Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Folklor, Ciri, Jenis, Bentuk, dan Fungsinya

Pengertian Folklor, Ciri, Jenis, Bentuk, dan Fungsinya


A. Pengertian Folklor

Folklor dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan. Berdasarkan katanya, folk adalah sekelompok orang dengan karakteristik tertentu seperti budaya dan fisik yang menjadi ciri kelompok lain. Lore adalah budaya yang telah ditransmisikan secara lisan atau lisan.

Folklore merupakan budaya kolektif yang diturunkan dari generasi ke generasi. Baik dalam bentuk laporan maupun tanda. Folkore identik dengan tradisi dan seni yang berkembang di zaman sejarah dan telah diintegrasikan ke dalam kehidupan manusia.

Folklor meliputi legenda, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, takhayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok. Folklor juga merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai tradisi budaya. Bidang studi yang mempelajari folklor disebut folkloristika.

Istilah folklor berasal dari bahasa Inggris, folklore, yang pertama kali dikemukakan oleh sejarawan Inggris William Thoms dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh London Journal pada tahun 1846. Folklor berkaitan erat dengan mitologi. Berdasarkan klasifikasinya folklor yang pertama adalah folklor esoterik, yang artinya sesuatu yang memiliki sifat yang hanya dapat dimengerti oleh sejumlah besar orang saja.

Kedua, folklor eksoterik adalah sesuatu yang dapat dimengerti oleh umum, tidak terbatas oleh kolektif tertentu. Folklor esoterik dianggap lebih sakral karena hanya berlaku dan diketahui oleh beberapa kelompok orang saja. Sedangkan, folklore esoterik lebih bebas dan tidak kuno.
 
B. Ciri Folklor
Menurut James Dananjaya ciri-ciri folklor di antaranya,
1. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yaitu melalui tutur kata dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
2. Bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar.
3. Berkembang dalam versi yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan penyebarannya secara lisan sehingga folklor mudah mengalami perubahan. Akan tetapi, bentuk dasarnya tetap bertahan.
4. Bersifat anonim, artinya pembuatnya sudah tidak diketahui lagi orangnya.
5. Biasanya mempunyai bentuk berpola. Kata-kata pembukanya misalnya. Menurut sahibil hikayat (menurut yang empunya cerita) atau dalam bahasa Jawa misalnya dimulai dengan kalimat anuju sawijing dina (pada suatu hari).
6. Mempunyai manfaat dalam kehidupan kolektif. Cerita rakyat misalnya berguna sebagai alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan cerminan keinginan terpendam.
7. Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
8. Menjadi milik bersama (collective) dari masyarakat tertentu.
9. Pada umumnya bersifat lugu atau polos sehingga sering kali kelihatannya kasar atau terlalu sopan. Hal itu disebabkan banyak folklor merupakan proyeksi (cerminan) emosi manusia yang jujur.

C. Bentuk Folklor
Berdasarkan pendapat Jan Harold Brunvand folklor dibagi ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya di antaranya,
1. Folklor lisan, folklor jenis ini dikenal juga sebagai fakta mental (mentifact) yang meliputi sebagai berikut di antaranya,
a. Bahasa rakyat seperti logat bahasa (dialek), slang, bahasa tabu, otomatis
b. Ungkapan tradisional seperti peribahasa dan sindiran
c. Pertanyaan tradisional yang dikenal sebagai teka-teki
d. Sajak dan puisi rakyat, seperti pantun dan syair
e. Cerita prosa rakyat, cerita prosa rakyat dapat dibagi ke dalam tiga golongan besar, yaitu: mite (myth), legenda (legend), dan dongeng (folktale), seperti malin kundang dari sumatra barat, sangkuriang dari jawa barat, roro jonggrang dari jawa tengah, dan jaya prana serta layonsari dari bali
f. Nyanyian rakyat, seperti “jali-jali” dari betawi

2. Folklor sebagian lisan, folklor ini dikenal juga sebagai fakta sosial (sosiofact) meliputi sebagai berikut di antaranya,
a. Kepercayaan dan takhayul
b. Permainan dan hiburan rakyat setempat
c. Teater rakyat, seperti lenong, ketoprak, dan ludruk
d. Tari rakyat, seperti tayuban, doger, jaran, kepang, dan ngibing, ronggeng
e. Adat kebiasaan, seperti pesta selamatan, dan khitanan
f. Upacara tradisional seperti tingkeban, turun tanah, dan temu manten
g. Pesta rakyat tradisional seperti bersih desa dan meruwat.

3. Folklor bukan lisan, folklor ini juga dikenal sebagai artefak meliputi sebagai berikut di antaranya,
arsitektur bangunan rumah yang tradisional, seperti Joglo di Jawa, Rumah Gadang di Minangkabau, Rumah Betang di Kalimantan, dan Honay di Papua
a. Seni kerajinan tangan tradisional
b. Pakaian tradisional
c. Obat-obatan rakyat
d. Alat-alat musik tradisional
e. Peralatan dan senjata yang khas tradisional
f. Makanan dan minuman khas daerah.

D. Jenis Folklore
1. Mitos, adalah hal mistis yang diyakini sebagai sekelompok orang yang berevolusi di suatu daerah.
2. Legenda, adalah prosa atau cerita rakyat yang telah berkembang di suatu daerah.
3. Dongeng, adalah kisah orang-orang yang mengandung nilai-nilai moral kehidupan. Biasanya, orang tua memberi tahu anak-anak mereka dongeng seperti lagu pengantar tidur.
4. Nyanyian Rakyat, adalah bentuk cerita rakyat yang terdiri dari lirik dan lagu
5. Upacara, adalah cara untuk memberikan penghormatan kepada leluhur, tempat, dan beberapa peristiwa yang telah terjadi di masa lalu yang telah dihormati sampai sekarang.

E. Fungsi Folklore
Adapun fungsi folklore di antaranya,
1. Sebagai sistem proyeksi, sebagai sarana untuk mencerminkan imajinasi kolektif
2. Sebagai sarana untuk meratifikasi lembaga dan institusi budaya
3. Sebagai alat pendidikan untuk anak-anak
4. Sebagai instrumen kekuatan dan kontrol, sehingga norma-norma masyarakat selalu dihormati oleh anggota kolektif mereka
 

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 3.1 Perbedaan, Kesetaraan, dan Harmoni Sosial (Kurikulum Revisi 2016)
2. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 3.2 Perbedaan, Kesetaraan, dan Harmoni Sosial (Kurikulum Revisi 2016)
3. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 3.3 Perbedaan, Kesetaraan, dan Harmoni Sosial (Kurikulum Revisi 2016)
4. Materi Sosiologi Kelas XI Bab 3.4 Perbedaan, Kesetaraan, dan Harmoni Sosial (Kurikulum Revisi 2016)   
5. Materi Sosiologi Kelas XI. Bab 3. Perbedaan, Kesetaraan, dan Harmoni Sosial (Kurikulum 2013)
6. Materi Sosiologi Kelas XI. Bab 1. Bentuk-bentuk Struktur Sosial (KTSP)
7. Materi Ujian Nasional Kompetensi Dinamika Struktur Sosial 
8. Materi Sosiologi Kelas XI. Bab 6. Masyarakat Multikultural (KTSP)
9. Materi Ujian Nasional Kompetensi Masyarakat Multikultural
10. Materi Ringkas Struktur Sosial dan Diferensiasi Sosial

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Untuk ilalang yang senang merentang garis-garis fantastik di langit

Post a Comment for "Pengertian Folklor, Ciri, Jenis, Bentuk, dan Fungsinya"