Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Kesadaran Sosial, Faktor, Dimensi, Bentuk, Cara, dan Contohnya

Pengertian Kesadaran Sosial, Faktor, Dimensi, Bentuk, Cara, dan Contohnya


A. Pengertian Kesadaran Sosial (Social Awareness)

Kesadaran sosial (social awareness) adalah kemampuan untuk mengambil perspektif dan berempati dengan orang lain, termasuk orang-orang dari berbagai latar belakang dan budaya yang berbeda. Kesadaran sosial merupakan cara yang diupayakan individu untuk menganalisa, mengingat serta menggunakan informasi mengenai kejadian atau peristiwa-peristiwa sosial, sehingga individu dapat lebih peka terhadap kejadian yang terjadi di sekitar.

Kesadaran sosial digambarkan sebagai kondisi di mana individu memiliki kemampuan lebih dalam berempati, sehingga individu tersebut kemudian mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersirat, yang mengisyaratkan sesuatu yang dibutuhkan orang lain. Dengan kesadaran sosial individu lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap apa yang sedang dirasakan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan serta menerima pendapat orang lain.

Kesadaran  sosial perlu dibangun pada diri tiap individu dalam kehidupan masyarakat sehari- hari. Salah satunya  dapat diupayakan dengan membangun kesadaran sosial bisa melalui penumbuhkembangan rasa empati kepada orang lain. Kesadaran sosial merupakan upaya yang dapat dicapai dengan proses interaksi serta didukung dengan pendidikan. Kesadaran sosial terkonstruksikan oleh suatu kesadaran diri atau Self Awareness yang menjadi struktur dasar sebagai pendukung sistematika di dalamnya.

Kesadaran Sosial (Social Awareness) Menurut Para Ahli
1. Prasolova- Forland (2002), mengemukakan bahwa kesadaran sosial berhubungan dengan kewaspadaan seseorang terhadap situasi sosial yang dialami oleh diri sendiri dan orang lain, sehingga individu dapat menjadi tahu dan menyadari hal- hal yang terjadi di sekelilingnya, seperti mengenai apa yang orang lain lakukan, apakah seseorang terlibat dalam suatu percakapan dan dapat diganggu, siapa saja yang berada di sekitar, dan keadaan apa yang sedang terjadi.
2. Postmes, Spears, dan Cihangir (2001), membuktikan bahwa dalam upaya untuk mempengaruhi orang lain, seseorang cenderung memberikan perhatian khusus tentang bagaimana orang lain menilai dirinya, sehingga orang tersebut dapat menyesuaikan diri dengan bentuk partisipasi yang sesuai untuk dilakukan, dan kemudian secara perlahan akan mempengaruhi penilaian orang lain terhadap dirinya dalam lingkungan sosial tersebut.
3. Goleman, kesadaran Sosial adalah kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau kesadaran yang menumbuhkan suatu kepedulian, yang kemudian dapat menunjukkan kemampuan empati seseorang terhadap seseorang lainnya yang berada di sekitarnya.
4. Wegner & Guiliano, kesadaran sosial adalah serangkaian proses dalam makna representasi, di mana seseorang menangkap objek dengan indera, kemudian dipikirkan akal, serta dikembangkan ke dalam sebuah konsep/ide yang nantinya akan disampaikan/diungkapkan kembali lewat bahasa. Representasi yang dimaksudkan adalah representasi alam jiwa seseorang, baik menyangkut diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya.
5. Sheldon (1996), menjelaskan bahwa setiap individu di dalam masyarakat memiliki kebiasaan atau perilaku tertentu dalam memperhatikan informasi yang didapatkan dari lingkungan sosialnya. Dalam hal ini terdapat perspektif yang mengidentifikasikan suatu aspek kognitif yang dimiliki individu yang satu berbeda dengan individu lainnya, serta dapat mempengaruhi kesadaran sosial mereka dalam berinteraksi sosial dalam suatu lingkungan masyarakat (Emmons,1989).

B. Faktor yang Mempengaruhi Kesadaran Sosial (Social Awareness)
Bentuk kesadaran sosial yang digunakan oleh seseorang dapat dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu kognisi, tujuan, dan motif.
1. Sheldon (1996) menjelaskan bahwa setiap individu memiliki kebiasaan atau gaya tersendiri dalam memperhatikan informasi yang didapat dari lingkungan sosialnya. Hal ini menunjukkan bahwa sistem kognitif yang dimiliki setiap individu berbeda satu sama lain dan dapat mempengaruhi kesadaran sosial mereka dalam berinteraksi sosial (Emmons,1989).
2. Franzoi, Davis, dan Markweise (1990) menambahkan bahwa kesadaran sosial dapat dipengaruhi oleh tujuan dan motif. Tujuan dan motif tersebut merefleksikan informasi sosial yang dibutuhkan oleh seseorang. Contohnya, orang yang sering kali memosisikan dirinya sebagai orang lain demi mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain akan memiliki kecenderungan melakukan hal tersebut karena kebutuhan yang tinggi akan keakraban atau keintiman.
3. Sebagai tambahan, berdasarkan hal-hal yang mempengaruhi kesadaran sosial, Sheldon (1996) mengatakan bahwa kesadaran terhadap lingkungan sosial dapat membantu seseorang untuk mengumpulkan informasi sosial yang dibutuhkan dalam membangun jembatan antara diri sendiri dan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat.

C. Dimensi Kesadaran Sosial (Social Awareness)
Sheldon (1996) menjelaskan bahwa kesadaran sosial memiliki tiga dimensi, yaitu tacit awareness (perspektif diri sendiri dan perspektif orang lain), focal awareness (diri sendiri sebagai objek dan orang lain sebagai objek) dan awareness content (penampilan yang dapat diobservasi dan pengalaman yang tidak dapat diobservasi).

Sementara Wegner dan Guiliano (1982) memperkenalkan dua dimensi dasar dari kesadaran sosial, yaitu tacit awareness dan focal awareness.
1. Tacit awareness dapat didefinisikan sebagai cara pandang seseorang atau “dari sisi mana ia melihat”. Tacit awareness dibagi menjadi dua bagian, yaitu perspektif diri dan perspektif orang lain.
2. Focal awareness dapat didefinisikan sebagai objek dari sebuah evaluasi atau “apa yang ia lihat”. Focal awareness dibagi menjadi dua bagian, yaitu diri sendiri sebagai objek dan orang lain sebagai objek.

Figurski (1987) mengajukan dimensi ketiga dari kesadaran sosial, yaitu content. Dimensi content atau yang selanjutnya akan disebut sebagai dimensi isi ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu penampilan yang dapat diobservasi (overt appearance) dan pengalaman yang tidak dapat diobservasi (covert experience).

Berdasarkan kedua bagian dari dimensi isi ini, Figurski (1987) menerangkan bahwa perspektif yang digunakan oleh individu berdasarkan hasil observasi yang dilakukannya, dapat memberikan akses kepada pengalaman pribadinya yang tidak dapat diobservasi oleh orang lain, yaitu pikiran dan emosi diri sendiri. Oleh sebab itu, akses ini disebut dengan privileged.

Sebagai tambahan, privileged atau dapat diartikan sebagai hak istimewa dapat memberikan akses terhadap perspektif yang diambil oleh individu untuk menilai penampilan atau tingkah laku orang lain yang mana, tanpa sebuah cermin, tidak dapat dilihat langsung oleh orang lain yang sedang dinilai tersebut.

Sheldon dan Johnson (1993) menambahkan bahwa individu tidak selalu mengakses sebuah target dari kesadaran yang bersifat privileged, tetapi juga kesadaran yang bersifat non-privileged. Kesadaran yang bersifat non-privileged ini dapat dimengerti melalui tiga hal.
1. Pertama, seseorang tidak harus menggunakan perspektif orang lain secara psikologis untuk mengevaluasi penampilannya sendiri, contohnya orang-orang yang menderita bulimia selalu berpikir bahwa mereka gemuk, terlepas dari penilaian orang lain yang mengatakan bahwa mereka tidak gemuk. Selain itu, penderita bulimia tersebut cenderung untuk lebih menilai penampilan mereka dari perspektif mereka sendiri yang tidak dapat dibantah.
2. Kedua, seseorang tidak selalu harus melihat perspektif orang lain untuk mengetahui apa yang mungkin sedang dialami oleh orang lain tersebut, contohnya seseorang dapat mengetahui apabila ada orang lain yang sedang merasa malu tanpa harus mencoba memosisikan dirinya sebagai orang lain tersebut.
3. Ketiga, seseorang dapat melepaskan diri dari pengalaman pribadinya dengan menggunakan perspektif orang lain secara psikologis, contohnya seseorang yang mengadopsi perspektif orang lain yang mengatakan bahwa dirinya sedang sedih, dapat menyadari bahwa dirinya memang sedang bersedih.

D. Bentuk Kesadaran Sosial (Social Awareness)
Berdasarkan ketiga dimensi dari kesadaran sosial, Sheldon dan Johnson (1993) menemukan sebuah model kesadaran sosial yang berisikan sejumlah dimensi bentuk kesadaran sosial yang digunakan oleh orang-orang dalam kehidupan sosialnya. Bentuk-bentuk kesadaran sosial tersebut dijelaskan sebagai berikut di antaranya,
1. Pengalaman diri dilihat dari perspektif diri sendiri. Bentuk kesadaran sosial ini dapat terjadi ketika seseorang berusaha mengerti amarahnya dan dapat diilustrasikan dengan pikiran “Saya memang sedang marah”.
2. Penampilan diri dilihat dari perspektif orang lain. Bentuk kesadaran sosial ini dapat terjadi ketika seseorang yang menggunakan baju berenang akan muncul di depan orang banyak, dan menyadari bahwa orang lain sedang memperhatikan dirinya.
3. Pengalaman orang lain dilihat dari perspektif dirinya. Bentuk kesadaran sosial ini dapat terjadi ketika seseorang berusaha merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dan dapat diilustrasikan dengan pikiran “Saya juga akan merasa malu jika menjadi dia”
4. Penampilan orang lain dilihat dari perspektif diri sendiri. Bentuk kesadaran sosial ini dapat terjadi ketika seseorang sedang menertawai penampilan orang lain dan dapat diilustrasikan dengan pikiran “Kenapa sih dia tidak menyisir rambutnya?”
5. Penampilan diri dilihat dari perspektif diri sendiri. Bentuk kesadaran sosial ini dapat terjadi ketika seseorang memeriksa penampilannya dengan cermat di depan kaca dan dapat dicontohkan oleh penderita anorexia yang bersikeras bahwa ia terlalu gemuk, terlepas dari protes orang lain.
6. Pengalaman diri dilihat dari perspektif orang lain. Bentuk kesadaran sosial ini dapat terjadi ketika kita mengunjungi psikolog dan dapat diilustrasikan dengan pikiran “Dia bereaksi seakan saya marah, mungkin saya memang marah”
7. Pengalaman orang lain dilihat dari perspektif diri sendiri. Bentuk kesadaran sosial ini dapat terjadi ketika kita menyangkal hak orang lain untuk merasa dihina dan dapat diilustrasikan dengan pikiran “Dia tidak punya hak untuk marah-marah”.
8. Penampilan orang lain dilihat dari perspektif dirinya. Bentuk kesadaran sosial ini dapat terjadi ketika kita menyadari adanya obsesi remaja kepada wajahnya atau bagian tertentu dari tubuhnya.

E. Cara Membangun Kesadaran Sosial (Social Awareness)
Adapun cara membangun kesadaran sosial salah satunya bisa dengan cara mengembangkan empati kepada orang lain, misalnya dengan cara di antaranya,
1. Menempatkan diri sendiri diposisi orang lain
2. Mengenali emosi diri sendiri lebih dahulu agar dapat mengenali perasaan orang lain
3. Menjadi pendengar yang aktif atau benar-benar mendengarkan orang yang berbicara dengan kita
4. Parafrasa atau pengungkapan kembali ucapan lawan bicara agar mendapat pemahaman yang lebih baik
5. Mencerminkan kembali ucapan lawan bicara, dengan cara menunjukkan perasaan setelah mendengar cerita mereka
6. Mempelajari cerita-cerita dari orang lain, dengan itu setidaknya kita akan merasakan berada di posisi mereka
7. Mencari kesamaan diri sendiri dengan orang lain
8. Berbagi keluh dan kesah kepada orang lain

F. Contoh Kesadaran Sosial (Social Awareness)
Kesadaran sosial dapat dicontohkan dalam beberapa kasus yang ditemui pada kehidupan sehari- hari di antaranya,
1. Membantu tetangga yang terkena musibah
Dalam kehidupan bermasyarakat sehari- hari, tentunya tidak lepas dari keberadaan tetangga sekitar pada lingkungan sosial. Sikap saling membantu sudah sepatutnya ditumbuhkan dalam sesama tetangga, mengingat interaksi yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari- hari. Suatu ketika, ada tetangga yang kesusahan dikarenakan ditimpa musibah, misalnya saja rumahnya terbakar, selaku tetangga terdekat menunjukkan rasa empati atas musibah yang menimpa tetangganya tersebut dengan menawarkan tempat tinggal sementara dan juga memberikan bantuan berupa pakaian layak pakai serta bahan sembako.

2. Menyumbangkan sejumlah dana ke panti asuhan
Dalam kehidupan sehari- hari, tidak semua orang dapat hidup beruntung dengan tinggal bersama orang tua secara utuh. Seperti halnya yang terjadi pada anak- anak yang harus bernasib tinggal di panti asuhan, dikarenakan sudah tidak ada orang tua yang merawat atau orang tua yang sudah meninggal. Kesadaran sosial dapat ditumbuhkan salah satunya dengan kepedulian kita terhadap anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Dengan dorongan rasa empati kemudian merujuk pada tindakan kemanusiaan dengan menyumbangkan sejumlah dana dan kebutuhan pokok untuk panti asuhan. Hal ini dapat dilakukan secara perseorangan maupun sekumpulan orang.

3. Menggalang dana kemanusiaan untuk korban bencana alam
Dalam kehidupan sehari- hari, terjadinya bencana alam tidak dapat dihindarkan. Mengingat adanya interaksi yang kuat antara manusia dengan keseimbangan alam. Di Indonesia sering kali terjadi bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, dan lain- lain. Terjadinya bencana alam tentunya mengakibatkan tidak sedikit korban jiwa. Kerusakan secara materiil maupun infrastruktur yang dialami korban bencana alam tak jarang menimbulkan rasa kepedulian yang tinggi oleh masyarakat lain.

Adanya inisiatif serta empati terhadap nasib maupun kondisi korban bencana alam yang sering kali memprihatinkan, mendorong masyarakat untuk menyumbangkan sejumlah dana terhadap korban bencana alam tersebut. Dari inisiatif serta empati kemudian mendorong tindakan penggalangan dana di masyarakat umum demi terkumpulnya dana. Aksi maupun tindakan penggalangan dana dapat dilakukan dengan berkeliling disekitaran lampu merah yang melibatkan kepedulian masyarakat umum.

4. Membuang sampah pada tempatnya
Sampah pada masa sekarang ini merupakan salah satu masalah yang kompleks dalam kehidupan sehari- hari. Banyaknya sampah yang tercecer maupun berserakan serta tidak pada tempatnya menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Tumbuhnya kesadaran sosial untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan rapi, yang terbebas dari sampah, tampaknya perlu ditumbuhkan dalam diri setiap individu. Dengan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan dapat menjadi kebiasaan yang baik yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari- hari.
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.1 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
2. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.2 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
3. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.3 Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
4. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 1. Perubahan Sosial dan Dampaknya (Kurikulum 2013)
5. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 1. Perubahan Sosial (KTSP)
6. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.1 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
7. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.2 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
8. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.3 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
9. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.4 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
10. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.5 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
11. Materi Sosiologi Kelas XII Bab 1.6 Perubahan Sosial dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat (Kurikulum Revisi 2016)
12. Materi Ujian Nasional Kompetensi Perubahan Sosial             
13. Materi Ringkas Perubahan Sosial

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Untuk ilalang yang senang merentang garis-garis fantastik di langit

Post a Comment for "Pengertian Kesadaran Sosial, Faktor, Dimensi, Bentuk, Cara, dan Contohnya"