Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Frasa, Ciri, Konstruksi, Kelas, dan Kategori Frasa

Pengertian Frasa, Ciri, Konstruksi, Kelas, dan Kategori Frasa

A. Pengertian Frasa

Pengertian frasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif. Berupa gabungan kata berarti frasa setidaknya terdiri atas dua kata. Bersifat nonpredikatif berarti bahwa salah satu kata yang terdapat dalam gabungan kata tersebut bukan berfungsi sebagai predikat. Sifat nonpredikatif pada gabungan kata ini yang membedakan frasa dari klausa dan kalimat.

Frasa atau frase adalah salah satu istilah yang sering dibicarakan dalam kajian linguistik. Frasa merupakan satuan linguistik yang lebih besar dari kata dan lebih kecil dari klausa dan kalimat. Sebuah kalimat tersusun atas beberapa satuan. Satuan itu tersusun dari satu kata atau lebih. Dan satuan pembentuk kalimat tersebut menempati fungsi tertentu.

Fungsi tersebut yaitu Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), Pelengkap (Pel.), dan Keterangan (Ket.). Fungsi tersebut boleh ada atau tidak dalam sebuah kalimat. Tetapi ada fungsi yang wajib ada yaitu Subjek (S) dan Predikat (P). Fungsi di dalam kalimat bisa tersusun atas kata, frasa, maupun klausa. Demikian, frasa adalah satuan yang terdiri dari dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi kalimat. Namun, frasa tidak bisa membentuk kalimat sempurna karena tidak mempunyai predikat.

B. Ciri Frasa
1. Frasa harus mempunyai satu makna gramatikal
2. Frasa bersifat nonpredikatif
3. Frasa selalu menduduki satu fungsi kalimat
4. Frasa harus terdiri minimal dua kata atau lebih
5. Menduduki atau mempunyai fungsi gramatikal dalam kalimat

C. Konstruksi Frasa
1. Frasa Eksosentrik
Misalnya kalimat “Kedua saudagar itu telah mengadakan jual beli.” Kalimat tersebut terdiri dari frasa ‘kedua saudagar itu’, ‘telah mengadakan’ dan ‘jual beli’. Menurut distribusi nya frasa ‘kedua saudagar itu’ dan ‘telah mengadakan’ adalah frasa endosentrik. Sedangkan frasa ‘jual beli’ adalah frasa eksosentrik.

Frasa kedua saudagar itu bisa diwakili kata saudagar. Frasa telah mengadakan juga bisa diwakili kata mengadakan. Tetapi frasa jual beli tidak bisa diwakili oleh kata jual maupun beli, Karena kedua kata tersebut merupakan inti, sehingga mempunyai kedudukan yang sama. Frasa yang distribusinya tidak sama dengan salah satu atau semua unsurnya disebut frasa eksosentrik.

2. Frasa Endosentrik
Meliputi 3 jenis di antaranya,
a. Frasa Endosentrik yang Koordinatif, dihubungkan dengan kata “dan” dan “atau”. Contoh: Pintu dan jendela sedang dicat.
b. Frasa Endosentrik yang Atributif, tersusun dari unsur-unsur yang tidak setara. Contoh: Pekarangan luas yang akan didirikan bangunan itu milik Haji Manarul.
c. Frasa Endosentrik yang Apositif, secara semantik, unsur yang satu pada frasa endosentrik apositif mempunyai makna sama dengan unsur yang lain. Unsur yang dipentingkan merupakan unsur pusat, sedangkan unsur keterangan merupakan aposisi. Contoh: Arum, putri Pak Ruchan, berhasil menjadi pelajar teladan.

D. Kelas Frasa
Frasa terbagi jenisnya menjadi 6 kelas kata di antaranya,
1. Frasa Benda atau Frasa Nomina, frasa yang distribusinya sama dengan kata benda. Unsur pusat frasa benda, yaitu kata benda. Contoh:
a. Bara menerima hadiah ulang tahun.
b. Bara menerima hadiah.
Alasannya karena frasa hadiah ulang tahu di kalimat distribusi sama dengan kata benda hadiah.

2. Frasa Kerja atau Frasa Verba, frasa yang distribusinya sama dengan kata kerja atau verba. Contohnya “Arum sejak tadi akan menulis dengan pensil baru”. Disebabkan karena frasa akan menulis adalah kata kerja dan distribusinya sama dengan kata kerja menulis.
3. Frasa Sifat atau Frasa Adjektiva, frasa yang distribusinya sama dengan kata sifat. Memiliki inti berupa kata sifat. Kesamaan distribusi tersebut bisa dilihat dari contoh frasa berikut.
a. Lukisan yang dipamerkan itu memang bagus-bagus.
b. Lukisan yang dipamerkan itu-bagus-bagus.

4. Frasa Keterangan atau Frasa Adverbia, frasa yang distribusinya sama dengan kata keterangan. Umumnya inti frasa keterangan juga berupa kata keterangan dan dalam kalimat sering menduduki fungsi sebagai keterangan.
a. Frasa keterangan sebagai keterangan, frasa keterangan umumnya mempunyai keleluasaan berpindah karena berfungsi sebagai keterangan. Sebab itu frasa keterangan bisa terletak di depan atau belakang subjek. Contoh:
• Tidak biasanya dia pulang larut malam
• Dia tidak biasanya pulang larut malam
• Dia pulang larut malam tidak biasanya

b. Frasa keterangan sebagai keterangan pada kata kerja, contohnya “Saya tidak hanya bertanya, tetapi juga mengusulkan sesuatu”.

5. Frasa Bilangan atau Frasa Numeralia, frasa yang distribusinya sama dengan kata bilangan. Biasanya frasa bilangan atau frasa numeralia dibentuk dengan menambahkan kata penggolong atau kata bantu bilangan. Contohnya “Tiga orang serdadu menghampirinya ke tempat itu.
6. Frasa Depan atau Frasa Preposisional, frasa yang terdiri atas kata depan dengan kata lain sebagai unsur penjelas. Contohnya “Laki-laki di depan itu mengajukan pertanyaan kepada pembicara.”
7. Frasa Yang Bersifat Ambigu, ambiguitas kadang ditemukan dalam susunan frasa. Ambiguitas berarti kegandaan makna. Contohnya “Kambing hitam dan mobil tetangga baru.”

E. Kategori Frasa
1. Frasa Setara dan Frasa Bertingkat
Suatu frasa disebut setara jika unsur penyusunnya mempunyai kedudukan yang sama atau setara. Contohnya “Saya dan adik makan-makan dan minum-minum di taman depan.” Frasa “saya dan adik” merupakan frasa sama, karena antara unsur “saya” dan unsur “adik” memiliki kedudukan yang setara atau tidak saling menjelaskan.

Demikian juga frasa “makan-makan” dan “minum-minum” termasuk frasa setara. Frasa setara ditandai oleh adanya kata ‘dan‘ / ‘atau‘ di antara kedua unsur nya. Selain frasa setara, ada pula frasa bertingkat. Frasa bertingkat merupakan frasa yang terdiri atas inti dan atribut. Contohnya “Kakak akan pergi nanti malam.” Frasa “nanti malam” terdiri atas unsur atribut dan inti.

2. Frasa Idiomatik
Misalnya pada kalimat,
a. Dalam peristiwa kebakaran kemarin, seorang penjaga toko menjadi kambing hitam.
b. Untuk menyelamati saudaranya, keluarga Pinto menyembelih seekor kambing hitam.

Kalimat (a) dan (b) menggunakan frasa yang sama, yaitu frasa ‘kambing hitam‘. Pada kalimat (a) kambing hitam bermakna orang yang dipersalahkan dalam suatu kejadian, sedangkan dalam kalimat (b) bermakna seekor kambing yang mempunyai warna bulu hitam.

Dari berbagai sumber

Download

Ket. klik warna biru untuk link

Lihat Juga  

Materi Sosiologi SMA
1. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 4. Rancangan Penelitian Sosial (KTSP)
2. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 5. Pengumpulan Data dalam Penelitian (KTSP)
3. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 6. Pengolahan Data (KTSP)
4. Materi Sosiologi Kelas XII. Bab 7. Penulisan Laporan Penelitian (KTSP)
5. Materi Sosiologi Kelas X Bab 4.1 Rancangan Penelitian Sosial (Kurikulum Revisi 2016)
6. Materi Sosiologi Kelas X Bab 4.2 Rancangan Penelitian Sosial (Kurikulum Revisi 2016) 

7. Materi Sosiologi Kelas X Bab 5.1 Pengumpulan Data dalam Penelitian (Kurikulum Revisi 2016)
8. Materi Sosiologi Kelas X Bab 5.2 Pengumpulan Data dalam Penelitian (Kurikulum Revisi 2016)
 
9. Materi Sosiologi Kelas X Bab 6.1 Pengolahan dan Analisis Data (Kurikulum Revisi 2016)
10. Materi Sosiologi Kelas X Bab 6.2 Pengolahan dan Analisis Data (Kurikulum Revisi 2016) 

11. Materi Sosiologi Kelas X Bab 7.1 Laporan Penelitian (Kurikulum Revisi 2016)
12. Materi Sosiologi Kelas X Bab 7.2 Laporan Penelitian (Kurikulum Revisi 2016)
13. Materi Ujian Nasional Kompetensi Jenis Penelitian Sosial
14. Materi Ujian Nasional Kompetensi Langkah-Langkah Penelitian Sosial
15. Materi Ujian Nasional Kompetensi Metode Penelitian Sosial
16. Materi Ujian Nasional Kompetensi Manfaat Hasil Penelitian       
17. Materi Ringkas Jenis, Prosedur, Metode (Pendekatan), dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian
18. Materi Ringkas Penentuan Topik dan Manfaat Penelitian

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani Untuk ilalang yang senang merentang garis-garis fantastik di langit

Post a Comment for "Pengertian Frasa, Ciri, Konstruksi, Kelas, dan Kategori Frasa"