sosial. Inferiority Feeling dapat muncul pula ketika individu merasa sakit hati karena dibandingkan dengan orang lain.

E. Kompensasi Inferiority Feeling (Rendah diri)
Kompensasi adalah suatu cara untuk mengatur Inferiority Feeling. Kompensasi bisa disamakan dengan defense mechanisme untuk inferiority feeling akan berdampak pada perilaku individu dan membuat individu menampilkan perilaku-perilaku yang menunjukkan kekurangannya. Pengkompensasian inferiority feeling dalam diri seseorang dalam bentuk-bentuk di antaranya,
1. Strategi menarik diri (withdrawal tactics), termasuk menyadari diri rendah, rasa sensitif dan penarikan diri dari hubungan sosial.
2. Strategi agresif (agresive tactics), termasuk mencari perhatian yang berlebihan, mengkritisi orang lain, dan rasa khawatir yang terlalu berlebihan.

Bentuk kompensasi yang dilakukan oleh individu dalam mengkompensasikan Inferiority Feeling ada dua macam yakni memotong, menerabas, pelarian diri, dan pembelaan diri. Memotong dan menerabas adalah suatu bentuk penuh tipu muslihat licik dan bersifat merusak (destruktif) baik merusak diri sendiri dan orang lain. Pelarian diri dan pembelaan diri merupakan sesuatu yang tidak umum dilakukan oleh manusia normal, misalnya dengan cara membunuh orang lain atau bunuh diri.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga 

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas X. Bab 2. Nilai dan Norma Sosial (KTSP)
2. Materi Sosiologi Kelas X. Bab 4. Proses Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian (KTSP)
3. Materi Sosiologi Kelas X. Bab 5. Perilaku Menyimpang (KTSP)
4. Materi Sosiologi Kelas X. Bab 6. Pengendalian Sosial (KTSP)
5. Materi Sosiologi Kelas X. Bab 3. Ragam Gejala Sosial dalam Masyarakat (Kurikulum 2013)
6. Materi Sosiologi Kelas X Bab 3.1 Ragam Gejala Sosial dalam Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
7. Materi Sosiologi Kelas X Bab 3.2 Ragam Gejala Sosial dalam Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
8. Materi Sosiologi Kelas X Bab 3.3 Ragam Gejala Sosial dalam Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016) 
9. Materi Ujian Nasional Kompetensi Nilai dan Norma Sosial
10. Materi Ujian Nasional Kompetensi Sosialisasi
11. Materi Ujian Nasional Kompetensi Penyimpangan dan Pengendalian Sosial  
12. Materi Ringkas Nilai dan Norma Sosial
13. Materi Ringkas Sosialisasi
14. Materi Ringkas Penyimpangan dan Pengendalian Sosial

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Cobalah Untuk Menjadi Orang Baik __Abraham Maslow

Post a Comment for "Pengertian Inferiority Feeling (Rendah diri), Aspek, Ciri, Faktor, dan Kompensasinya"